Konflik Sudut Pandang

Riyani Jana Yanti
Karya Riyani Jana Yanti Kategori Filsafat
dipublikasikan 13 Juli 2016
Konflik Sudut Pandang

Ciri bahwa manusia pernah hidup adalah dia pernah mempunyai masalah. Jika ada manusia yang hidupnya mulus-mulus saja, justru patut dipertanyakan, "Benarkah dia pernah hidup?" Dimasa yang semakin gila ini, kita bisa memilih dua hal, ikut menjadi gila atau justru semakin dewasa. Menurut seorang filsuf asli China, Mao Zedong 

"Konflik bersifat semesta dan absolut, hal ini ada dalam proses perkembangan semua barang dan merasuki semua proses dari mula sampai akhir.” 

Model sejarah Karl Marx juga berdasarkan prinsip konflik: kelas yang menindas dan kelas yang tertindas, kapital dan pekerjaan berada dalam sebuah konflik kekal. Pada suatu saat hal ini akan menjurus pada sebuah krisis dan kaum pekerja akan menang. Pada akhirnya situasi baru ini akan menjurus kepada sebuah krisis lagi, tetapi secara logis semua proses akhirnya menurut Mao, akan membawa kita kepada sebuah keseimbangan yang stabil dan harmonis. Mao jadi berpendapat bahwa konflik bersifat semesta dan absolut, jadi dengan kata lain bersifat abadi. Konsep konflik Mao ini ada kemiripannya dengan konsep falsafi Ying-yang. Semuanya terdengar seperti sebuah dogma kepercayaan. 

Konflik itu ada dua jenis, pertama konflik dengan diri sendiri dan yang kedua konflik dengan orang lain.  Dimana konflik itu tercipta karena kesalahan dalam memandang sudut pandang. Sebelumnya apasih sudut pandang itu? Ya, sudut pandang adalah bagaimana dan dimana kita menempatkan diri dalam memandang suatu hal. Masalahnya, setiap orang menempatkan diri dan memiliki persepsi yang berbeda-beda dalam memandang suatu masalah. Hal inilah yang menimbulkan konflik antar manusia, bahkan merambah ke konflik diri. 

Saya ambil beberapa contoh, pertama saya ambil contoh analogi sebuah serabi. Ada dua sudut pandang yang bisa membuat dua buah paradigma dalam teori serabi ini. Misalkan ada si X dan si Y, Dua manusia ini semasa hidupnya baru sekali melihat makanan bernama serabi. Misalnya, Si X kebagian memandang bagian depan yang penuh warna indah, mungkin si X langsung berspekulasi bahwa serabi adalah sesuatu yang indah, enak, menggoda, positif dan wajib dinikmati. Dilain sisi, ada si Y yang memandang serabi dari bagian belakngnya yang gosong. Tentu si Y akan memiliki paradigma yang bertolak belakang dengan si X. Dalam jiwanya, yang akan tertanam terkait definisi serabi, adalah gosong, gelap, tidak enak, pahit, tidak menggoda. Jika si X dan si Y dipertemukan, akan tergambar dua buah pemikiran bertolak belakang dari satu objek yang sama. Nah, perbedaan inilah yang menjadi titik sebuah konflik. Lantas, apakah kita mau menyalahkan si X yang karena ketidaktahuannya ia melihat keindahan, padahal si Y melihat sesuatu yang bertolak belakang. Atau sebaiknya, kita akan menyalahkan si Y?

"Segala sesuatu harus dipandang dari berbagai sisi, jika hidup tidak ingin diperbudak oleh konflik."

Lupakan dulu analogi serabi. Sekarang saya berikan contoh yang lebih real. Saya ambil contoh Fatin Sidqia Lubis, seorang penyanyi berhijab jebolan X Factor Indonesia. Apa yng terlintas di Kepala Anda ketika melihat “Wanita berhijab menyanyi” atau “Penyanyi Wanita Berhijab”? Mungkin Anda bertanya-tanya, apa bedanya dua statement itu? Tentu saja beda. Konteks pertama, “Wanita berhijab menyanyi”, disini objek utamanya adalah Wanita berhijab. Disini, paradigmanya dipersempit kearah agama. Bagaimana sudut pandang agama memandang seorang wanita berhijab menjadi penyanyi mungkin akan ada beberapa statement yang menganggap ini lebih mengarah ke suatu kemunduran peradaban dengan alasan sebagai berikut :

  1.   Seorang ahli agama mungkin berpendapat bahwa suara adalah aurat perempuan, dan jilbab       adalah simbol ketaatan.
  2.   Seorang pejuang jilbab di tahun 80an mungkin berpendapat ini jelas-jelas kemunduran. “Bagaimana bisa dia bernyanyi, berjoget dengan mudahnya di depan orang banyak. Sedangkan  saya dulu memakai hijab dengan penuh perjuangan, diskriminasi, dan berharga mahal. Lantas  tidak ada harganya lagikah hijab itu sekarang?”

Berpindah ke konteks yang kedua “Penyanyi wanita berhijab”, disini objek utamanya bukan lagi wanita berhijab, tapi penyanyi wanita. Bagaimana khalayak memandang penyanyi wanita yang identik dengan pakaian minim dan aura sensual, kini sudah bertransformasi. Disisi lain ini pun menjadi kemajuan disegi dunia menyanyi, karena menyanyi bukan hanya milik mereka yang berpakaian seksi, tapi menyanyi sudah berhasil menyentuh semua kalangan.  

Golongan pertama bilang ini kemunduran, golongan kedua bilang ini kemajuan, lantas siapa yang benar dan siapa yang patut disalahkan? Jika kedua kubu saling kukuh dengan pendapat masing-masing, disinilah akan timbul yang namnya konflik. Ingat, ini hanyalah sepotong mozaik konflik, bukan keutuhan konflik. Kedua konflik itu tercipta jika diambil dari sudut pandang orang Islam. Lain halnya jika semua agama dilibatkan. Mungkin saja agama lain berpendapat hal yang bertolak belakang. “Wanita berhijab menyanyi” adalah kemajuan, dan “Penyanyi wanita berhijab” itu merupakan kemunduran.

Di zaman dimana kepala-kepala manusia semakin tidak bisa dihitung, disitu akan tercipta sudut-sudut pandang  yang lebih banyak dan kompleks.  Lagi-lagi ditekankan, sudut pandang adalah akar sebuah konflik. Jangan heran, setiap hari diberita kita dicekoki dengan politisi, pengusaha dan artis berkonflik yang saling serang. Mereka memandang dirinya adalah benar dan orang lain pasti salah. Benarkah demikian? Entahlah.

 "Tidak ada kebenaran yang benar-benar benar, dan tidak ada kesalahan yang benar-benar salah jika sudut pandangnya adalah manusia. Karena sudut pandang yang mengetahui kebenaran dan kesalahan secara mutlak hanyalah Tuhan."

  • view 450