Bingkai Pertama

Pintari Bisa
Karya Pintari Bisa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 September 2016
Bingkai Pertama

Musim gerimis di bulan November lalu adalah pertama kalinya bagiku benar-benar menerima sebuah pemberian. Lukisan berbingkai, yang tentu saja terlukis citra diriku di dalamnya. Ini bukan pertama kalinya seseorang mencoba menunjukkan karyanya dengan fotoku dilukis kembali dengan cara digital.
Aku masih sangat mengingat pesan guru ngaji saat jaman sekolah dulu, jangan terima apa pun pemberian dari laki-laki. Maka begitu caraku menjaga agar hati tetap tenang sesuai anjuran.
Tapi entah kenapa kali ini tak kuasa tertolak. Sebab lukisan dan bingkainya langsung tiba di rumah. Rapi, dibingkai, dibungkus.
Terlalu horor membayangkan diriku membuangnya, seperti manusia keji tanpa rasa penghargaan dan penghormatan. Sebab pemberian pertama kali darimu dulu benar-benar aku buang. Awalnya memang senang, tapi sepertinya ini bukan saat dan tempat yang tepat untuk menyuburkan tanda-tanda benih. Tidak sekarang, atau bahkan tidak akan pernah. Bahkan sesungguhnya aku ingin kau benar-benar membunuhnya, jangan pernah menyemainya lagi.
Aku selalu mengabaikan setiap desiran yang muncul. Abai dan menghindar sepertinya tidak pernah jadi ujung penyelesaian. Maka pada rasa ini aku coba menghadapinya. Mengamati setiap gerakan rasa yang muncul, mengoreksinya. Aku menantang diriku sendiri agar tak terlena.
Pada lukisan ini awalnya sering aku tatap lamat-lamat, ah akhirnya aku menemukan lukisan ini cacat juga. Terlalu banyak goresan garis di wajah, jadi tampak terlihat lebih tua. Ah, tapi mungkin wajah ini memang terlalu bergurat karena terlalu sering cemberut. Toh dia memang tak perlu merubah wajahku dilukisan itu jadi terlihat lebih cantik, itu tipu daya namanya. Terimakasih atas kejujuran karyamu.
Berbulan-bulan bingkai ini hanya di meja, kadang juga aku pasang terbalik menghadap tembok agar tak terlihat.
Tapi kemarin akhirnya bingkai ini naik derajat menggantung di dinding. Jadi sesiapa yang masuk kamarku akan bertanya
"dari siapa ini? siapa yang buat?"
Berharap mereka tidak pernah terpikir membalik bingkai belakangnya sampai menemukan barisan kata "Lelaki Khayalan".
Dasar ah kau tukang ngayal.

  • view 187