bungsu

ahmad taufik
Karya ahmad taufik Kategori Lainnya
dipublikasikan 07 Juni 2016
bungsu

Ibu adalah tanah kelahiranku. Aku sangat bergantung padanya. Tempat mengajukan pertanyaan untuk menentukan pilihan. Aku meyakini dia lah perwakilan ridho dari Tuhan. Tak ada wanita yang paling kucinta selain ibuku. Cinta pertamaku untuk selamanya. Aku adalah bagian tubuh darinya. Aku memulai hidup darinya. Tak ada wanita menyerupai dia.

Ini adalah ramadhan ke empat tanpa dia. Ibuku meninggal karena sakit. Sakit yang tak pernah dirasakan olehku. Padahal aku pernah tinggal disana. Andaikan kita tahu tentang takdir. Tiga bulan pasca operasi adalah waktu tersingkat untuk mengecup kening ibuku yang masih hangat. Itupun tak bisa kulakukan. Yang kubisa hanya mengecup kening setelah menjadi dingin. Aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk mengampuni setiap dosanya. Dan aku berkeyakinan aku masih terhubung dengannya sampai akupun menyusul kesana. Semoga surga terbuka untuk ibuku. Untuk wanita yang paling kucintai ini.

Selepas ibu memenuhi panggilanNya, aku melewati masa masa penuh sesal. Masa masa kesedihan yang entah seberapa dalam yang pasti masih terasa sampai saat ini. Ada bahasa yang sering digunakan sebagai bahasa keluarga yaitu bahasa “diam”. Diam yang bukan acuh melainkan diam saling menyayangi antara ibu, bapak dan kakak-kakakku. Aku sangat memahami bahasa keluargaku ini. Dengan diam mereka mengajarkanku menjalani takdir hidup. Yang diam hanya mulut mulut kita namun hati berbicara kepada tuhan dan kepala berfikir tentang semua yang ada disekitar.

Akulah anak terakhir. Dari tiga bersudara akulah anak penutup. Semua kakakku sudah memiliki kehidupan dan keluarga barunya. Hanya aku dan bapakku yang masih menjalani hidup sebagai keluarga lama dan tanpa ibu.

Bungsu. Anak terakhir yang suka merengek kepada ibu. Tanpa sadar ternyata aku masih sangat rindu ibu bisa ada disisiku. Aku menempati ruang kesendirianku yang dipenuhi dengan rasa rindu pada ibu. Aku ingin sekali lagi dimarahi oleh ibuku. Aku ingin sekali lagi diberikan saran oleh ibuku. Dan aku ingin berbincang sekali lagi tentang wanita bersama ibuku. Aku akan memilih jalan hidupku dengan yakin bersama doa ibu.

Akulah sibungsu yang telah tiba giliranku untuk mendoakanmu ibu. Meski separuh jalan menjadi dewasaku dilalui tanpamu ibu. Tenanglah aku akan menjaga bapak. Tenanglah aku akan menemukan wanita yang baik. Tenanglah aku akan mengurangi kesedihanku karena ditinggalkanmu. Tenanglah aku tak menyesal sekarang. Aku akan menjadi orang baik dan selalu mendoakanmu karena meyakini aku masih terhubung denganmu. Jika saja boleh semua pahala ramadhanku kupersembahkan untukmu ibu.

Semoga Tuhan menempatkanmu disurga. Aku sangat rindu padamu ibu. Aku ingin meminta maaf padamu. Karena selama ini aku bersedih dan menyesali apa yang terjadi padamu. Terima kasih telah mendidiku dalam senyap, telah berbicara dalam diam. Salam rindu dari si bungsu, yang ingin memelukmu. Aku sayang padamu ibu.