Jomblo Ngenes (?)

Jomblo Ngenes (?)

Riyani Jana Yanti
Karya Riyani Jana Yanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Juli 2016
Jomblo Ngenes (?)

 

 

 

Ketika musim memandang rindu pada hujan

Ada rintiknya yang jatuh dipelupuk mataku

Ingin kutiupkan angin biar berlalu

tapi langit bukan hanya lembar kosong

Ada setumpuk rindu pada wajahmu

Yang hadir dalam setiap bongkah alam

 

 

Dari balik kaca aku memelukmu

Pada terasering yang melengkungkan bibirmu

Pada gunung yang runcing bagai hidungmu

Pada awan yang serupa kedipan matamu

Dan pada ranting yang mengingatkan aduhai alismu

 

Aku yang menyusuri serpihan siang

Bersenandung dengan awan putih biru

Hingga larut, seperti teduh

adalah dirimu yang membuatku tahu

Bahwa cinta itu

Masih ada…!

(Sumedang, 1 Juli 2016 : 11.05)

 

Perjalanan dari Bandung menuju Sumedang kali ini terasa begitu lama. Sejak awal aku menaiki mobil ini, jarum panjang di jam tanganku sudah berputar melewati angka 12 sebanyak tiga kali. Padahal biasanya perjalanan cukup ditempuh dalam waktu dua jam. Ini baru melewati setengah perjalanan. Mobil seakan jalan di tempat. Awan-awan yang aku tatap dari sejam lalu hingga detik ini masih berbentuk sama. Bahkan, ranting pohon menjulang yang sudah ditingggalkan daun-daunnya itu masih belum enyah dari pandangan. Refleks, tanganku tergerak mengambil secarik kertas dan sebuah bolpoin untuk kemudian mulai menulis. Begitu mengalir. Aku menulis puisi dari wajah-wajah alam yang terpantul di bola mataku dari balik jendela.

 Hingga puisiku usai, pemandangan di depanku masih belum berubah. Kupukul-pukul saja punggung kursi di depanku. Sampai gaduh. Sesekali penumpang di depan menoleh kebelakang sambil mengerutkan dahi dan menaikkan alisnya tinggi-tinggi. Ah, tinggal dikasih senyuman maut saja dia langsung kembali memalingkan wajah.

 Bukan cuma aku. Nyatanya bukan cuma aku yang tak bisa menahan kesabaran. Aku masih masuk kategori sabar, hanya berkata lewat bahasa tubuh. Orang-orang di depanku tanpa sungkan-sungkan memaki supir, seolah dialah yang patut disalahkan atas semua ini. “Sabar, maklum musim mudik, Mas,” hibur sang supir. Aku hanya tertawa geli.    

Sebenarnya ini mudik lebaran ketigaku setelah aku terbawa takdir untuk merantau di Bandung. Biasanya aku mudik dua minggu sebelum lebaran, tetapi kali ini, tiga hari sebelum lebaran aku baru bisa pulang. Maklum, mahasiswi semester enam yang harus mengikuti Kerja Praktik di Industri. Masalahnya aku tidak punya pilihan. Menuruti aturan birokrasi atau aku gagal mendapatkan nilai A.

Firasat. Lagu Raisa itu menjadi lagu ke-30 yang aku dengar semenjak awal aku menaiki mobil ini. Awalnya, aku tidak berani memasang volume tinggi-tinggi. Setelah kata-kata kasar dari para penumpang di depan seperti masuk dan berduet dengan penyanyi idolaku, aku tidak terima. Langsung kupasang volume maksimal. Kupejamkan mata, kuresapi liriknya, dan sesekali aku mengintip awan dari balik jendela.  Merasakan seolah diriku adalah pemeran utama dari video klip lagu itu. Sesekali juga kubaca ulang puisiku. Tetapi bukan hanya sekali, bahkan berkali-kali aku kembali mengingatmu, Arkana.

