Goresan Pena Asyila

Riyani Jana Yanti
Karya Riyani Jana Yanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Juli 2016
Goresan Pena Asyila

 

Halilintar menggelegar di langit muram. Berkilauan menembus gelap. Membelah siluet mendung yang belum tumpah. Sulur ganasnya menembus kaca-kaca, tirai, ventilasi hingga selekeh bilik. Menemani cahaya lilin yang berpendar lirih dalam sepetak kamar .

Disibakkannya  tirai hitam?yang beberapa pengaitnya telah hilang? itu dengan perlahan. Semakin jelaslah  kilat itu berpendar, gerakannya melesat cepat. Titik-titik air mulai nampak membasahi  kaca jendela. Meluruhkan debu-debu yang telah lama bersemayam.

“Arrrggggg… Hen, please! Dua puluh tahun sudah kita hidup bersama. Seharusnya kau sudah hapal semua hal tentangku. Tentang apa yang aku sukai dan juga aku benci.”

“Kamu ini ngomong apa? Tentu saja aku hapal setiap detail hidupmu, bahkan lebih dari yang kau tahu.”

Merry memutar kursinya, menatap wajah Henry seraya mengacungkan jari telunjuk kearahnya.

“Aku ini paling takut petir, lantas kenapa kau buka tirainya? Kau tahu kan, aku ini phobia petir semenjak ayahku mati tersambar  keganasannya.”

“Ya tentu, tapi kehilanganmu jauh lebih menakutkan daripada sambaran kilat sekalipun. Aku terpaksa, maafkan aku. Tak ada cara lain untuk merebut perhatianmu, Mer.  Daritadi aku berkoar-koar tapi kau tetap saja tak mengindahkannya. Dengarkan aku, Mer! Kankermu bisa semakin parah kalau kau terus-terusan begadang  begini. Apalagi terus-terusan di depan laptop seperti itu. Ditambah sekarang ini lagi mati lampu, tak baik bagi kesehatan matamu. Istirahatlah, aku mohon. Sudah cukup aku kehilangan Syila.”

Merry kembali memutar posisi duduk, kembali berkutat dengan layar 12 inchinya. Dengan bibir bersungut ia berkata, “ Justru itu, aku sedang membuat resep seperti yang anak kita lakukan dulu. Dia yang terus bertahan hidup ditengah-tenagh kita meski kanker otak stadium empat telah menggerogoti tubuhnya.”

“Tapi Asyila sudah mati,” lanjut Henry lagi.

“Tidak, dia masih hidup! Bahkan puluhan, ratusan dan ribuan tahun lagi.” Merry berseru dengan mata melotot sembari menutup tirai jendelanya dengan kencang,

            Henry hanya menggeleng-geleng kepala. Dengan senyuman palsu ia pertahankan bulir-bulir air dari kelopaknya. Jangan sampai jatuh dan terdengar isakan itu oleh istrinya. Meski dengan suara parau ia terus membujuk istrinya untuk tidur. Nihil, seruannya ibarat angin yang hanya berlalu melewati dedaunan, tanpa mampu menggugurkan.

            “Tidurlah Hen. Aku nggak apa-apa. Biarkan aku berjuang, hingga perjuangan itu menemui dua pilihan. Menyerah pada takdir ataukah takdir itu yang menyerah pada perjuangan. “

                                                              *****

Malam berlalu teramat gesit. Sisa hujan telah menyamarkan embun yang mulai meluruh. Kicauan burung seakan menina bobokan Merry yang lelah berjuang sepanjang malam. Ia yang semalaman duduk tegap, berkutat dengan laptopnya. Ia nampak tertidur pulas dengan kursi sebagai kasur, laptop sebagai bantal dan buku-buku sebagai gulingnya. Hingga ia pun tak sadar jika beberapa buku telah meluncur dari atas meja. Berserakan di lantai dengan beberapa lembarannya terlipat tumpang-tindih.

Henry terbangun, berjalan terhuyung dengan mata berkunang-kunang. Tanpa sadar, air liur masih menyeruak di sekitar bibir serta ampas mata masih menancap di tepinya. Ia hampir jatuh tersandung buku-buku yang berserakan itu. Dengan setengah sadar, iapun memungut buku itu satu-persatu.

Seketika ia terbelalak saat nama Shy terpantul jelas di sudut matanya. Ya, nama Shy yang tercantum di depan cover novel itu adalah nama pena dari Asyila, anaknya yang meninggal enam bulan lalu. Tidak hanya itu, beberapa lembar kertas yang terselip dari buku-buku itupun jatuh menyeruak. Tentu, ia tidak asing lagi dengan tulisan-tulisan itu. Itulah goresan-goresan pena Asyila saat dulu berjuang melawan kanker otak.

