Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 10 Februari 2018   01:00 WIB
Pada saatnya nanti.

Ada hal hal yang hanya bisa kau jawab dalam tangis.

Dalam samar tatapan yang kau lempar pada kaca jendela, atau pada gemiricik air pertama yang kau dengar di pagi desember.
Dan kau menyesali, mengapa begitu mudah bagimu menumpahkan air mata lalu berpura-pura seakan tidak ada apa-apa.

Rupanya cukup melelahkan tersenyum untuk mengenang hal yang masih terasa menyakitkan. Sementara itu, kita belum cukup kuat untuk bersikap berani dengan melupakan.

Dan...mengikhlaskan.

Bukankah berjuang dalam sunyi selalu tampak lebih sulit?
Tak ada genggaman tangan atau bahu yang tegap untuk bersandar. Tak ada sorakan penggembira untuk membuatmu paling tidak mengulas senyum.
Dan tangis tentu saja tak membuat kesedihan terkikis.

Sepi...sendiri.

Perjuangan macam apa yang tengah kau lalui?
Pertanyaan macam apa yang tidak juga kau dapatkan jawabannya?

Sudahi, lalu sudahi.

Menyerahlah untuk bukan menjadi kalah.
Terimalah seperti bumi yang selalu merindukan hujan.
Kelak kau akan tahu dan mengerti, bahwa tangismu bukannya tak berarti, ia seolah menyirami, dan pada saatnya nanti, semua akan bersemi.

Karya : Hani Taqiyya