Audisi untuk Bahagia

Pipi Zakaria
Karya Pipi Zakaria Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 April 2016
Audisi untuk Bahagia

“Mau dengar berita bahagia, nggak?”

Aku berhenti mengikat tali sepatu, melirik perempuan di hadapanku dengan tatapan sangsi. Entah sejak kapan definisi kami tentang bahagia tak lagi sama. “Berita apa?”

“Kamu ingat Om Guntur, kan?” tanyanya hati-hati.

Aku pinginnya, sih, lupa. “Ingat. Kenapa dengan dia?”

“Minggu depan dia akan menikah!”

“Wah! Alhamdulillah!” Pujian kosong. Aku tidak sedang memuji Tuhan. Bagaimana mungkin aku memujiNya saat ini?, “Dengan Tante Ratna?”

“Alhamdulillah, bukan, calonnya masih gadis kok, “ ujarnya mengikik tak jelas.

Saat itu aku baru sadar, ada yang lebih sulit dari mengajari anak macan menjahit, yaitu berpura-pura tersenyum di hadapan saudara kandungmu sendiri.

“Ah, aku harus berangkat sekarang, kak, padahal aku masih ingin dengar ceritamu.” Tidak ingin dengar.

“Kalau begitu nanti aku lanjutkan di whatsapp, yah?”

“Oke!” Jangan lanjutkan.

Kalau ada satu saja kebaikan yang pernah diajarkan Om Guntur kepadaku, itu adalah bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Saking misteriusnya sampai detik ini aku tidak paham kenapa Ia memberikan banyak kebaikan pada manusia seperti Om Guntur. Mungkin dulu nenek banyak mendoakan kebaikan untuknya. Doa ibu kan lebih mujarab.

“Om Guntur kok sering ke sini, Mah?” tanyaku sore itu beberapa tahun yang lalu sepulang main bola di lapangan, Mamah sedang menyusun rantang yang baru di cuci, Om Guntur mengantarkan lauk untuk kami.

“Antar masakan dari nenek, ada telor balado, nih, kesukaan kamu.”

“Harus Om Guntur yang antar? Kenapa enggak Tante Ayu atau Om Susno?”

“Mamah yang minta, sekalian bantu ganti bohlam di kamar mandi.”

“Harus Om Guntur yang ganti? Kenapa enggak tunggu Papah pulang biar minta tolong Papah saja?”

“Kalau tunggu Papah, kamu kapan mandi sorenya. Sana cepetan mandi! Kamar mandinya sudah tidak gelap lagi, jangan banyak alasan.”

Enam bulan Papah di pertambangan lepas pantai, maka enam bulan juga Om Guntur akan lebih rajin mengantarkan masakan nenek untuk kami. Terkadang sambil membawakan layangan untukku dan Kak Hasna.

Om Guntur, kakak Papah yang paling baik.

Kalimat itu yang sering Mamah ucapkan sejak aku kecil. Seolah menanamkan sugesti pada anak-anak agar mereka menerima itu sebagai sebuah kebenaran yang tidak terbantah. Tapi masa anak-anak hanya sementara. Lambat laun aku bukan anak-anak, dan aku tau kesalahan yang diucapkan berulang tidak akan pernah menjadi kebenaran.

Papah membawaku dan kak Hasna pindah. Entah apa doa yang dirapal Kak Hasna sampai dia bisa mengeringkan air matanya. Aku tidak bisa. Mataku biar saja basah. Mamah bahkan tidak berniat bersusah payah menghapuskannya untukku.

Mamahmu, ibu yang paling baik.

Kalimat itu kemudian menggantikan sugesti yang dulu ditanamkan Mamah. Kini Papah yang melakukannya pada kami. Halus atau pun kasar, sugesti macam itu tidak akan pernah bisa masuk ke kepalaku. Apalagi hatiku. Lain dengan kak Hasna.

Mungkin itu sebabnya, definisi kami tentang bahagia tak lagi sama.

Tuhan bekerja dengan cara yang misterius, tapi jelas bukan dengan cara yang halus. Aku harus mati-matian menggerus hati setiap kali melihat Mamah meratapi Om Guntur. Sementara yang diratapi sedang mengantarkan lauk buatan nenek ke rumah Tante Bela dan Tante Yani.

Papah tidak mengijinkanku berduka. Jadi aku berduka diam-diam. Papah bilang jangan menuntut Tuhan, ini pasti baik. Jadi aku berhenti menuntut, tapi aku juga berhenti memuji.

Apa kriteria Tuhan ketika Ia menghadiahkan kebahagiaan pada hambaNya?

Aku mulai sangsi dengan kredibilitasNya.

Sesuatu mulai merayap di dadaku. Mengisinya penuh sekaligus meniadakan cahanya di dalamnya.

 

Om Guntur tidak pantas bahagia.

 

Aku minta Kak Hasna memasakkan telur balado.

Aku sisir rambutku dengan rapi. Memastikan nafasku wangi.

Lalu membawa bungkusan itu ke gadis manis yang akan menikahinya.

Berkali-kali akan ku lakukan.

Hingga Tuhan merasa aku pantas untuk bahagia.

  • view 101