III. Yang (akhirnya) Tertinggal

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 April 2016
Sebuah Pertemuan, Sebuah Cerita

Sebuah Pertemuan, Sebuah Cerita


Pertemuan kembali dua orang sahabat. Berusaha memahami pertanyaan dan jawaban yang terserak, lewat sebuah kejadian yang (sepertinya) menyakitkan.

Kategori Fiksi Umum

626 Hak Cipta Terlindungi
III. Yang (akhirnya) Tertinggal

Malam itu, aku memutuskan tidak kembali ke rumah.

Aku berjalan mencari sudut yang bisa membantuku membuat semua keadaan ini menghilang sejenak dalam pikiranku. Aku berjalan kaki. Benar-benar melangkahkan kakiku dengan pikiran yang aku paksakan untuk kosong. Kepalaku harus kosong untuk saat ini.

Akhirnya aku menemukan sebuah halte di sebelah kiri jalan. Tempat itu masih ramai. Masih ada ,-cahaya menyala dari pedagang makanan yang berjualan. Halte itu kosong, dan itu sedikit melegakan, jadi aku memiliki tempat untuk bercengkrama dengan malam lebih jauh. Tepat di sebelah kursi duduk seorang ibu tua dengan nampan dagangannya yang diberi penerangan dari api yang entah dengan apa tetap menyala di dalam sebuah potongan bambu.

Cahaya dari kendaraan bersilangan dan mengacaukan indera penglihatanku. Membuat mataku sedikit sakit tapi juga membantuku menyingkirkan rasa sakit yang sedang mengukung seluruh tubuhku. Orang-orang lalu lalang.

Menyebar berkerumun mencari apa yang masih bisa masuk ke perut. Beberapa orang asyik mengobrol di depan toko yang sudah tutup sambil merokok dan menunjuk-nunjuk mobil yang lewat.

Entah membicarakan apa. Entah menertawakan apa. Tidak menutup kemungkinan mereka sedang membicarakan perempuan bermata bengkak dan tatapan kosongnya yang terlihat tanpa tujuan duduk di halte yang kosong karena jam operasional bis kota hampir usai.

Sayangnya tidak ada substitusi rasa sakit.

Jadi betapa pun sibuknya pemandangan malam dihadapanku, sesak di dadaku muncul lagi dan semua memori meloncat loncat girang tanpa bisa kucegah.

Bermain-main diatas perjuanganku menerima konspirasi alam semesta.

Peyek dalam nampan ibu tua itu hampir habis. Aku bisa merasakan iba pada wajah-wajah yang menyengajakan diri untuk membeli makanan dalam bungkusan plastik itu.

Ah. Ini klise.

Tapi sebuah kalimat tidak memiliki arti jika kita tidak merasakannya sendiri.

Lalu iba itu menular. Mungkin ada benarnya. Jadi setelah terpaksa merenung selama satu jam dengan limpahan cahaya bulan dan artifisial, aku memutuskan menghampiri ibu tua itu dan menyelipkan beberapa lembar uang yang kutemui dalam dompet.

"Tolong doakan saya, Bu."

Ucapku sambil menyentuhkan tangan kami. Ia menengok, tentu bingung dengan kalimat jelasku barusan. Tapi lembaran ditangannya membuat seluncuran kalimat tulus,

"Terima kasih banyak, nak."

"Tolong doakan saya sekali lagi, Bu."

Ia mengangguk dengan tatapan mata penuh keyakinan yang membuat sebagian sisi hatiku lumer.

Mataku mulai mengabur lagi. Tapi aku berhasil tersenyum kecil dan beranjak untuk melangkahkan kakiku.

Saku celanaku bergetar. Layarnya, meski tertutup kain, terlihat berkedap-kedip.

"Ya."

"Aku sedang ingin makan banyak."

Ujarnya tanpa basa-basi.

"Aku juga ingin menunjukkan foto-foto edelweiss bukti penanjakanku kemarin."

Lanjutnya lagi.

"Hanya restoran cepat saji yang masih buka."

"Aku tahu. Kita bertemu di tempat biasa ya."

Aku menyahut setuju sebelum menutup telepon. Seutas senyum kecil dan helaan nafas lega menghangatkan tubuhku lagi.

Teman sejati tidak perlu bertanya apa yang sedang kau alami. Dia hanya perlu hadir dan sesaat kau ingin melupakan apa yang sudah terjadi karena kebersamaan kalian jauh lebih ingin diwujudkan.

Aku melambaikan tangan pada seorang tukang ojek yang sepertinya hendak pulang. Tetapi ia memutuskan menghampiriku.

