Kita, di Era Sosial Media

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Renungan
dipublikasikan 28 April 2017
Kita, di Era Sosial Media

Manusia-manusia di era sosial media adalah mereka yang gamang.

Mereka yang terlalu banyak terpapar informasi, tapi tak mampu mengolah secara seimbang. Makna kebutuhan dan prioritas mengabur. Yang penting menjadi tidak penting. Yang tidak penting malah dianggap penting. Mereka pikir mereka telah mendapatkan dunia dalam satu genggaman, tapi jangkauan mata mereka semakin terbatas, karena hanya terpaku pada satu layar persegi panjang. Informasi di suatu daerah di ujung dunia mungkin mereka tahu, tapi tetangga kelaparan di sebelah rumah, mereka belum tentu tahu.

 Manusia-manusia di era sosial media adalah mereka yang gamang.

Mereka membangun diri dengan bersemangat, tapi pelan-pelan mengancurkannya tanpa mereka sadari. Mereka terlalu banyak percaya, tapi lupa menajamkan akal dan logika. Ingin menjadi ini dan itu. Ingin punya ini, dan itu. Ingin hidup seperti dia, dan mungkin seperti kamu. Mereka terlalu banyak melihat, mendengar, dan berbicara tentang orang lain. Kadang sepertinya mereka lupa, bahwa ukuran sepatu saja berbeda-beda dan hanya bisa digunakan oleh mereka yang memiliki kaki dengan ukuran yang sama. Mereka mencari jati diri mengikuti standar nilai yang mengabur dengan dalih kebebasan berkspresi.

Orang-orang sibuk mencipta surga dan neraka mereka sendiri. Yang baik bangga dengan kebaikannya. Yang buruk pun bahagia dengan keburukannya. Mereka bilang, mereka hidup untuk diri mereka sendiri, tapi lupa bahwa saat mati mereka tak jalan sendiri.

 Manusia-manusia di era sosial media adalah mereka yang gamang.

Mereka yang gelisah, dan memutuskan mengubah,

Mereka yang memahami bahwa mereka tidak akan bisa menjadi apa-apa,

jika hanya menjadi penonton saja.

  • view 152