A lesson from Rejection

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 September 2016
A lesson from Rejection

You have to know how to accept rejection and reject acceptance.
-Ray Bradbury

Seseorang yang tumbuh di keluarga kami tiba-tiba berubah asing. Entah apa yang dipikirkannya, ia menarik diri dari apapun yang memiliki 'urusan' dengan keluarga kami. Orang tua, adik-adik, bahkan kerabat yang cukup dekat dengan kami. Dalam arti mereka yang pernah tinggal satu atap, bahkan dengannya juga.

Dalam titik yang paling ekstrem, dia, yang hanya berjarak sekian langkah kaki dari rumah tak pernah sekalipun berkunjung. Bertemu di jalan seperti tak pernah kenal. Saat tak sengaja mampir ke rumahnya diacuhkan seperti debu. Tanpa ada penjelasan semua akses komunikasi ia tutup.

Bingung, aneh, marah, dan sebuah tanda tanya besar tertempel di jidat kami masing-masing.
Bertanya kepada orang terdekatnya seperti bertanya pada seseorang yang menyembunyikan bangkai. Dikarangnya cerita-cerita indah agar bau busuk tak teraba. Masalahnya kami tidak bodoh-bodoh amat untuk percaya begitu saja.

Seorang kerabat yang terlampau kecewa mencoba berusaha memperbaiki hubungan meskipun ia tidak pernah tahu apa yang rusak. Saya mencibir. Untuk apa susah-susah menemui atau berhubungan lagi dengan orang yang jelas sudah tidak ingin kenal dengan kita. Harga diri kata saya dengan aroma dendam.

Tapi dia bersikukuh. Katanya dia tidak pernah diperlakukan begini oleh seseorang. Apalagi yang sudah dianggap seperti keluarga. Ia sedih mungkin, dan ingin tahu apa salahnya dan akan mencoba memperbaiki.

Tapi pintu sudah digembok. Kecuali dia berubah pikiran maka pintu itu tidak akan terbuka. Berusaha dengan halus sia-sia. Menambah usaha yang agak keras malah akan merusak gembok dan bisa-bisa kita ditangkap polisi karena telah merusak properti orang lain.

Sayangnya dalam kasus seperti ini, polisi atau hakim tidak bisa memutuskan siapa yang bersalah. Argumen-argumen hanya akan terlempar ke udara lalu terbawa angin. Memutuskan siapa yang salah seperti mencari jalan di hutan tanpa kompas. Kekecewaan menjadi sesuatu yang harus diterima meskipun sedikit sakit rasanya.

Ini bukan soal kita tidak mau berusaha. Tapi mungkin dengan membuat penerimaan bahwa akan ada orang-orang yang sampai mati tidak akan menerima kita, untuk alasan yang bisa dan tidak bisa dimengerti, kita akan menjadi lebih kuat.

Dan itulah usaha terakhir kita.

Image credit

  • view 200