Jangan Menulis!

Aditya F. Phoenix
Karya Aditya F. Phoenix Kategori Renungan
dipublikasikan 25 September 2016
Jangan Menulis!

Mataku mengerjap ketika melihat jam di HP yang tergeletak di tempat tidur, dan seketika mengutuk diri karena bangun kelewat siang sehingga tidak sempat melangkahkan kaki ke masjid gang lima seperti biasanya di waktu cahaya putih pertama terlihat di ufuk timur. Setelah ku kejar apa yang terlewat, yang terlintas langsung di kepalaku hanyalah sisa-sisa pikiran mengenai sistem Hamilton yang membayangiku sejak kemarin. Segera aku buka laptop dari tas yang masih basah karena hujuan semalam dan mempelajari beberapa hal dari beberapa buku elektronik yang telah terbuka sejak semalam agar bisa segera melanjutkan tesisku mengenai osilator harmonik yang tertendang secara periodik oleh sebuah fungsi dirac dengan amplitude yang tak linear, yang sempat terhambat karena kuliah-kuliah lain pun sama pentingnya untuk dipelajari.

Hari-hariku akhir-akhir ini setelah memasuki kuliah S2 memang berasa sangat monoton. Meski memang tetap diselingi beberapa kegiatan ketika aku memang menyempatkan diri ke kabinet, atau mampir di himpunan maupun sunken, beberapa hal mulai terlepas dari konsistensi. Salah satu dari hal itu adalah menulis, yang tak pernah ku lakukan lagi semenjak energiku terkuras habis oleh 350 halaman buku yang ku selesaikan dalam hampir 2 bulan. Niat untuk menulis berkali-kali muncul, namun tak pernah menemukan energi aktivasi yang cukup untuk membuatku tereksitasi dari keadaan lembam. Ku rasa aku mulai kehilangan motivasi, selain terbawa pikiran klasik akan kekhawatiran isi tulisan yang kosong, mengingat aku jarang mengasupi diri sendiri dengan bacaan yang berbobot lagi. Keasyikan lain di dunia matematika yang semakin memukau diriku pun membuat aku selingkuh dari dunia literasi, lebih perhatian pada guratan simbol di lembaran-lembaran kertas tak rapih ketimbang pada kata-kata rapih di layar laptop. Seperti yang ku lakukan juga pagi ini, seperti kekasih yang tengah kasmaran, bangun tidur langsung kepikiran matematika ketimbang niat-niat lainnya. Tapi entah kenapa, setelah beberapa saat tanpa berubah posisi memandangi layar laptop selagi satu tangan cukup untuk menekan tombol bawah untuk menggeser-geser dokumen, aku cukup jenuh dan akhirnya beranjak berdiri untuk menghirup udara segar di depan kamar.

Meski langit yang sedikit mendung yang mencuri perhatian diriku pertama kali ketika melihat luar, sebuah kertas yang di atas keset mau tak mau tak luput dari mataku. Siapa? Melihat kanan-kiri, ku ambil juga kertas itu dan ku baca serangkai huruf yang sama seperti yang pernah ku dapatkan beberapa minggu lalu

To: PHX

Aku mendadak gelisah. Dia lagi. Baiklah, surat telah kembali dan ku rasa aku tak punya pilihan selain duduk di kursi depan kamar, membuka lipatan kertas itu, menghirup nafas dalam-dalam, dan mulai membaca.

***

Kosmik, 24 September 2016

Dear Finiarel, di Bandung

“Kata orang, menulis adalah pengabadian. Ada lagi yang bilang, menulis adalah rekam jejak. Apapun itu, ku rasa semua sama saja. Menulis adalah menulis, sekedar tindakan untuk mengubah segala bentuk sesuatu menjadi kata-kata, dari gagasan, imainasi, peristiwa, hingga memori.”

