Just Go(d) - Bagian I

Just Go(d) - Bagian I

Aditya F. Phoenix
Karya Aditya F. Phoenix Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Juli 2016
Just Go(d) - Bagian I

“Langit masih terlalu mendung untuk dinikmati.” Zen berkata padaku ketika aku mengajaknya keluar sejenak.

 “Tak apa Zen, terkadang yang abu-abu malah lebih indah dari yang hitam atau putih.” Aku menjawab tersenyum selagi merapikan sebuah kardus di atas lemari. “Lagipula tidakkah kau penat setelah berjam-jam bermain-main dengan debu?”

 “Tentu saja penat fin, hidungku mau bersin terus sejak tadi. Kau tahu aku sebenarnya alergi dengan semua ini.” Jawab Zen sambil melakukan hal yang sama denganku, merapikan kardus-kardus berisi barang-barang lama, sisa-sisa masa lalu. Suaranya terkesan aneh karena hidungnya ia jepit. “Astaga fin, aku tahu kamu cukup gila dengan teologi, tapi aku tak tahu kau punya buku tentang agama segini banyak.”

 Menoleh, aku melihat Zen sibuk melihat-lihat setumpuk buku yang ia temukan dari dalam salah satu kardus. Entah kenapa aku kembali teringat hal itu, ketika aku masih berada dalam masa-masa kelabu, di mana hitam dan putih hampir tiada bedanya. Ya, masa ketika buku-buku semacam itu masih menjadi konsumsi utama rasa penasaranku.

 “Sebenarnya sejak kapan kau tertarik beginian fin?” Ujar Zen tanpa mengalihkan mata sedikit pun dari buku-buku itu, membolak-balik halamannya.

 Sinar matahari mendadak keluar dari celah kecil di antara awan, menghasilkan pancaran cahaya dari langit seakan malaikat sedang turun ke bumi. Hujan memang baru saja berhenti, itulah kenapa aku mengajak Zen keluar. Aku memang ingin memerlihatkan Zen kota kecil tempat dulu aku menempuh hidup ini, daripada hari pertama liburannya terkesan sia-sia gara-gara aku meminta tolong merapikan barang-barang lama.

 “Tak lama Zen, tak lama. Sebuah titik belok yang cukup tajam dalam hidupku. Ayolah Zen, kita ngobrol sambil jalan, sudah lama aku tak menikmati tempat ini.”

 “Hmm, baiklah sebentar.” Zen berdiri, mengambil jaketnya. Tanpa berkata apapun lagi, ia sudah melangkah keluar. “Tapi kau harus mentraktirku makan nanti”

 Tertawa, aku mengikutinya. Namun di ambang pintu, tiba-tiba ujung mataku menangkap sesuatu yang tiba-tiba menimbulkan reaksi khusus dalam jalinan neuron otakku. Melangkah ke salah satu kardus, aku mengambil sebuah buku merah yang sudah cukup berdebu. Halamannya kaku dimakan usia. 3 huruf kecil tertulis rapi di tengah sampul buku tersebut, menyimpan banyak makna dan pertanyaan.

 “ASA”.

 Aku tersenyum dan mengejar Zen yang sudah menunggu di luar.

 

***

 

6 tahun yang lalu. Jiwa masih polos. Mata masih kosong. Hanya ketertarikan pada buku yang menghiasi hari-hari.

 Sekolah-pulang, sekolah-pulang, plus membaca buku di tiap waktu luang, tidak ada yang spesial, tidak ada yang aneh, semua berjalan selayaknya anak-anak biasa, dengan tubuh yang biasa, sekolah biasa, hanya dengan sedikit hobi yang berbeda. Tentu saja, karena hobi orang memang beda-beda.

 “Gak pulang bro?” Kata salah seorang teman sekelasku yang sedang berjalan bersama teman-temannya, kebetulan lewat di depanku.

 “Nanti, biasalah. Matahari masih mengizinkanku menikmati lembaran-lembaran kertas” Ujarku tanpa menoleh. Mata masih lurus tertuju pada tiap kata-kata yang tertulis dalam buku yang ku pegang.

