Bermain Peran

Pintari Bisa
Karya Pintari Bisa Kategori Inspiratif
dipublikasikan 24 Juli 2016
Bermain Peran

"Neng, titip anak gua ya besok. Di kantong celananya udah disiapin plastik kalo dia mabok. Awas juga sama anak-anak besok, mereka bader"

Ini catatan dari perjalanan pekan lalu saat acara Pekan Budaya dari kedutaan Australia di salah satu mall pusat ibu kota. Waktu terima diinfo acara ini, tentu ajaaa semangat! Hahaha. Yang awalnya bilang gak bisa ikut aja sampe mundurin jadwal sehari. Berangkat sama 3 rombongan, total 17 anak dan 9 orang dewasa.

Seharian kegiatan kami saat itu sewruuu! Salah satu yang dipertunjukkan ke anak-anak adalah budaya bertutur pada suku asli Australia alias aborigin, ternyata kita punya kemiripan budaya berkisah yang kuat. Larry Brandy, adalah warga negara Australia yang sejarah DNA nya masih dari suku aborigin. Nah, di sini, Larry berkisah tentang kehidupan suku aborigin dengan mengajak anak-anak memainkan beberapa adegan. Terutama cara berburu! Ini seruuu!

Suku aborigin biasa berburu Kangguru dan burung Emu.
Anak-anak bermain peran kangguru dengan memakai topeng, mengikuti gerak-gerik kangguru yang dicontohkan Larry, seperti cara kangguru menggerakkan tangan, menggaruk hidung, lompat-lompat dan berputar.

Berganti peran jadi pemburu yang diam-diam bersembunyi sesekali dibalik batu, kadang dibalik rumput. Dan anak perempuan mencoba peran jadi burung Emu dengan menirukan suara kicauannya.

Dan sesi role play ini bisa berjalan dengan baik karena kak Resha, jadi anak2 bisa paham instruksinya. Duet dua pendongeng hebat!
Dan terakhir ditutup dengan tarian suku aborigin saat mengucapkan rasa syukur setelah berburu. Anyway, musiknya bikin merinding juga karena tambahan Degrados yang dimainkan seniman alun-alun ciliwung. Haha. Kereen uey!

Tapi yang mengerakkan catatan saya ini bukan tentang peran yang dimainkan anak-anak saat sesi dongeng. Melainkan obrolan kami tentang peran manusia yang sesungguhnya.

Setelah acara pembukaan, lalu anak-anak duduk manis makan siang, tiba-tiba ada yang datang menyapa. Ternyata, Pak Inayat datang juga! Bapak ini kalo datang selalu mengejutkan. Hahaha.
Berawal dari bertanya kabar, dan sampai akhirnya bertanya tentang hubungan kerabat antara Pak Inayat dan Pak Taufiq. Mereka ini bersaudara, tapi kami gak tau kakaknya siapa dan adiknya siapa. Hahaha. Pun cara berpikir, hobi dan hal yang diminati kedua bapak ini berbeda. Yang sama adalah keduanya membiarkan rambutnya gondrong. Hehe.

"Wah, saya sudah lupa beda usia kami berapa. Saya udah gak terlalu peduli dengan status yang bikin pusing. kakak atau adik atau hubungan lainnya. Bahkan sama ibu saya aja, saya pernah bilang untuk mengundurkan diri jadi anak. "Saya pamit, sudah bukan anak ibu lagi". Saya lebih suka berhubungan seperti teman, termasuk keluarga."

Masih mencerna ucapan bapak, kami terkekeh. Hahaha. Bapak ini memang selalu nyentrik cara berpikirnya.

"Masa iya pak?"

"Lah iya bener. Itu saya lakukan setelah 3 tahun menikah, saat anak pertama lahir. Peran jadi ayah dan suami itu berat. Ditambah tuntutan peran lain jadi anak, jadi kakak, dll. Walah, daripada ngeluh, saya tinggalkan yang memberatkan.”

"Terus, respon ibunya bapak gimana?"

"Nah, justru sejak itu, ibu saya lebih sering hubungi saya kalo ada apa-apa. Pasti menghubungi saya dulu dibanding kakak saya. Itu artinya ibu saya pun ngerti maksud saya kan?"

Nah, kan. Saya takjub juga. Obrolan makin seru sampai tersisa hanya tanya-jawab antara dua lelaki, karena yang lain mulai bersiap ke alun-alun tempat acara.

"Saya juga gak suka tuh sama kegiatan reuni-reuni nostalgia. Pasti pas dibahas itu yang dulu-dulu, bukan yang sekarang atau yang ke depan."

Ah, lagi-lagi. Sebuah pemikiran yang berbeda, bikin benturan di kepala. Hahaha.

********

Memetik pelajaran dari obrolan kemarin kira-kira begini

Menyederhanakan Peran

Saya sendiri baru tersadarkan peran ganda ini lagi setelah membaca buku 7 Habits. Setelah di list perannya banyak juga ya. Hahaha. Mulai dari jadi anak, kakak, mahasiswa, pekerja, anggota komunitas, dll. Belom lagi kalo nikah bertambah jadi istri, mantu, ipar.
Lah jadi kebayang sama peran bapak Presiden, anggota DPR, dll.
Setiap peran ada tanggung jawab.

Menyederhanakan peran dan status ini mungkin salah satu cara si bapak agar meringangkan beban, tapi tetap menjalankan sebagaimana fungsinya.

Lagi-lagi, diingatkan bahwa hidup kita ini lakon. Banyak yang harus dikerjakan, diperankan, dijalankan.
Kadang ya terasa berat, kadang mungkin juga membosankan.
Perlu kelihaian kita memindah-mindahkan sudut pandang dan bermain peran.
Mari bermain dengan apik di panggung kehidupan ;)

Mong omong, untungnya anak-anak baik-baik aja kemarin. hahah. setleah semalemannya didoain dulu, badernya gak keluar :P
(bader-bandel bener)

Justru mereka totalitas banget waktu roleplay, jadi belajarlah dari anak-anak bagaimana caranya menikmati peran apa pun

  • view 242