2 kalimat pengawal Avant Propos “1463 Hari Anggota KM ITB” itu sepertinya bukanlah sekedar pemanis dalam pembuka sebuah rangkai ekspresimu, fin. Aku mendeteksi sebuah pertanyaan tersirat kaku yang muncul ketika kau mulai menulis, yang membuatmu mendadak kehilangan makna atas apa yang kau gapai atau kau capai, sebelum kemudian mengembalikannya pada dirimu sendiri. Yah, kau memang bisa memunculkan teori macam-macam mengenai pentingnya menulis, tapi hey, tidakkah kau benar-benar pernah bertanya pada diri sendiri, untuk apa kau menulis?

Sebelum itu, alangkah lancangnya aku memulai surat tanpa menyapa. Jadi, hai fin. Suratku yang ku berikan padamu di lampau hari sudah kah kau baca? Apa kau memang tidak berniat mengirimkan balasan? Tapi ku rasa itu tak perlu dan aku memang tidak berekspektasi. Entah apa juga maknanya, aku menulis karena ingin mengungkapkan sesuatu padamu saja. Ku rasa makna dari menulis terkadang bergantung penulisnya. Bukankah itu sebuah tindakan yang sangat introvert? Kamu tidak harus bertemu orang, kau tidak harus menyiapkan nyali, kau hanya tinggal duduk menyendiri, entah di kamar atau di warung pojok perempatan kala tengah malam, atau mungkin di tengah hutan bersama bintang-bintang, atau di atas atap sebuah gedung pencakar langit, menyiapkan alat tulis dan jadilah tulisan itu. Kun fayakun! Kau bisa menyembunyikan identitas semaumu, kamu bisa membuka dirimu sendiri jika perlu, atau kau bisa menipu orang-orang dengan citra identitas berbentuk kata-kata. Menulis memang seakan sebuah tindakan seorang pengecut. Seseorang yang lebih suka duduk di belakang ketimbang berdiri di depan menantang. Bagaimana dengan dirimu fin? Bukankah kau baru saja menulis sebuah buku?

Untuk apa kau menulis 350 halaman itu? Untuk apa kau habiskan sekitar 2 bulan berturut-turut untuk berkutat bersama keyboard dan microsoft word tanpa jemu? Apa kau ingin dikenal? Apa kau sekedar ingin menulis saja tanpa berharap apapun, sekedar pemuas hasrat, sekedar masturbasi literasi? Apa kau memang ingin abadi, seperti mantra klise para penulis itu? Apa kau sekedar meninggalkan jejak? Ironis kawan, ku pikir kau tak bisa menjawab semuanya secara simultan, karena ia akan kontradiksi satu sama lain. Apa jangan-jangan, setelah ribuan kata yang tercipta dari tanganmu, melalui 20 bookletmu dan bukumu itu, kau masih ragu akan tujuanmu menulis?

Terkait ingin dikenal atau tidak, ku tahu kau orang yang sangat introvert. Kau bahkan sering mengatakannya secara gamblang bahwa kau benci bertemu orang. Kau selalu pergi kemana keramaian tidak ada di sana. Kau selalu gemetar ketika banyak mata memandangmu. Kau selalu gelisah setiap kali menjadi topik perbincangan. Kau tak pernah ingin diganggu, sebagaimana kau berharap tidak perlu mengganggu orang lain. Kau selalu tersiksa dengan persepsi sekecil apapun. Kau selalu takut akan penghakiman dan penilaian serendah apapun. Dengan itu semua, kau selalu menipu orang lain dengan menggunakan topeng yang kau harap menjadi citramu di mata mereka yang kau perlihatkan. Tentu, topengmu menjadi sangat banyak, karena dibalik introvertivitasmu, rasa penasaranmu yang sangat tinggi membuatmu secara tidak sengaja terjun ke berbagai kelompok manusia yang berbeda-beda, membuatmu harus menciptakan banyak identitas yang berbeda-beda. Membuat semua orang yang merasa mengenalmu, sebenarnya hanya mengenal topengmu. Aku tak tahu mengenai orang lain, karena aku hanya memperhatikanmu. Atau orang lain juga memang seperti itu? Menipu dengan mencipta citra. Menutupi yang buruk-buruk dan hanya memperlihatkan yang baik-baik. Ku ingat kata seseorang bahwa seseorang baik bukan berarti karena ia baik, tapi karena ia berhasil menutupi buruk-buruknya, aib-aibnya. Apakah itu salah? Entah, aku bukan di posisi membenar-salahkan. Mungkin, setiap manusia memang hanyalah penipu yang cerdas.

