Tanah retak.

ahmad taufik
Karya ahmad taufik Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Oktober 2016
Tanah retak.

Aku menyendiri dengan sepi ditengah perjalanan yang penuh dengan ambisi, penuh dengan emosi dan penuh dengan gairah akan kehidupan. Aku mengisi diri dengan kosong didalam ruang yang memiliki banyak konten keilmuan, banyak penemuan kreatif dan banyak warna imaji. Keadaanku kini berbalik arah dan menghujam bumi, dibalik tanah yang retak ini aku menantikan hujan.

Aku merindukan hujan, hujan seperti waktu aku kecil, tak ragu kutanggalkan bajuku dan memecah deras hujan dengan tertawa lepas, bermain dengan airnya sampai merasakan dingin. Aku menyadari kali ini berbeda, aku bukanlah anak kecil itu lagi namun, pada suatu waktu pernah ada air turun membasahi tanah dan aku berdiri dibawahnya berharap merasakan menjadi diriku hanya saja aku merasa menjadi batu yang terkikis oleh air got yang kotor, tak bisa tertawa lepas, tak bisa merasakan dingin dan ternyata air yang turun memang bukan hujan melainkan air tanah yang sedang digunakan untuk menyiram taman.

Inilah fase diriku berjuang melawan diriku sendiri, aku gamang menatap masa depan dengan semua kamuflase yang ku sandang. Begitu banyak hal yang harus aku tanggalkan untuk menjadi manusia seutuhnya yang terus mencari kebenaran.

Semua rasaku tergantikan dari keinginan untuk dilihat menjadi keinginan untuk melihat, dari keinginan untuk diberi menjadi keinginan untuk memberi dan dari memperbincangkan masalah menjadi mencari solusi. Aku meyakini semua akan tergantikan seperti malam berganti siang.

Aku tetap menanti hujan dibalik tanah retak itu, hujan sesungguhnya yang akan membersihkan kotoran yang menempel dikulitku meski aku sendiri membawa kotoran dalam perutku sendiri. Kini aku melihat mendung telah menyelimuti, aku terus bersiap diri menyambut hujan yang penuh keberkahan bersama hikmah dibaliknya.

Aku sendiri tak bisa menjemput hujan karena tak sedikitpun berkemampuan melakukannya awan pembawa hujan terlalu tinggi bagiku. Aku hanya bisa terus berjalan mendaki, mendaki gunung untuk mendekatinya karena dipuncak gunung aku bisa dekat dengan awan pembawa hujan dan masih tetap berpijak pada tanah tempatku berasal. Semilir angin pun berbisik " terbanglah". Bisa saja aku terbang namun hatiku enggan karena aku lebih suka dekat dengan tanah tempatku berasal.

  • view 209