Just Go(d) - Bagian II

Aditya F. Phoenix
Karya Aditya F. Phoenix Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Agustus 2016
Just Go(d) - Bagian II

Suara anak-anak terdengar riuh di setiap sudut sementara matahari tetap terus membuat bumi panas. Hari yang indah lagi dan beginilah aku terikat pada rutinitas biasa yang tak pernah berganti. Semua hal dalam hidupku berjalan apa adanya tanpa membuatku memikirkannya, apapun yang ku alami dan apapun yang melatar-belakangi. Aku hanya mengikuti apa yang dunia inginkan secara cukup, dan dunia memberiku secara cukup pula. Walau dengan sedikit bumbu rasa ingin tahu dan hobi akan membaca, semuanya tetap biasa.

 Tiba-tiba terdengar azan. Anak-anak tersebut segera bangkit pergi, namun ada satu anak terakhir berhenti sejenak.

 “Ei han, ayo solat.”

 Pertanyaan biasa. Retoris. Dan butuh jawaban biasa.

 “Maaf, aku non.” Ku jawab seperti halnya ribuan pertanyaan serupa lainnya sejak aku kecil. Yang aku rasa pasti akan dibalas dengan jawaban yang biasa pula seperti...

 “Oh, maaf kalau begitu”

 Tapi sepertinya yang ini...

 “Loh, terus apa agamamu?”

 Aku terdiam sejenak.

 Kenapa harus diteruskan. Hal yang tidak pernah memberiku mood untuk memikirkannya. Mungkin seperti biasa, ku tolak pemikran apapun itu, tapi ini... emosiku sedikit tergerak, aku tak pernah merasa seperti ini. Apa karena efek bertemu zombie yang sekarat? Oh tidak, virusnya telah mulai tertular padaku. Tak pernah seumur hidupku aku ditanya seperti ini. Pertanyaan masalah sains akan kujawab, masalah tentang sosial akan kujawab. Tapi ini... berujung pada jawaban konyol seperti

 “Identitasku mengatakan aku seorang kristiani”

 “Identitas? Tapi kepercayaanmu sendiri?”

 “Haha, entahlah, aku masih belum tahu. Atau mungkin lebih tepatnya aku belum mau memikirkannya.”

 “Oh... “ Anak itu diam sejenak sebelum akhirnya berlalu.

 ***

 “Oh...” Zen berkata pelan.

 Langit sudah mulai sedikit cerah saat itu. Awan mulai menyingkir untuk memberi kesempatan matahari bersinar pada jam-jam terakhirnya sebelum beristirahat di horizon. Aku dan Zen tengah duduk di pinggir serambi sebuah masjid setelah melaksanakan shalat Ashar. Sepatu sudah terpasang rapi di kaki kami, namun entah kenapa suasana masjid yang begitu nyaman membuat kami tidak beranjak sedikit pun sejak beberapa menit yang lalu. Orang-orang masih datang dan pergi untuk melaksanakan shalat ashar, sementara terlihat beberapa anak kecil membaca Qur’an di salah satu pojokan.

 “Lalu?” Zen tiba-tiba melanjutkan. “Apakah penting seorang anak yang bertanya agamamu dalam cerita ini?”

 “Sudah ku bilang kawan, tidakkah kau bisa bersabar? Terkadang detail kecil itu penting untuk rekonstruksi cerita, membantu kita memahami keadaan.”

 “Well, ya sudah, kau mau lanjut cerita di sini atau gimana?”

 “Menurutmu?”

 “Jalan aja yuk, gak baik pacaran di masjid.”

 “Heh.” Mataku menyipit menanggapi pernyataannya barusan. “Aku masih normal.”

 Namun pada akhirnya aku beranjak juga setelah itu, diikuti Zen. Kami menggeliat sejenak setelah cukup lama duduk. Udara lembab dicampur angin sore membuat suasana menjadi cukup dingin. Zen mengeratkan jaketnya.

 “Sudahlah, yang jelas setelah pagi itu aku ditanya seperti itu, sorenya aku kembali bertemu Asa.”