Karena itu lah kemudian kau seakan menemukan mutiara di dasar laut ketika memahami kemampuanmu menulis. Kau bisa mengungkap diri tanpa perlu memperlihatkan diri. Kau bisa berekspresi tanpa perlu langsung dihakimi. Tapi kawan, bukankah kau hanya menemukan media penipuan yang berbeda saja? Topengmu hanya berganti bentuk, yang tadinya berupa wajah, sikap, dan ucapan, sekarang cukup dengan kata-kata saja. Sama saja. Pertanyakanlah coba fin, apa kau benar-benar menulis apa yang dipikiranmu, atau kau hanya menulis apa yang kau inginkan orang lain baca? Kau masih tidak jujur kawan. Kau masih memikirkan persepsi orang lain setiap kali mengalirkan kata-kata. Rasa takut itu masih ada. Rasa khawatir itu masih ada. Kau masih menyaring segalanya sehingga yang terlihat dan terbaca tetaplah hanya topeng diri.

Ku ingat kau berusaha untuk selalu gamblang ketika menulis, berusaha menjernihkan niat dan pikiran, agar tak perlu lagi kata-kata yang keluar dipengaruhi kekhawatiran persepsi. Tapi tetap saja, seperti yang pernah kau keluhkan pada Kartini, bahwa kau masih tidak jujur dalam menulis. Kau masih menyembunyikan identitasmu. Tapi di atas itu semua, apa sebenarnya makna identitas fin? Apa yang sebenarnya orang-orang sembunyikan atau perlihatkan? Yang mana yang merupakan identitas? Aku teringat seseorang di HIMATIKA ITB pernah mengritikmu ketika kamu seakan tak punya identitas tetap karena identtasmu selalu berganti. Di suatu hari mengenakan seragam menwa, di hari lain mengenakan jaket himpunan, hari yang berbeda lagi memakai rompi LFM atau jaket Pasopati. Semua memancarkan citra yang berbeda-beda terkait diriku sendiri. Bukankah banyak hampir sama dengan kosong? Identitas yang selalu berubah justru membuatmu menjadi tidak punya identitas, yang sebenarnya memang kau rencanakan agar kau cukup dikenal sebagai PHX dengan jaket yang tak pernah ada duanya. Tapi apakah PHX yang kau perlihatkan itu pun merupakan “kamu” yang sejati? Sekali lagi kawan, apa makna identitas?

Beberapa hari yang lalu, ku ingat juga kau memberi materi mengenai menulis pada anak-anak magang kemenkoan sospol kabinet. Kau dengan percaya dirinya, sekali lagi, sebuah kontradiksi dengan bencinya kamu berada di depan publik, bercerita panjang lebar mengenai pentingnya menulis sebagai penemu identitas. Ya, kau bercerita mengenai bahwa badai informasi terlalu deras yang terjadi dalam pikiran kita akan selalu berantakan apabila tidak menemukan media untuk dituangkan. “Bayangkan saja, tiap detiknya kelima indra kita menangkap jutaan bit informasi dalam bentuk yang berbeda-beda.”, katamu waktu itu. Dalam hal ini, menulis memang untuk menstrukturisasi pikiran. Aku sepakat dengan itu. Kau melanjutkan kemudian, strukturisasi pikiran itu akan membantu kita menjaga jarak dengan pengalaman dan membantu kita menemukan diri sendiri. Ya, seperti yang kau tuliskan sebagai status facebook kala itu, pengalaman yang direnungilah guru terbaik. Dan perenungan itu akan jauh lebih tertata bila tertuang, bukan teraduk acak dalam abstraksi pikir yang tak berbentuk. Intinya, kau katakan bahwa menulis itu membantu kita menemukan jati diri atau identitas. Tapi apakah iya, bahwa itu merupakan identitas diri?

