PANGERAN ANAKRAKATA

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Mei 2016
PANGERAN ANAKRAKATA

Anakrakata tahu, bagaimanapun kakaknya mencintainya, ia tidak akan pernah bisa menggantikan rasa kehilangan yang dimiliki Rakata sejak ia dan ibu mereka berpisah.        

Kita tidak akan pernah berpisah Rakata, kalaupun aku harus pergi, kau akan tahu, kalau aku tetap ada di sampingmu.

Kakaknya selalu mengingat kalimat itu. Rakata sering bercerita, Ibu akan mengucapkannya satu kali dalam sehari, sambil menunjuk dada mungilnya. Saat itu mungkin mereka saling mendekap, menyelimuti diri sambil melempar hangat. Sesekali ibu menyanyi, melantunkan syair-syair tentang alam, langit biru dan samudera, juga burung-burung yang mengangkasa. Kalaulah ada lengkung tak berujung, itulah senyum Rakata kecil yang tak bisa menghalau kebahagiaan miliknya.

Hari itu, di tahun 1883.

Burung-burung laut mengangkasa tanpa arah. Mereka beterbangan begitu ribut, sampai Rakata harus menutup telinganya. Belum habis kebingungannya, terdengar dentuman amat keras. Suaranya nyaris membelah langit. Tubuh Rakata bergetar hebat, tapi tubuh ibu…Rakata hampir tidak bersuara. Rakata melihat api di perutnya, api yang sangat besar, dan Rakata tahu hanya dalam hitungan detik api itu akan keluar menuju langit, melemparkan semua isi perut ibu, dan mungkin tubuh mereka berdua.

Gemuruh memenuhi udara, binatang-binatang kecil berlari tanpa suara.

Ibu memaksa Rakata untuk menatap dalam ke matanya, dan itu malah membuat ia ingin menangis, karena waktunya sudah semakin dekat. Dalam kesadarannya ia masih mendengar ibu berbisik dan meminta tolong padanya untuk menyampaikan permintaan maaf pada samudera, dan langit. Lalu terjadilah ledakan maha dahsyat itu. Suara api yang meluncur ke udara, mereka berubah menjadi bola-bola yang termuntahkan dan kembali jatuh dari langit. Samudera bergolak, meloncat hendak menyentuh langit. Matahari di timur berubah merah, di selatan ia menjelma hijau, dan entah di sudut mana lagi, ia berpendar-pendar berubah warna sesukanya. Langit biru mereka menghitam, dan cahaya-cahaya aneh juga ikut berpendar.

Beberapa saat ia seperti berada di ranah tak bernafas, tak ada kehidupan, selain sisa-sisa api yang hangusnya membuatnya ingin menangis untuk kesekian kali. Ia mencari-cari tubuh ibu yang biasa mendekapnya, tapi sepertinya ia hanya menemukan kenangan-kenangan yang membuatnya ingin melarikan diri. Rakata sekali lagi menatap langit yang masih hitam, dan meski ia tahu ibu tidak berbohong, karena ia masih bisa merasakan tubuh ibu di dalam tubuhnya,

Rakata mati rasa, dan sepertinya seluruh dunia juga begitu.

Kini setelah lebih dari seratus tahun..

Anakrata lahir di sembilan belas dua puluh tujuh. Seolah-olah laut menyimpannya untuk sementara waktu saat kakaknya, Rakata sudah mulai bisa berdamai dengan hatinya sendiri. Rakata masih menyimpan ibu di dadanya, dan Ibu tidak pernah berbohong bahwa ia tidak akan meninggalkan Rakata. Sisa-sisa tubuh ibu yang berjiwa telah bersama dirinya sekarang. Ada dua yang bersama dirinya. Orang-orang menamai mereka dengan banyak nama, tapi dia adalah Rakata, anak Krakatau yang dicintai ibu dan dicintai semua orang.  

Setelah perpisahan itu, Rakata tahu sudah tidak ada gunanya bersedih. Ia punya adik sekarang. Rakata yakin Anakrakata menyimpan jiwa ibu lebih banyak dari dirinya, dan itu membuatnya semakin bersyukur. Sekian lama ia menunggu, berharap semuanya akan berubah kembali seperti semula. Meski tanpa ibu, Rakata ingin kedamaian yang dulu mereka rasakan bersama-sama, bisa dirasakan lagi oleh mereka berdua. Awalnya hanya tanaman-tanaman kecil yang sangat halus dan sering terbawa arus laut. Lalu yang lain mulai muncul, satu, tiga, lima, teman baru mereka dapatkan. Mereka tumbuh seperti hendak memberi warna dalam tubuh dua keturunan legenda itu. Di beberapa sudut pohon-pohon berkumpul membentuk hutan, menemani sudut dirinya yang lain. Lalu di bagian tubuhnya yang bersentuhan langsung dengan samudera, ia bisa menyapa tunas-tunas kelapa yang kelak akan tumbuh besar-besar dan berbuah manis.

