Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 16 Januari 2018   19:32 WIB
pemilihan diksi dalam karangan siswa

PEMILIHAN DIKSI DALAM KARANGAN  SISWA SMA

Petronela Inggrit Bili

Mahasiswa Semester VII Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Kupang

ABSTRAK

Fenomena dikss merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. Kata seperti saya, sini, sekarang adalah kata-kata deiksis. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. Referen kata saya, sini, sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa, di tempat mana, dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan.

 

Kata Kunci: pemilihan diksi, karangan, siswa

 

PENDAHULUAN

Diksis adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan keniscayaan hadirnya acuan dalam suatu informasi. Menariknya, meski diksi ini erat kaitannya dengan konteks berbahasa, namun tidak masuk dalam kajian pragmatik karena sifatnya yang teramat penting dalam memahami makna semantik. Dengan kata lain diksi merupakan ikhtiar pragmatik untuk memahami makna semantik. Diksi juga diartikan sebagai kata atau frasa yang menghujuk kepada kata, frasa, atau ungkapan yang telah dipakai atau akan diberikan (Agustina, 1995:40). Purwo (1984:1) menjelaskan bahwa sebuah kata dikatakan bersifat diksi apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti. Tergantung pada siapa yang menjadi si pembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkanya kata itu.

Pengertian diksi yang lain juga dikemukakan oleh Lyons (1997:637) dalam Djajasudarma (2010:51) yang jelas bahwa diksis adalah lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktu, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara. Diksi adalah kata, frasa, atau ungkapan yang rujukannya berpindah-pindah tergantung siapa yang menjadi pembicara dan waktu, tempat dituturkannya satuan bahasa tersebut.

Bagian inti

Diksi

Diksi berasal dari kata Yunani diektikos yang berarti “hal penunjukan atau menunjuk secara langsung”. Dengan kata lain informasi kontekstual secara leksikal maupun gramatikal yang menunjuk pada hal tertentu baik benda, tempat, ataupun waktu itulah yang disebut dengan deiksis.

Diksi didefinisikan sebagai ungkapan yang terikat dengan konteksnya. Contohnya dalam kalimat “Saya mencintai dia”, informasi dari kata ganti “saya” dan “dia” hanya dapat di telusuri dari konteks ujaran. Ungkapan-ungkapan yang hanya diketahui hanya dari konteks ujaran itulah yang di sebut deiksis.

Dalam KBBI (1991: 217), diksi diartikan sebagai hal atau fungsi yang    menunjuk sesuatu diluar bahasa; kata tunjuk pronomina, ketakrifan, dan sebagainya.

Diksi adalah kata-kata yang memiliki referen berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana, 1998: 6). Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 217), deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan.

Diksi dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons, 1977: 637 via Djajasudarma, 1993: 43).

Menurut Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat diksi apabila rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung siapa yang menjadi pembicara, saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. Dalam bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi, yaitu kata atau frase yang menunjuk kata, frase atau ungkapan yang akan diberikan. Rujukan semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut diksi (Setiawan, 1997: 6).

              Pengertian diksi dibedakan dengan pengertian anafora. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan, dimana yang menjadi pusat orientasi diksi senantiasa si pembicara, yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri, sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons, 1977: 638 via Setiawan, 1997: 6).

              Berdasarkan beberapa pendapat, dapat dinyatakan bahwa diksi merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk, pronomina, dan sebagainya. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian. Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora.

            Jadi, yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur.

Contoh kalimat

  1. Begitulah isi sms yang dikirimkannya padaku dua bulan yang lalu.
  2. Hari ini bayar, besok
  3. Jika anda berkenan di tempat ini, anda dapat menunggu saya dua jam

Dari contoh di atas, kata-kata yang dicetak miring dikategorikan sebagai diksi.