Sudahlah mengenai identitas diri. Jadi, kembali ke pertanyaan awal kawan. Untuk apa kau menulis? Jelas ku ragu terkait hal itu. Seperti yang ku katakan tadi, kau adalah orang yang terlalu introvert untuk senang dikenal. Namun, setelah dipikir-pikir, mungkin tetap ada benarnya. Paling tidak, kau ingin dikenal sebagai topeng yang telah kau persiapkan, citra yang telah kau bentuk, sehingga dirimu sendiri masih aman dibalik tembok kaku kesendirian diri. Apa istilah kawan Majalah Ganeshamu itu? Ya, Oplah. Hal itu mulai mengaburkan makna tindakan setiap orang, seakan-akan segala sesuatu yang terpenting adalah oplah, seberapa banyak orang yang tahu, seberapa luas ia tersampaikan. Lantas apakah kau menulis hanya demi oplah? Hanya demi sebuah kepuasan ketika yang menyukai tulisanmu di media sosial cukup banyak? Ku rasa alasan itu terlalu rendah untuk orang sepertimu. Kau pernah mengatakan kau tak pernah peduli apa tren yang beredar dan apa yang orang lain perhatikan. Disukai atau tidak, kau tetap menulis. Maka kemudian, apakah kau menulis memang murni hanya untuk menulis itu sendiri, sebuah masturbasi literasi? Sayangnya hal itu di sisi lain membuatku mempertanyakan mengapa kau perlu mempublikasikan tulisanmu. Atau mungkin jawabannya ada di tengah-tengah? Kau menulis hanya sekdar ingin menulis, namun sekaligus ingin menjadikannya wajah untuk publik mengenalmu. Entah lah. Itu baru dirimu. Belum orang lain yang entah menulis untuk apa, seakan-akan tindakan itu begitu sakralnya hingga kau sendiri dulu menggebu-gebu memperjuangkan itu selama di kampus. Apa yang sakral dari menulis?

Dari segi intelektualitas kau tentu bisa berkata banyak mengenai peran menulis ini. Kau bisa katakan bahwa media literasi lah yang membuat peradaban bisa berkembang, dengan terabadikannya hasil-hasil pikiran dan pengetahuan dari generasi ke generasi sehingga terus menerus menjadi pijakan untuk yang berikutnya. Tulisan mengenkripsi makna sedemikian rupa sehingga informasi terjaga namun tetap terbaca.Tulisan juga membuat siapapun bisa sailng belajar dan memberi pembelajaran satu sama lain sehingga katanya manusia memajukan kualitas hidupnya dengan itu. Tapi apakah memang manusia selalu belajar dan berkembang? Apakah kita bisa mengatakan bahwa manusia yang hidup ribuan tahun yang lalu lebih terbelakang ketimbang masa kini? Apa yang menjadi standar? Apa pula itu peradaban? Bukankah hasrat manusia untuk membunuh tidak pernah berubah dari masa ke masa? Yang namanya pemerkosaan, kekejaman, pencurian, dan lain sebagainya selalu ada dari zaman ke zaman, yang berbeda hanyalah material fisik yang melingkupinya. Jika kita mengatakan zaman sekarang adalah zaman edan dengan beragam ‘anomali’ moral yang dilakukan oleh manusia, siapa bilang kalau dulu tidak seperti itu? Jika kita mengatakan dulu manusia-manusianya tidak beradab dalam hal bermasyarakat dengan beragam kekejaman dan kebiadabannya, siapa bilang sekarang tidak seperti itu? Apa yang ‘maju’ dari peradaban manusia selain wilayah eksternal manusia berupa pengetahuan dan karya teknologi?

