Les Miserable

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Agustus 2016
Monologue

Monologue


Short stories.

Kategori Cerita Pendek

7.3 K Hak Cipta Terlindungi
Les Miserable

Sungguh. Aku benci menuliskan kisah ini.

Masalahnya ia sudah bertahun-tahun mengendap di kepalaku seperti sampah. Kalau tidak segera kubuang, ia akan membusuk dan malah merusak isi kepalaku yang lain. Lagipula aku memang harus membuang sesuatu, supaya aku bisa memberikan ruang untuk hal penting yang lain.

Perempuan ini menyedihkan.

Aku ingin menamparnya berkali-kali agar dia sadar bahwa semua ini nyata. Mungkin aku harus menyobek sedikit kulit tangan dan kakinya agar ia dapat merasakan apa itu rasa sakit yang sebenarnya. Paling tidak ada salah satu indera fisiknya yang bekerja. Darah yang kentalnya teraba. Lebam yang birunya menyala. Bukan Cuma rasa nyeri menyayat di sekitar dada dan malah membuatmu seperti orang dungu karena tidak tahu harus melakukan apa.

Aku ingin berteriak padanya, lakukannlah pengecut!

Tidak ada substitusi rasa sakit. Jangan biarkan orang lain melakukannya padamu. Rasa sakit yang ditimbulkan orang lain rasanya akan jauh lebih sakit dari luka  yang kaubuat sendiri.

Ya! Ambil pisau yang kau asah setiap hari itu. Kau akan menangis keras saat ia merobek kulitmu, tapi setelah itu kau tahu cara menyembuhkannya. Ada lusinan obat di dalam lemari. Atau kalau sudah habis, kau bisa membelinya di apotik.

Atau tembok itu. Lihat ujungnya yang runcing. Kenapa tidak kau tabrakkan saja tubuhmu di snaa. Rasakan pedihnya saat ia membuka ruang lagi dikulitmu. Darah yang mengalir. Air mata. Kau masih bisa mengambil obat lagi bukan?

Tapi kalau kau terus terjebak dalam rasa sakit pada hatimu, tidak akan ada obatnya! Merasakannya hanya akan membuat rasa sakit itu semakin nyata. Tidak ada darah yang bisa kau hentikan. Kucuran air matamu sulit kau hentikan. Karena rasa sakit itu ada di sana, menyebar ke seluruh tubuhmu. Meracuni isi kepalamu, membuatmu merasa bahwa kematian sepertinya lebih baik.

Lihat, dia punya seribu alasan untuk melakukannya. Tangis yang ia simpan dipojok kamar mandi. Biru lebam yang ia samarkan dengan bedak yang sebenarnya tak pernah ia gunakan. Senyum palsu. Sapaan basa-basi agar orang-orang melihatnya tetap hidup.

Atas nama cinta dan tanggung jawab dia bilang.

Cih! Sejak kapan cinta membuatnya mengorbankan diri sendiri? Lalu tanggung jawab? Semua orang punya hak tersebut, jahat jika harus membebankan semuanya pada perempuan bodoh dan naif ini.

Seandainya aku bisa mengguncang-guncang tubuhnya dengan keras supaya isi kepalanya yang penuh ketakutan itu keluar berhamburan. Jadi aku bisa membantu melemparnya jauh-jauh dan membuatnya hanya memiliki keberanian. Paling tidak untuk kewarasan dirinya sendiri.

Lihat. Ini sudah kesekian kalinya ia menatap cermin. Bibirnya masih menyisakan rasa asin di sana. Sudut atasnya bengkak. Mungkin ia akan tampak seperti donald duck. Daerah di sekitar matanya biru, dan dia harus mengarang cerita baru lagi jika ada yang usil bertanya.

Ah. Seandainya aku bisa keluar dari tubuhnya. Aku pasti akan memarahinya sedikit supaya ia segera sadar.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Kami membayangkan betapa dahsyatnya tulisan Hani Taqiyya ini jika dipentaskan monolog di atas panggung. Emosi yang total dibawakan akan sangat ?menusuk? siapa pun yang menyaksikannya. Selalu menarik membahas karya inspirator yang satu ini. Seperti tulisan sebelumnya, ?Berbagi Mati?, Hani sebenarnya berangkat dari ide sederhana, yakni seputar apa yang berada di hati dan otak si tokoh. Ia memoles secara maksimal apa yang ada di benak tokoh tersebut. ?Les Miserable? pun mengoyak sisi getir jatuh cinta kepada seorang pria, kali ini dari sudut pandang sisi batin si tokoh perempuan yang berharap cepat bangkit dan menata hidup baru tanpa pria itu. Tetapi cinta ibarat candu, yang bisa membuat siapa pun bertahan di tempat yang sama walau sakit. Kekuatan Hani adalah sanggup memunculkan semua uneg-uneg sisi batin yang jenuh dengan situasi si tokoh perempuan ini secara habis-habisan. Terdengar sederhana memang tetapi tanpa latihan dan perenungan hebat, seluruh protes batin itu tidak akan keluar secara tuntas apalagi enak dibaca. Tetapi Hani melakukan semuanya dengan sangat baik.

  • Choke J.S
    Choke J.S
    1 tahun yang lalu.
    Keren Dab.....

  • MissGalauSite Galausite
    MissGalauSite Galausite
    1 tahun yang lalu.
    Perumpaan yang ditulis bagus. Diksinya juga oke banget. Kerenlah hani taqiyya tulisanmu

  • Riyani Jana Yanti
    Riyani Jana Yanti
    1 tahun yang lalu.
    Kereeen, emosinya nendang bangettt (y)

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Maknyuz nih cerpen, mirip 'dabu-dabu', pedas dan misteri tapi Penikmatnya pengen nambah.

    *salut, sangat layak promosi