Dear Eros - Bertanya Cinta

Aditya F. Phoenix
Karya Aditya F. Phoenix Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 14 Juni 2016
Dear Eros - Bertanya Cinta

Terkadang alasan menulis muncul tanpa tanda-tanda. Ia ada begitu saja tanpa harus bertanya-tanya. Di malam yang sunyi selepas menikmati kata-kata bersama anak-anak lingkar sastra, aku tersadar ketika melihat dunia maya, pada beberapa ungkapan di sosial media, yang membahas hal yang sama, mengenai apa itu cinta. Ya, sekedar respon sadar terhadap hari valentine, hari yang selalu menjadi kontroversi bagi sebagian orang, aku hanya ingin mengungkap beberapa kata, sebagai jawaban atas pertanyaan penuh misteri itu.

 Maka setelah menikmati sejenak kesunyian malam dengan langkah kaki pulang dari kampus. Aku duduk bersimpuh dan mulai memberikan seluruh cintaku pada tulisan yang akan aku keluarkan. Maka tanganku pun bergerak...

...

14 Februari 2015

 Dear Eros, yang tak pernah bisa dimengerti

 Entah dimana kau berada, entah di balik apa kau bersembunyi. Terkadang aku hanya ingin menyapamu, sekedar ingin tahu, sebenarnya apa yang kau tuju. Ku harap kau punya alasan yang jelas, wahai eros, karena kau telah membuat semua manusia kebingungan.

 Aku tahu kau simbol dari apa yang kami kenal dengan kata cinta. Dalam mitologi yunani kau diibaratkan seorang dewi kecil bersayap yang selalu siap membidikkan panah,yang akan meluluhkan hati siapapun yang mengenainya. Tapi kawan kecil, apa sebenarnya yang kau tembakkan? Ini bukan mengenai engkau, karena engkau hanya eksistensi palsu dalam abstraksi pikiranku, atau dalam abstraksi mitos masyarakat kuno, tapi ini lebih mengenai apa yang kau simbolkan, mengenai apa itu cinta.

 Ya,cinta! Karenanya manusia berani melakukan apapun, karenanya manusia berani membunuh, mencuri, menghancurkan seluruh harga diri, karenanya pula manusia berani bekerja sama, membantu, menolong, mengabdi. Ia lah alasan adanya seluruh peradaban! Ia juga lah alasan seluruh peperangan. Ia ada dimana-mana. Selama ada manusia, di situ kau temukan dia.

Agama pun ada karena cinta, Tuhan pun dipercaya karena cinta, semua ibadah pun dilakukan karena cinta. Karena tanpa cinta, apa lagi alasan kami semua untuk hidup? Maka kawan kecil, apa itu cinta?

 Banyak kisah bermunculan atas nama cinta. Eros, apa kau ingat ketika perang troya yang berlangsung 10 tahun berkobar hanya karena cinta? Atau apakah kau ingat ketika Orfeus memberanikan diri memasuki dunia orang mati demi cintanya kepada Euridik? Atau tahukah kamu Bandung Bondowoso bersedia membangun 1000 candi jugaatas nama cinta? Ah mungkin omong kosong dengan mitos, tapi tidakkah kau tahu bahwa Ibrahim berani menyembelih anaknya juga atas nama cinta kepada Tuhan? atau sang ibunda Musa yang merelakan anaknya dialirkan di sungai Nil juga atas nama cinta? Begitu banyak cerita atas namamu muncul. Maka eros, apa itu cinta?

 Aku teringat kata seorang teman, tidak ada Tuhan, yang ada hanya cinta. Kenapa? Karena kau bertuhan karena cinta! Atas dasar apa kami semua shalat 5 waktu, menjaga perbuatan, atau mengamalkan kebaikan jika bukan karena cinta kami kepada Tuhan? Jika ada yang menuhankan yang lain pun, mereka semua melakukannya atas nama cinta. Cinta kepada harta, cinta kepada rasionalitas, cinta kepada materi, cinta kepada ilmu, cinta, cinta, dan cinta! Maka eros, apa itu cinta?

