Peach

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 September 2016
Monologue

Monologue


Short stories.

Kategori Cerita Pendek

7 K Hak Cipta Terlindungi
Peach

Sebelum kau membenciku lebih jauh, ingatlah saat malam itu aku mengirimkan sebuah foto kepadamu.

Aku di sana, mengenakan baju pemberianmu, sebuah setelan bernuansa persik, warna pastel favoritku. Lihatlah bagaimana menyedihkannya foto itu. Aku mencoba tersenyum, menaikkan salah satu ujung bibirku, tapi seluruh sisa raut wajahku tertarik ke bawah. Seperti tidak memiliki gravitasi. Sedikit lagi mungkin aku bisa terbenam ke dasar bumi dengan seluruh lingkaran perasaan ini. Aku gemetar, tapi foto ini harus sempurna. Sehingga kau bisa tahu bahwa aku amat senang menerimanya.

Sungguh. Aku benar-benar senang saat itu.
Aku merasa kau melihatku, aku merasa kau menganggapku salah satu bagian penting dalam hidupmu. Kita mungkin bisa bergantung sama lain. Mengeratkan tangan agar langkah-langkah kita tegap sejalan.

Tapi setiap yang ada di dunia ini selalu hidup dengan dua sisi. Bahkan hidup itu sendiri dibayangi kematian di belakangnya. Kebahagiaan dan kesedihan. Mimpi dan kenyataan. Harapan dan putus asa. Cinta dan juga kebencian. Beberapa kali aku terjebak di dalamnya, menakar nalar dan hati untuk sebuah keputusan yang bahkan aku tak tahu itu akan menghancurkanku dalam sekejap.

Dan beginilah kenyataan telah menghantamku.
Aku berada di sana. Seperti sebuah ranting daun yang mengintip dari balik jendela. Sepanjang apapun ia tumbuh, ia hanya berada di luar jendela. Sebanyak apapun daun-daun bermunculan, ia tetap berada di luar jendela. Sekuat apapun aku berusaha masuk dengan ranting yang kian memanjang, pemilik jendela akan mengeluarkanku lagi. Aku hanyalah hiasan di balik jendelanya yang kotor. Aku adalah pemandangan pengalih keletihan. Aku mungkin dipandang hebat karena bisa tetap berada di sana dengan kokoh, tapi ketakjuban itu hanya sesaat. Tak menutup kemungkinan esok aku akan dianggap terlalu mengganggu dan lebih baik dipotong saja.
Aku mencari jalan masuk pada sebuah jendela yang tertutup. Mencari celah pada jari jemari yang tak kunjung melepaskan genggaman. Mengucap doa dalam bisik untuk sebuah keajaiban. Lalu dalam kebenaran yang batasnya semakin mengabur, aku melihat diriku sebagai wujud yang harus diselamatkan, setidaknya olehmu.

Baju itu kulipat rapih dan kusimpan di dalam lemari. Di sudut yang tak bisa kulihat lagi. Tidak untuk sehari-hari. Tidak untuk membuatku harus memaku diri setiap waktu pada sesuatu yang tidak bisa aku dapatkan. Bahkan jika memang benar-benar terjadi keajaiban, aku tidak tahu apa aku bisa sebahagia yang aku pikirkan.

Jadi aku memutuskan membencimu saat ini.
Aku membencimu karena kita bertemu. Aku membencimu karena persahabatan mustahil ini. Aku membencimu untuk mimpi-mimpi kesempurnaan yang nyata tak bisa kita wujudkan. Dan jika kau melihatnya sebagai pelampiasan atas kesalahan yang menolak untuk ku akui. Itu tak sepenuhnya salah.

Mungkin butuh setahun dua tahun, puluhan tahun, atau bahkan saat nanti kita sudah sama-sama menimang cucu. Dan sampai saatnya tiba, baju bernuansa persik itu akan terus berada di sana menunggu untuk kupakai kembali,

atau... lebih baik ku buang?


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Seperti biasa, Hani Taqiyya mengeluarkan tulisan yang menjadi ciri khasnya: menguak emosi terdalam tokoh utamanya. Kali ini dia mengambil sudut pandang tokoh yang akhirnya tak mampu melanjutkan perasaannya ke orang yang ia kasihi. Teknik penuturan dilakukan secara apik sehingga emosi tokoh tersampaikan secara mendalam ke para pembaca. Rasa getir, pilu yang berubah menjadi benci diungkapkan secara maksimal. Baju berwarna ‘peach’ sebagai tanda kenangan di antara mereka menjadi saksi bisu pergulatan batin dari rasa sayang berubah menjadi rasa benci. Tulisan yang begitu sukses menghantarkan rasa masygul tanpa cengeng. Beraroma benci tanpa menebarkan permusuhan. Bagus, Hani!

  • Ariyanisa AZ
    Ariyanisa AZ
    1 tahun yang lalu.
    Nice, Hani.. Salam kenal

  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    1 tahun yang lalu.
    Mendalam, emosinya dapet...
    Bagus