Sepanjang itulah Rakata menunggu dan berdoa, dan kini tidak terasa sudah lebih dari seratus tahun. Ia tahu bahwa ia masih akan tumbuh besar, dan Tuhan telah menganugerahkannya umur yang amat panjang. Kadang-kadang ia dan Anakrata bercengkrama dengan cemara-cemara hijau, bercerita tentang nyanyian ibu. Sesekali mereka mencandai kantung semar dan ketapang di bibir laut. Dalam banyak hal, mereka merasa hidupnya kini akan baik-baik saja.  

Mereka kini juga punya panggilan satu sama lain. Rakata Besar untuk sang kakak, dan pangeran untuk Anakrakata. Seorang pangeran harus bisa melindungi dan dilindungi sekaligus. Seorang pangeran bisa menjadi sandaran, tapi seorang pangeran juga bisa menghancurkan. Itu kamu, Anakrakata. Sekali lagi kakaknya berujar. Meskipun Rakata juga salah satu bukti nyata kelegendarisan Krakatau, dan karena itu ia harus dilindungi, manusia menyebutnya dilestarikan. Anakrakata masih akan hidup jauh lebih lama darinya, karena ia masih berkembang. Di puncaknya saja, Anakrakata masih menyimpan kawah aktif yang berisi belerang dan sulfur.

Dari bisik-bisik manusia juga, Anakrakata tahu kalau dalam tubuh mereka berdua menyimpan banyak sekali hal-hal yang belum diketahui dunia, dan bagaimana dia akan bermanfaat bagi orang banyak jika mereka bisa mengeksplorasi dan menemukan metode yang tepat. Karena hal itu pula, mereka harus bisa menjadi tempat berlindung untuk teman-teman mereka itu. Ia juga harus bersinergi dengan samudera, tempat mereka lahir, seperti yang biasa ibu lakukan dulu.

Kalau saja Anakrakata bisa menerawang jauh ke masa depan, dan mengetahui bagaimana nasibnya seratus tahun nanti, tentu ia tidak perlu risau. Tapi ia tidak bisa, ia hanya perlu menjalani hidup dengan baik, tidak menolak siapapun yang berbuat baik padanya, dan berdoa supaya ia bisa hidup lebih lama dan menjadi Pangeran Anakrakata kebanggaan Krakatau, yang menjaga samudera dan langit Sunda.

Mungkin itu jugalah yang membuat banyak orang mengunjunginya.

Mereka datang dengan berbagai cara. Ia sering melihat perahu motor melaju kencang membelah laut dari arah Carita. Atau kadang mereka menyebrang dahulu dengan feri menuju menuju Dermaga Canti di Desa Canti, Lampung Selatan. Laut Canti bercerita, semua orang mungkin menyukainya karena bagian tubuhnya yang landai sangat menyenangkan untuk dijejaki. Laut yang biru jernih, dengan riak-riak kecil ombak, dan tidak seperti udara pantai yang panas, Canti dilingkupi udara yang teduh dan menyejukkan. Canti juga suka melihat anak-anak yang berlarian di atas pasir dan berteriak kegirangan saat mereka menemukan kulit siput atau koral. Jadi, sebelum terpesona dengan keindahan Pangeran, Canti harus lebih dulu memberi mereka kenangan indah, supaya mereka mengingat Canti seperti mengingat Pangeran, ujar Canti suatu ketika padanya, membuatnya tersenyum lebar.

Lain lagi cerita Pulau Sebesi, sahabat terdekat mereka di samudera. Mereka yang menyebrang langsung dari Anyer bisa langsung menuju Sebesi. Tetapi untuk mereka yang singgah di Canti, harus menaiki kapal kedua untuk menuju Sebesi, karena bagaimanapun, sebelum mereka bisa bertemu Anakrakata, mereka harus menyebrang dari sana terlebih dahulu. Sebesi, sebagai sahabat terdekat mereka juga sudah mempersiapkan diri dengan baik. Banyak dari orang-orang itu menjadikan Sebesi tempat bernaung sambil mempersiapkan diri untuk bertemu Anakrakata. Di banding Anakrakata yang tidak boleh ditinggali, hampir sebagian sudut Sebesi menjadi tempat tinggal. Pulau yang lebih meriah. Bukit-bukit menjadi latar belakang yang mempesona. Kadang dari jauh, mereka  suka menikmati kelap-kelip lampu dan suara riuh orang menarikan tarian di atas kuda rotan, sementara jauh di dalam laut Sebesi, udang-udang ikut meloncat kegirangan.