Ingatkah kau sebuah pepatah yang dulunya selalu kau pegang untuk mengawali tiap usahamu? “Kita bisa berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain, tapi kita tidak bisa menjadi bijaksana dengan kebijaksanaan orang lain”. Apa yang bisa menjamin ketika pengetahuan dan teknologi berkembang, lantas manusianya jadi lebih beradab, lebih baik, atau lebih bijaksana? Mau berpengetahuan sebanyak apapun mengenai kehidupan lampau, setiap manusia tetaplah baru mencoba hidup ini sekali, dan dengan itu kesalahan yang terulang adalah kewajaran. Bisakah kau lancar mengendarai motor hanya dengan melihat atau membaca orang lain yang telah lancar mengendarai sebelumny? Tentu tidak, dan percobaan pertama selalu cenderung menghasilkan kesalahan yang sama. Manusia tidak pernah bisa belajar dari masa lalu orang lain, ia hanya bisa belajar dari masa lalunya sendiri. Lantas apa yang ‘dimajukan’ oleh dunia literasi, yang kau bilang menjadi pijakan besar bagi sebuah peradaban untuk berkembang? Lantas apa yang ‘diubah’ oleh tulisan selain pengetahuan yang tidak ada habis-habisnya? Apakah karena dunia sekarang begitu mengagumkannya dengan kemudahan dan kemenakjubkan teknologi, lalu kita menganggap dunia masa lalu merupakan dunia yang lebih rendah?

Ingatkah kau mengenai pendapat bahwa yang terjadi di masa kini sesungguhnya hanyalah runtuhnya hirarki realitas? Ketika orang-orang masa lalu cenderung mempercayai dan menyadari bahwa terdapat realitas lain yang lebih tinggi di atas apa yang sekedar bisa kita indrai, orang-orang masa kini justru semakin mendekonstruksi semua realitas dalam satu dunia tunggal atas dasar materialisme saintifik, menganggap yang tak dapat disadari oleh rasio maupun indera hanyalah omong kosong. Tidakkah kau sadari itu kawan? Makna-makna transendental dalam budaya maupun tatacara semakin mengerucut menuju kepunahan. Ketika orang-orang berusaha mempertahankan semua keluhuran masa lalu, yang diangkat justru hanyalah budaya materialnya, tanpa memahami keseluruhan kesadaran akan realitas yang bertingkat di balik materi itu sendiri. Lihatlah wayang, batik, tari-tari, tumpeng, dan lain sebagainya hanya dijadikan simbol yang dinilai secara guna tanpa melihat nilai transendental yang inheren di dalamnya. Runtuhnya hirarki kenyataan ini justru menciptakan anomali dalam kenyataan itu sendiri yang oleh Jean Baudrillard disebut sebagai hiperrealitas, sebuah kondisi ketika semuanya berbaur tanpa batas, antara yang asli dan palsu, antara yang fakta dan dusta. Ya fin, tidakkah kau pahami bahwa semua itu bagaikan sebuah pertukaran ekivalen antara informasi dan makna? Bayangkan bila tiba-tiba bumi mengalami hujan uang, maka seketika makna uang itu akan jatuh hingga lenyap. Dengan pengetahuan dan informasi yang semakin melimpah dari masa ke masa, makna yang menyertainya semakin terkikis, meningkatkan entropi informasi yang beredar. Bisakah masyarakat sekarang memaknai setiap fenomena ketika ratusan informasi menimpa satu sama lain tiap menitnya? Dan tidakkah kau sadar bahwa semua itu efek panjang dari budaya literasi yang menyuburkan pengetahuan ketimbang kebijaksanaan?

