Yakin anakmu gapapa nonton TV terus?

fadillah putri dirgahayu
Karya fadillah putri dirgahayu Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Januari 2017
Yakin anakmu gapapa nonton TV terus?

Sepertinya lagi anget bahas masalah dampak TV dan gadget terhadap perkembangan bicara anak.

Ini pengalaman saya.

Waktu Rifa usia 10 bulan, saya adalah emak yang menyodorkan TV tanpa berfikir membatasi. Waktu itu baru resign dari kantor. Biasa ngadepin komputer dan berkas kemudian harus bertatap muka 24 jam dengan anak rasanya membuat salting gak karuan. Kalau udah makan, mimik, main bentar, bobo, terus Mau ngapain ya?

Karena sering mentok, yang bisa dilakukan saat itu adalah menyodorkan TV dan youtube di Hp. Acaranya kartun, dari mulai Upin Ipin, Sopo Jarwo, Harry the Bunny, Larry, Didi and Friends dan sebagainya. Anak mah seneng-seneng aja.

Sampai suatu hari saya ikut seminar tumbuh kembang dan konsultasi di sebuah klinik pada saat Rifa usia 1 tahun. Rifa di screening dimulai dari pertumbuhan BB, TB, LK nya sampai kemampuan motorik dan verbalnya.

Kemudian ditanya, "sudah bisa ngomong apa?"
Waktu itu saya tau Rifa baru ahli manggil "Mbah" nya. Yang lain sekedar bubbling aja. Kadang jelas kadang tidak. Manggil ayah bunda pun belum sempurna betul.
Kemudian dokternya tanya

"Dikasih nonton tv gak?"
Makjleb, ini kah? "Dikasih dok"

"Berapa lama?"
Nah ini yang ga pernah ngitung..

"Ibunya manggil ayahnya apa?"
"Mas" berasa tertusuk dua kali.

"Ayahnya manggil ibunya apa?"
"Nama dok" udah ngebatin tau salahnya dimana *pliss save me!*

Jadi, berdasarkan info dari dokter, harusnya anak 1 th minimal bisa manggil orang tuanya. Dibawah usia 2 tahun, boleh dikasih nonton TV termasuk gadget maksimal 2 jam per hari (walaupun baru tau kemudian lebih baik gak terpapar). Karena kemampuan otaknya belum bisa mencerna kecepatan visual dan audio yang dilihat. Makanya anak yang terlalu banyak terpapar TV dan gadget rata-rata mengalami ketidakstabilan emosi.

Jangankan anak-anak, emak-emak aja kalau udah nonton sinetron atau drakor bisa lupa masak. Bapak-bapak yang asik main games di henpon bisa lupa istri. *gak curcol kok..wkwkwk
Dan ngajarin ngomong anak tuh harus diulang-ulang, diperdengarkan setiap hari, harus familier. Jadi gak bisa ngajarin anak manggil Ayah Bunda kalau mereka sendiri memanggil panggilan yang berbeda satu sama lain. Anaknya bingung.

Untungnya, ketauan sejak dini, jadi tau gimana stimulasi yang tepat. Kalau sudah lewat masa 'tenggang' nya maka perlu terapi (yang perlu ngocek kantong sampai inti bumi T.T huhu). Disuruh cek lagi usia 18 bulan (belooom dilakuin, tapi Rifa udah berkembang pesat kosakatanya semenjak ngebatesin paparan TV dan gadget.

Anak memang beda-beda, karena tempat tinggalnya beda, lingkungannya beda, cara didiknya beda. Jadi stop bandingin kemampuan anak dengan anak tetangga. Anak tetangga dikasih TV tiap hari fine fine aja kok. Yakin anak sendiri fine? Yakin gak ada masalah?

Sebaiknya, kalau curiga anak mengalami keterlambatan motorik atau verbal, konsultasikan ke ahlinya segera. Karena perlu dilihat semuanya. Dari mulai Gizinya, perkembangan fisiknya, perkembangan emosinya, kemampuan motoriknya, kemampuan verbalnya, dll.

Membandingkan anak sendiri apalagi nanya di media sosial "bu, kok anak saya belum bisa ini ya, kenapa ya?" atau "mak anak saya normal gak ya?" Yang kaya gitu sangat amat gak disarankan.

Secara garis besar parameter tumbuh kembang anak sudah tertulis di pedoman IDAI yang ditulis juga benang merahnya di buku KMS - CMIIW. Tinggal orang tua nya aja yang rajin baca. Kalau memang setelah screening gak ada apa-apa pada tumbuh kembangnya, maka yang diperlukan adalah stimulasi yang tepat.

Bukan ngajak jadi orang tua parno loh. Karena sekali lagi, anak itu unik. Semakin dideteksi sejak dini, semakin baik dan cepat penanganannya.

Bukankah semua orang tua ingin yang terbaik buat anaknya? :)

Semoga mencerahkan.

Bagi yang punya cerita masalah tumbuh kembang anak, boleh dong di share juga jadi kita sebagai orang tua bisa lebih waspada. :) apalagi buat newmom kaya saya :D

  • view 73