 “Haha, dasar. Ya sudahlah, udah sore, hati-hati sekitar sini banyak hantunya. Duluan yak.” Frekuensi suaranya mengecil sebagai hasil dari efek doppler selagi ia menjauh.

 Mengabaikan yang ia sampaikan, ku selesaikan satu bagian lagi sebelum akhirnya buku itu ku tutup dan beranjak pulang. Langit sudah mulai sore. Petugas sekolah mulai menyalakan satu per satu lampu koridor. Satu lagi dari hari-hari normal yang biasa berlalu telah kembali berlalu, dan ku harap akan seterusnya seperti itu. Bayangan tubuh tinggiku semakin memanjang mengiringi putaran roda sepedaku yang semakin kencang. Ya, normal, tak perlu apapun.

 

***

 

“Hey, untuk apa aku perlu mengetahui semua hari-hari mudamu” Zen memotongku.

 Matahari mulai terlihat sepenuhnya walau sudah sedikit condong. Kendaraan-kendaraan mulai lalu lalang memecah genangan air di jalanan, orang-orang mulai beraktivitas kembali. Suasana paska hujan memang menyenangkan.

 “Sabar kawan, Sebuah cerita harus di sampaikan komplit. Tidakkah aneh bila kau hanya tahu sebagian. Butuh waktu bagiku untuk mengingat itu kembali.” Aku tersenyum, seperti halnya orang-orang yang hilir mudik di sekitar kami. Walau hari sudah sore, orang-orang sepertinya terlihat berbahagia.

 “Itu kehidupanku dulu kawan, aku awalnya tak pernah tertarik untuk membaca yang aneh-aneh, aku hanya mengikuti rasa penasaranku. Toh hanya buku sains dan novel yang kebanyakan menjadi makananku sehari-hari.” Aku melanjutkan tanpa memberi kesempatan Zen menjawab. “Bahkan tak pernah terbesit dalam pikiranku pertanyaan apapun.”

 

***

 

“Assalamu’alaikum”

 Aku baru mencapai rumah tak lama setelah matahari sempurna tenggelam. Tak terdengar apapun selain bunyi merdu ibuku mengaji. Rumahku memang bertempat di sebuah perumahan yang sudah mulai sepi bahkan sebelum maghrib.

 “Wa’alaikumussalam” Ibuku menjawab setelah berhenti mengaji sejenak dan menoleh ke arahku. “Kok baru pulang, bersihkan diri sana. Ibu sudah siapkan makan”

 Aku melangkah masuk dan langsung menuju ke kamar. Bersiap untuk melaksanakan rutinitas normal selanjutnya, mandi, makan, baca buku lagi, atau mungkin belajar.

 “Han?” Suara berat itu terdengar dari dalam ruang makan.

 Tinggal satu langkah jarakku dari pintu kamar, langkahku terhenti. “Ya?”

 “Kamu besok minggu nganggur kan? ikut bapak ke gereja lagi ya”

 Ada jeda sejenak sebelum aku dapat menjawab, lantunan ayat Qur’an dari mulut ibu mulai terdengarlagi, suara jangkrik ikut membantu memecah keheningan.

 “... Oh. Iya pak, saya kosong kok.” Jawabku singkat. Yang terdengar selanjutnya hanyalah bunyi pintu kamarku yang tertutup cukup keras.

 

***

 

“Hei! Tunggu sebentar” Zen tiba-tiba berhenti melangkah dan berbalik arah, membuatku hampir menabraknya. Ia menatapku lekat.

 “Apa lagi Zen? Kau kalau mau manuver mendadak begitu beri tanda lah, kau bayangkan bila semua kendaraan tidak punya lampu sign

 “Ada dua keanehan di sini, dan kau, harus segera menjelaskannya sebelum berlanjut.” Matanya memandangku. Walau sudah ku kenal dia cukup lama, entah kenapa aku masih merasa matanya begitu intimidatif. “Pertama, kau dipanggil Han? Ayolah, siapa namamu sebenarnya? Kedua, ibumu mengaji, tapi bapakmu mengajakmu ke gereja? Kau sedang bercanda padaku?”

