Rein and Tears

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Mei 2016
Rein and Tears

Kalaulah cinta pertama itu manis rasanya, aku akan minta pada Tuhan untuk menghapus semua rasa lain yang aku punya.

Laki-laki itu. Aku mengenalanya saat SMA dulu. Aku dengan seragam putih abu-abu konyol, sementara dia dengan kemeja lusuhnya yang setiap sabtu menemui aku, juga sepuluh orang terpilih lain, yang nilai fisikanya tidak mencapai angka 6, dan harus mengikuti pelajaran tambahan kalau tidak mau malu seumur hidup karena harus remedial selama tiga tahun. Jadilah ia, kakak kelas kami yang umurnya terpaut sebelas tahun itu, berbaik hati memberikan kami bimbel, gratis.

Hari itu, siang pertama kami. Sejak pagi tadi hujan turun, dan sampai siang ini ia belum juga berhenti. Aku merekam dirinya dengan kemeja lusuh, celana kain, dan sandal gunung. Di bahunya tersampir sebuah tas kerja berwarna hitam. Rambutnya yang belah pinggir itu tampak berantakan dan agak basah. Beberapa bulatan air terlihat di kemejanya yang berwarna abu-abu. Ia seperti terburu-buru memasuki kelas kami. Lalu ia berbicara, memperkenalkan dirinya, normal seperti biasa. Saat itu ada perasaan aneh yang kurasakan, ada desiran halus menelusup ke dalam dadaku dan aku sadar itu. Seketika itu pula aku tahu, aku terpesona dengan cara bicaranya yang lembut tapi meyakinkan, seolah menyimpan sejuta kebajikan. Aku melihat ada cahaya di sekitar wajahnya yang menutupi semua kelusuhan yang ia kenakan. Ada sesuatu dalam hatiku, untuk pertama kalinya. Ada senggolan dan lirikan juga sebuah senyuman kecil yang aku tahan mati-matian dengan teman sebelahku. Hampir saja aku tak bisa menyimpan rasa itu sendiri. Benar kata orang, kebahagiaan memang selalu ingin terpancar begitu saja.

“Ehem.” Nayla membuka suara. Setelah kelas bimbel pertama kami berakhir, aku dan dua sahabatku, Nayla, dan Angie melakukan rutinitas kami, kumpul bersama di kamar Nay sambil menyantap mie goreng yang selalu ia sajikan setiap kami datang.

“Jadi, ada yang lagi jatuh cinta nih…”ucapnya dengan nada menggoda.

“Siapa Nay? Aku enggak kok.” Ujar Angie seperti biasa, kelewat sensitif.

“Ya bukan kamu lah! Masa kamu nggak lihat Gie? Yang tadi senyum-senyum nggak jelas pas bimbel Fisika, yang nyenggol-nyenggol bahu aku sampai pada memar.”

“Jangan berlebihan deh.” Ujarku akhirnya, nggak tahan dengan kalimat Nay yang hiperbolis itu.

“Jika hati sudah tertambat, gula jawa pun akan terasa coklat…” lanjut sahabatku itu dengan gaya sok berdeklamasi.

“Naylaaa….!!” Kali ini aku nggak segan-segan melemparnya dengan bantal.

Beberapa hari kemudian, aku mendapatkan nomor handphone kakak fisika itu dari Angie. Ternyata mereka bertetangga dekat. Meskipun untuk mendapatkan nomor keramat itu, Angie harus diam-diam membuka handphone ayahnya. Saat itu juga aku langsung mengirim sms padanya. Entah setan mana yang merasukiku, sehingga aku berani melakukannya. Padahal aku menilai diriku cukup konservatif dalam masalah seperti ini. Misalnya, aku percaya bahwa jika aku menyukai atau mencintai seseorang, aku tidak akan mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu karena aku perempuan. Aku berharap, laki-laki lah yang harus menyatakan perasaannya terlebih dulu.

Tapi dia orang pertama yang membuat dadaku berdesir.