Mungkin doa ibu tua tadi melesat cepat ke angkasa pada sepersekian detik yang luput dari pengamatanku.

Malam itu, aku memutuskan tidak kembali ke rumah.

Aku berjalan mencari sudut yang bisa membantuku membuat semua keadaan ini menghilang sejenak dalam pikiranku. Aku berjalan kaki. Benar-benar melangkahkan kakiku dengan pikiran yang aku paksakan untuk kosong. Kepalaku harus kosong untuk saat ini.

Akhirnya aku menemukan sebuah halte di sebelah kiri jalan. Tempat itu masih ramai. Masih ada ,-cahaya menyala dari pedagang makanan yang berjualan. Halte itu kosong, dan itu sedikit melegakan, jadi aku memiliki tempat untuk bercengkrama dengan malam lebih jauh. Tepat di sebelah kursi duduk seorang ibu tua dengan nampan dagangannya yang diberi penerangan dari api yang entah dengan apa tetap menyala di dalam sebuah potongan bambu.

Cahaya dari kendaraan bersilangan dan mengacaukan indera penglihatanku. Membuat mataku sedikit sakit tapi juga membantuku menyingkirkan rasa sakit yang sedang mengukung seluruh tubuhku. Orang-orang lalu lalang.

Menyebar berkerumun mencari apa yang masih bisa masuk ke perut. Beberapa orang asyik mengobrol di depan toko yang sudah tutup sambil merokok dan menunjuk-nunjuk mobil yang lewat.

Entah membicarakan apa. Entah menertawakan apa. Tidak menutup kemungkinan mereka sedang membicarakan perempuan bermata bengkak dan tatapan kosongnya yang terlihat tanpa tujuan duduk di halte yang kosong karena jam operasional bis kota hampir usai.

Sayangnya tidak ada substitusi rasa sakit.

Jadi betapa pun sibuknya pemandangan malam dihadapanku, sesak di dadaku muncul lagi dan semua memori meloncat loncat girang tanpa bisa kucegah.

Bermain-main diatas perjuanganku menerima konspirasi alam semesta.

Peyek dalam nampan ibu tua itu hampir habis. Aku bisa merasakan iba pada wajah-wajah yang menyengajakan diri untuk membeli makanan dalam bungkusan plastik itu.

Ah. Ini klise.

Tapi sebuah kalimat tidak memiliki arti jika kita tidak merasakannya sendiri.

Lalu iba itu menular. Mungkin ada benarnya. Jadi setelah terpaksa merenung selama satu jam dengan limpahan cahaya bulan dan artifisial, aku memutuskan menghampiri ibu tua itu dan menyelipkan beberapa lembar uang yang kutemui dalam dompet.

"Tolong doakan saya, Bu."

Ucapku sambil menyentuhkan tangan kami. Ia menengok, tentu bingung dengan kalimat jelasku barusan. Tapi lembaran ditangannya membuat seluncuran kalimat tulus,

"Terima kasih banyak, nak."

"Tolong doakan saya sekali lagi, Bu."

Ia mengangguk dengan tatapan mata penuh keyakinan yang membuat sebagian sisi hatiku lumer.

Mataku mulai mengabur lagi. Tapi aku berhasil tersenyum kecil dan beranjak untuk melangkahkan kakiku.

Saku celanaku bergetar. Layarnya, meski tertutup kain, terlihat berkedap-kedip.

"Ya."

"Aku sedang ingin makan banyak."

Ujarnya tanpa basa-basi.

"Aku juga ingin menunjukkan foto-foto edelweiss bukti penanjakanku kemarin."

Lanjutnya lagi.

"Hanya restoran cepat saji yang masih buka."

"Aku tahu. Kita bertemu di tempat biasa ya, and listen..."

Aku menyahut setuju sebelum menutup telepon. Seutas senyum kecil dan helaan nafas lega menghangatkan tubuhku.

Teman sejati tidak perlu bertanya apa yang sedang kau alami. Dia hanya perlu hadir dan sesaat kau ingin melupakan apa yang sudah terjadi karena kebersamaan kalian jauh lebih ingin diwujudkan.

Aku melambaikan tangan pada seorang tukang ojek yang sepertinya hendak pulang. Tetapi ia memutuskan menghampiriku.

Mungkin doa ibu tua tadi melesat cepat ke angkasa pada sepersekian detik yang luput dari pengamatanku.

 

If we can't find heaven, I'll walk through hell with you*

 

Itu kalimat terakhir yang ia katakan sebelum kami memutuskan sambungan telepon tadi.

Sekali lagi aku tersenyum.

 

*Petikan lirik lagu Rachel Platten - Stand By You

 

  • view 202