 

“Aku akan kembali menaklukan indahmu dan kesempurnaan yang belum sempat kujelajahi. Romanmu mengalir, mengikat ‘pulang’ yang belum using kupandangi.  Menikmati apa saja yang sanggup kucintai, saat harus kembali berjuang.”(Sumedang, 1 Juli 2016 : 15.30)

 

Aku kembali, Arkana. Aku belum menyerah. Kalimat puitis itu kutulis untukmu. Sampai kapanpun aku akan berjuang. Walau hanya sekedar tulisan atau berbicara lewat alam. Tak peduli meski kau tak pernah tahu bahwa aku pernah  dan masih akan berjuang. Terlambat memang, kau sudah bahagia. Ah, aku tak peduli. Aku memang akan pergi berkali-kali saat rasa sakit itu kembali menggerogoti. Pergi merantau, mengejar ilmu, mengejar cita-cita. Hanya satu yang tak pernah aku cari di perantauan. Cinta. Karena bagiku cinta takkan kutemukan di daerah perantauan manapun, Arkana.

Aku akan tetap duduk di sini, di balik pohon. Indah.  Pematang sawah dengan pegunungan yang samar-samar tertutup awan. Karena dari sini aku biasa menatap punggungmu dan berbicara kepada dedaunan bahwa, “Aku mencintaimu,” bahkan sampai detik ini. Sampai detik waktu dimana kau belum juga mengetahui kalimat itu dariku. Kamu sudah bahagia. Aku tahu itu. Tetapi lihatlah, sekarang aku bisa berteriak lantang, “Aku mencintaimu !” Karena kutahu, kau takkan menoleh. Punggungmu sudah tidak bisa lagi kutatap.  Karena punggungmu sudah menjadi milik cinta sejatimu. Ah benarkah? Manakah yang lebih sejati, yang memilikimu ataukah orang yang tetap berharap memilikimu meski tahu itu tidak mungkin?

 

“Wahai, indahnya lukisanmu Tuhan ! Kau pahatkan gunung hingga memecah langit, Hingga memotong keindahan dalam berkeping-keping Dan kutemukan dua keping itu di dalam mata seorang makhlukmu.” (Sumedang, 6 juli 2016 : 13.45 )

Hari ini aku berdamai. Lebih tepatnya, mencoba berdamai. Ini Hari Raya.  Mencoba berdamai dengan Arkana, perebut Arkana, dan juga diriku sendiri. Aku tahu, tidak mungkin bertemu dan mengetakannya secara langsung. Bertemu dengan Arkana artinya aku harus bertemu dengan perebutnya yang seorang pelukis itu. Aku belum sanggup.

Aku belum sanggup menerima kenyataan bahwa kerinduanku masih menjadi kerinduan. Arkana, dari jauh melalui angin aku ingin mencium tanganmu dan menatap mata cokelatmu.  Meminta maaf dan membisikkan ratusan kalimat pujian untukkmu, dan sedikit untuk cinta sejatimu. Itu saja. Harus diakui memang, cinta sejatimu itu sangat hebat. Kalau dibandingkan dengan diriku, aku hanya butiran debu, sedangkan dia adalah semesta.

Aku mencoba berdamai, Arkana. Meski terkadang apa yang tertulis dan terungkap tidak benar-benar seperti apa yang dirasakan.

 

“Aku sedang mendengarkan angin. Kedengarannya seperti langkah kaki, dan terdengar seperti jerami yang sedang dijalin menjadi tali. Entah mengapa, sesuatu yang tak beralasan, suara angin hari ini begitu menusukku. Seperti berjalan tetapi tak sempat menghitung langkah. Seperti jatuh cinta tapi tak sempat menjadi kata.”(Sumedang, 9 Juli 2016 : 10.25)

 

Arkana, sayang. Aku  ingin memanggilmu  dengan panggilan ‘sayang’. Meski kutahu kata ‘sayang’ hanya layak diucapkan oleh orang yang saling jatuh cinta. Bukan sekedar jatuh cinta. Aku tidak peduli. Seperti aku yang tidak peduli sejak awal mengenalmu sampai detik ini. Menjadi orang bisu yang tak pernah mengatakan apapun kepada orang yang dicintainya. Bahkan sejak waktu itu, saat mudik lebaran dua tahun lalu.  Hari paling menyakitkan dimana aku tahu kau telah bersama dengan yang lain, dan memilih hidup bahagia dengannya. Sakit. Terlebih, sudah dua tahun ini aku tak pernah melihat punggungmu lagi. Entah sudah berapa juta langkah aku menyusuri pematang sawah, tetapi tidak membawaku melangkah. Jatuh cinta tak sempat menjadi kata itu sakit. Tetapi, jatuh cinta tak sempat menjadi kita itu jauh lebih sakit.