Aku meraba-raba dan membiarkan instingku memimpin. Saat itu aku tidak berpikir apa-apa selain bisa dekat dengannya, sedekat mungkin. Aku cepat belajar. Bahkan aku tak bertanya pada Nayla yang sudah kuanggap seniorku dalam urusan apapun, juga urusan cinta. Jadi awalnya, aku berbasi-basi dengan bertanya tentang fisika, tentang kecepatan, jarak, gerak parabola, juga gerak linier yang membosankan itu. Lalu dia membalas semua pertanyaanku itu denga sabar. Ia sungguh orang yang sabar. Pada masa itu, kapasitas untuk mengirim sms tidaklah sebesar sekarang. Handphone yang ada belum terlalu canggih, jadi jika kamu mengirim sms lebih dari kuota, maka sms itu akan terbagi menjad 4-5 bagian. Kadang-kadang jika sinyal sedang tidak baik, sms kita akan terpotong dan membingungkan si penerima. Itulah yang setiap hari aku lakukan. Tentu saja karena penjelasan soal fisika tidak bisa diurai hanya dengan 160 karakter saja.

Rein, kalau pertanyaanmu banyak, lebih baik kamu hubungi saya ke telepon rumah saja. Hpku tidak bisa menerima sms banyak-banyak rupanya.

Balasnya suatu ketika, dan beberapa detik kemudian, sms berikutnya masuk,

Ini nomor telepon rumah saya…

Haaaa..!! aku melonjak kegirangan. Tiba-tiba aku melihat sekelilingku seperti terang benderang. Sejak saat itu, semuanya berubah. Setiap sore aku menelfonnya, bercerita tidak melulu soal fisika, tapi tentang apa saja, masalah organisasi, teman, keluarga.

Aku menyimpan semuanya rapat-rapat, bahkan dari Nayla dan Angie. Saat bimbel pun, kami berdua terlihat normal. Seperti dua orang yang baru saja kenal, tidak ada yang spesial. Ia membagi semua perhatiannya dengan cara yang sama. Aku pun mengerti, tidak mengharap sesuatu yang lebih, meskipun di sore harinya kami bertemu dan bertukar cerita, diantara kami seolah-olah tidak ada apa-apa.

Aku sudah menancapkan perasaan itu begitu dalam, tumbuh berkembang tanpa bisa aku hentikan. Aku membiarkan wajahnya mengganti rumus-rumus matematika yang ditulis Pak Tyo setiap hari. Aku membiarkan sosoknya hadir dalam mimpiku setiap malam. Aku penuhi buku harianku dengan namanya di setiap lembar.

“Rein besok aku ke Bandung.”ujarnya padaku. Saat itu kami sedang duduk bersisian di depan sebuah warung internet, tempat biasa kami bertemu.

“Oh ya? Oleh-oleh dong kak,” ujarku sambil bercanda..

“Iya, pasti aku bawain,” jawabnya sambil tersenyum.

“Eh nggak usah kak, cuma bercanda kok,” ujarku kali ini dengan rasa malu. Tapi dia hanya tersenyum, dan beberapa hari kemudian aku sudah menerima seplastik oleh-oleh khas Bandung, tempe kering, sale pisang, sampai brownies kukus. Perasaanku membuncah, bukan karena aku memang penggemar berat tempe kering itu, tapi karena dia benar-benar mengingatku. Jadilah masing-masing makanan itu aku masukkan di sebuah toples untuk kumakan sendirian di dalam kamar. Selang beberapa hari, kali ini aku yang tiba-tiba harus pergi ke Bandung untuk acara keluarga. Aku katakan padanya bahwa aku akan membawakannya sesuatu sebagai rasa terima kasih. Setelah berputar-putar di Cihampelas selama satu jam, dan hampir menangis karena belum memutuskan apa yang harus aku berikan padanya, akhirnya aku menemukan sebuah kaos putih dengan corak abstrak biru di bagian depannya.

“Terima kasih, Rein. Dua warna ini favoritku asal kau tahu. Kamu hebat,” jawabnya saat menerima pemberianku. Sungguh, jika saat itu aku tidak ada dihadapannya, aku pasti sudah berteriak sekencang-kencangnya.

