Siapakah Aku?

Nizar Ibrahim H
Karya Nizar Ibrahim H Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Mei 2017
Siapakah Aku?

    Malam ini masih sama seperti malam-malam sebelumnya. Hitam pekat, gelap, dihiasi bulatan bulan yang bercahaya dan beberapa bintang saling berkedip. Helai rerumputan juga masih konsisten menjaga kehijauannya. Tetapi, ada sedikit perbedaan pada malam  ini. Muncul kegelisahan yang sangat luar biasa di alam pikiran seorang lelaki muda.

    "Kenapa selama ini aku dipanggil Phil? Kenapa tidak Phal, Phel atau Phol? Aku tidak meminta dipanggil Phil. Aku juga tidak memilih nama panggilan itu untukku.", Phil berpikir sembari menyeruput kopi di cangkir kesukaannya, bersama sepoi angin malam yang datang dari arah persawahan di depan rumahnya.

Phil terus menanyakan yang entah untuk  siapa pertanyaan itu ditujukan. Ia memaksa pikirannya bekerja lebih keras untuk malam ini. Tidak seperti biasanya, ia hanya sibuk bermain game dan mencari calon pacar dari media sosial. Pertanyaan itu terus berusaha menjebol batas akal seorang pemuda yang sudah berumur 22 tahun. Jawaban demi jawaban dicarinya. Sampai pada akhirnya ia teringat gurauan kawannya, Sofi, yang mengatakan bahwa, sebutan Phil diberikan karena ia sangat tertarik dengan cerita atau hal apapun yang berbau cinta. Sofi lebih tau tentang arti kata dari bahasa lain. "Phil" diambilnya dari kata philosophy yang artinya adalah cinta.

    "Ah, ini karena Sofiiii..", gumamnya.

    Phil membuka media sosial dan melakukan rutinitasnya, karena dianggap kegelisahan itu sudah terjawab. Ia melihat foto Deny, kawannya, "disukai" ratusan orang.

    "Deny lucu, friendly, loyalitasnya tinggi. Ah,  itu luarnya saja. Aku tau bagaimana sifatnya selama ini yang sanggup merubah dia 180 derajat. Aku  lebih keren dari Deny, tapi yang "menyukai" foto-fotoku cuma sedikit. Mungkin aku terlalu pendiam." pikirnya.

Kemudian, Phil membayangkan wajah kedua orang tuanya. Ia menggabungkan wajah orang tuanya dan wajah Phil sendiri. Ada kesamaan-kesamaan yang terlihat. Ayah Phil memiliki hidung yang  mancung. Ibunya memiliki mata yang tajam. Kedua ciri fisik itu dimiliki Phil secara bersamaan.

Phil membayangkan jika memiliki kumis tebal seperti Pak Doni, tetangganya. Mungkin Phil  harus menjadi anak dari pak Doni agar memiliki kumis setebal kumis tetangganya itu. Sejenak ia terdiam, kopi manisnya ditinggalkan, pandangan matanya tertuju pada tubuhnya sendiri yang sekiranya terjangkau mata. Phil kembali teringat dengan pertanyaan awalnya tentang nama panggilan, perbedaan dirinya  dengan Deny sampai bayangan dirinya berkumis  seperti pak Doni.

    "Aku memang sudah ditakdirkan menyukai hal-hal tentang cinta, kurang menarik perhatian orang lain, dipanggil "Phil", mirip seperti kedua orang tuaku dan tidak memiliki kumis seperti pak Doni. Ini sudah garisnya.", pikir Phil sambil menanggalkan handphone-nya.

Takdir adalah satu-satunya jawaban yang ditemui Phil di pikirannya. Phil masih terdiam dengan  pikiran yang sama. Ia tidak puas dengan satu jawaban, ia semakin gelisah. Phil berfikir lebih luas. Kenapa ia dilahirkan sebagai manusia, sebagai laki-laki, sebagai pemuda yang kurang terkenal. Kenapa tidak menjadi artis kecil, menjadi tumbuhan, menjadi singa atau mungkin menjadi plankton. Phil tidak tahu seperti apa wujudnya sebelum dilahirkan, dimana ia berada, bagaimana makan; tidur dan bermainnya. Bahkan ia berfikir kalau ia tidak mempunyai pilihan untuk hidup di dunia atau tidak, untuk menjadi hewan atau manusia, untuk menjadi Phil atau Deny.

    "Hidup ini bukan pilihan. Hidup ini paksaan. Aku harus memenuhi paksaan Tuhan. Mungin Tuhan menciptakanku sebagai Phil karena dunia kekosongan orang seperti  aku. Ah, aku tidak akan berpengaruh untuk dunia. Kenapa tidak Hendy saja yang menempati posisi kehidupanku. Dia anak konglomerat, dia sekarang menjabat sebagai staff di DPR. Tentu dia sangat berpengaruh pada dunia, Indonesia khususnya.", Phil mulai mengikuti alur pikirannya.

Phil terus saja mencari jawaban yang mulai berfokus pada adanya dirinya di dunia. Ia tidak tahu menahu tentang masanya sebem lahir di dunia yang katanya semua makhluk masih berwujud ruh. Pasti masih banyak ruh manusia yang siap menikmati keterpaksaannya untuk lahir di dunia ini. Dan mereka akan mengikuti alur cerita yang dibuat Tuhan tanpa kesepakatan dengan ruh yang akan diturunkan di bumi lewat rahim seorang ibu. Karena bayi yang lahir di dunia tidak tahu apa-apa. Kencing pun tidak tahu bagaimana cara menahannya. Lalu, apalagi arti kehidupan ini selain dari paksaan Tuhan?

    Phil merasa sedikit lelah dan menyandarkan kepalanya di tembok. Phil tampak kebingungan. Tidak jauh berbeda seperti orang linglung. Diminumnya kopi manis di sebelah sampai habis. Phil sedikit menyerah  untuk malam ini. Tidak terasa sudah dua jam ia memeras tenaga pikirannya.

    "Aku baru sadar kalau ternyata aku bukan aku yang sebenarnya, aku bukan Phil.",  katanya, sambil berjalan menuju kamar tidur.

Ia menulis di catatan hariannya tentang perjalanan pikiran yang dilalui malam ini. Phil menggambar sebuah tanda tanya besar pada lembar sebaliknya. Phil mengistirahatkan badannya. Ia merasa lelah, sampai ia lupa membawa cangkir kopinya ke belakang. Usaha untuk menepis pertanyaan-pertanyaan tadi membuahkan hasil. Phil tertidur. Ya, tertidur dengan pertanyaan asing yang menghantui kedamaian hidupnya selama ini.

Bersambung..

  • view 174