Dua Cangkir yang Sepasang

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Februari 2016
Monologue

Monologue


Short stories.

Kategori Cerita Pendek

6.9 K Hak Cipta Terlindungi
Dua Cangkir yang Sepasang

Ada dua cangkir kosong di hadapannya, dan wanita itu tahu, cangkir mana yang membuat ia tak kuasa untuk menyentuhnya. Cangkir yang penuh gumpalan rindu, seperti balok-balok kecil gula batu yang biasa ia letakkan di dalamnya. Setengah ruas jari dari mulut cangkir itu ada warna cokelat yang kelabu. Membuat sebuah garis melingkar yang menandakan bahwa cangkir itu selalu dipakai oleh pemiliknya, hingga meninggalkan jejak yang berbekas. Bukan hanya pada benda mati itu, tapi juga pada hatinya.

Ia menggenggam telinga cangkir itu perlahan. Memutarnya searah jarum jam. Memutarnya lagi, lagi, dan lagi. Tatapannya kini berisi kenangan tentang sendok kecil yang selalu ia gunakan saat menyeduh kopi hitam di dalam cangkir itu, gelembung-gelembung air yang masih bergolak karena ia langsung menuangkan air yang baru mendidih ke dalamnya, dan balok-balok gula yang perlahan mencair, menyatu, meluruh dalam warna pekat yang melekat.

Ia menatap cangkirnya sekarang. Kosong. Bersih. Tak ada jejak. Tentu saja karena wanita itu tak pernah minum kopi hitam. Ia penggila teh.Teh pahit, teh melati, teh lemon, dan jenis-jenis yang lain. Dua cangkir itu adalah hadiah dari sahabat baiknya. Benda itu sepasang. Kembar dengan bentuk dan warna yang sama. Sengaja diberikan karena dia kini sepasang. Mengenalnya kini berarti mengenal juga seseorang lain di sisinya. Mengajaknya kumpul-kumpul sekadar minum kopi berarti harus melewati sistem perizinan baru dalam kehidupannya. Mungkin tak sebebas sebelumnya. Tak bisa lagi tertawa-tawa keras sampai tersedak, atau keluyuran semalaman berburu foto hanya untuk mencari sudut pemandangan malam yang berbeda.

Ketika waktu bergerak maju, selalu ada yang tertinggal di belakang. Atau lebih tepatnya, sengaja kita tinggalkan di belakang. Mungkin seperti kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah sepantasnya dibuang, dan kenangan kejayaan masa lalu yang hanya dijadikan nostalgia tentang kebodohan. Tapi benarkah ia bergerak maju? Atau ia hanya menteleportasi diri dari satu tempat ke tempat berbeda yang lain? Mencari tempat baru untuk kehidupan yang dinamakan kemandirian. Bukan, bukan semata-mata karena ia tidak tinggal lagi bersama kedua orangtuanya, tetapi karena ia punya sandaran baru, yang akan melakukan hal-hal yang orang tuanya lakukan untuk membesarkannya. Menyokongnya secara fisik, materi, dan yang lebih penting perasaannya.Adakah yang ia tinggalkan di belakang? Atau ia masih dirinya yang dulu, tetapi hanya dengan status yang berbeda. Status yang membuat beberapa teman sekelasnya di kampus iri dan memaksa pacar-pacar mereka melakukan hal yang sama. Sudahkah dia mencapai level kedewasaan seperti yang ibunya harapkan selama ini?

Mengikuti lamunan itu, matanya refleks menatap kembali cangkir miliknya yang tak berjejak. Membuatnya leluasa mengisi cangkir itu dengan pikiran-pikiran anehnya yang lain. Ia sedang berada pada titik mempertanyakan semua yang sudah ia lakukan. Terutama 6 bulan terakhir. Kehidupan baru yang membuat dunianya seperti refleksi warna pelangi sehabis hujan. Indah, berwarna-warni, memanjakan mata. Membuatnya lupa kalau pelangi juga hanya sesekali muncul, meskipun hujan turun setiap hari.

Seseorang pernah menasihatinya bahwa bulan ke-6 dalam tahun pertama adalah titik kritis dalam dunia-nya yang sekarang. Sungguh, ia tak ingin percaya. Tapi pertengkaran demi pertengkaran, perkara kecil yang konyol, saling meninggikan suara, menggebrak pintu, berpura-pura acuh, dan keinginan-keinginan yang terbentur banyak hal sehingga tak pernah dilakukan dan membuatnya amat marah. Dia mulai lelah. Ia ingin kehidupannya yang dulu kembali. Di mana ia bisa bersikap seenaknya tanpa perlu mencemaskan orang lain. Bukankah itu dirinya yang dulu?

Jadi, dia masih dirinya yang dulu?

Setitik air mata meluncur ke punggung tangannya. Akhir-akhir ini ia mudah sekali menangis. Bukannya semakin kuat, ia merasa semakin rapuh. Tidak cukup kuat kah sepasang tangan yang bertanggung jawab atas dirinya itu?

Bayangan tentang secangkir kopi hitamnya hadir lagi. Wanita itu memejamkan mata, dan menggelengkan-gelengkan kepalanya. Seperti memohon agar bayangan itu segera pergi.Membuatnya tanpa sadar menggenggam semakin erat, bahkan nyaris mencengkram. Tidak. Ia akan kalah dengan cangkir yang memiliki jejak cokelat kelabu itu, cangkir kosong yang mengingatkannya dengan wajah letih yang selalu ia rindukan.

Matanya kian basah, membuat pandangannya kabur. Tetapi angka tujuh pada jam dinding di ruang makan masih tercetak jelas. Ia segera bangkit, merajang air, mengisi salah satu cangkir dengan bubuk teh, lalu cangkir yang lain dengan bubuk kopi. Kemudian ia meletakkannya keduanya bersisian. Berpasangan.


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Ternyata ada cerpen sekeren ini tersembunyi dalam sepinya View.

    Layak Promosi... *_*

  • Ayu Sri Rahayuningrat
    Ayu Sri Rahayuningrat
    1 tahun yang lalu.
    Membuatnya tanpa sadar menggenggam semakin erat, bahkan nyaris mencengkram... Bener bgt, semakin kita berselisih, lalu rapuh, semakin kuat hati ingin memcengkramnya