“Menatap langit sering kali sama seperti aku menatap dirimu. Karenanya bagiku langit adalah metafora. Cara mengampaikan apa yang kadang terasa aneh untuk diungkapkan. Seperti  layaknya cinta. Aku takut. Terkadang cinta akan mati ketika aku mentapnya secara langsung. Atau justru diriku  sendirilah yang akan mati ketika nekat mengungkapkannya. Maka izinkanlah aku terus dan tetap berbicara kepada langit bahwa, “ Aku mencintaimu.” Dan kau tak perlu tahu itu hari ini, esok, dan sampai kapanpun.” (Sumedang, 10 Juli 2016 : 10.22)

Hari ini aku akan kembali. Kembali ke perantauan dan belajar melupakanmu sedikit demi sedikit. Sayang, aku mencintaimu. Jujur, sampai kapanpun aku tak pernah percaya kau sudah bergi bersamanya. Aku harap kau bahagia. Tapi aku tak begitu yakin. Bagaimana aku bisa yakin kau bahagia dengan cinta sejatimu, sementara kau tahu, sayang. Kau yang menjadikannya satu-satunya, tapi dia tak menjadikanmu satu-satunya. Kau tahu,  ‘cinta sejatimu’  itu ternyata mencintai milyaran manusia lainnya termasuk diriku. Diri ini jadi bertanya, dia itu wanita, lelaki atau bukan keduanya? Bagaimana bisa dia mencintai lelaki sepertimu, sementara di sisi lain dia mencintaiku yang seorang wanita. Dia bilang dia mencintaimu dan mencintaiku.

Dia bilang, dia menyabut nyawamu dan membawamu pergi kesisinya sebelum aku mengatakan  apapun, karena dia mencintai kita.   Lucu. Perebutmu itu bilang dia cemburu padaku, karena cintaku kepadamu lebih besar dari pada kepadanya. Kamu bayangkan, sayang, di malam-malam yang seharusnya aku terlelap dan memimpikanmu, dia memintaku terbangun dan membacakan puisi-puisi untuknya. Dia bilang dia  akan memberikanku apapun kalau aku mau bermesraan dengannya setiap malam bahkan waktu. Tapi sayang, benarkah dia mencintaiku? Kalau dia mencintaku kenapa dia terus-terusan menyembunyikan jodohku. Hingga semua orang di dunia ini meledekku dengan sebutan,” JONES ! “ Aku sendirian sayang. Aku masih sendiri. Lagi-lagi, saat aku merengek kepadanya, dia beralasan karena dia mencintaiku. Dan dia bilang ini belum saatnya.  Belum saatnya?

Entahlah mau Dia apa? Aku mencintamu, Dia memisahkan kita. Aku meminta jodohku, Dia menyembunyikannya.  Herannya, saat aku mengajak bertemu, Dia mengelak. Dia bilang Dia masih sayang padaku. Aku harus bagaimana, Arkana? Kamu sedang di sisi-Nya, bukan? Di tempat yang kau bilang lebih indah dari Sumedang. Hmmm….Surga namanya kalau tidak salah. Tolong ya, sayang, katakan pada cinta sejatimu yang biasa kau sebut TUHAN itu, bahwa “Aku tak mau sendiri.” Aku tahu, Dia sangat mencintaiku. Dan aku tahu, kenapa aku tak bisa membuka hati untuki-Nya.  Itu karena kau, Arkana. Karena aku mencintaimu sangat berlebihan.