Tabullu Tanah (Drama)

Petronela Inggrit Bili
Karya Petronela Inggrit Bili Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Januari 2018
Tabullu Tanah (Drama)

TABULLU  TANAH*

(Disuatu perkampungan di pulau Sumba,  yang dikenal dengan nama Kampung Tabullu Tanah.  Terdapat 5 kepala keluarga yang menempati kampung itu. Dan Ngongo juga termasuk yang  menempati kampung itu. Ngongo adalah seorang kepala keluarga dan seorang petani.  Ngongo juga selalu membantu istrinya dalam mengerjakan segala pekerjaan seperti menimba air). 

Ngongo  : Koni.... saya pergi dulu mengambil air (dipagi itu di rumah,  Ngongo pamit lalu  pergi).

Koni    : Ia Ngongo tetapi kamu cepat pulang supaya kita pergi membersihkan ladang,  apalagi sekarang sudah memasuki musim hujan dan musim tanam (Dari dalam rumah)

Ngongo : Ia, Koni. Saya akan cepat pulang.

(Lalu pergilah Ngongo mengambil air, setibanya di air Ngongo melihat seekor belut yang begitu besar. Tanpa berpikir panjang, Ngongo memukul belut hingga  mati tak berdaya.  Ngongo pulang ke rumah membawa belut yang cukup besar.)

Ngongo : Koni....mari ke sini dulu dan kamu lihat ini belut yang saya dapat di air tadi (dari samping rumah Ngongo berteriak memanggil istrinya).

Koni     : Haa...Ngongo ada betul belut besar yang kamu dapat dan kalau begitu saya pergi mengundang tetangga kita supaya mereka datang bantu memotong daging belut yang kamu dapat ( Dengan terheran-heran) .

Ngongo  : Ia Koni, pokoknya kamu harus mengundang semua tetangga kita.

(Di halaman rumah berdirilah Koni lalu memaggil tetangganya.)

Koni       : Hallo...tetanggaku semua.

Tetangga :  Bagaimana Koni, kenapa pagi-pagi sudah datang. Kamu datang minta api, yah.

Koni        :  Saya bukan datang minta api tetapi saya datang mengundang kalian semua  untuk membantu Ngongo potong belut di rumah

( Koni sedang  mengundang tetangga untuk  memotong daging belut).

(Tidak lama kemudian, rumah si Ngongo dan Koni sudah di datangi tetangga. Mereka semua mengambil bagian  memotong dan membagi daging belut.)

Tetangga 1 : Ngongo...kamu dapat belutnya dimana?

Ngongo      :  Tadi aku manangkap belut di air.

Tetangga 1  :  Belutnya besar sekali.

Ngongo      : Ia belutnya  besar sekali dan baru kali ini juga saya melihat belut yang cukup besar.

(Pada saat memotong belut ngongo teringat akan Nida, dan Dia pun memotong daging lalu pergi membawa kerumah Nida yang berada di luar kampung itu.)

Ngongo  : Hallo ....Nida.

Nida      : Ia Ngongo, bagaimana dan ada perlu apa? ( Nida muncul dari dalam rumah dan turun di bale-bale.

Ngongo  : Nida, saya datang kesini untuk menghantarkan daging belut.

Nida     : Oh ia terima kasih dan sebelumnya saya juga minta maaf. Saya tidak bisa menerima daging ini ( Dengan merasa aneh dan  keberatan Nida menolak daging).

Ngongo   : Kenapa kamu tidak mau?

Nida       : Yah, karena saya tidak suka makan daging belut.

Ngongo  :  Oh ia, saya pikir kamu menolak karena saya tidak mengundang kamu untuk datang bantu potong daging belut.

Nida      :  Memang pada dasarnya saya tidak suka makan daging belut makanya saya menolak dan bukan karena ada apa-apa, sekali lagi saya minta maaf yah?

Nogongo :  Oke tidak apa-apa, kalau begitu saya pergi dulu.

 (Tiga  hari kemudian datanglah Ina Dairo  di kampung Tabullu Tanah menanyakan seekor babi yang hilang yang dimaksudkan babi itu sebenarnya belut yang telah di konsumsi oleh orang-orang yang berada di kampung Tabullu Tanah.)

Ina Dairo  : Apa kalian melihat seekor babi soalnya sudah beberapa hari tidak ada.

Tetangga    : Kami tidak melihat babi Ina Dairo yang hilang.  

(Sebenarnya kedatangan Ina Dairo yang mencari tahu tentang babi itu, mereka menyadari bahwa babi yang ditanyakan adalah belut itu namun mereka tidak berani jujur terhadap nenek itu karena mereka sudah terlanjur memasak dan mengkonsumsi daging belut itu. Karena semua orang di kampung tidak ada yang berkata jujur maka Ina Dairo meminta air minum karena dengan  lewat air minum maka hal yang ditanyakan akan terjawab.)

Ina Dairo   : Tolong kasih saya air minum karena saya terlalu  haus.

Tetangga  : Ini air minum Ina Dairo ( mengambil air minum lalu memberikannya kepada Ina Dairo).

Ina Dairo  :  Terima kasih  

(Sambil menerima  segelas air yang diberikan itu dan coba mencium gelas  dan ternyata Ina Dairo menghirup bau belut yang telah di konsumsi Hingga menjelang malam Ina Dairo meninggalkan kampung Tabullu Tanah. Dalam perjalanannya pulang dari kampung Tabullu Tanah, Ina Dairo melihat  rumah Nida  yang tidak jauh dari kampung itu, dan rumah Nida tepat berada diujung kampung Tabullu Tanah, lalu Ina Dairo mendatangi rumah Nida dan menanyakan hal yang sama. )

Ina Dairo : Nida, apa kamu melihat seekor babi soalnya sudah beberapa hari ini babi saya hilang ( berdiri didepan rumah sambil menanyakan babi yang hilang).

Nida       : Tiga hari yang lalu saya kedatangan seorang laki-laki dari kampung Tabullu Tanah yang membawa daging dan saya merasakan ada hal yang ganjil dan aneh  sehingga saya pun  menolak daging yang telah di bawah oleh si laki-laki itu.

Ina Dairo : Sebentar malam tepatnya pukul 03.00 pagi jika kamu mendengar ringkikan kuda, bunyi-bunyian dan getaran-getaran seperti gempa, Ina Dairo berharap untuk tidak  keluar dari rumah itu tetapi tetaplah tenang-tenang berada di dalam rumah.

(Dan tepatnya pukul  03.00 pagi mereka mendengar ringkikan kuda,  suara gemuruh dan getaran-getaran seperti gempa dari Kampung Tabullu tanah. Dengan demikian, Nida tidak keluar  rumah karena sudah mendapat pesan dari Ina Dairo. Nida pun  akhirnya sadar bahwa pesan yang di dapat dari Ina Dairo yang sebenarnya mengatakan  bahwa kampung Tabullu Tanah akan tenggelam dan hilang lenyap. Demikianlah cerita singkat tentang Tabullu tanah atau tanah tenggelam dari daerah Sumba Barat Daya.)

Pesan : janganlah sekali-kali  kita mengambil atau menipu barang orang lain yang bukan menjadi milik kita karena apa yang kita tipu kita akan mendapat bencana..

Catatan : Cerita ini di ambil dari cerita rakyat tentang sebuah kampung Tabullu Tanah yang tenggelam dari daerah Sumba Barat Daya (SBD.

 

 

  • view 49