 “Kau saat itu jatuh cinta dengannya ya?”

 “Ayolah, mikirin Tuhan aja aku males waktu itu, apalagi cewek.”

 “Gak relevan goblok. Banyak orang memang lebih mikirin cewek daripada Tuhan.”

 “Eh? Mungkin juga. Aku gak merasakan apa-apa yang jelas. Dia hanya muncul begitu saja dari antah berantah ke kehidupanku. Asa, asa.”

 ***

 Ya, Asa.

 Datang entah dari mana. Hadir begitu saja. Dikirim takdir aku rasa. Untuk mengobrak-abrik pikiranku.

 Entah ada unsur kesengajaan atau tidak. Aku datang lagi ke taman sore itu. Dan tentu saja, mendapati Asa di tempat yang sama persis.

 Dengan suasana yang sama.

 “Han. Kau memang tiap sore kesini.” Katanya lembut ketika aku mendekatinya.

 Tanpa banyak jeda, aku langsung duduk di dekatnya. Mengeluarkan buku layaknya ritual biasa.

 “Begitulah.”

 Akhirnya jeda itu memang muncul lagi. Mataku aku usahakan fokus pada buku selagi mengisi waktu, daripada perasaan aneh itu datang kembali. Walau hanya beberapa detik, minimal satu kata berhasil aku baca sebelum perempuan itu mulai memecah jeda.

 “Sore memang indah ya, mungkin aku akan kesini setiap sore ketimbang pagi.”

 “Hm-hm”

 “Hei Han, apa agamamu?”

 Kontan aku menutup bukuku. Reflek. Kenapa dua pertanyaan sama persis diajukan pada hari yang sama? Sepertinya takdir kembali bermain padaku. Walau mungkin itu hanya firasat, aku coba abaikan, yang akhirnya berujung pada jawaban aneh lagi, seperti...

 “Eh? Agama? Entah. Mungkin kristen.”

 “Mungkin? Jawaban yang lucu untuk pertanyaan mengenai agama.”

 Aku diam. Menabrak tembok keras dalam pikiranku ketika ingin berusaha menjawab. Asa menyelamatkanku dari kondisi aneh ini dengan lanjut berkata...

 “Orang tuaku tidak beragama. Atau paling tidak itulah kenyataannya. Di identitas mereka beragama islam. Keadaan mereka pada akhirnya sering membingungkanku untuk memutuskan.

 “Tapi tak apalah, toh mereka masih merawatku dari kecil. Walau pada akhirnya aku mengidap penyakit ini, sikap mereka agak berubah. Meskipun mereka tidak terlalu mengurus masalah agama, lingkungan kediamanku memberiku tarikan untuk mencoba mencari tahu. Ya, di sekitar situ banyak pengajian dan orang-orang yang disebut dengan ustadz berceramah mengenai agama mereka. “

 “Normal.” Jawabku singkat

 “Haha, biasalah anak-anak. Aku pikir kau akan menjawab seperti itu.” Asa tersenyum singkat. “Tapi pada akhirnya, ketika aku cukup bersemangat untuk itu, takdir memberiku penyakit ini.”

 “Takdir, eh?”

 “Mungkin. Atau Tuhan? Entah siapa yang mengirimkannya padaku, jawabannya takkan pernah aku tahu.”

 “Biasalah, hidup.” Jawabku singkat lagi. Walau mataku tetap menuju buku yang ku pegang, pikiranku sudah terbang kemana-mana.

 “Toh pada akhirnya sebentar lagi aku akan mati. Aku akan langsung bisa bertanya pada Tuhan. Jika Ia memang ada. Haha”

 Dalam hati aku merasa itu tertawa yang cukup mengerikan. Aku tak pernah dengar lelucon apapun tentang ini, tapi menertawai kematian? Ah, hidup sendiri pun sudah terlalu aneh untuk ditertawai.

 “Kau pernah memikirkannya?” Asa melanjutkan.

 “Kau sudah tahu jawabannya.”

 “Mungkin kau perlu menyempatkan diri merenunginya han. Hidup akan terlewat begitu saja tanpa makna.”