Masyarakat lisan hanya akan memahami sesuatu bila ia benar-benar merengkuhnya dalam kesadaran yang menyatu bersama tindakan. Kebijaksanaan atua makna hirarkis tidak bisa disampaikan hanya dengan kata-kata. Tanda dan simbol justru mengaburkan makna itu, sehingga sebagian besar kebijaksanaan timur, dari sufi, tao, hingga zen, justru mengenkripsi makna itu dalam kalimat rancu penuh teka-teki dan misteri, yang membutuhkan kesadaran tersendiri untuk bisa memahaminya. Ketika barat muncul dengan keagungan budaya literasinya, rasio dan pemaknaan tanda yang kaku tumbuh juga bersamanya. Tidakkah kau sendiri heran, mengapa budaya timur, yang terkenal dengan kearifan dan kebijaksanaan moral maupun transendentalnya, jarang memiliki artefak berupa karya tulisan? Warisan-warisan itu hanya berupa puisi atau teks-teks sastrawi yang tidak pernah secara gamblang mengobral pengetahuan dan makna seakan-akan itu hal yang bisa diraih begitu saja hanya dengan membaca. Dari puisi-puisi Rumi hingga tao te ching-nya Lao Tzu, semua menyiratkan sesuatu yang tak bisa terdeteksi begitu saja oleh rasio. Lantas atas semua itu, kau masih akan mengatakan bahwa tulisan membuat peradaban manusia berkembang?

Silakan jawab sendiri semua tanya itu kawan, dan masihkah kau menganggap bahwa menulis adalah segalanya. Hal yang mungkin perlu kau renungi fin, menulis bukan untuk tujuan raksasa mengubah dunia atau memajukan peradaban, ia hanyalah hasil dari hasrat penuangan ekspresi individu atas apa yang ia alami dan rasakan. Bila kelak tulisan itu mempengaruhi, itu hanyalah efek samping atau keinginan alternatif, bukan tujuan. Dan tentu saja aku tak akan mengerdilkan konsep hanya dalam menulis dengan tinta dan kata, namun segala bentuk ekspresi individual, dari musik hingga lukisan, yang mencerminkan penghargaan atas jati diri yang ia terima dan ungkapkan sepenuh hati, seperti halnya semesta ini yang mungkin merupakan ekspresi utuh dari Kalam (pena) sang Pencipta.

Ku perhatikan kau selama di kampus selalu mengampanyekan siapapun untuk menulis. Itu tidak buruk fin, dan ku rasa itu hal yang baik. Namun sayangnya, secara tidak langsung kau melakukan kontradiksi dengan menyarankan orang yang mungkin identitasnya bukan seorang penulis untuk menulis. Einstein pernah berkata, bila kita mengajarkan ikan cara memanjat pohon, maka kita akan membuat ia merasa bodoh seumur hidup. Tapi tentu saja, kau hanya menyarankan bukan? Kau sendiri yang selalu mengutip kata-kata Tarjo, “jangan mengajarkan orang cara untuk hidup, tapi buatlah ia hidup”. Cara untuk melakukan sesuatu hanya bisa ditemukan oleh setiap individu, karena identifikasi diri hanya bisa dilakukan oleh masing-masing pribadi, seperti halnya manusia hanya bisa belajar dari masa lalunya sendiri. Yang terpenting adalah mencoba, karena bagaimana kita bisa tahu kita bisa apa bila kita belum pernah melakukannya? Hanya melihat percobaan orang lain? Perlu kah ku tekankan lagi bahwa manusia tidak akan pernah bisa belajar sepenuhnya dari kesalahan orang lain?