 

Kemudian hari-hari berjalan seperti biasa. Komunikasi kami semakin membaik. Sesekali kami bertemu lagi di depan warnet itu, membicarakan apa saja. Sementara, rongga dadaku semakin dipenuhi perasaan itu, cintaku sudah sebesar samudera, dan airnya yang biru adalah semua perasaanku padanya.

 

Setelah pembicaraan kami di kamar Nay saat itu, Nayla dan Angie tidak pernah bertanya-tanya lagi tentang hubungan ku dengannya. Tetapi yang kuingat, mereka selalu tersenyum saat melihat wajahku yang akhir-akhir ini terlihat begitu bahagia. Tapi hari itu, hampir seharian aku tak bisa tersenyum. Bimbel fisika kali ini, ia tidak datang. Seorang pengganti diutus untuk menggantikannya, dan meskipun ia terlihat lebih pintar, dan mengajar kami dengan lebih menarik, aku tetap tidak bisa konsentrasi. Selama dua jam itu aku malas-malasan. Hampir semua latihan kusalin dari Angie. Meskipun sesaat sebelum mengajar tadi, guru pengganti sudah menjelaskan bahwa ia sedang ada urusan penting di kampus, aku tetap ingin mendengar alasan itu langsung darinya. Jadi, setelah pelajaran tambahan usai, aku mengirimkan sms padanya. Entah kenapa, aku masih saja berbasa-basi, aku malu bertanya mengapa ia tidak datang, jadi aku malah mengirimkan pertanyaan tentang fisika. Setelah lima menit, belum ada balasan. Lalu sepuluh menit, lalu lewat satu jam.

Aku menenangkan diri, tapi aku tidak tahan. Akhirnya aku putuskan bertanya langsung padanya,

Kak, kenapa tadi tidak datang?

Lima belas menit berlalu, dan belum juga ada sms masuk ke handphone ku. Kini aku mulai khawatir, jangan-jangan ia mulai tidak suka menerima smsku, atau sms-smsku dirasa sudah mengganggu. Aku tetap menunggu. Aku matikan hp, dan aku nyalakan lagi. Berulang-ulang. Berharap kesalahan ada di hpku, mungkin sinyalnya jelek atau apa sehingga sms tidak bisa masuk. Nihil. Malam semakin larut, sementara aku memikirkannya hingga tertidur.

Esoknya aku terbangun dan tetap mendapati layar hpku masih kosong. Aku menekan rasa malu, aku mengiriminya sms sekali lagi dengan isi yang hampir sama. Tapi sampai pelajaran sekolah berakhir, tidak ada satu sms pun yang masuk. Kegelisahanku menjadi. Aku hampir menyerah, dan sehari kemudian, penantianku berakhir.

Hey, maaf Rein, saya sibuk sekali. Kita ngobrol di telepon saja ya.

Tidak berapa lama hpku berdering. Itu dia! Dia meneleponku! Aku melonjak kegirangan di atas kasur, berteriak-teriak tertahan. Kecemasan dan kegelisahanku kemarin langsung terlupakan setelah mendengar suaranya. Ia masih saja menjelaskan soal fisika yang aku tanyakan kemarin, meskipun jawabannya hampir tidak ku tangkap sama sekali.

Esoknya senyumku kembali. Semua kembali normal, dalam arti ia tak lalai membalas sms ku dan aku masih bisa menelponnya setiap malam. Tapi ada masalah baru, di pertemuan berikutnya, ia juga tak datang untuk mengajar bimbel. Saat aku tanyakan pada penggantinya, ternyata ia sudah resign, tidak lagi mengajar untuk kami. Aku heran mengapa dia tidak memberitahukan hal ini padaku saat di telepon kemarin. Akhirnya aku menemukan jawabannya saat kami bertemu lagi di minggu berikutnya.

“Kenapa kakak berhenti mengajar?” tanyaku padanya,

“Ada banyak hal yang harus saya urus, Rein.”

“Misalnya..?”

“Aku harus mengejar target untuk lulus kuliah bulan ini. Masa studiku sudah hampir habis.”