“Yang ku tahu Dia ada. Entah dimana.”

 “Kau yakin?”

 Aku ingin menjawab tapi keraguan itu ternyata masih ada. Ku ambil lagi jeda sejenak dalam alur waktu, sekedar untuk menatap langit dan menguatkan jawaban. Dan akhirnya yang keluar dari mulutku adalah...

 “Yakin.”

 Yakin sa, yakin, walau tak pernah memikirkannya, aku yakin, dalam imajinasiku, dalam harapan bawah sadarku.

 ***

 “Entah itu musibah, entah itu anugrah. Gara-gara dua orang yang bertanya kurang ajar itu, pikiranku jadi terasa aneh setengah mati. Apa kah aku memang tidak bisa selamanya berada dalam ke-biasa-an yang menyenangkan tanpa perlu ada pemikiran mendalam? Mungkin memang tidak ada yang statis dalam dunia ini. Sejak saat itu, hidupku yang ’biasa’ sudah cukup berubah. Aku menjadi penasaran bagaimana agama itu? Dan juga Tuhan Bagaimana itu?

 “Aku mengetahui agama-agama yang ‘cukup’ diyakini kebenarannya. Kebenarannya? Berarti ada agama yang salah? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mulai muncul saat itu. Semua agama ku ketahui konsep yang sama mengenai realitas tunggal yang menyeluruh dan melampaui segalanya, entah itu disebut Allah oleh agamawan Ibrahimiyah, Brahman oleh Hinduis, atau Nirvana oleh Buddhis. Semua sama, tetapi mengapa mereka mempunyai berbagai nama? Tapi sebenarnya aku tak peduli dengan nama, toh “apalah arti sebuah nama” kata Shakespheare, perbedaannya lebih kepada deskripsi, ya setelah esensi. Namun yang lebih aku bingungi lagi, kenapa aku yang selama ini hidup mengalami berbagai agama itu baru mencoba memikirkan saat itu”

 “Payah.” Suara Zen terdengar singkat.

 Aku menoleh sejenak, menatap anak itu lekat. Kami masih berjalan menyusuri pinggiran jalan. Suasana sore mulai membuat ramai jalanan.

 “Saat itu aku harap aku dapat memertahankan kebiasaan yang awalnya ku miliki hingga...” Aku berhenti berjalan sejenak. “hingga ada satu lagi penunjang titik belok yang ku alami Zen.”

 “Satu lagi titik belok?” Ia ikut berhenti setelah beberapa langkah berjalan di depanku.

 “Yup. Rangkaian titik belok sebenarnya. Satu cerita ini lah yang benar-benar membuatku berubah. Makanya sudah ku bilang tadi tiap detail terkadang perlu dalam sebuah kisah.” Aku mendadak tertawa.

 “Kau keren kawan, hidupmu mengalami titik belok. Yang akhirnya membuatmu seperti sekarang.”

 “Tidak juga, sebenarnya tiap kisah hidup orang pasti memiliki titik belok. Lagipula aku tak bisa memutuskan apakah aku perlu bersyukur atau menyesal, kita tidak pernah tahu bagaimana kemungkinan yang lain berlangsung kan? Bagaimana mungkin kita bisa mensyukuri atau menyesali satu-satunya kehidupan yang kita tahu.” Aku tersenyum.

 “Ngomong-ngomong kita mau kemana Han? Jangan bilang kau hanya mengajakku muter-muter gak jelas” Tangannya mengepal ke arahku

 “Aku mau menunjukkan sebuah tempat kepadamu Zen. Tempat bersejarah bagiku. Tapi sebelumnya kita akan mampir ke suatu tempat yang lain. Nikmatilah, lagipula suasana sore di tempat ini menyenangkan bukan?”

 “Terserah katamu lah fin, yang jelas jangan lupa traktiranmu nanti malam.”

 “Kalau takdir berkehendak Zen.” Aku tertawa lagi. 

Tawa singkat. Yang akan segera berubah. Ketika ingatan itu muncul lagi dengan jelas, memaksa mukaku untuk mengikuti suasananya.