Fin, keunikan individual adalah bingkai terindah dalam kehidupan, maka biarkanlah semua orang berekspresi dengan cara mereka sendiri-sendiri. Yang terpenting adalah identifikasi diri, seperti yang dikatakan kang Al ketika diskusi di salman bersamamu kala itu, lihatlah identitas sebagai I dentity, sesuatu yang kita sendiri identifikasi, dan bagaimana mengidentifikasinya? Tentu saja, mencoba! Ku suka prinsipmu yang selalu mengatakan dunia ini adalah laboratorium dan kehidupan hanyalah kumpulan percobaan. Seluas apapun pengetahuan kita akan sesuatu, sebesar apapun hasrat kita untuk melakukan sesuatu, kita tidak akan pernah tahu jika tidak pernah mencoba. Terkait hal ini, aku jadi ingat “Tragedi dan Komedi”, sebuah lagu sederhana dari seorang kawan.

Aku ingin jadi pertapa, berdiam di balik goa. Tapi aku tak bisa berpisah, dengan aneka wajah

Aku ingin memberontak, membakar gedung negara. Tapi aku seorang pengecut, sembunyi dalam selimut

Aku ingin jadi pejuang, menolong setiap orang. Tapi aku tidak konsisten, hanya mengikuti Trend

Aku ingin jadi penyanyi, melantunkan kabar sedih. Tapi suaraku menyedihkan, lain alto bukannya sopran

Aku ingin jadi seniman, Realisme Sosialis. Tapi aku tak bisa menggambar, apalagi melukis

Aku ingin jadi pemusik, membuat lagu yang unik. Tapi aku persis seonggok taik, gitar pun tak becus diulik

Aku ingin jadi penulis, pengarang buku yang laris. Tapi penaku tak bertinta, goresannya justru nanah

Aku ingin jadi filsuf, seperti Isidore Isou. Tapi aku tak pernah, mempraktekkannya dalam hidup

Aku ingin jadi Anarkis, layak remaja kulit putih. Tapi aku di negeri ini, tak bekerja pasti mati

Aku ingin jadi petualang, kunjungi pulau seberang. Tapi aku tak yakin, melakukannya tanpa uang

Aku ingin jadi lelaki, tegak di kaki sendiri. Tapi aku sering mengeluh, berlindung di ketiak ibu

Aku ingin menyerah saja, maukah kau menamparku?

 

Tragedi dan Komedi - Jurnal Alevi Tentang Hidup Bernyanyi (Senartogok)

Berhentilah membaca, berlatihlah praktik, berupayalah mengalami. Aku ingat 6 huruf itu menjadi pengawal sebuah rangkaian pembahasan mengenai mistisme timur. Tidakkah kau sadari kawan? Pengalaman sendiri tetaplah guru terbaik, bukan pengalaman orang lain yang kita baca. Terlalu banyak membaca hanya membawa hasrat dalam abstraksi imajinasi yang tak pernah terwujud dalam tindakan. Seperti yang dikisahkan oleh “Tragedi dan Komedi”, terinspirasi oleh segala bentuk tindakan, namun hanya berujung pada ingin yang tak terejakulasi dalam kenikmatan pengalaman. Membaca dan menulis memang komponen penting dalam perkembangan pengetahuan, tapi maaf fin, pengetahuan tidak akan menjadikan manusia lebih bisa mengutuhkan hidupnya. Aku tidak menafikan makna membaca yang mungkin bisa menjadi api tersendiri untuk mendorong seseorang melakukan sesuatu, tapi aku tak mau kau terfokus pada membacanya, lupa pada mengalaminya.

Lantas, apa lagi yang bisa kita maknai dari menulis? Kutipan klise yang seakan selalu menjadi mantra para penguasa literasi mungkin perlu kita tarik kembali, ““Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”. Ya, kata beliau, kita menulis untuk keabadian. Dan ku rasa tidak hanya beliau yang mengatakan hal seperti itu. Banyak yang bilang, kita mungkin akan mati, tapi tidak untuk gagasan kita bila kita menulis, atau, umur penulis selalu diperpanjang setiap kali karya tulisan tercipta. Hal-hal semacam itu lah. Bila kita kemudian tenggelam di masyarakat, bila gagasan kita kemudian tidak terkristalkan dengan rapi, bila kita kemudian mati tanpa jejak, lantas apa? Apakah kemudian hidup menjadi tak bermakna?