Pada kalimat (1) yang dimaksudkan begitulah tidak bisa diketahui karena uraian brikutnya tidak jelas. Pada kalimat (2) kapan yang dimaksud hari ini dan besok juga tidak jelas, karena kalimat itu terpampang setiap hari di sebuah kafetaria. Pada kalimat (3) kata anda tidak jelas rujukannya, apakah seorang wanita atau pria, begitu juga frasa di tempat ini lokasinya tidak jelas.

Semua kata dan frasa yang tidak jelas pada pada kalimat di atas dapat diketahui jika konteks untuk masing-masing kalimat tersebut disertakan. Dalam berpragmatik kalimat seperti di atas wajar hadir di tengah-tengah pembicaraan karena konteks pembicaraan sudah disepakati antara si pembicara dan lawan bicara.

Dalam kajian pragmatik, deiksis dibedakan atas lima jenis yakni:

  1. Diksi orang,
  2. Diksi tempat,
  3. Diksi waktu,
  4. Diksi wacana,dan
  5. Diksi sosial

Diksi ada  lima macam, yaitu diksi orang, diksi tempat, diksi waktu, diksi wacana dan deiksis sosial (Nababan, 1987: 40). Selain itu Kaswanti Purwo (Sumarsono: 2008;60) menyebut beberapa jenis deiksis, yaitu deiksis persona, tempat, waktu, dan penunjuk. Sehingga jika digabungkan menjadi enam jenis deiksis. Paparan lebih lengkap sebagai berikut.

Pertama diksi orang adalah pemberian rujukan kepada orang atau pemeren serta dalam peristiwa berbahasa (Agustina, 1995:43). Djajasudarma (2010:51) mengistilahkan dengan diksi pronomina orangan (persona), sedangkan Purwo (1984:21) menyebutkan dengan diksi persona. Dalam kategori deiksis orang, yang menjadi kriteria adalah peran pemeran serta dalam peristiwa berbahasa tersebut (Nababan, 1987:41).

Bahasa Indonesia mengenal pembagian kata ganti orang menjadi tiga, yakni kata ganti orang pertama, kata ganti orang kedua, dan kata ganti orang ketiga. Dalam sistem ini, orang pertama ialah kategori rujukan pembicara kepada dirinya sendiri. Seperti saya, aku, kami, dan kita. Orang kedua adalah kategori rujukan kepada seseorang (atau lebih) pendengar atau siapa yang dituju dalam pembicaraan, seperti kamu, engkau, anda, dan kalian. Orang ketiga adalah kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara dan bukan pula pendengar, seperti dia, ia, beliau,-nya, dan mereka. Contoh pemakaian diksi orang dapat dilihat dalam kalimat-kalimat berikut:

  1. Mengapa hanya saya yang diberi tugas berat seperti ini?
  2. Saya melihat mereka di pasar kemarin.

Kata-kata yang cetak miring seperti contoh-contoh tersebut di atas adalah contoh dari kata-kata yang digunakan sebagai penunjuk dalam diksi orang. Contoh kata seperti itu di pakai dalam percakapann sebagai pengganti atau rujukan dari yang dimaksud dalam suatu peristiwa berbahasa.

  1. Kata Ganti Orang Pertama

Dalam Bahasa Indonesia, kata ganti orang pertama tunggal adalah saya, aku, dan daku. Bentuk saya, biasanya digunakan dalam tulisan atau ujaran yang resmi. Bentuk saya, dapat juga dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan diletakkan di belakang nomina yang dimilikinya, misalnya: rumah saya, paman saya. Kata ganti orang pertama aku, lebih banyak digunakan dalam situasi non formal dan lebih banyak menunjukkan keakraban antara pembicara/penulis dan pendengar/pembaca. Kata ganti aku mempunyai variasi bentuk, yaitu -ku dan ku-. Sedangkan untuk pronomina persona pertama daku, pada umumnya digunakan dalam karya sastra.