Belek dari matanya satu-persatu jatuh, terhanyut air mata yang mengalir deras.  Ia memalingkan muka, hingga tanpa sengaja matanya terhujam pada layar monitor di depan istrinya. Ms word dengan kursor berkedip-kedip itu membuatnya dihujani rasa penasaran. Ditopang kepala istrinya itu dengan tangannya, lalu ia geser laptop itu ke tepi meja. Di-scrollnya dokumen itu ke atas, hingga  judul  itu terlihat jelas, “ Aku Masih Hidup”.  Henry pun penasaran. Mulailah ia membaca dari halaman pertama.

 

Hai, apa kabar kau? Aku mohon, jawablah, “Aku baik-baik saja”. Walaupun sebenarnya aku tahu, hati kecilmu berkata “tidak”. Aku tahu, kanker mungkin telah menjahit bibirmu, hingga kau kehilangan senyum manis itu. Aku tahu, suara “kematianmu sebentar lagi…kematianmu sebentar lagi” telah merobek gendang telingamu, hingga kau tak dapat lagi mendengar kicauan indah burung-burung di pagi hari. Aku juga tahu, bayang-bayang malaikat maut telah mengaburkan pandanganmu, hingga kerlingan mata orang yang kau cintai tak terlihat indah lagi. Ya aku tahu semua tentangmu, tentang penyakitmu, karena aku pernah merasakannya.

Tapi maaf, jika kau mau bertemu langsung, minta tanda tangan atau berfoto bersama, aku tidak bisa. Karena mungkin sekarang ragaku tiada lagi di dunia. Tenanglah, itu hanya raga. Jiwaku, pikiranku, dan hatiku masih terus bersemayam abadi di dunia. Bersama Asyila, putri kesayanganku yang juga telah tiada. Hmmm, maksudku raganya, bukan jiwanya. Jiwanya masih tetap hidup bersama nama dan pemikarannya yang terus berjalan di dunia. Abadi.

Aku sangat kagum dan terinspirasi olehnya. Aku tak ingin ia berjalan sendirian dimuka bumi ini. Aku ingin menemaninya. Maksudku, bukan hanya aku, tapi juga kalian. Untuk itu, aku dedikasikan buku ini untuk kalian, seluruh penderita kanker di dunia. Melalui buku ini, aku ingin meyakinkan kalian bahwa kanker bukan penyakit mematikan. Karena kematian sesungguhnya bukan saat kalian terbunuh oleh suatu penyakit, tapi….

 

Belum usai Henry membacanya, Merry terbangun dan menangkap punggung tangannya yang bertengger di atas keyboard. Ia pun bergegas menutup laptop dan merapikan rambutnya  yang rontok berserakan di atas meja.

“Mer, kenapa kau  terus-terusan berkutat dengan laptop itu? Kau tahukan, radiasinya sangat berbahaya. Kemoterapi yang kau lakukan selama ini akan sia-sia.”

“Tidak Hen, terpapar radiasi ataupun tidak, kanker ini tetap akan membunuhku. Sebelum ia benar-benar malakukannya, aku ingin melakukan sesuatu yang bisa membuatku tetap hidup, seperti anak kita.”

“Sudahlah Mer, kamu terima saja kenyataan ini. Asyila sudah lama mati. Biarkan dia tenang di sana. Sampai kapan kamu terus-terusan menganggapnya hidup seperti ini?”

“ Dia masih hidup!”

“ Tidak Mer, dia sudah mati.”

“Raganya sudah mati, tapi jiwanya tidak. Tulisan-tulisan itu telah membuatnya terus hidup hingga kini. Namanya tidak hanya terukir di batu nisan lalu tenggelam. Namanya tetap ada, bersama sejarah pemikirannya yang tetap hidup. Dia masih hidup. Karena menurutku, hidup atau mati bukan soal tegapnya raga.”

Merry merapikan buku-bukunya dan kertas-kertas tulisan Asyila itu. Ia beranjak dari tempat duduk seraya berkata , “ Aku mau ke penerbit. Aku harus menerbitkan tulisan ini sebelum ragaku tak dapat lagi menggapainya. Hmmm, beberapa tulisan di bukuku ini, diambil dari curhatan-curhatan Asyila di kertas-kertas itu. Kamu setuju kan, Hen?”

Henry hanya mengangguk pelan sembari menahan kepalan di tangannya. Lagi-lagi ia harus berjuang seorang diri, menahan hujan di bola mata cokelatnya. Bertahan beberapa menit sampai Merry membuka kepalan dan menyelipkan jemari di antara selanya. Sambil memeluk Henry, Merry berbisik, “ Jangan takut Hen, aku baik-baik saja.”

  • view 203