 Kami makan pun, tidur pun, bernafas pun, karena cinta. Ya eros, cinta kami pada hidup kami sendiri. Kami sekolah, kami belajar, kami menulis, kami membaca, kami berjalan, kami menaiki motor, apa lagi alasannya jika bukan karena cinta? Bahkan manusia paling malas sedunia pun menjunjung tinggi cinta! Ya, cinta kepada dirinya sendiri, cinta yang membuatnya manja dan egois. Lalu apa perbuatan dalam hidup kami yang tidak disertai cinta? Aku bingung eros, aku bingung. Hidup manusia berdiri di atas cinta. Karena bahkan, cinta melampaui pikiran. Maka sekali lagi, apa itu cinta?

 Ada yang bilang, bahwa ciri utama manusia adalah adanya akal. Apakah iya? Maka berikan aku alasan orang-orang yang korupsi, melukai, mengangkat senjata, merokok, atau anggaplah sekedar meyerahkan hidupnya hanya untuk  seorang wanita. Lantas dimanakah akal? Rasionalitas sesungguhnya akan mencegah semua perbuatan itu eros, jika memang ciri utama manusia adalah akal. Apakah akhirnya akan muncul klaim bahwa mereka bukan manusia hanya karena tidak memakai akal? Tidak! Masih banyak perbuatan manusia yang muncul tanpa menggunakan akal, karena apa? Karena kami memakai cinta. Cinta lah ciri utama manusia. Cinta melampaui akal itu sendiri. Cinta yang membuat orang dianggap manusia. Cinta akan memberi semua alasan yang dibutuhkan manusia untuk memaksimalkan hidupnya. Tapi tetap saja eros, apa itu cinta?

 …

Aku berhenti sejenak. Mendadak aku lapar. Konyol. Tapi aku menyadari lapar ini adalah wujud cintaku pada kenyamanan perut. Maka biarlah ia bergejolak. Seiring malam semakin larut, yang ku dengar hanyalah suara detik jam di atas lemari bersama dengung rendah kipas laptop, kesunyian yang ingin segera ku pecah dengan sebuah lagu. Sehingga tanpa menunggu pertimbangan apapun terjadi dalam pikiranku, ku mainkan perlahan agar sepi tidak terlalu terusik dengannya, sebuah lagu dari sang maestro Ebiet G. Ade, “Demikianlah Cinta”.

 Kata demi kata kurangkai untukmu

nampaknya tak sepenuhnya kau mengerti

memang yang ku tulis kalimat bersayap

karena begitulah puisi

Namun sesungguhnya aku hanya ingin mengatakan: Aku cinta kamu.

 

Cinta seperti kupu-kupu yang terbang melayang

sayapnya warna-warni memabukkkan

bila kau kejar ia terbang semakin jauh

bayangnya pun tak mampu kauraih

bila engkau diam, ia akan datang menghampiri hinggap di hatimu

 

Kekasihku ulurkan jemari tanganmu

Dekaplah aku ke dalam hela nafas

Rindu biarkanlah terbakar

Cemburu biarkanlah membara

Sebab demikianlah cinta.

 …

Aku termenung sejenak. Cinta memang layaknya bayangan, pergi ketika dikejar, namun setia padamu ketika kau diam dengan sabar. Namun cinta bukanlah bayangan yang tak menarik, karena ia penuh warna yang selalu menggoda, yang akhirnya secara ironis mempermainkan manusia untuk terus mengejarnya. Kita sepertinya memang selalu dipermainkan dengan cinta...

 Renunganku terputus dengan suara perutku yang mulaimeracau lagi, maka aku mencari pengganjal perut sejenak selagi menyiapkan susunan kata-kata di kepala untuk segera dikeluarkan melalui  keyboard laptop yang masih saja memutar lagu berikutnya.

