Adikku,

Fadhilah Tamimi
Karya Fadhilah Tamimi Kategori Renungan
dipublikasikan 03 Agustus 2016
Adikku,

Melihatmu saat ini seperti melihatku di usiamu
Merasa betapa orang tua sama sekali tak mengerti kita
Betapa orangtua begitu kolot
Seakan pola pikir berhenti di zaman beliau muda

Setiap saat mempertengkarkan aturan yang orangtua buat
Pada perintah, kita berpikir zaman sekarang hal seperti itu sudah bukan tradisi
Pada larangan, kita berpikir yang seperti itu sudah biasa dilakukan saat ini
Pada kekhawatiran, ayah.. ini bukan sesuatu untuk dikhawatirkan. Ini hal kecil. Ada banyak hal besar yang lebih perlu dikhawatirkan
Sering kita berpikir khawatir hanyalah alasan yang beliau buat atas semua perintah dan larangan

Kita tak tahu maksud semua aturan yang orangtua buat
Karena kamu saat ini dan aku diusiamu,
Hanyalah dua remaja yang untuk berpikir sendiripun tak bisa
Kita begitu labil
Pergaulan adalah prioritas kita,
Sedang orangtua tak tau sama sekali bagaimana pergaulan zaman kita

Tapi percayalah,
Orangtua adalah satu-satunya yang mengkhawatirkan sarapanmu dan makan siangmu
Di depanmu, ibu hanya terus memarahi karena malasmu
Tak lekas mandi, tak cepat makan sarapanmu, kamu yang hanya fokus pada televisi
Yang tak kamu tahu, dihari sebelumnya sebelum belanja, ibu selalu memikirkan bekal apa yang akan kamu bawa besok
Memastikan agar kau senang dengan bekal yang beliau berikan

Setiap hari, yang ku lihat antara ayah dan kamu hanyalah pertengkaran
Aku tak menyalahkanmu, aku setuju denganmu
Karena aku tau apa yang kau rasakan
Di usiamu, akupun sama denganmu
Syukurnya, aku tak berada dirumah
Dan pertengkaran dengan ayahpun hanya ketika pulang

Tentang ayah,
Usia beliau terpaut begitu jauh dengan kita
Terlampau jauh untuk ukuran ayah dan anak
Aturan yang beliau buat terasa sangat tak masuk akal di pikiran kita
Sedang, untuk bicara baik-baik tentang penolakan, seperti memecah batu besar

Tapi, semakin bertambah usiamu
Semakin kamu bertemu dengan orang-orang yang membuatmu dewasa
Kau akan semakin bisa menerima jalan pikiran orangtua
Buka karena kita setuju
Tapi lebih karena kita semakin tau perjuangan orangtua atas kita
Betapa besar beliau memikirkan kita

Ayah dengan sifat kerasnya, adalah yang begitu lunak dengan kebutuhan kita
Ibu yang begitu penurut pada ayah, adalah yang paling mendengarkan kita
Pada saatnya, ibu akan lebih menuruti kita, bersedia menyembunyikan cerita kita atas ayah
Ayah yang semakin berkurang tenaganya, dari pikiran dan keringat beliaulah kita dapat hidup layak, kita mengenyam pendidikan
Ibu yang selalu sibuk didapur, dari tangan hangat beliau kita makan sesuatu yang akan sangat kita rindukan ketika jauh
Dan pada suatu kesalahan yang kita tak sanggup bertanggung jawab, orangtua lah yang bertanggung jawab atas kita.

Semakin bertambah usiamu
Kamupun akan lebih sedikit bertengkar dengan orangtua
Sekali lagi, bukan karena setuju
Tapi lebih pada ketidakmampuan menolak
Dan ingatan tentang kewajiban kita atas beliau.

  • view 150