Menunggu

Pipit Hafshah
Karya Pipit Hafshah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 25 Agustus 2016
Menunggu

 

Saya ingin sedikit bercerita tentang satu kisah. Kenapa harus cerita sih jeng? Karena memang kalo bahas tentang "hati", saya harus ekstra "berhati-hati". Dan saya ga mau asal menjustifikasi seseorang begini begitu. Karena lagi lagi, yg kita bahas adalah soal "hati".

Baik, saya akan mulai bercerita. Jadi, ada seorang akhawat yang menjalani masa ta'aruf dengan seorang Ikhwan (semoga Allah merahmati keduanya dengan keberkahan hidup untuk diri dan keluarganya). Mereka menjalani masa ta'aruf yang sesuai syariat. Tidak ada sms/WhatsApp apalagi telfonan. Mereka betul betul dapat info atau kabar hanya dari MC (Mak Comblang) saja ..


Setelah step by step dalam ta'aruf sudah dijalani. Mereka merasa "klop" untuk dibawa ke keluarga. Untuk dibicarakan ke step yang seriusnya udah stadium 4.
Setelah bertemu dan menyampaikan maksud kedua belah pihak. Alhamdulillah, Pihak keluarga perempuan sudah "oke".. Tapi ternyata ada permasalahan di pihak keluarga lelaki.

Ternyata eh ternyata keputusan keluarga besar dari pihak lelaki, bahwa lelaki tersebut tidak bisa menikah sebelum lulus studi (red: kuliah) .. Dan lulusnya itu bukan seminggu, sebulan, dua bulan atau tiga bulan. Tapi lebih dari 7 bulan. Yaa, kalo di komplitin setahun kali ya..

Nah, itu artinya akhawat tersebut kudu "NUNGGU" si Ikhwan tsb sampe selesai studi dong?

Serius deh. Ini bukan hal yang mudah. Pasti bakalan banyak yg menghantam. Entah itu hantaman dari pihak internal maupun eksternal.

Dan tau gak sih, apa tindakan yang diambil sama akhawat tsb?

Ya, dia MUNDUR.

Wah, ga sedikit yang nge"yah"in keputusan yg diambil sama si akhawat ini. Ada yang bilang "setahun doang kali sis, nyantai aja. Sabar" , "Katanya mau nikah? Udh ada yg dateng malah di tolak" , dan blaaa blaa blaa lainnya..

Jelas, si akhawat ini tidak asal ambil tindakan. Bukan karena "kebelet" pengen nikah alhasil nunggu setahun saja ogah.
Bukan itu masalahnya. Ingat yah. Kita lagi bahas tentang "hati".

Itulah alasan akhawat tersebut memilih mundur. Karena dia takut.

Takut jika ternyata belum genap setahun dalam masa menunggunya. Dia lebih dulu dilamar kematian dibanding dilamar oleh orang yang ditunggunya.

Dan dia menghadap Allah dalam keadaan sedang ada hati yang lalai dari mengingatNya. Na'udzubillahi min dzalik.

Shalihah. Yg dua bulan aja kudu mesti banget jaga hati biar kagak keingetan si doi. Apalagi kalo macem setahun gitu.

Itulah, alasan akhawat tersebut enggan melanjutkan.

Intinya, menunggu adalah aktivitas yang membutuhkan kerjas keras dalam penjagaan hati dari mengingatnya secara berlebih.

Allahul musta'an.. Hadaanallah..

  • view 244