 Wahai eros, rindu dan cemburu ada karena cinta. Rindu membuat seseorang selalu punya keinginan untuk bertemu, sedangkan cemburu membuat seseorang tidak ingin keinginan itu dimiliki orang lain. Sebuah kombinasi luar biasa atas cinta, yang memperlihatkan sebuah egoisme, keinginan hanya untuk sendiri. Tidakkkah kau lihat, cinta lah yang memunculkan pengakuan atas diri sendiri, sebuah ego.Tanpa cinta, tidak akan muncul ego, tapi tidak pula muncul semua hal lain. Karena semua hasrat manusia lahir dari ego. Padahal ego itu sendiri berakar dari cinta! Lihatlah eros! Betapa mendasarnya makna sebuah cinta bagi manusia.Tapi, tetap saja tak bisa ku jawab, apa itu cinta?

 Terkadang  cinta akan membuat manusia akan bertindak jauh melampaui egonya sendiri. Tidakkah kau pernah melihatku yang rela tengah malam berlari-lari demi seseorang? Aku merasa konyol bila mengingatnya, tapi itulah cinta, yang tidak hanya dialami olehku, namun oleh seluruh manusia lainnya. Ia sumber dari ego, tapi sekaligus melampaui ego itu sendiri. Cinta akan memunculkan penghambaan diri tanpa sadar. Apapun itu. Entah yang rela menghancurkan integritas diri karena cintanya pada harta, atau yang rela menyingkirkan semua urusan duniawi karena cintanya pada Tuhan. Dua contoh itu adalah dua sisi yang berbeda, tapi mereka bertindak karena hal yang sama : cinta! Dan pertanyaan ini pun akan terulang terus, apa itu cinta?

 Eros, pernahkah kau mendengar cinta buta? Cinta yang dikatakan begitu kuatnya sehingga mengalahkan rasionalitas? Ku rasa itu aneh, karena semua cinta pasti buta! Cinta dari awal sudah mengalahkan rasionalitas. Seseorang yang semalaman shalat tahajud pun cinta buta, seseorang yang mencari nafkah mati-matian untuk anak-istrinya pun cinta buta, seseorang yang begitu rakus menguasai korporasi pun cinta buta. Akal tidak ada apa-apanya dibandingkan cinta. Maka kembalilah bertanya, apa itu cinta?

 Tanyakan padaku apa itu Tuhan atau kenapa dunia ini ada, mungkin masih bisa ku jawab,tapi apa itu cinta? Aku masih tak bisa yakin. Apakah cinta seperti himpunan, yang merupakan satu-satunya objek matematika yang tak punya definisi? Jika kau belum tahu, yang dibutuhkan himpunan agar ia ada hanyalah keanggotaan. Cukup,tak perlu definisi apapun. Lalu apa yang dibutuhkan cinta agar ia ada? Mungkinkah subjek dan objek? Yang mencintai dan yang dicintai? Seperti seorang pendoa yang mencintai Tuhannya, atau seorang suami yang mencintai istrinya? Ah,mungkin. Masih mungkin. Aku tak pernah yakin. Yang ku tahu, cinta melampaui segala hal. Ia yang membuat manusia hidup. Cinta yang membuat pelukis melukis, cinta yang membuat pedagang berdagang, cinta yang membuat anak remaja mengikuti mode, cinta yang membuat semua orang makan dan tidur, cinta yang membuat aku saat ini tengah malam masih berkutat mengetik di depan laptop. Maka mungkin jawabanku sebatas, cinta adalah kehidupan.

 Ia selalu ada. Ia selalu ada. Manusia sudah dikutuk untuk selalu berada pada bayang-bayang cinta. Lalu apa? Manusia hanya tinggal memilih objeknya. Kepada siapa ia mencintai, kepada siapa ia menyerahkan diri, kepada siapa ia menghamba. Tuhan kah, kekasih kah, orang tua kah, harta kah, waktu kah, kebenaran kah, pengetahuan kah, entah lah. Sudah selayaknya hal seperti itu kami tanya pada diri kami masing-masing, maka kami akan tahu untuk apa kami hidup. Karena objek cinta itulah objek kehidupan.