“Lalu bagaimana? Apa sekarang semuanya sudah selesai?”

“Tentu saja belum. Aku masih beradu argumen dengan dosen pembimbingku, dan tiba-tibanya semuanya macet. Padahal aku harus mengejar target yang lain.”

“Kalau begitu…kau harus lebih berusaha, kak.” ujarku sambil menatap matanya.

“Aku tahu adik kecil,” jawabnya sambil tersenyum dan tangannya mengusap-usap kepalaku. Sentuhan singkat yang membuat darah yang mengalir di tubuhku seperti berhenti tiba-tiba. Sepanjang sisa hari itu, aku tersenyum, tak ada rasa lain yang bisa kulukiskan selain kebahagiaan.

 

Sore itu, aku, Nayla, dan Angie sedang berkumpul seperti biasa. Kali ini di rumah Angie. Kami bertiga duduk di atas kursi ayunan yang terbuat dari kayu, di samping sebuah kolam ikan kecil yang penuh lele. Sambil melemparkan makanan ikan, Nayla bertanya padaku,

“Sudah sampai mana hubungan kalian Rein?”

“Hah? Apa?”

“Jangan berbelit-belit deh. Kamu tahu persis yang aku maksud si kakak fisika kita.”

“Lagipula si nenek bawel Nuri udah cerita ke semua orang kalau kalian ada affair.” timpal Angie.

“Apa? Affair? Memangnya aku selingkuh? Ngaco deh!” sergahku marah. Mereka berdua hanya mengangkat bahu,

“Aku nggak ngapa-ngapain, cuma ketemu biasa, membahas fisika. Itu aja, kok.”

“Tapi kan kamu suka sama dia Rein, dan maksud pertemuan-pertemuan itu, supaya kamu bisa lebih dekat sama dia kan? Sama orang yang kamu cinta itu?” Aku hanya diam, tak berani menjawab pertanyaan Nayla.

“Kamu tahu perasaan dia ke kamu?” lanjutnya lagi. Sejujurnya selama ini aku nggak pernah memikirkan hal itu, jawabku dalam hati.

“Nggak penting, aku suka sama dia, itu udah cukup.”

“Rein…Rein..jangan sok naïf deh. Masih aja kamu begini. Nggak ada seorang pun di dunia ini yang mencintai seseorang tanpa berharap ingin dicintai juga. Itu fitrah kita sebagai manusia, Rein.”ujarnya lagi.

“Kata-katanya bagus Nay! Aku quote buat di mading yah?” celetuk Angie, keluar konteks seperti biasa.

“Umur dia berapa?”

“28 atau 29 mungkin.”

“Nggak ada harapan..”ujar Nayla pelan. Entah kenapa saat itu aku merasa marah padanya.

“Maksud kamu?” ujarku dengan nada yang agak tinggi.

“Lebih baik kamu buang perasaanmu itu jauh-jauh, kalau nggak mau menyesal,” jawab Nayla santai.

“Mmm..sebenarnya Rein, dia itu memang baik ke semua orang, terutama ke perempuan. Aku khawatir dia juga menganggap kamu sama dengan teman-teman perempuannya yang lain. Gitu sih kata kakakku, mereka kan satu kampus,” ungkap Angie juga.

“Apalagi jarak umur kita jauh banget, paling-paling kamu cuma dianggap adik.” lanjut Nayla, tanpa ampun. Aku menahan amarahku pada mereka, jadi dua sahabatku ini sedang mencoba membuatku melupakan semua perasaanku padanya.

“Oh iya, satu hal lagi. Nggak semua yang kita inginkan di dunia ini bisa kita miliki. Jadi sebaiknya kamu jangan kecewa nantinya,” ujar Nayla lagi. Aku kesal sekali pada mereka saat itu, aku kesal sampai ingin menangis.

 

Aku tidak pernah mengingat-ingat pembicaraan itu lagi. Hidupku terus berjalan, dan aku tetap membiarkan perasaan itu mekar. Tapi, ketika aku sudah hampir melupakannya sama sekali, sebuah sms masuk ke hpku. Hari itu hari minggu, dan sehari sebelumnya aku baru saja bertemu dengan laki-laki itu.

