Mengingatnya

Pipit Hafshah
Karya Pipit Hafshah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 27 Agustus 2016
Mengingatnya

Sungguh! Aku bukan sosok yang suka membaca apalagi menulis.
Fyuh, baca buku yang udah ada tulisannya aja ogah. Apalagi nulis buat dibaca tulisannya -_-

Aku tipe orang yang ga mau ambil pusing. Maunya yang instan instan aja. Maunya yang gampang gampang aja. Bisa dikatakan "Sang Pembenci Proses". Walaupun sebenernya itu ga akan mungkin. Bahkan hal yang dikatakan "instan" pun sebetulnya perlu proses juga.

Eits! Tapi itu dulu. Duluuuuuuu banget, sebelum Allah kirimkan seseorang yang hampir mengubah segala keadaan hidupku.

Ya, dia sosok lelaki yang sempat ku taruh namanya dihati. Iya, dihati. Ditempat yang mana hanya aku dan Allah yang tahu apa isinya.

Ah, sebetulnya aku enggan jika harus membahas kembali kisah tentangnya. Sejujurnya aku sudah bertekad untuk menutup rapat-rapat kisahku dengannya yang begitu dilematis dan cukup dramatis ini. Sebab, aku khawatir. Jika ternyata hatiku masih basah dengan sebuah rasa yang harus nya sudah kering bahkan tandus.

Disini aku bukan mau membahas kisahku dengannya. Bukan! Tapi, tentang perjuangannya untuk membangkitkan semangatku membaca serta menulis.

Sebetulnya dari sanalah rasa itu berasal. Dari sebuah perjuangannya. Yang tanpa kenal lelah bahkan pamrih. Tanpa perlu pula publikasi. Semua tertata dengan rapi, hingga sepertinya syaitan pun tak mengetahui.

Dimulai dari sebuah chattingnya yang berisi sebuah tulisan terpampang dilayar handphoneku. Kau mulai berjuang dari situ. Dengan sebuah judul "Untuk Apa Membaca Buku".

Awalnya aku menganggap "tak penting". Bersegera menscrool kebawah, dan langsung memberikan reaksi "Wah, tulisannya menginspirasi sekali. Keren (y)". Sebenarnya aku "muak" untuk memberikan reaksi seperti itu.

Dan sepertinya ia pun mengetahui diriku yang tidak membaca tulisan yang di kirimkan kepadaku.

Tapi, perjuangannya tak sampai disitu. Dia terus berusaha. Untuk kali ini dia bukan hanya mengirimkan melalui chatting, tapi juga melalui beberapa sosial mediaku.

Dan, ternyata usahanya pun gagal. Aku tetap tidak tertarik untuk membacanya. Hingga datang satu waktu. Dia datang ketempat dimana saya bekerja. Memberikan satu bingkisan yang dibungkus dengan kertas kado berwarna pink serta bertuliskan "iqra".

Dia katakan "ini hadiah untukmu, Alhamdulillah aku ada uang lebih usai kerja kemarin hari"

Saat itu, aku tak lekas meraih bingkisan yang dibawanya. Aku masih menatap terpaku. Entahlah, apa yang membuatku jadi seperti ini. Yang pasti tanpa sadar aku menitikkan air mata. Aku baru tersadar bahwa dia begitu berjuang demi diriku.

Bisa kukatakan, dia bukan orang berada. Bahkan untuk makanpun harus bantu-bantu tetangga dulu, setelah itu baru ada uang buat beli makan. Ayahnya tak ada. Dia anak pertama, masih punya dua adik. Dan dia, masih berusaha menyisihkan uangnya untuk memberikan "hadiah" untukku.

Hingga pada akhirnya dia katakan bahwa tak sempat berlama lama. Karna ada banyak tugas yang harus diselesaikan. Dan iapun berlalu pergi. Sedang aku masih terpaku. Melihat bingkisan pink yang dibawanya dengan begitu perjuangan.

*kres*
Kubuka bingkisan berbungkus pink ini. Hingga pada akhirnya terlihatlah bahwa yang ia hadiahkan adalah sebuah "BUKU ". Saat itupula bulir air mata jatuh tanpa dusta bahkan tanpa drama. Ianya benar tulus mengalir karna begitu terharu dengan perjuangan dirinya.

Aku malu, malu pada diriku. Yang begitu banyak fasilitas tapi tak pernah mau memanfaatkan.

Aku malu, malu pada dirinya. Yang terhalang fasilitas tapi selalu berjuang dengan begitu banyak kekurangan.

Dan aku malu, jika ternyata aku tak pernah menghargai segala perjuangannya untuk kebaikan diriku.

Untuknya, yang selalu dalam doa. Semoga kau selalu bahagia didalam naungan rahmatNya. Maafkan aku yang terlambat menyadari semuanya :")

 

  • view 235