 Tapi eros, aku cenderung bertanya, bisakah kami mengontrol kadar cinta kami pada sesuatu? Cinta dalam setiap manusia mungkin tak ada bedanya. Satu kehidupan memiliki kadar cinta yang sama. Satu kadar inilah yang berikutnya akan didistribusikan ke mana saja. Itulah kontrol atas cinta Eros, ketika yang kami cintai lebih dari satu, maka kadar cinta kami akan terbagi, terbentur satu sama lain, saling mengontrol. Ketika manusia tidak membagi cinta dengan baik, maka cinta itu akan berpusat dengan kadar yang begitu besar, membuat cinta menjadi tak wajar, begitu tak wajarnya hingga menjadi sebuah absurditas, penyerahan hidup sepenuhnya pada satu objek. Kita bisa mencintai seorang kekasih misalnya, namun cinta itu akan terbatasi cinta kami pada hal yang lain, orang tua misalnya, atau cinta kami pada agama, atau cinta kami pada rasionalitas. Maka eros, buatlah manusia bisa mendistribusikan cintanya dengan baik. Cinta adalah kehidupan, maka ini adalah bagaimana kami membagi kehidupan kami dengan berbagai arah yang tepat.

 Sehingga wahai eros, dewi kecil dengan panah asmaranya, arahkan busurmu dengan tepat. Jangan membuat cinta mengarah pada objek yang salah. Karena kekuatan cinta begitu besar! Lebih besar dari apapun yang dimiliki manusia, lebih besar dari pengetahuan ataupun akal. Cinta selalu buta, karena ia merupakan penyerahan diri. Sekali cinta mengarah pada hal yang salah, kekuatan itu akan menjadi hal yang salah pula. Tidakkah kau lihat eros, ketika cinta menjadi perang, cinta menjadi konflik, atau cinta menjadi permusuhan. Cinta tidak sesimpel sekedar mencintai, tapi cinta membutuhkan pilihan objek yang tepat. Karena cinta adalah kehidupan, maka kepada apa/siapa kami mencintai, kepada itulah kami hidup.

 So love our life, because love is our life.

AmorFati!

 Manusia yang dengan wajar mencintai,

Finiarel

 ...

Aku terdiam. Aku melihat jam, yang jarum pendeknya sudah melewati garis tengah, hari sudah berganti. Terkadang aku pun bertanya-tanya kepada apa saja aku mencinta, kepada apa saja hidupku aku serahkan. Alunan lagu masih terdengar. Playlist berganti pada lagu seorang kawan yang sangat mencintai hidupnya. Tiap katanya yang tajam dan tegas ku nikmati memainkan gendang telingaku, di tengah sepi malam yang sudah mulai menuju pagi.

 Rendah hati sambil pahami diri

Mulai mengerti cara melangkah

Bunuh rasa malu ikhlas menangis

Air mata wujud pekik nan tulus

Berjalanlah susuri hari

Sapa setiap orang yang kautemui

Genggam tangannya ajakbernyanyi

Bekerja sama dalam harmoni

 

Kita tak perlu eksis negara

Kita ludahi tangan pemerintah

Kita kafiri kedok dominasi

Kita akhiri tindak tirani

 

Tangan mandiri menanam padi

Bahu penopang beban sendiri

Runduk belikat gembalakan sapi

Ruang nurani jelmakan seni

Bersambut kepal menjaga tanah

Mata menyeringai intai penjajah

Berangkai tulang terangi malam

Siang menjelang hasrat tak padam

 

Tanpa titah tuan

Tanpa tunduk hamba

Tanpa ilusi teknologi

Tanpa alienasi

Tanpa dogma

Tanpa cambuk tentara

Tanpa perbedaan

Kita setara

Tanpa absolut agama

Tanpa penguasa

Tanpa omong kosong institusi

Tanpa dewa dewi

Tanpa ratu adil

Tanpa pesan sabil

Hanya ada aku kalian dan cinta

 …

Kembali sunyi, sepertinya itu lagu terakhir. Detik jam kembali mendominasi ruang suara. Sebuah alunan konstan yang terus berputar tanpa henti, simbol kontinuitas waktu. Tapi itu hanyalah persepsi manusia. Karena sebenarnya, tidak perlu apapun dalam hidup, cukup hanya aku dan cinta.