II. Pertanyaan-Pertanyaan

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 April 2016
Sebuah Pertemuan, Sebuah Cerita

Sebuah Pertemuan, Sebuah Cerita


Pertemuan kembali dua orang sahabat. Berusaha memahami pertanyaan dan jawaban yang terserak, lewat sebuah kejadian yang (sepertinya) menyakitkan.

Kategori Fiksi Umum

627 Hak Cipta Terlindungi
II. Pertanyaan-Pertanyaan

"Selingkuh..?"

"Tidak secara fisik sih, tapi secara perasaan dan jiwa."

"Cih. Memang ada yang seperti itu?"

"Iya, dan jauh lebih menyakitkan. Bayangkan ketika kau berada di satu tempat yang sama, berbicara tentang hal yang sama, tetapi orang yang kau ajak bicara malah mengembarakan pikirannya ke tempat lain. Mendengar tapi tidak mendengar. Melihat tapi tidak melihat. Menyapa?mungkin hanya sekedar tuntutan kebiasaan. Seperti sebuah pengkhianatan terselubung. Lalu yang paling penting, membiarkanku terlihat amat bodoh dengan menganggapnya benar-benar ada di hadapanku."

"Jadi karena itu kau biarkan dia pergi?"

"Sedikit banyak."

"Kau jelaskan alasannya?"

"Tidak."

"Mengapa tidak?"

"Karena aku mencoba melakukannya seperti apa yang kau lakukan. Tidak menyentuh keseimbangan. Membiarkan ia berpikir bahwa ini adalah hal yang wajar. Seperti ia memintaku melihat hubungannya seperti itu."

"Oh. Wow. Itu tugas yang cukup berat,  jadi kalian pernah beberapa kali menyinggung masalah ini?"

"Tentu saja, dan tidak ada yang perlu dirisaukan."

"Jadi bagaimana rasanya mengorbankan dirimu untuk sebuah 'rasa baik-baik saja?"

"Cukup menyakitkan. Tapi aku melihatmu tetap hidup. Jadi aku yakin aku juga akan bisa melewatinya."

"Bagaimana kau yakin kalau aku benar-benar telah melewatinya, menganggap semua akan berlalu begitu saja?"

"Entahlah. Mungkin aku akan mengalaminya sendiri."

Ia menghela nafas. Memandang hujan yang kian menderas. Kami menyelami hening beberapa saat. Selalu ada waktu-waktu seperti ini. Jeda itu memang perlu. Membuat diri kita kembali pada posisinya meskipun hanya satu atau dua menit. Kadang, ketika kita berhadapan dengan orang lain, kita menyingkirkan apa-apa yang tidak ingin mereka lihat.

"Aku pikir, kita hanya perlu benar-benar jujur pada diri sendiri. Membiarkan diri kita mengenali perasaan-perasaan yang ada. Rasa sakit, bahagia, dikhianati, dikecewakan, juga rasa berpura-pura. Jangan menolak dirimu yang melakukan pengelabuan. Mengetahui kalau sebenarnya kita hanya berpura-pura senang, menafikan kalau kita memang sedih. Tidak terlalu rumit bukan?"

Ia tersenyum, aku membalasnya dengan senyum yang lebih kecil. Bukan keengganan, tapi lebih seperti senyum mengakui kebenaran yang belum sepenuhnya aku bisa terima.

"Jadi...?"

Ia bertanya sekali lagi.

"Aku sudah paham akan batas-batas yang sudah aku buat."

Ia mendengus, sambil berkata,

"Some people draw the lines. But they brutally use the eraser."

 

Aku meraba dadaku yang tadi terasa hampa. Ngilu.

 

"Sebenarnya aku ingin mengatakan padanya kalau aku tahu lebih banyak dari yang ia pikirkan." Ia mengangguk, masih menekuri dua cangkir di hadapannya.

"Mungkin saat itu aku berpura-pura tidak tahu."

"Seperti menipu dirimu sendiri kalau perasaanmu mengatakan ada sesuatu yang terjadi?"

Ia menyela tepat pada sasaran. Aku memandangnya. Selalu seperti itu. Setiap kalimat yang ia lontarkan hampir sebagian besar menebak isi kepalaku.

"Ya." Jawabku pendek.

"Lalu semuanya menjadi amat jelas, dan kau menyesali mengapa tidak mengatakan sesuatu apapun karena saat itu kau pikir mengutarakannya atau tidak, tidak akan mengubah keadaan. Meskipun..."

"Meskipun sebenarnya kau hanya takut akan kebenaran yang sudah kau ucap dalam hati."

Ia mendengus.

"Sejak kapan kau bisa meneruskan kalimatku?"

"Jangan meremehkan. Aku sudah amat cukup mengenalmu hingga rasanya isi kepala kita bisa tertukar."

Ia memandangku, tersenyum. Mata kami bertatapan tanpa jeda. Saling berpandang-pandangan.

"Dengan cara seperti ini kan kau mengetahui semuanya?" Ia berujar pelan.

Tetapi entah mengapa mataku tiba-tiba terasa panas.

"Tentu saja tidak." Ujarnya lagi.

"Kalau bukan ini..." ia menunjuk matanya, "Pasti ini."

Ia menunjuk bibirnya sekarang.

"Seberapa manis senyumnya yang kau ingat saat mencoba menahan semua isi kepala dan perasaanya?"

Pandanganku mengabur. Aku kalah lagi. Mendung seketika itu bergayut di depan mataku lalu menciptakan tetes-tetes hujan yang tidak bisa ku bendung. Tapi aku ingat, dalam bias itu aku masih mampu mengatakan sesuatu.

"Sangat manis. Terlalu manis hingga aku tidak bisa melupakannya dalam otakku."

Ia mengangguk pelan,

"Dan rasa tertusuk di dadamu?" Ia memutar cangkirnya lagi.

"Ya. Aku merasakannya."

"Sakit?"

Kami berdua melemparkan pandangan ke arah langit yang gelap, dan pada pandanganku yang terus mengabur, aku berkata.

"Ya. Hingga aku kehilangan kata-kata untuk menjelaskannya."

  • view 194