 ***

 Ya, kalau takdir berkehendak. Kalau takdir menginginkan, aku hanya mau hidup normal biasa dengan ringan tanpa beban apapun. Normal. Biasa. Tapi apalah manusia bisa berkata, ketidakpastian hidup tetap berkuasa.

 Hari-hari setelah itu entah kenapa aku lalui dengan kegelisahan yang entah muncul dari mana. Pertanyaan-pertanyaan muncul silih berganti, demikian halnya dengan buku-buku yang ku baca untuk mencari jawabannya. Dari sains ku pindah fokus ke religi. Konsep semua agama aku pelajari satu per satu. Tapi bagaikan benang yang sudah terlanjur kusut, semakin dicoba dibongkar semakin bertambah kekusutannya, semakin aku bertanya semakin bertambah keabstrakan itu.

 Mati satu tumbuh seribu, terjawab satu, seribu pertanyaan yang lain lahir.

 Lebih-lebih dengan dasar konsep keilmuan yang aku punya, kompleksitas itu semakin rumit saja. Permasalahan peperangan ideologi antara sains dan agama yang telah berlangsung selama ribuan tahun menimbulkan wilayah kegelisahan tersendiri dalam jiwaku yang semakin bergejolak. Inilah akhir dari semua kenormalanku.

 Mungkin rutinitas tetap berjalan, sekolah, baca buku, ke taman, pulang bersepeda, baca buku lagi, dan seterusnya. Namun di manapun kita berada, berpikir tidak butuh gerakan tubuh. Ya, aku sekolah, tapi kontemplasi lebih menjadi konsumsi daripada guru yang berkhotbah tanpa henti di depan kelas. Ya, aku membaca buku, tapi tiap halaman selalu diselingi sebuah renungan. Ya, aku bersepeda, tapi satu kayuhan bisa berarti satu pertanyaan.

 Tidakkah orang lain mengajukan pertanyaan yang sama? Ku rasa tidak. Entahlah, banyak dari kita beragama secara turun temurun, tidak membutuhkan peperangan batin untuk mengimaninya.

 Hampir seminggu aku tidak bertemu Asa lagi. Jelas, karena aku tidak pernah ke taman lagi. Untuk sementara hanya kesendirian murni yang ku butuhkan, walau aku tahu memang sejak dulu aku selalu sendiri. Tapi aku takut Asa menambah kegelisahan ini.

 Hingga akhirnya itu semua memuncak di ujung minggu.

 Sore itu aku pulang seperti biasa setelah seharian menikmati berlembar-lembar buku. Matahari sore yang hangat mengiringi kayuhan kakiku yang dengan perlahan membawaku ke rumah. Tak ada yang ku pikirkan, tak ada yang ku rasakan. Tidak sampai 15 menit, gang masuk kompleks perumahan kelas menengah tempatku tinggal telah mulai terlihat. 

Daerah itu lengang seperti biasa. Hanya terlihat beberapa bapak-bapak tengah menyiram halaman rumahnya masing-masing. Seperti halnya perumahan-perumahan pada umumnya, tidak terlalu banyak interaksi antar tetangga terjadi untuk menghidupkan suasana. Lagipula pemukim di sini tidak memiliki banyak anak-anak. Tidak ada yang berteriak-teriak kegirangan menikmati masa muda penuh kebebasan di sore yang cerah seperti ini. Tidak ada yang aneh dengan keadaan sepi seperti ini. Aku masukkan sepedaku ke rumah tanpa ada kecurigaan sedikit pun.

Pintu terbuka pelan. Salam yang ku ucapkan dijawab oleh hening. Gelap. Rumah terlihat kosong. Aku nyalakan lampu dan memeriksa tiap sudut rumah. Baru ku sadar sepertinya ada yang sedikit berbeda., tapi ku tepiskan dengan berpikir bahwa mungkin bapak ibu lagi pergi. Jadi ku taruh tas seperti biasa dan mengambil makanan di dapur. Sudah cukup lelah membaca seharian, aku nyalakan TV sejenak selagi tidak ada orang di rumah.