Lalu mereka berempat, Rakata, Anakrakata, Si Panjang dan Sertung akan bergandengan tangan dan tersenyum lebar, saat perahu-perahu mulai datang dan mengelilingi mereka. Wajah-wajah cerah yang diliputi rasa ingin tahu dan luapan kebahagiaan. Menjejakkan kaki di tempat legenda? Siapa yang tidak merasa bangga dan bahagia? Atau teriakan mereka saat melihat hamparan laut yang masih suci. Tetapi yang lebih membuat mereka tersenyum adalah saat orang-orang itu memandang mereka sambil melantunkan kalimat syukur pada Tuhan. Sungguh, hanya keagungan-Nya lah yang membuat mereka menjadi begitu dikagumi.

Sertung adalah sahabat nelayan. Kadang ia suka menggoda dengan menyuruh lumba-lumba meloncat di dekat perahu yang lewat, membuat wajah-wajah itu sempurna membentuk huruf O dengan mulut mereka yang menganga.

Anakrakata tahu mereka mengunjungi mereka untuk banyak hal. Tubuhnya yang ditutupi berbagai macam lapisan, dari jauh terlihat hitam dan begitu gagah. Orang-orang pintar membawa banyak peralatan untuk menyentuh dirinya, mengambil sampel dari jejak-jejak kaki, atau daun-daun yang berserakan. Pecinta alam membawa tas yang tingginya hampir melewati kepala mereka. Untuk menuju puncak dirinya, mereka harus berusaha agak keras mendaki lereng yang cukup miring. Sesekali mereka tertawa melihat teman mereka yang tertinggal jauh karena kelelahan, tetapi mereka terus mendaki. Kadang Anakrakata ingin menyuruh angin berhenti sejenak supaya mereka tidak terlalu sibuk untuk menghalau debu-debu yang cukup tebal, tetapi kalau ia melakukannya, wajah-wajah itu tentu saja akan terlihat marah karena kepanasan. Dari jauh, rimbunan cemara melambaikan tangan mereka membentuk gelombang seperti ikut memeriahkan suasanana.

 Penyuka pantai dan laut membawa alat-alat selam ke Rakata atau ke si Panjang, Rakata Kecil. Alat-alat itu seperti tabung-tabung panjang dan kaca mata transparan. Mereka juga menggunakan sesuatu di mulut mereka, seperti selang yang panjang. Mereka adalah pemuja keindahan bawah laut, karena jauh di dalam Laut Anakrata tersimpan ekosistem terumbu karang berwarna-warni yang memanjakan mata. Biru, merah muda, hijau, cokelat muda, dan warna-warna lainnya. Mereka juga bisa menyentuh ikan-ikan karang yang sudah lama hidup berbahagia di dalam sana. Meski masih banyak batu-batu besar di sekitar si Panjang, keindahan terumbu karang di dalam sana tak bisa untuk dilalui begitu saja. Sementara di sudut pantai Rakata yang cukup landai membuat siapapun tak bisa menahan diri untuk menceburkan diri mereka.

Kadang-kadang Rakata suka bercerita tentang ibu mereka di saat banyak orang seperti itu.  Membuat dirinya sendiri dan Anakrakata menyerah pada rindu yang mungkin tak akan pernah berbalas. Di saat-saat seperti itu Rakata akan menyuruh angin laut bertiup untuk mendamaikan hatinya. Membuat wajah-wajah yang mengunjunginya tersenyum kembali karena diterpa kesejukan yang tiba-tiba. Kemudian orang-orang itu ias berlarian lagi di sepanjang pantai dan meninggalkan jejak mereka di atas pasir yang halus, atau menyelam lagi untuk kesekian kalinya.

Kau adikku yang hebat Anakrakata, tidakkah orang-orang itu mengagumimu? Kau adalah saksi sejarah yang akan terus diperhatikan sampai waktu di bumi selesai. Tersenyumlah, karena kami bertiga akan terus tersenyum bersamamu.

(Circa 2012)