 Aku tertawa. Itu lah kenapa aku senang menjadi teman orang yang namanya sama persis dengan salah satu aliran perkembangan Buddha di Jepang ini. “Sudah ku bilang Zen” Jawabku tenang. “Kau harus belajar sabar saat mendengarkan suatu cerita. Yuk, sambil jalan”

 Kakiku melangkah lagi, mengabaikan Zen yang masih terlihat penasaran. Dua muda-mudi terlihat berjalan gembira di salah satu sudut jalan, seakan dunia ini hanyalah milik mereka berdua. Ya, hidup memang indah bila ingin kita nikmati. Seperti yang awalnya ku harapkan saat itu.

 

***

 

Mungkin terasa aneh bagi kebanyakan, tapi itulah keluargaku, itulah keadaan yang ku jalani selama satu lebih dekade pertama aku hidup. Namun aku tak pernah mengambil pusing hal tersebut. Berpikir saat itu bukanlah hal yang aku senangi, hanya akan menambah beban. Cuek dengan segala yang terjadi, aku berharap hidupku akan berjalan normal. Tapi dunia ini dinamis, perubahan adalah suatu keniscayaan, sediam apapun kita. Dan itulah juga yang akan terjadi pada hidupku. Tanpa pernah diminta, ketidakpastian seakan menguasai segalanya.

 “Pak, habis ini bapak duluan aja. Han mau pergi sebentar” Aku mengangkat bicara setelah cukup lama berdiam. Minggu pagi itu cukup cerah, cocok bagiku untuk tenggelam dalam pustaka.

 “Kemana?”

 “Biasa pak, taman.”

 “Kamu seneng banget duduk-duduk menyendiri, kayak orang tua aja. Masih muda tu harusnya bersemangat.” Pundakku ditepuknya. “Ya sudah sana, pulang jangan malam-malam Han.”

 Mengangkat bahu, aku langsung berjalan menuju parkir sepeda. Menuju tempat biasa menikmati hidup. Beberapa buku telah memenuhi tasku, siap dihabiskan sepanjang hari.

 Ah ya. Masalah nama, apalah maknanya, ia berganti jutaan kali pun tak akan mengubah siapa aku. Walau arti dari sebuah identitas lebih dari sekedar pengenal, ia merupakan sugesti, harapan, atau apalah orang-orang menyebutnya, aku tak perlu memusingkan itu. Pada akhirnya aku sendiri yang memutuskan mengganti panggilanku menjadi finiarel. Tak perlu tanya mengapa, karena itu hanya muncul dari intuisi.

 “Oh ya Han...” Suara bapakku yang masih terdengar di belakang membuatku berhenti.

 Aku berbalik. Sisa-sisa keramaian dari dalam gereja masih memenuhi trotoar jalan.

 “Jangan buat bingung dirimu sendiri akan latar belakang keluargamu. Yakinilah apa yang harus kamu yakini, setelah kamu yakin, maka pahamilah.”

 Tertegun sejenak, berusaha memaknai tiap kata. Tersenyum, aku melambaikan tangan dan kembali berbalik arah. Berlari menuju tujuan awal.

 Iya pak, iya. Lagipula aku memang belum ingin terlalu memikirkannya. Apapun agamaku, apa pedulinya bagiku. Aku selalu ingin hidup normal, tanpa ada gangguan apapun, tanpa ada beban apapun. Aku sudah cukup nyaman dengan semua hari-hari penuh rutinitas, siklus yang tiada henti. Shalat sudah pernah ku lakukan, ibadah di gereja pun sering ku laksanakan, lalu apa? Tak ada yang ku rasakan.

 Ciit!

 Suara rem sepeda yang lupa ku beri oli terdengar keras begitu aku mencoba menghentikan laju roda cukup mendadak. Melamun. Hampir saja ku tabrak palang besi tempat parkir sepeda. Biarlah. Kakiku langsung melangkah menuju ‘singgasana’, tempat biasa aku duduk dengan teh atau kopi yang ku bawa, begitu sepeda ku terkunci sempurna.

