Aku Menandaimu

Pintari Bisa
Karya Pintari Bisa Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 24 September 2016
Aku Menandaimu

 

Ketulusan berbuat baik.
Tidak perlu memandang siapa, maka berbuat baik saja.

Aku selalu membuat hatiku terjaga, waspada.
Maka pada kebaikan-kebaikan yang membawa maksud tertentu, mudahlah terbaca olehku.

Sampai aku merasa telah terlalu angkuh sebab seringkali menghindar, menolak kebaikan.
Entah mungkin sudah berapa banyak yang kecewa padaku, tapi sungguh bukan maksudku.
Sering kali aku berpikir apa memang aku yang terlalu salah bertingkah hingga mereka keliru mengartikannya.

Jadi aku harus bersikap seperti apa?

Padamu, aku telah memilih sikap yang sama. Sebab kudapati kebaikanmu nampak seperti yang lainnya. Tapi kemudian, aku mencoba berbaik sangka, tulus menerima.

Hingga suatu masa aku melihatmu berbeda.
Terlebih padamu aku menyimpan (sedikit) rasa kagum.

Pada caramu berkarya. Pada gayamu bercerita tentang keluarga. Pada jalan pikirmu yang kadang perlu aku sanggah. Pada lakumu yang selalu bertanya karena ingin terus belajar. Dan semua cara-caramu untuk menjaga jarak kita.

Ya, sedikit saja kagumku. Sebab saat ini aku harus tetap angkuh agar tak jatuh.

Aku resah memikirkan jika tiba saatnya.
Saat bagiku untuk luluh dan patuh pada yang telah Dia tentukan.

Tanpa sadar, aku telah menandaimu.
Seolah tak ingin mengecewakanmu.

Kuadukan pada Rabbku semua resah.
Berharap ini adalah pertanda-Nya.
Bahwa aku telah menandaimu.

Biarkan aku bersiap untuk menyambut siapa pun nanti yang kan tiba lebih dulu.
Sebab Rabb-ku belum menyingkap tabir tentangmu.

Tapi aku menandaimu.....
Dan aku kembali mengadu pada Rabbku.
Melepasmu...
Mengikhlaskanmu...

Berharap kamu juga melepasku.
Untuk segera kembali menjemputku lebih dulu sebelum berlayar ke tujuanmu.
Lalu kita luluh, patuh di hadapan-Nya.

 

  • view 255