Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 14 Juli 2016   15:00 WIB
Berbagi Mati

Setiap bersama dengannya, aku selalu mengharapkan kematian.

Perasaan itu menusuk bahkan hingga ke dalam mimpi. Ia sebenarnya bukan seseorang yang kini penting. Dulu memang pernah, tapi kami sudah seperti orang asing. Anehnya saat ia datang, hanya ada aroma kematian yang aku rasakan.

Apakah aku, atau dia yang ingin mati?

Ataukah kami berdua memang benar-benar ingin mati?

Mungkin kami sudah lelah dengan kehidupan yang sedang kami jalani sekarang. Ya. Alasan apa lagi yang membuat seseorang ingin mati selain sudah tidak menginginkan hidupnya?

Beberapa kali aku mendengar hidupnya yang kini berantakan. Tapi karena jarak yang sudah tercipta itu, aku tidak pernah bertanya apa-apa. Jalur kami sudah berbeda. Menolongnya hanya membuat semuanya runyam.Tapi tiba-tiba ia hadir di dalam mimpiku. Berkali-kali. Dengan sosoknya yang lebih ceria. Dia lebih berbahagia. Mungkin! Tapi entah mengapa selalu ada bayangan hitam kematian yang mengikuti di belakangnya.

Ia membagikan perasaan menyeramkan itu lewat mimpi. Ini menyebalkan. Aku memang ingin mati dikehidupan nyata. Tapi mengapa aku juga harus dekat dengan kematian dalam mimpiku. Rasanya seperti tidak benar-benar hidup. Nah. Itu berarti aku sudah mati meskipun jasadku masih hidup. Makanya ini terasa jauh lebih menyebalkan. Tapi bukankah ini yang aku inginkan. Tidak. Berada di titik terendah membuatku ingin melepas semua koneksiku dengan apa-apa yang kumiliki di dunia ini. Kehidupan. Orang-orang yang paling berharga. Darah daging. Ya. Sesaat aku bersedia menukar mereka semua dengan ketenangan yang aku pikir bisa aku dapatkan dengan kematianku.

Mimpi-mimpi bersamanya membuatku menyadari satu hal. Aku telah mati! Aku telah mati tapi aku masih hidup! Aku hidup tapi jiwaku mati. Kosong. Zombie. Aku zombie. Berada di area abu-abu seperti ini membuatku semakin frustrasi. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana bisa aku memilih?

Coba kureka ulang mimpi-mimpi itu. Dia tersenyum dengan aura hitam disekelilingnya. Aku tidak tersenyum melihatnya. Aku bingung dengan kehadirannya. Ia berkata hendak mencapai sesuatu. Ia berusaha meski ia kini dikelilingi hantu. Ya. Aku melihat hantu-hantu di sekitarnya dan itu membuat perasaanku tambah aneh. Aku benci perasaan aneh. Aku ingin perasaan yang jelas. Tidak abstrak. Aku takut tapi tidak juga. Aku hampir terbius dengan senyumnya tapi sesuatu di belakangnya membuatku terdiam.

Apa dia benar-benar bahagia?

Apa dia sudah terlepas dari permasalahan hidup yang mengungkungnya?Mengapa dia terus tersenyum meskipun kematian mengekor dibelakangnya?

Dia masih hidup.

Mungkin dia sudah berhasil memutuskan untuk menjalani hidupnya kembali.

Lalu aku?

Mungkin aku hanya perlu menekan nomornya dan bertanya apa kabar.

Karya : Hani Taqiyya