 Di sinilah ku rasa titik persimpangan itu, titik yang membuat aliran takdir hidupku berjalan tidak sesuai yang ku prediksi. Sebuah noktah dalam garis waktu yang bercabang menuju dimensi kelima, menghasilkan satu lagi semesta virtual sebagai konsekuensi dari banyaknya pilihan. Bisakah kau membayangkan bagaimana semua takdir ini bekerja? Sayangnya aku lebih memilih tidak memikirkannya.

 Awalnya memang ku pikir hari ini akan menjadi hari yang biasa layaknya hari-hari sebelumnya, duduk di taman dengan biasa, menghabiskan waktu dengan biasa.

 Namun.

 Tingggal beberapa meter menuju tempat duduk,  suara batuk yang cukup keras terdengar hingga mengalihkan pandanganku seketika menuju sumber suara. Seorang  remaja kurus dengan tinggi tak jauh berbeda dariku berjalan tertatih-tatih. Satu-dua detik jeda memberiku kesempatan untuk sekedar berpendapat betapa menyedihkan kondisinya saat itu, yang akhirnya segera buyar karena ia memperlihatkan tanda-tanda akan segera terjatuh. Walau sempat bingung, secara intuitif tanganku bergerak membantunya, menuntunnya menuju bangku terdekat.

  “Hati-hati.” Ujarku pelan.

 “Fyuh...” Nafasnya terdengar tersengal-sengal seperti telah berlari keliling lapangan sepak bola 6 putaran.

Sejenak ku biarkan ia mengatur irama paru-parunya, hingga akhirnya ia tiba-tiba menjulurkan tangan.

 “... Asa...”

 Selalu muncul jeda itu walau hanya 1 detik sekedar untuk memberiku waktu memproses apa yang sedang terjadi. Apa aku gugup? Kurasa tidak.

 “Han.” Jawabku tersenyum, menyambut juluran tangannya yang kurus.

 “Terima kasih Han, maaf merepotkan”

 “Tak masalah, aku sendiri hanya sedang ingin menikmati hari dengan sebuah buku.” Diam sejenak, aku melanjutkan, “Apa yang terjadi padamu. Mukamu pucat, tatapanmu kosong.”

 Yang berikutnya terdengar hanya parau suaranya yang terlihat sedang sesak napas, hingga akhirnya ia kembali lirih menjawab, “Hanya sedang tidak sehat. ...”

 Terkadang manusia memang sering sangat merendahkan dirinya, tapi ku rasa yang kali ini kurang bisa melihat realita. Aku bahkan seperti melihat zombie sebaya. Apa sebuah virus berbahaya telah bocor dari suatu laboratorium rahasia dan sekarang aku sedang bersama orang yang tengah terinfeksi? Atau mungkin ia adalah suatu kelinci percobaan yang kabur dari suatu penelitian terlarang? Sudahlah, sepertinya aku terlalu banyak baca novel, jelas terlihat ia adalah pemuda biasa, sama sepertiku.

 “Kata-katamu mengandung kebohongan. Kau bahkan tak tampak seperti manusia.” Jawabku tanpa menoleh, alisku terangkat tanda heran.

 Sekali lagi jeda itu muncul. Namun kali ini sepertinya karena ia cukup kaget dengan tanggapanku. “Aku memang tidak sehat, tapi lebih tepatnya sangat tidak sehat....” Akhirnya jawaban itu muncul.

 “Hei, kau tak apa aku duduk di sini?” Anak zombie itu melanjutkan.

 “Apa yang menjadi masalah?”

 “Kau sendiri yang mengatakan aku bahkan seperti bukan manusia.”

 “Haha, bukan berarti aku tidak boleh duduk dan berbicara denganmu”

 “Aku menderita penyakit yang cukup akut sekarang.” Ujarnya, dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah. “Entah hidupku akan bertahan berapa lama lagi. Orang-orang sudah menganggapku seperti orang mati. Bahkan...”

 “... Orang tuamu?” Tebakku spontan.

 “Ya, bahkan orang tuaku. Aku dikatakan sudah tidak punya harapan untuk sembuh. Mungkin aku hanya dianggap sebagai beban.”

 “Sayang sekali, ...di usia sepertimu...”

 “... kau mengatakan itu tanpa hambatan sama sekali.” Senyum kecil terukir di ujung bibirnya.

