Aktif, Aktivis, Aktivisme

Polisi Bahasa
Karya Polisi Bahasa Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 27 Januari 2016
Aktif, Aktivis, Aktivisme

Salah satu persoalan dalam kata serapan adalah seringnya kita lupa proses pengindonesiaan dari kata itu di bahasa aslinya. Kali ini saya ingin menyorot khusus soal huruf ?f? dan ?v? dalam kasus serapan dari bahasa Inggris.

Kata aktif, pasif, progresif, relatif, positif, negatif, dan sejenisnya adalah kata yang diserap dari bahasa Inggris, yang dalam bahasa aslinya diakhiri dengan akhiran ?ve?. Jadi asal kata aslinya adalah active, pasive, progressive, relative, positive, negative.

Salah kaprah banyak terjadi ketika orang Indonesia menuliskan kata-kata itu dengan akhiran, di mana akhiran itu juga berlaku dalam bahasa Inggrisnya (+ist, +ism, +ity).

Karena aturan main yang sudah baku (dengan beberapa pengecualian karena sifat arbitrer bahasa, tentunya) dalam kata bentukan dari bahasa asing adalah mengutamakan bunyinya, yakni bagaimana bunyi kata itu ketika dibaca, maka disepakati bahwa kata berakhiran ?ve? dalam bahasa Inggris cukup ditulis ?f? ketika diserap menjadi kata Indonesia.

Nah, aturan main berikutnya, ketika kata serapan itu disertai akhiran yang memang berlaku di sono-nya, maka disepakati bahwa huruf konsonan dikembalikan ke asalnya. Maka jadilah: aktivis, aktivisme, aktivitas, progresivitas, relativisme, positivisme, positivistik, negativisme, dan seterusnya.

Salah kaprah ini juga terjadi karena kita sering menganggap bahwa akhiran itu adalah akhiran bentukan bahasa Indonesia. Karena memang jika akhirannya adalah asli Indonesia, kita tak perlu repot-repot mengembalikan konsonan aslinya. Contoh: mengaktifkan, merelatifkan, menegatifkan, dan seterusnya.

Untuk lebih meyakinkan, saya tambahkan kasus lain: kataekspor, impor, standar adalah bentukan dari export, import, standard, maka ketika mengindonesiakan kata-kata tersebut +akhirannya, huruf konsonan akhir-nya dikembalikan. Jadilah: eksportir, importir, standardisasi.

Demikian.