Rein, ketemu yuk. Aku mau memberikan sesuatu buat kamu.

Saat itu aku merasa agak heran, tidak biasanya kami bertemu dengan selang waktu sedekat itu. Tapi akhirnya aku mengiyakan dan kami bertemu di tempat biasa. Saat itu langit sudah mulai gelap. Beberapa menit lagi hujan pasti turun, tapi aku sampai tepat waktu dan mendapatinya sedang duduk sendirian di sana.

Aku menyapanya sambil tersenyum,

“Ada berita bagus ya kak?” ujarku padanya. Ia belum menjawab, tapi malah mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Ini untukmu. Aku harap kau bisa datang nanti.” Jawabnya sambil menyerahkan sebuah kertas yang dibungkus plastik. Kertas itu agak tipis, dan bahannya bukan hvs biasa, itu mungkin jenis ivory, seperti yang sering dipakai untuk…

Akad dan resepsinya minggu depan, makanya aku agak sibuk akhir-akhir ini. Menyelesaikan kuliah, dan mengurus semuanya. Untung semuanya bisa selesai tepat waktu.” Ia menghela nafas panjang, sementara aku terpaku di tempat. Seluruh tubuhku tak bisa bergerak. Tanganku tiba-tiba gemetaran dan telingaku mendadak tidak bisa mendengar suara-suara di sekelilingku, bahkan aku tak sadar kalau hujan mulai turun dan rintik-rintiknya berbunyi nyaring karena jatuh di atap seng. Meski sosok itu masih duduk di sampingku dan bercerita panjang lebar, sosoknya semakin kabur.  Sementara yang masih kulihat jelas adalah benda di tanganku, sebuah kertas manis berwarna emas dengan namanya terukir di sana, berdampingan dengan nama lain yang tidak aku kenal sama sekali. Aku merasa seperti rusa kecil tak berdaya yang melihat ibunya dicabik-cabik singa di depan mata.

Aku merasa ada dua luka yang begitu saja terbuka di dadaku, aku merabanya, ada rasa nyeri di sana. Dua rasa sakit yang saling mengait tanpa aku sadari. Aku memikirkan kata-kata Nayla dan Angie. Aku membayangkan buku harianku yang penuh dengan namanya, juga malam-malam yang membuatku bersemangat menjalani pagi karena telepon-telepon itu. Aku masih ingin merasakan kebas di pipiku juga senyuman-senyuman bodoh yang sering aku tahan setengah mati saat melihatnya. Mataku panas, dan nyeri di dadaku memperparah rasa sakitnya. Saat itu aku cuma berharap supaya dia tidak mengatakan apa-apa lagi, atau bertanya sesuatu padaku, karena jika mata kami beradu, wajahku pasti akan penuh dengan air mata.

“Rein, kenapa wajahmu penuh air begitu? Kamu menangis?” ujarnya memecah keheningan. Aku meraba pipiku pelan. Ternyata sudah ada air di sana, air mataku turun lebih cepat dari yang aku kira, dan aku tak ingin ia melihatku menangis di hadapannya. Aku mengusapnya cepat. Tapi air mataku seperti hujan yang tak bisa berhenti.

Seperti hujan…aku mengeja dalam hati,

“Air hujan kak. Air hujannya menciprati wajahku.” ujarku sambil menunjuk butiran-butiran air yang jatuh dari atap lalu menyentuh tanah dengan keras dan akhirnya memercik ke seantero arah. Ia menatapku sambil tersenyum manis sekali. Satu-satunya hal yang akan aku simpan darinya, setelah semua hubungan ini.

Diiringi hujan yang semakin deras itu, tiba-tiba aku teringat lagu yang sering dinyanyikan ayah sebelum aku tidur,

“rain and tears are the same

but in the sun you've got to play the game

when you cry in winter time

you can pretend

it's nothing but the rain..”

(Rain and Tears -Demis Roussos)

Aku bersyukur, saat itu hujan turun deras sekali.

(Circa 2012)