Kosong

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 November 2017
Kosong

I didn’t realize it, but the days came along one after another, and then two years were gone, and everything was gone, and I was gone.

-F.Scott Fitzgerald

Aku pikir setelah empat tahun, aku sudah benar-benar 'sembuh'.

Aku tahu aku menuju ke sana, semua yang harus kutinggalkan satu persatu mulai pergi, dan hal-hal yang tersisa adalah sengatan-sengatan kecil dalam hatiku yang membuat semua memori berputar lagi, seperti menonton sebuah film pada layar yang tidak bisa kutemukan tombol untuk menghentikannya.

Kekecewaan tidak pernah berakhir tanpa kesedihan. Tapi menghentikan air mata tidak semudah anak kecil berhenti dari tangisnya setelah mendapat es krim cokelat. Sementara anak-anak hidup untuk masa depan mereka, orang dewasa terkadang hidup dalam masa lalu mereka juga. Mungkin, karena itulah semuanya terasa berat. Persoalan perasaan ini hanya membuatku ingin kembali menjadi anak kecil yang kembali menangis karena es krim cokelat yang tadi ia dapatkan sudah habis dan ia menginginkannya lagi. Seremeh itu, sekecil itu.

Dan tempat seramai ini, tidak juga membuat pikiranku berhenti mengembara.

Aku tidak begitu suka keramaian, tapi aku suka memperhatikan orang. Melihat manusia, dengan semua tingkah laku mereka di sini membantu otakku membuat skema-skema. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari menggabungkan imajinasi dan realita lalu membuatnya menjadi sebuah cerita. Karena itu aku memilih kedai yang terletak di tengah jalan penghubung antara dua mal besar ini. Sebuah sudut tenang di dekat jendela, Sehingga aku bisa mendapat kesunyian dan keramaian dari mereka yang lalu lalang di hadapanku sekaligus.

 Aku selalu suka cerita.

Cerita adalah tulisan yang mengisi halaman-halaman kosong dalam buku catatanku, dan cerita orang lain membuatku mengerti, bahwa di luar sana banyak orang yang juga memiliki perasaan yang kurang lebih sama denganku. Membaca membantuku merasakan, dan menulis membantuku melepaskan.

 Seharusnya.

Sampai empat tahun terakhir membuat pola yang selama ini kuakrabi terasa asing, dan yang bisa kulakukan hanya bertanya, tanpa pernah aku dapatkan jawabannya. Bahkan diam-diam aku mulai menyesap kopi, minuman yang dulu aku benci. Kini pahitnya menjadi aliran darahku, sama seperti kebencian yang bernafas di dalamnya.

Sehitam itu.

Aku memandang gelas americano ke dua ku yang hanya tinggal menunggu waktu untuk tandas. Dulu, hanya seteguk dua teguk dan kepalaku akan pusing atau perutku mendadak sakit. Kini lihatlah, dua cangkir pun rasanya tidak cukup. Lucu rasanya saat kau membenci sesuatu tapi pelan-pelan engkau menyerupai apa yang kau benci.

 Apa namanya? Anomali.

Kenyataan yang tidak normal. Seharusnya saat kau membenci sesuatu atau seseorang, kau tidak ingin sedikit pun dekat dengan hal-hal yang kau benci. Jika itu berupa buku, maka kau akan menyimpannya dalam kotak kardus yang diletakkan paling dalam di gudang rumahmu. Kalau itu manusia, kau akan berusaha pergi sejauh-jauhnya, membuang dan membakar semua pemberian darinya, dan kalau tidak bisa pergi kau akan menganggapnya tak ada meskipun ia berada satu inci dari ujung hidungmu. Tapi kebencian membuatmu diam-diam memperhatikan mereka. Berharap salah satu kaki mereka terpeleset dalam kesalahan. Semakin hancur semakin baik. Semakin menderita, semakin kau bahagia. Anomali juga yang membuatku tetap mencintai seseorang, meskipun hampir seluruh tubuhku membencinya. 

Aku mencintai seseorang, dan aku pikir itu cukup.

Tapi aku salah. Mencintai dan percaya pada seseorang rasanya seperti berpegangan pada tali yang mudah rapuh. Setiap orang mungkin melakukannya, karena itu saat ia tak mampu lagi menggenggam, ia mencari lagi tali yang ia pikir lebih kuat, lebih erat, lebih membuatnya merasa aman.

Air mataku menitik. 

Aku meneguk habis americano ku. Pahit. Tapi ini lebih baik dari getir yang kini menyelusup riang bersamaan dengan berputarnya memori hitamku selama empat tahun terakhir.

Hidupku, hidup kami sudah berjalan sebagaimana mestinya sekarang. Tapi sisa-sisa pengkhianatan adalah kenangan buruk yang membuat lubang di hatiku tetap menganga. Bahkan saat kami bertiga sudah mampu melempar senyum dan menghembuskan nafas lega saat satu percakapan usai tanpa prasangka.

 “Hei. Melamun lagi.”

Entah sejak kapan ia berada di sana. Tangannya menarik kursi di hadapanku, dan mendudukkan dirinya di sana.

 “Menurut kamu anak-anak bakal nyari kita nggak ya?”

Aku tersenyum, hanya mengangkat bahu. Masalahnya, selalu ada alasan untuk tetap bertahan. Kalau bukan untuk diriku, paling tidak untuk buah hati kami.

 “Sekali-kali ini lah, udah lama juga kita nggak pacaran berdua gini.”

Aku mengangguk, menatap wajah yang ternyata selalu kurindukan itu. Mengusir semua rasa sakit yang dulu pernah memporak-porandakan hidup kami. Aku menutup halaman kosong di buku catatanku yang sejak tadi kubiarkan terbuka. Aku pernah bilang bahwa menulis membantuku melepaskan, tapi setelah empat tahun, aku benar-benar tidak bisa menuliskan apa-apa.