EXORDIUM

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Maret 2016
ENIGMA, A Story that never told.

ENIGMA, A Story that never told.


Ini tentang Kaya, dan semua pertanyaan dalam hidupnya.

Kategori Fiksi Umum

216 Hak Cipta Terlindungi
EXORDIUM

Enigma (n)

A person or thing that is mysterious, puzzling, or difficult to understand.

?

Diam-diam Kaya membenci ulang tahunnya sendiri.

Bahkan saat tadi malam Rei memberinya kejutan tepat pukul dua belas malam. Saat mereka sedang iseng berburu foto di sekitaran Kota Tua dan Rei yang tiba-tiba menghilang lalu kemudian muncul dengan sepotong kue keju dengan taburan bubuk kokoa di atasnya. Tiramisu. Kue favoritnya. Satu-satunya aroma kopi yang ia sukai. Untuk alasan yang tidak ingin Kaya cari tahu, Rei tidak pernah sesentimetil ini. Jadi ia memutuskan untuk menikmati setiap gigitan dalam kue lembut itu. Masalahnya, Rei mengingatkan Kaya bahwa usianya kini bertambah saat ia tidak ingin mengingatnya. Karena itu berarti satu tahun yang baru untuknya menunggu sesuatu yang sia-sia. Jawaban yang tak kunjung ia dapatkan, dan penantian yang mungkin tak pernah berakhir.

Sampai ayahnya datang dan mengetuk pintunya.

Dibanding dirinya, ia lebih sering membenci laki-laki itu. Ayah adalah tipe laki-laki pertama yang akan ia hindari di kencan pertama. Dia cerewet. Suka berkomentar, dan yang terpenting ia tahu cara membuat dirinya merasa jadi orang paling menyedihkan sedunia. Mungkin semua orang. Mungkin sebenarnya ia tidak bermaksud begitu, tapi sikap itu seperti mekanisme yang sudah terprogram dalam otaknya.

Kaya memejamkan mata lagi.

Ini kedua kalinya laki-laki itu masuk setelah sebelumnya membuka tirai jendelanya lebar-lebar dan cahaya matahari terpapar tepat di wajahnya. Sebuah sensasi mengganggu yang memaksanya untuk bangun. Kamarnya masih amat berantakan. Ia dan Rei baru sampai sekitar pukul dua pagi. Kaya hanya punya sisa tenaga untuk membuka sepatu, jaket, dan melemparnya asal-asalan.

?Aku tahu kau sudah bangun.?

Ia menarik kursi dari meja belajar, lalu menyeret kursi itu ke samping tempat tidurnya.

?Selamat ulang tahun.?

Ia mengguncang-guncangkan sebuah kotak persegi empat di tangannya. Tanpa perlu membuka mata. Ia sudah tahu itu apa. Benar kan, tidak ada yang spesial di hari ulang tahunnya? Bahkan ia sudah tahu ia akan mendapat hadiah apa dari ayah.

?Kamu tidak ingin membuka kado dari ayah??

?Malas. Aku sudah tahu isinya apa.?

?Ini hari spesial, Kay. Usiamu dua puluh. Tidak mungkin aku memberikan kado yang biasa-biasa saja.?

Oh ya? Ucap Kaya dalam hati. Spesial untuk ayah adalah yang bermanfaat untuk kehidupannya. Ayah tidak akan memberikan sesuatu yang nantinya hanya akan menjadi hiasan saja. Kaya dulu pernah meminta autograph dari penulis favoritnya di sebuah kaos yang ia dapatkan sebagai pembeli pertama buku terbaru penulis tersebut. Ayah, yang merupakan sahabat penulis itu, tidak mau segram pun menolongnya. Padahal frekuensi pertemuan mereka cukup sering. Kaya berdalih bahwa menyimpan kaos itu akan membuatnya merasa bersemangat mengejar mimpinya sebagai penulis. Tetapi ayah bilang Kaya tidak perlu mencari kekuatan dari orang lain karena semua hal yang akan terjadi pada hidupnya adalah karena kekuatan dari dalam dirinya sendiri.

?Kalau begitu biar ayah yang membukakannya untukmu.?

Terdengar suara kertas disobek. Kaya bertaruh kali ini ayah masih menggunakan kertas pembungkus bergambar kartun anak-anak untuk kado ulang tahunnya. Ayah seperti tidak sabar mengeluarkan kado itu karena suara sobekan terdengar semakin keras dan panjang. Jangan-jangan itu memang sesuatu yang amat penting?

Tepat saat ia membuka mata, Ayah mengacungkan benda itu di hadapannya.

Sebuah buku berwarna hitam.

?Buku harian ibu.?

Suara ayah terdengar amat pelan. Kaya tercekat. Sebuah memori berkelebat di benaknya. Warna-warna yang tidak ingin ia ingat. Kamar ibu yang berantakan. Ibu yang terbaring di lantai tak bergerak. Sepatu yang belum terlepas. Isi tas berhamburan keluar; botol air kosong dengan sisa embun, peralatan rias, struk-struk pembayaran, dan?sebuah buku bersampul hitam.?Kaya kecil menepuk pipi ibu perlahan. Memanggil-manggil namanya dengan sabar. Tapi perempuan itu tidak kunjung membuka mata, dan itu menjadi hal terakhir yang ia kenang.

***

?