 “Kenpa harus ada hambatan. Kejujuran bukanlah hambatan terhadap apapun, bahkan pada dirimu sendiri. Tapi, maaf...”

 “... Sudahlah. Di sisa hidupku aku tidak terlalu ingin terbawa perasaan. Tapi...”

 

***

 

“Tapi... tidakkah kau saat itu kurang suka berbincang-bincang pada orang?” Zen tiba-tiba menyeletuk, memotong lagi. Tangannya kembali mencomot gorengan yang baru saja ia beli dan memasukkannya secara sekaligus ke dalam mulutnya. “Afalaghi ithu ohang aneh yang faru aja khelua dari laforahorium therlarang. Hii”

 “Makan pelan-pelan. Dasar.” Menatapnya sedikit jengkel, “Memang, tapi entah kenapa tanpa dasar aku melakukan itu semua. Intuitif. Entah karena penasaran atau gimana, tapi begitulah, tanya pada takdir.” Aku mengangkat bahu.

 Langit masih malu-malu dalam memilih antara cerah dan mendung. Terang namun sedikit gelap. Matahari yang tadi sempat memperlihatkan hidungnya kini bersembunyi kembali. Aku dan Zen kembali melanjutkan perjalanan. Suasana saat itu hampir serupa, hanya kali ini udara sedikit lebih lembab.

 

***

 

 “Tapi... Ya walaupun secara pasti kesedihan itu ada, terkadang saat aku cukup melihat semangat dan senyum anak-anak itu, aku lebih merasa hidup. Lihatlah fin, taman ini penuh dengan emosi” Suara lirih asa terdengar lagi. “Karena itu aku senang duduk di taman ini.”

 Remaja-remaja seumuran lalu lalang di sekitaran taman tanpa habisnya. Di satu sudut ada yang berkelompok sedang bersenda-gurau, ceria menikmati masa-masa sebelum tua ataupun dewasa, di sudut lainnya ada yang menyendiri dengan wajah yang seakan menganggap hari esok adalah kiamat. Mata kami saat itu lurus ke depan, menatap dan menikmati atmosfer taman yang hangat dengan keceriaan.

 “Hmm? Kau sering? Kenapa aku tak pernah melihatmu?”

 “Jadi kau sering ke sini juga? Biasanya aku datang pagi, sekarang kebetulan aku diberi izin pergi sore. “ Ia terbatuk lagi di ujung kalimatnya, diikuti suara nafas yang seakan mau putus. Aku sedikit ngeri mendengarnya. “Aku benci setiap jam harus berbaring di tempat tidur dan menatap jendela dengan angan-angan hampa.”

 “Terkadang menikmati tiap detik yang kita punya adalah yang terbaik dalam hidup. Apa lagi?

 “Lagipula gak keren juga kalau hari-hari terakhir hidup kita malah dihabiskan di tempat tidur. Tak ada pembelajaran ataupun inspirasi, hanya akan membusukkan jiwa dalam kekosongan.” Ia menarik napas sedalam mungkin. Mukanya hingga tertarik ke atas. “Entah apa maknanya.”

 Sedikit sekilas berbagai tanda tanya mulai muncul dalam pikiranku. Apa karena aku tidak pernah menemui fenomena seperti ini? Yang jelas tiba-tiba aku merasa sangat aneh. Hidup memang penuh ketidakpastian, tapi kenapa tiba-tiba takdir membawaku pada seorang remaja sekarat yang akan mati sebentar lagi? Konyol. Aku benci hidup, namun apabila aku meninggalkannya sama saja mati. Hal yang tak pernah aku ketahui maknanya. Entah apa yang ku lakukan, tapi yang jelas ini adalah hal yang baru bagiku.

 “Hei Han, kau lihat itu? Matahari terbenam selalu dipandang manusia sebagai hal yang indah, padahal ia mencerminkan akhir, tidak seperti matahari terbit yang mencerminkan sebuah harapan. Lucu ya”

 Aku terdiam, kalimat itu mengandung kebenaran walau terasa ironis.

 “Biasalah, manusia.” Jawabku singkat.

