Jika bayi baru lahir bisa bicara

fadillah putri dirgahayu
Karya fadillah putri dirgahayu Kategori Kesehatan
dipublikasikan 28 Januari 2017
Jika bayi baru lahir bisa bicara

"Aku aman. Sepertinya ini ibuku. Suhu badannya menyesuaikan 2 derajat lebih hangat dibanding suhu tubuhku. Tak peduli berapa dinginnya ruangan atau tipisnya pakaianku ini, ibuku menghangatkanku"

"Aku mendengar dia mengucapkan hamdallah dan menahan emosi bahagia yang membuncah, tak salah lagi, ini pasti ibu!"

"Aku terdiam diatas dadanya. Ibu yang membawaku 9 bulan kemana-mana diperutnya, yang rela sakit dan tak nyaman meskipun dalam tidurnya, yang kudengar suaranya berkata "sedang apa nak di dalam sana, sehat ya, gak sabar ingin bertemu", ya, ini sudah pasti ibuku"

"Lama aku diam, hampir 30 menit berlalu, ayahku sudah melantunkan azan dan iqomah. Bukan aku pemalas dan tak cekatan, aku hanya lelah. Mencari jalan lahirku tidaklah mudah, perlu mendorong dengan sekuat tenaga dan kesakitan, biarkan aku istirahat sebentar sambil merasakan nafas ibuku yang menenangkan."

"Sesekali aku melirik melihatnya, rasanya dia tersenyum bahagia. Ah, ini sungguh menghilangkan trauma, stressku pudarlah sudah! Ayahku ada disebelahnya melafadzkan puji syukur kepada sang Maha Pencipta".

"Aku bergerak, aku mencium dan menjilat punggung tanganku, rasa inilah yang kukenal sebagai air ketuban sumber makananku selama 9 bulan lamanya. Aku juga mencium bau yang sama dikejauhan, di kedua payudara ibuku. Itu pasti makananku!"

"Maafkan bu aku menghentakkan kakiku di perutmu, karena itu membuatku lebih cepat menggapai payudaramu. Semoga itu juga membantu mengeluarkan plasenta yang harus segera dikeluarkan dari rahimmu"

"Air liur ini mengalir, sementara itu aku menjilat kulit ibuku mengumpulkan bakteri-bakteri baik ke dalam ususku. Jangan tanya berapa lama, karena hanya aku yang tau" :)

"Aku hampir sampai, kepala dan tanganku menghentak-hentak di atas badan mu. Ini caraku memijatmu supaya lancarnya air susu"

"Bu, setelah 1 jam lebih akhirnya aku sampai di sumber kehidupanku, aku belajar menghisapnya seperti dulu aku berlatih menghisap ibu jariku di dalam kandungan"

"Bu, biarkan dulu, tak perlu kuatir karena ASI mu belum keluar, tangan dan kepalaku akan terus memijatmu dan mulutku akan terus berusaha meneguk cairan emas bernama kolostrum itu, jangan terburu-buru memisahkanku darimu".

"Bu, ASI mu belum banyak, dan akupun belum mahir menghisap. Tapi bu, jangan kuatir, lambungku itu kecil yang kata orang hanya sebesar gundu. Aku pun diberi kekuatan oleh Allah untuk bertahan 72 jam tanpa makanan. Tak perlu risau, Aku yakin pasti tambah lama ASI mu bertambah banyak seiring membesarnya ukuran lambungku. "

"Bu, yang aku perlukan sekarang hanya selalu bersamamu dan didekapmu. Sungguh dunia ini berbeda dari duniaku sebelumnya, juga bersamamu Allah menganugerahkan sumber makanan dan minuman yang bergizi serta bernutrisi lengkap untuh tumbuh kembangku. Untuk itu aku hanya perlu ibu"

"Bu, terus dekap aku karena saat ini hanya ibulah yang kupercaya menjagaku"

Sungguh, nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Bekasi, 19 Januari 2017
Putri

 

*disarikan dan diilustrasikan dari penjelasan dr. Utami Roesli, Sp.A. dalam sebuah seminar*

  • view 87