Aku, Pasta, dan Sebuah Epifani

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Januari 2016
Monologue

Monologue


Short stories.

Kategori Cerita Pendek

6.8 K Hak Cipta Terlindungi
Aku, Pasta, dan Sebuah Epifani

Be careful what you wish for.

Kutipan basi rasa baru.

Maksudku, aku sudah sering mendengar kalimat itu di mana-mana sebelumnya. Dalam tulisan; mungkin novel atau puisi, dalam film-film hollywood, atau lontaran kalimat dari salah satu teman lama yang bahkan aku lupa namanya. Tapi sebuah kalimat hanya menjadi sebuah kumpulan kata-kata tak bernyawa sebelum kita benar-benar merasakannya. Sebelum kalimat itu terjadi dalam hidup kita, dan kemudian kita menyesal karena dulu kita tidak menganggapnya terlalu penting. Dengan menyebutnya basi misalnya, dan saat hidup terus bergerak, kalimat-kalimat itu akan datang dan pergi, seperti sebuah warna yang tercetak di tubuhmu, untuk kemudian memudar, dan kembali terang saat seseorang, atau sesuatu mewarnainya kembali.

Aku mengedarkan pandangan, mencari mesin penunjuk waktu tergantung di tembok warna-warni tempat ini. Tidak ada. Entah mataku yang kurang jeli karena warna-warna yang saling bertabrakan, atau memang mereka tidak menggantungkannya karena alasan yang hanya bisa kutebak sendiri. Kini, hampir semua orang memiliki ponsel, dan dengan frekuensi mengecek ponsel setiap detik yang sudah menjadi gerak reflek, mungkin memang tidak perlu dipasang jam dinding lagi.

Aku merasakan hembusan angin kering masuk saat pintu kaca tiba-tiba dibuka. Suara nyaring pramusaji yang menyambut (kelewat) ramah saling bersahutan. Seorang wanita berpostur besar dan rambut keriting yang mengembang mengangguk sambil tersenyum saat ia dipersilakan untuk duduk. Dari posisi kami yang bersebrangan, aku bisa melihat dengan jelas deskripsi fisiknya. Sebuah selendang bermotif bunga melingkari lehernya. Ia mengenakan jaket kulit berwarna cokelat, dan tangannya tak berhenti memijat-mijat tombol di ponsel pintarnya. Sesekali ia mengangkat benda itu ke samping telinganya, dan hanya mengucapkan sepatah dua patah kata, hanya untuk memastikan sesuatu. Seorang pramusaji menghampiri dengan semangkuk besar campuran sayur mayur dan buah-buahan yang tertutup lelehan mayonais. Dengan jemari yang tak henti mengetik, ia menyuap sesendok demi sesendok.

Hei!

Aku mendengar suara berat bergema di dalam kepalaku. Badanku terguncang sedikit. Seperti ada yang baru saja mengibaskan tangannya di depan mataku sehingga mendadak mataku berkedip.

Jangan suka memperhatikan orang seperti itu!

Kenapa memangnya?

Tidak sopan, apalagi!

Selama mereka nggak tahu, nggak masalah kan..?

Bandel!

Aku kan penulis, aku butuh observasi dan referensi untuk tulisanku.

Alasan!

Lalu tawa berderai. Kami melanjutkan makan dan aku masih sesekali mengulang kebiasaanku memperhatikan gerak gerik orang lain, bahkan hingga saat ini, saat kami sudah tidak berdua lagi, karena ada sepasang mata bening yang harus kuperhatikan tanpa kenal waktu. Sementara dia yang masih tetap terus menegur kebiasaan ?buruk? ku itu.

Salad di dalam mangkok wanita itu sepertinya sudah habis, karena kini ia menaruh sendok di dalamnya dalam posisi terbalik. Pesanan berikutnya, satu buah loyang kecil roti panggang berbentuk bulat pipih dengan irisan paprika, daging asap, dan keju. Pinggan lonjong berisi pasta berbentuk spiral berwarna kuning terang dengan cacahan daging berwarna merah ditaruh bersamaan. Terakhir, sebuah gelas panjang berembun dengan cairan berwarna biru, itu pasti soda, dengan warna merah muda sekitar satu senti di dasarnya.

Tatapan kami bersirobok. Ia memandangku beberapa detik sebelum aku akhirnya menundukkan kepala lalu berpura-pura sibuk dengan mangkuk sup yang sudah kosong sejak tadi. Wanita itu tidak ambil pusing, ia kembali asyik dengan makanannya, meskipun aku merasakan wajahku panas dan agak malu. Aku sebenarnya bisa saja mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Tapi aku tidak ingin. Mataku sudah tertumpu pada wanita itu entah untuk sebab apa. Sama seperti saat kamu jatuh cinta pada seseorang dalam waktu yang lama, kamu akan lupa pada alasan pertama mengapa kamu bisa mencintainya. Sampai akhirnya yang bisa kamu lihat hanya yang ada di depan matamu saat itu, di mana hal-hal kecil dengan angkuhnya menutupi sesuatu yang lebih besar, yang seharusnya bisa menjadi cara untuk mengingat alasan pertama.

Aku ingin kembali menjadi aku.

Maksudmu?

Iya. Aku yang dulu. Saat aku tidak perlu memikirkan orang lain atas apa yang ingin aku lakukan.

Kamu menyesal?

Mungkin. Berada dalam sirkumstansi ini membuatku lupa menjadi diriku sendiri.

Aku harap kamu benar-benar menyesal telah mengucapkan kalimat tadi.

Hening.

Wanita dengan rambut keriting mengembang itu hampir selesai dengan makanannya. Sungguh, ia makan dengan terburu-buru. Apa yang ia kejar? Apa sesuatu itu yang membuatnya tak bisa lepas dari ponselnya selama ia makan? Tiba-tiba aku menyadari satu hal, kesendirian kami lah yang membuatku merasa terkait. Meski kami berada dalam posisi yang bersebrangan. Ia berada di sini untuk mengejar waktu, sementara aku melakukannya untuk membunuh waktu.

Suasana tiba-tiba terasa lengang. Bahkan para pramusaji yang berdiri di beberapa sudut tidak melakukan aktifitas yang cukup berarti. Dua jam di tempat ini dan aku hanya menghabiskan semangkuk sup meskipun hidangan utama sudah disajikan sejak tadi. Tempat ini favoritku, makanan yang ada di dalamnya adalah makanan kesukaanku. Tapi entah mengapa aku tidak bisa menikmati setiap detik yang kuinginkan ini.

Ponselku bergetar di atas meja, ada notifikasi yang masuk. Sebuah foto, dengan penjelasan singkat di bawahnya.

Ibu, lihat, kami sudah sampai di air terjun..!

Dua pasang mata milikku, tersenyum lebar dengan latar belakang arus air yang mengalir indah dari bebatuan yang berdiri kokoh. Pandanganku kabur, dan saat itu aku hanya berharap, aku bisa mempercepat waktu.