Sang Penyelamat

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 September 2016
Monologue

Monologue


Short stories.

Kategori Cerita Pendek

7.2 K Hak Cipta Terlindungi
Sang Penyelamat

Aku sudah membaca tanda-tanda itu sejak pertama kali kami bertemu.

Di sebuah pagi yang dingin namun aku merasa sedikit kepanasan. Dadaku bergemuruh, dan hatiku mulai gelisah. Telapak tanganku basah oleh keringat dan meski sudah kuseka berkali-kali, rasanya tetap lengket.  Hari itu akan diadakan ujian olahraga basket. Sejak semalam rasanya aku ingin mati saja. Olahraga, apapun adalah kelemahanku. Satu-satunya yang aku bisa hanya berlari dan sedikit bulu tangkis. Tak pernah sekalipun servis voli-ku melewati net. Sepak bola membuatku menjadi pengamat lapangan dan membiarkan yang lain rusuh memperebutkan bola. Basket? Mengingatnya perutku melilit. Bola tak pernah melekat saat dribble dan net-nya terasa jauh sekali di angkasa.

Tapi ia datang dengan senyumnya yang manis.

Meneduhkan, dan menjawab semua keresahan. Seperti api unggun yang menghangatkan kebekuan. Pelan-pelan darahku mengalir dan seketika itu damai melingkupi hatiku. Aku bisa menggenggam tanganku dengan nyaman, dan pada akhirnya aku pun bisa membalas senyumannya dengan tak kalah manis. Kemudian kami tertawa bersama. Ia terus berada di sana hingga waktu yang tadinya menyebalkan itu berakhir, dan kami melewatinya bersama sambil bergenggaman tangan.

Hebat bukan? Ia hanya cukup hadir, dan semua permasalahan selesai.

DI pertemuan berikutnya lagi-lagi ia menyelamatkanku. Bagi sebagian orang, mengungkapkan penolakan adalah hal mudah, semudah mengucap rindu pada sahabat lama. Tapi untukku, ada sebuah mekanisme rumit yang harus kulalui sebelum menolak sesuatu. Aku akan memikirkan banyak hal seperti perasaanku setelahnya, akan berakibat apa penolakan ini padaku, dan yang palng sering adalah perasaan orang yang aku tolak nantinya. Ini memang menyebalkan dan jujur aku tersandera perasaan bodohku ini sendiri. Padahal apa sulitnya mengatakan tidak? Tapi untukku ternyata amat sulit!

Kadang aku sedang ingin menikmati waktu kosong dengan diriku sendiri, tenggelam dalam rekaan surealisme Murakami. Menyesap teh hangat dan membungkus tubuhku dengan selimut sambil menonton film drama yang membuatku banjir air mata. Atau membiarkan Somewhere only We Knew milik Keane terus menerus bergaung di telingaku sementara tanganku asyik mengabadikan masa lalu dalam buku harian yang mulai jarang terisi.

Tapi bukan sekali dua kali di masa itu temanku menelepon, sahabatku meminta ditemani membeli sepatu –yang sebenarnya kehadiranku pun tidak berguna karena selera kami amat berbeda-, atau ketua kelompok diskusi di kelas tiba-tiba menyuruh kami ke perpustakaan.

Saat hatiku bergejolak tentang apa yang ingin kulakukan dan apa yang harus kulakukan itulah,  ia datang tanpa kuminta. Kehadirannya sebagai alasan membuatku tak perlu menyakiti siapapun. Juga diriku sendiri. Kedatangannya membuat waktu yang kupunya menjadi beratus-ratus kali lipat menjadi lebih menyenangkan dan aku bebas dari perasaan dilematis konyol yang seharusnya sudah kubuang sejak lama.

Ada satu kejadian yang amat membekas saat ia menyelamatkanku, lagi.

Hari itu untuk pertama kalinya aku merasakan patah hati. Mencintai seseorang diam-diam adalah keahlianku. Tapi melihat akhirnya kami tak bisa bersama membuatku hancur berkeping-keping. Untuk kesekian kalinya terjebak dalam perasaan dilematis yang konyol, aku rasa aku memang belum benar-benar belajar. Aku mungkin seorang pengecut yang tak ingin membayangkan bagaimana akhirnya jika kami berdua mengetahui perasaan masing-masing. Menanggungnya sendiri juga ternyata tak lebih baik. Dan untuk melepaskan sesuatu yang bahkan sebenarnya tidak aku miliki…aku merasa menjadi pecundang yang menyedihkan.

Saat akhirnya dengan terpaksa aku menerima selembar kertas undangan pernikahan berukir namanya bersanding dengan nama asing yang tak ingin kuingat, susah payah aku berusaha menahan tangisku agar tidak tumpah di hadapannya. Tapi pertahananku tidak cukup kuat. Tanggulku jebol. Dan air mataku keluar tanpa bisa kubendung.

Ah. Aku tidak ingin menjelaskan apa-apa. Lagipula aku tak akan bisa melakukannya.

Lalu, tepat di saat dia menamatkan satu kalimat pertanyaan untukku. Ia –sang penyelamatku- datang. Meski tanpa permisi, tapi dengannya aku jadi bisa memberikan jawaban.

“Air hujan kak. Air hujannya menciprati wajahku.”

Ujarku sambil menunjuk butiran-butiran air yang jatuh dari atap lalu menyentuh tanah dengan keras dan akhirnya memercik ke seantero arah.

Dan demi semua penyelamatan itu, aku rasa aku menginginkan kehadirannya sepanjang tahun.

 

Gambar diambil dari sini

  • view 316