Selain kata ganti orang pertama tunggal, bahasa Indonesia mengenal kata ganti orang pertama jamak, yakni kami dan kita. Kami bersifat eksklusif; artinya, kata ganti itu mencakupi pembicara/penulis dan orang lain dipihaknya, tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar/pembacanya. Sebaliknya, kita bersifat inklusif; artinya, kata ganti itu mencakupi tidak saja pembicara/penulis, tetapi juga pendengar/pembaca, dan mungkin pula pihak lain.

  1. Kata Ganti Orang Kedua

Kata ganti orang kedua tunggal mempunyai beberapa wujud, yakni engkau, kamu Anda, dikau, kau- dan -mu. Kata ganti orang kedua engkau, kamu, dan -mu, dapat dipakai oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama; orang yang status sosialnya lebih tinggi; orang yang mempunyai hubungan akrab, tanpa memandang umur atau status sosial.

Kata ganti orang kedua Anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. Selain itu, Anda juga digunakan dalam hubungan yang tak pribadi, sehingga Anda tidak diarahkan pada satu orang khusus; dalam hubungan bersemuka, tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal ataupun terlalu akrab.

Kata ganti orang kedua juga mempunyai bentuk jamak, yaitu bentuk kalian dan bentuk kata ganti orang kedua ditambah sekalian: Anda sekalian, kamu sekalian. Kata ganti orang kedua yang memiliki varisi bentuk hanyalah engkau dan kamu. Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau- dan -mu.

  1. Kata Ganti Orang Ketiga

Kata ganti orang ketiga tunggal terdiri atas ia, dia, -nya dan beliau. Dalam posisi sebagai subjek, atau di depan verba, ia dan dia sama-sama dapat dipakai. Akan tetapi, jika berfungsi sebagai objek, atau terletak di sebelah kanan dari yang diterangkan, hanya bentuk dia dan -nya yang dapat muncul. Kata ganti orang ketiga tunggal beliau digunakan untuk menyatakan rasa hormat, yakni dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. Dari keempat kata ganti tersebut, hanya dia, -nya dan beliau yang dapat digunakan untuk menyatakan milik.

Kata ganti orang ketiga jamak adalah mereka. Pada umumnya mereka hanya dipakai untuk insan. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain; misalnya dengan mengulang nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya.

Akan tetapi, pada cerita fiksi atau narasi lain yang menggunakan gaya fiksi, kata mereka kadang-kadang juga dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa. Mereka tidak mempunyai variasi bentuk sehingga dalam posisi mana pun hanya bentuk itulah yang dipakai, misalnya usul mereka, rumah mereka.

Kedua diksi tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa itu (Agustina, 1995:45). Dalam berbahsa, orang akan membedakan antara disini, disitu, dan disana. Hal ini dikarenakan di sini lokasiya dekat dengan si pembicara,di situ lokasinya tidak dekat pembicara, sedangkan di sana lokasinya tidak dekat dari si pembicara dan tidak pula dekat dari pendengar. Purwo (1984:37) mengistilahkan dengan diksi ruang dan lebih banyak menggunakan kata petunjuk seperti dekat, jauh, tigggi, pendek, kanan,kiri, dan di depan. Sedangkan Djajasudarma (2010:65) mengistilahkannya dengan diksi penunjuk. Sebagai contoh penggunaan diksi tempat, yakni:

  1. Tempat itu terlalu jauh baginya, meskipun bagimu tidak.
  2. Duduklah bersamaku di sini.

            Frasa di sini pada kalimat (1) mengacu ke tempat yang sangat sempit, yakni sebuah kursi atau sofa. Pada kalimat (2), acuannya lebih luas, yakni suatu toko atau tempat penjualan yang lain.

Ketiga, diksi waktu ialah pengungkapan  atau pemberian bentuk kepada titik atau jarak waktu yang dipandang dari waktu sesuatu ungkapan dibuat (Agustina, 1995:46). Contoh diksi waktu adalah kemarin, lusa, besok, bulan ini, atau pada suatu hari.

Kalimat berikut adalah contoh pemakaian dari kata penunjuk diksi waktu.