Ku rasa hal seperti itu perlu dilihat lebih jauh lagi dari sekedar mengabadikan nama dan diri dalam pengetahuan masyarakat. Rendah sekali bila kita hanya menulis hanya untuk ‘narsis’ seperti itu. Sekedar ingin kita dikenal meski jasad telah terkubur. Itu akan kembali pada pertanyaan bahwa kau menulis agar dikenal atau bukan. Tulisan merupakan satu media pengutuhan diri, melalui ekspresi jujur individu sehingga penghargaan terhadap diri menjadi lengkap dan sempurna. Intinya, pengekspresian diri melalui tulisan, atau apapun itu, akan memberi makna yang utuh pada hidup kita sendiri, mendobrak batas-batas fisik, mengutuhkan individu, dan mentransformasikannya dalam ide dan gagasan. Kau tak akan lagi menjadi Adit dengan kepala cenderung bulat, badan kurus tinggi, dan hidung yang membengkak lagi, tapi kau akan menjadi gagasan. Adit akan menjadi ide, seperti halnya Marx adalah sebuah ideologi, bukan lagi manusia yang pernah hidup, atau Muhammad adalah sebuah pedoman, bukan lagi sosok yang pernah ada.

Terakhir, kau bisa saja tetap berdalih bahwa beberapa tulisanmu sekedar untuk meninggalkan jejak, agar orang lain bisa lebih memilih jalan yang ia tempuh dalam hidupnya. Fin kawanku, jalan yang sama dilalui oleh orang yang berbeda, tidak akan berujung pada ujung yang sama, atau memberi pengalaman yang sama. Maka untuk apa kau meninggalkan jejak? Manusia hanya bisa belajar dari langkah kakinya sendiri. Tidakkah kau melihat sejarah selalu berulang? Sejelas apapun jejak yang ditinggalkan oleh tiap generasi. Lantas untuk apa fin, untuk apa? Nihil! Aku lebih suka kau menulis lebih karena kau ingin mengutuhkan hidupmu ketimbang embel-embel naif seperti itu. Maka jangan menulis fin, jangan, jika kau hanya akan menipu diri sendiri dalam penipuan jati diri dan makna kehidupan.

Semoga semua tulisanmu memang punya manfaat. Toh, manfaat itu hanyalah efek samping, bukan tujuan akhir. Seperti halnya apa yang kau pernah tuliskan di facebook, kita berangkat bukan karena tujuan, tapi karena keinginan-keinginan yang muncul bersama hasrat untuk terus mengisi hidup. Jadi, semoga hidupmu akan terus terisi dan terutuhkan bersama ekspresi-ekpresimu dalam kata-kata yang memancur deras bersama emosi dan hasrat yang selalu menyala!

Terus hidupi hidupmu!

Salam,

Minerva

***

....Terpaku, sekali lagi. Tidak seperti sebuah paku yang menancap di tembok untuk digantungkan berbagai hal, aku terpaku begitu saja tanpa tancapan apa-apa, tanpa palu yang memukulku atau benda yang menggantung padaku. Hanya diam. Buku 1463 Hari Anggota KM ITB baru saja ku cetak beberapa eksemplar dan kubagikan gratis karena aku selalu tak bisa menjadikan karyaku menjadi media pertukaran kapital. Tapi tiba-tiba saja datang surat padaku seperti ini. Minerva, minerva, entah siapa lagi dirimu selalu menikam sisi belakangku, membuatku harus selalu bisa melihat dua sisi sekaligus. Semoga yang kau katakan di surat itu benar Minerva, semoga. Semoga apa yang ku lakukan memang bisa ku murnikan tanpa embel macam-macam, tapi secara tulus hanya untuk mengutuhkan hidup yang menggelora.

(PHX)

  • view 230