Dialog dalam Monolog

Hani Taqiyya
Karya Hani Taqiyya Kategori Puisi
dipublikasikan 09 April 2016
Dialog dalam Monolog

I

Pada akhirnya dunia bertanya tentang kesendirian.

Juga sudut-sudut tak terjawab dari sekian pertanyaan.

Repetisi menyakitkan, dan simfoni air mata.

Setiap kita ingin menjadi sekuat baja, sehalus serbuk bunga, dan mungkin secerah matahari senja.

Tapi kita mengenal kerikil, api yang memercik tanpa pemantik, dasar yang tidak benar-benar tertutup.

Ada banyak cara, dalam satu maa.

Mungkin banyak yang bernama sia-sia, membuat siapapun enggan lalu seperti mengutuk sisa-sisa hati.

Lalu terjatuh bersamaan, atau malah berjalan meninggalkan.

Dan pada dada-ada yang pernah tersayat,

Kesendirian seperti saling mengingatkan.

 

II

Kita ingin berlari seperti terik menghindari hujan.

Meskipun gagal, rasanya tidak ada yang lebih penting selain pernah mencoba.

Kita ingin melihat apa yang ingin kita lihat.

Bukan menghindar seperti kucing yang diam-diam mengintip dari belakang pintu.

Kita ingin menangis hingga habis suara,

lalu berpikir, semua akan baik-baik saja.

Kita ingin pergi,

tapi mungkin kepergian kita tidak berarti apa-apa,

Kita ingin melakukan itu semua,

Lalu, apa kita sudah cukup berharga?