I. Pertemuan

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 April 2016
Sebuah Pertemuan, Sebuah Cerita

Sebuah Pertemuan, Sebuah Cerita


Pertemuan kembali dua orang sahabat. Berusaha memahami pertanyaan dan jawaban yang terserak, lewat sebuah kejadian yang (sepertinya) menyakitkan.

Kategori Fiksi Umum

707 Hak Cipta Terlindungi
I. Pertemuan

Pernahkah kamu merasa, berada di dalam kebingungan atas hidup yang sedang kau jalani sekarang?

Aku sedang mengalaminya.

Saat ini aku merasa  tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada sebuah perasaan yang benar-benar mewakiliku. Padahal kita sering merasa senang, sedih, marah, kecewa amat nyata. Ini bukan sekedar abu-abu dalam hidpumu, kau merasa ada sesuatu yang hilang, tapi kau tidak bisa merabanya. Ada sedikit kehampaan, tapi ada semangat menggebu yang tidak sabar ingin menunjukkan wajah aslinya.

Saat seperti ini membuatku mengingatnya.

Ia adalah seseorang yang terus mengalami fase ini dalam hidupnya tapi ia tetap hidup. Ia yang selalu diliputi pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin ia dengar jawabannya tapi ia terus bertanya, ia yang sering sekali menangis bahkan saat ia sedang tertawa. Ia yang amat lemah, tapi kelemahannya membuatku lebih kuat. Seperti saat kau melihat orang yang kau cintai bersedih, dan kau berusaha membuatnya bahagia kembali.

Suatu sore, di tempat kami biasa bertemu. Ia berkata padaku tentang bagaimana ia tahu yang ingin ia lakukan, tapi ia tidak melakukannya. Ia adalah pemuja keseimbangan. Baginya, sebuah sikap yang bisa merusak neraca ketenangan milik seseorang tidak perlu dilakukan. Meskipun itu adalah hal yang benar dan membuat segalanya lebih baik. Seperti saat kau bersahabat dengan seseorang dan dia melakukan kesalahan yang buruk, tapi karena kau tidak ingin melepaskannya sebagai sahabat, maka kau hanya diam, dan menganggap tidak ada yang pernah terjadi. Ia akan membiarkan dirinya tenggelam asal yang muncul di permukaan tetap menjaga keseimbangan yang sudah ada. Jika itu memang baik, tidak perlu berubah menjadi buruk. Begitupun sebaliknya.

Sebenarnya aku merasa amat kesal dengan sikapnya yang seperti itu, itu seperti pasrah dengan apa yang sudah berlaku. Padahal Tuhan sudah menganugerahkan kita segala macam kemampuan untuk membuat situasi menjadi lebih baik, lebih menyenangkan, dan tentunya lebih bernilai.

Tapi lagi-lagi, sikapnya yang tidak ingin menyentuh keseimbangan, malah membuat keadaan menjadi seimbang. Sampai hampir 7 tahun aku mengenalnya, aku masih belum tahu gejolak dan gemuruh apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Kini pandanganku tertuju pada setengah cangkir teh lemon yang sudah mendingin. Aku selalu menyukai minuman ini disajikan dengan berbagai cara, panas atau dingin. Ia selalu mencibir minuman ini karena aku selalu memesannya di manapun kami bertemu. Padahal ia juga tidak bisa lepas dari minuman apapun dengan daun mint di dalamnya.

Waktu terus berjalan dan tampaknya hujan akan segera turun.

Aku jadi mengingatnya sekali lagi.

Untuknya tidak ada romantisme hujan yang bisa ia tangkap. Hujan hanya mengingatkannya pada satu, lapar. Itulah sebabnya ia selalu memasak mie instan dan memakannya saat asapnya masih mengepul.

Apakah ia masih mengingatku seperti dulu? Seperti aku mengingatnya dan berusaha untuk bisa memahaminya hingga sekarang?

Titik-titik air mulai terlihat, tetapi belum sampai mengaburkan pandanganku.

Sosok itu pun semakin jelas mendekat.

His messy dry boy cut, his black leather jacket, and his mint-a-like sense...

Lebih dari aroma hujan, pemandangan itu merasuk ke dalam tubuhku, mengalir dalam darah, memberi kehangatan di sekujur tubuh. Membuka mata dan mengingatkanku kembali tentang hidup.

Saat itulah aku tahu,

Memang dia yang kubutuhkan di saat seperti ini.

 

  • view 255