Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 13 Januari 2018   16:24 WIB
TABULLU TANAH

TABULLU  TANAH*

Di Kampung Tabullu Tanah terdapat 5 kepala keluarga yang menempati kampung itu. Dan Ngongo juga termasuk yang  menempati kampung itu. 

“Koni.... saya pergi  dulu,” Pamit Ngongo suatu pagi untuk pergi mengambil air.

“Ia Ngongo,  tapi kamu cepat pulang supaya kita pergi di kebun untuk membersihkan ladang, apalagi sekarang sudah memasuki musim hujan dan musim tanam,” kata Koni dari dalam rumah.

“Ia Koni saya akan cepat pulang,” pinta Ngongo Sambil jalan dan meninggalkan rumah.

Lalu pergilah Ngongo mengambil air, setibanya di air Ngongo melihat seekor belut yang begitu besar, di dalam hati Ngongo berkata “Saya dapat daging enak betul”. Tanpa berpikir panjang Ngongo mengangkat sebatang kayu lalu memukul belut.....Pokko....akhirnya belut itu mati tergelepar.

Ngongo tidak bisa mengambil air tetapi Ngongo pulang ke rumah membawa belut yang cukup besar dan rasanya enak sekali.

“Koni....mari ke sini dulu dan kamu lihat ini belut yang saya dapat di air tadi,” Ngongo berteriak memanggil istrinya

Tidak lama kemudian datanglah Koni dengan heran-heran.

 “ Haa...Ngongo ada betul belut besar yang kamu dapat dan kalau begitu saya pergi mengundang tetangga kita supaya mereka datang bantu memptong daging belut yang kamu dapat.”

 “ Hallo...tetanggaku semua,” Kata Koni  pergi mengundang tetangga untuk  memotong daging belut.

“Bagaimana Koni, kenapa pagi-pagi sudah datang. Kamu datang minta api, yah,”  kata tetangga tersebut.

”Saya bukan datang minta api tetapi saya datang mengundang kalian semua  untuk bantu Ngongo potong belut di rumah,” kata Koni.

Lewat beberapa menit kemudian rumah si Ngongo dan Koni sudah di datangi tetangga. Dan mereka semua mengambil bagian  memotong dan membagi daging belut. Semua tetangga di kampung itu sudah mendapat bagian masing-masing, dan ada sebuah rumah yang berada di luar kampung itu yang belum mendapatkan bagian daging belut.

Akhirnya Ngongo pergi mengantar daging belut. Setibanya di rumah itu Ngongo memberikan daging itu kepada Nida. Namun, Nida merasa keberatan dan tidak menerima karena Nida berpikir dan merasa aneh mana mungkin ada daging yang dibagikan pada halnya di kampung tidak ada pesta atau upacara penguburan orang mati. Kemudian Ngongo kembali ke rumah dan membawa daging belut.

 Lewat beberapa hari kemudian datanglah Ina Dairo  di kampung Tabullu Tanah menanyakan seekor babi yang hilang yang dimaksudkan babi itu sebenarnya belut yang telah di konsumsi oleh orang-orang yang berada di kampung Tabullu Tanah..

“Apa kalian melihat saya punya babi soalnya sudah beberapa hari tidak ada,” kata Ina Dairo.

“Kami tidak melihat babi Ina Dairo yang hilang,”  jawab tetangga dengan serempak. 

Sebenarnya kedatangan Ina Dairo yang mencari tahu tentang belut itu, mereka menyadari bahwa daging yang di terima adalah belut itu namun mereka tidak berani jujur terhadap nenek itu karena mereka sudah terlanjur memasak dan mengkonsumsi daging belut itu. Karena semua orang di kampung tidak ada yang berkata jujur maka Ina Dairo meminta air minum karena dengan  lewat air minum maka hal yang ditanyakan akan terjawab.

“Tolong kasih saya air minum karena saya terlalu  haus,” kata Ina Dairo.

 Tetangga Ngongo mengambil air minum lalu memberikannya kepada Ina Dairo.

“Ini air minum Ina Dairo,” kata seorang tetangga.

“Terima kasih,” jawab Ina Dairo sambil menerima  segelas air yang diberikan itu dan coba mencium gelas  dan ternyata Ina Dairo menghirup bau belut yang telah di konsumsi.

Hingga menjelang malam Ina Dairo meninggalkan kampung Tabullu Tanah dengan rasa kecewa dan hatinya yang remuk redam dan penuh gunda gulana karena semua orang yang berada di kampung Tabullu Tanah tidak ada yang jujur tentang keberadaan seekor belut yang mereka konsumsi.

Dalam perjalanannya pulang dari kampung Tabullu Tanah, Ina Dairo melihat  rumah Nida  yang tidak jauh dari kampung itu, dan rumah Nida tepat berada diujung kampung Tabullu Tanah, lalu Ina Dairo mendatangi rumah Nida dan menanyakan hal yang sama.

“Nida, apa kamu melihat seekor babi soalnya sudah beberapa hari ini babi saya hilang,”  kata Ina Dairo.

“Tadi saya kedatangan seorang laki-laki yang membawa daging belut dan saya merasakan ada hal yang ganjil dan aneh  sehingga saya pun  menolak daging yang telah di bawah oleh si laki-laki ( Ngongo),” jawab Nida.

Dan karena Nida itu mengatakan hal yang sebenarnya tentang daging yang di bawa oleh Ngongo.

“Sebentar malam tepatnya pukul 03.00 pagi jika kamu mendengar ringkikan kuda, bunyi-bunyian dan getaran-getaran seperti gempa, Ina Dairo berharap untuk tidak  keluar dari rumah itu tetapi tetaplah tenang-tenang berada di dalam rumah,” pesan  Ina Dairo.

Dan setelah Ina Dairo berpesan kepada Nida lalu Ina dairo pergi meninggalkan rumah Nida. Dan tepatnya pukul  03.00 pagi mereka mendengar ringkikan kuda,  suara gemuruh dan getaran-getaran seperti gempa dari Kampung Tabullu tanah akhirnya mereka duduk tenang-tenang di dalam rumah tersebut dan karena kejadian tersebut akhirnya mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh si nenek tadi siang itu betul. Dengan demikian, Nida tidak keluar  rumah yang mereka huni karena ina Dairo tersebut sudah berpesan untuk tidak keluar rumah.

Setelah keesokkan paginya Nida merasa penasaran tentang kejadian yang di dengarnya tadi malam dan akhirnya Nida pergi melihat kampung Tabullu Tanah dan akhirnya Kampung  Tabullu tanah tersebut didapati sudah hilang lenyap dan rumah-rumah yang berada di kampung Tabullu Tanah tersebut sudah tenggelam di telan bumi tanpa ada sesuatu yang bisa diselamatkan dari kejadian tersebut. Nida pun  akhirnya sadar bahwa pesan yang di dapat dari Ina Dairo yang sebenarnya mengatakan  bahwa kampung Tabullu Tanah akan tenggelam dan hilang lenyap. Demikianlah cerita singkat tentang Tabullu tanah atau tanah tenggelam dari daerah Sumba Barat Daya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Karya : Petronela Inggrit Bili