  1. Dalam rangka menyambut hari raya Idul Fitri, yang bernama Fitri dapat makan gratis besok . ( tulisan di sebuah restoran ).
  2. Gaji bulan ini tidak seberapa yang diterimanya.
  3. Saya tidak dapat menolong Anda sekarang ini.

Meskipun tanpa keterangan waktu dalam kalimat, penggunaan diksi waktu sudah jelas. Namun apabila diperlukan pembedaan/ketegasan yang lebih terperinci, dapat ditambahkan sesuatu kata/frasa keterangan waktu.

Keempat, diksi wacana ialah rujukan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Agustina, 1995: 47). Diksi wacana mencakup anafora dan katafora. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan diksi wacana itu adalah kata/frasa ini, itu, yang terdahulu, yang berikut, yang pertama disebut, begitulah, dan sebagainya.

Hasanuddin WS (2009:70) menjelaskan bahwa anafora adalah hal atau fungsi yang menunjuk kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam kalimat atau wacana.

Contoh kalimat yang bersifat anafora dapat dilihat dalam kalimat berikut:

  1. Wati belum mendapatkan pekerjaan, padahal dia sudah diwisuda dua tahun yang lalu.
  2. Joni baru saja membeli mobil BMW. Warnanya merah dan harganya jangan ditanya.

          Sebuah rujukan atau referen dikatakan bersifat katafora jika rujukannya menunjuk kepada hal yang akan disebutkan (Agustina, 1995:42).

Contoh kalimat yang bersifat katafora dapat dilihat pada kalimat berikut:

  1. Di sini digubuk tua ini mayat itu ditemukan.
  2. Setelah itu dia masuk, langsung Toni memeluk adiknya.

Kelima, diksi sosial ialah mengungkapkan atau menunjukkan perbedaan ciri sosial antara pembicara dan lawan bicara atau penulis dan pembaca dengan topik atau rujukan yang dimaksud dalam pembicaraan itu (Agustina, 1995:50). Contoh diksi sosial misalnya penggunaan kata mati, meninggal, wafat, dan mangkat untuk menyatakan keadaan meninggal dunia. Masing-masing kata tersebut berbeda pemakaiannya. Begitu juga penggantian kata pelacur dengan tunasusila, kata gelandangan dengan tunawisma, yang kesemuanya dalam tata bahasa disebut eufemisme (pemakaian kata halus). Selain itu, diksi sosial juga ditunjukkan oleh sistem honorifiks (sopan santun berbahasa). Misalnya penyebutan pronomina persona (kata ganti orang), seperti kau, kamu, dia, dan mereka, serta penggunaan sistem sapaan dan penggunaan gelar.

            Contoh pemakaian deiksis sosial adalah pada kalimat berikut:

  1. Apakah saya bisa menemui Bapak hari ini?
  2. Saya harap Pak Haji berkenan memenuhi undangan saya.

 

 

Kesimpulan/ Saran

Mengingat bahwa bahasa Indonesia selain merupakan sarana yang penting untuk berfikir, juga merupakan bahasa pengantar dalam pembelajaran dalam pendidikan formal.

Dalam hubungan dengan pembelajaran bahasa Indonesia disekolah hendaknya guru mata pelajaran bahasa Indonesia atau guru mata pelajaran lainnya harus lebih memperhatikan dalam penulisan dengan penggunaan bahasa yang efektif khususnya yang berkenan dengan susunan kalimat yang belum efektif. Karena untuk menyampaikan suatu ide atau gagasan kepada orang lain baik secara tulis maupun lisan perlu menggunakan kalimat yang efektif sehingga pembaca dapat memahami maksud dari apa yang disampaikan. Untuk itu diharapkan siswa hendaknya diberi lagi banyak latihan dalam berbahasa khususnya dalam kemampuan menulis.

 

DAFTAR RUJUK

Keraf, Goris.2008.Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Purwo, Bambang. 1998. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Karya : Petronela Inggrit Bili