 “Kau selalu menganggap segala sesuatu itu biasa ya Han.”

 “...aku benci beban pikiran.” 

Asa mendadak tertawa kecil. Terlihat sangat aneh dengan tampang pucat seperti itu. “Kau hebat Han, bisa menikmati segalanya dengan bebas.” Suaranya sedikit lebih ceria. “Tapi Han, terkadang hidup memiliki banyak makna yang butuh pencarian dan perenungan. Segala sesuatu tidak datang begitu saja bukan?”

 Jeda kali ini muncul lagi cukup lama. Seakan memberi kami waktu untuk mengamati bagian oranye di ujung langit mulai terdifusi perlahan. Sepertinya tidak satupun dari kami punya kata-kata untuk diucapkan. Suara klakson kendaraan ditambah tawa ceria masyarakat di setiap sudut memenuhi telinga. Setelah suatu selang yang sebenarnya hanya beberapa detik namun terasa sangat lama, aku menghembuskan napas, berusaha membuang semua yang entah mengganjal dalam pikiranku.

 “Iya... mungkin.” Jawabku singkat. “Tapi aku selalu tidak dalam kondisi untuk memikirkannya lebih lanjut.”

 Apa yang terjadi setelah itu hanyalah jeda lagi yang lebih panjang. Aku tahu tiap hal dalam hidup memang butuh jeda, bahkan huruf-huruf butuh spasi untuk dapat menghasilkan makna suatu kata, tapi yang ini sepertinya kebanyakan jeda. Atau mungkin semua itu cuma perasaanku? Entahlah, yang kuingat hanyalah jeda itu berujung pada kata pamit karena hari sudah mulai gelap. Asa mengatakan akan segera dijemput. Aku sendiri sudah diingatkan untuk tidak pulang terlalu malam.

 

*** 

 

“Aku penasaran bagaimana perasaanya saat itu. Entah gimana apabila aku berada dalam posisinya. Mungkin akan ku biarkan saja, tanpa perlu memikirkan macam sesuatu seperti... makna hidup? Sesuatu yang membuat pusing semua manusia sepanjang zaman. Aku saat itu tidak dalam mood untuk memikirkan hal itu. Biasa, yang ku inginkan hanyalah kenormalan Zen, aku benci banyak beban. Pada akhirnya saat itu aku hanya menganggap itu semua hal biasa dalam hidup penuh ketidakpastian, ya, hal biasa.” Aku menatap langit selagi berusaha menyusun kembali pecahan-pecahan memori itu.

 “... Hei Han, kau mau es krim?” Zen tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Dengan polos, ia melangkah mendekat dengan dua es krim sudah siap di tangannya.

 “Zeeen, kamu selama ini mendengarkanku tidak?” Aku melotot menatapnya, tanganku tetap meraih salah satu es krim.

 “Dengar, aku dengar fin. Menarik, tak heran bila itu bisa menjadi titik belok, walau sebenarnya kita harus mencari turunan kedua dari suatu fungsi untuk menemukannya. Namun kau masih menyisakan banyak pertanyaan kawan. Kau tak mungkin berubah hanya karena bertemu dengannya secara singkat bukan? Lagipula penjelasanmu mengenai orang tuamu belum cukup. Yang ku tahu saat ini kedua orang tuamu islam, dan kamu sendiri murni muslim yang taat” Ujar Zen sambil sibuk menjilati es krim cone coklat-vanilla di tangan kanannya. Entah kenapa dalam sekejap es krim yang awalnya berbentuk kerucut itu sudah tinggal setengah. “Setelah ini kita kemana? Aku capek jalan terus fin. Kau berhutang padaku karena menambah kerjaan di hari pertama liburanku yang awalnya hanya budak membantumu beres-beres barang-barang lama menjadi pelayan yang diminta mendengarkan nostalgiamu.”

 “Haha, lagipula sebentar lagi mau adzan, kita shalat dulu.” Jawabku tersenyum. Bayangan kami sedikit demi sedikit mulai menyamai tinggi kami. Jalanan semakin dipenuhi kendaraan, menandakan jam pulang kantor telah tiba.

 

-Bersambung -

  • view 297