Hening terpecah dengan suara dari kotak yang berpendar yang baru saja ku hidupkan. Yang terlihat pertama adalah sebuah saluran berita, yang sedang menyiarkan sebuah kejadian bom bunuh diri di sebuah gereja. Aku tak tertarik. Tanpa ku perhatikan sedikitpun berita yang ditayangkan, tanganku mencari remote di sekitar meja. Beberapa detik berikutnya remote TV sudah berada di tangan. Hampir jariku menyentuh tombol pengganti saluran, terdengar suara getaran samar-samar.

 Butuh jeda beberapa detik untuk membuatku sadar itu suara getaran telepon selulerku. Dan baru ku ingat bahwa aku tidak membawanya seharian selama pergi. Mungkin itu ibu. Jadi segera ku cari sumber getaran dan memeriksanya. Memang itu ibu. Ada sekitar puluhan missed calls tercatat darinya. Diam.

 Telepon itu bergetar lagi. 

“Assalamu’alaikum.” Ujarku pelan.

 Ku dengar suara lirih ibu di seberang telepon. Diam ku dengar baik-baik semua yang dikatakannya.

 Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memahami apa yang terjadi. Beberapa menit berikutnya aku sudah mengayuh sepeda lagi. Meninggalkan rumah yang masih dipenuhi suara TV, menyiarkan sisa-sisa berita.

 Tak ada lagi yang ku pikirkan.

 ***

 Lahan itu cukup luas. Setara sekolahku mungkin, namun dipenuhi gundukan-gundukan bagaikan barisan bukit. Orang-orang yang awalnya memenuhi tempat ini satu per satu pergi. Aku berdiri diam di depan sebuah batu berbentuk salib. Tanah di sekitar batu itu masih terlihat gembur. Pikiranku melayang kemana-mana. Aku tak tahu harus merasakan apa.

 Mati. Kematian. Ajaran Buddha mengatakan tidak ada bedanya antara kehidupan dan kematian, toh itu suatu siklus tiada akhir yang merupakan bagian dari aliran dunia, Ajaran Hindu mengatakan orang yang mati akan terreinkarnasi ke dalam kehidupan baru. Ajaran Ibrahimiah memercayai keberadaan suatu eksistensi tempat bernama surga dan neraka dimana para manusia yang mati pergi. Apa lagi? Cukuplah.

 “Han, kamu masih mau terus di sini?” Terdengar suara ibu pelan di sampingku membuyarkan lamunanku. Baru ku sadari tempat ini sudah sangat sepi. Hanya ada aku dan ibu dan beberapa peziarah lainnya. Ku lihat wajah ibu masih terlihat lembab, matanya merah.

 “Ibu duluan aja bu. Nanti saya segera pulang kok.” Jawabku sedikit bergetar.

 “Ya sudah. Jangan malam-malam ya.”

 Ibu menjauh, meninggalkanku sendiri di tengah lahan yang sunyi. Aku berjongkok, mengelus batu salib dingin itu.

“Engkau pergi saat beribadah dengan agamamu akibat dari serangan orang yang mengaku beragama istrimu. Aku jadi heran bagaimana engkau dulu menikah. Apa yang kau sadari akan agama?”

Aku diam sejenak. Menunduk. Berusaha membendung aliran air dari mata yang mendesak keluar.

“Sayang, aku ingin mengajakmu berdiskusi, hal yang sama menggangguku akhir-akhir ini... Terlambat untuk berada dalam kondisi untuk memikirkannya.”

Akhirnya ku biarkan air itu mengalir deras di pipiku. Dadaku bergejolak. Kebingungan meliputi.

“... Jangan buat bingung dirimu sendiri akan latar belakang keluargamu. yakinilah apa yang harus kamu yakini, setelah kamu yakin, maka pahamilah...” Suara bapak terdengar pelan dalam pikiranku.

“Iya pak, iya, akan ku cari apa yang harus aku yakini, tak peduli dengan semua ritual dan tradisi.”

***

-Bersambung -

  • view 116