Johnson

Afif Kodriyanto
Karya Afif Kodriyanto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Maret 2018
Johnson

Johnson

Semilir angin di pagi hari begitu menyegarkan. Setelah bangun dari alam bawah sadarnya Johnson menyulut sebatang kretek yang sudah dibuatnya semalam. Kemudian dia menancapkan kepala steker yang dililit kabel dan berpangkal pada sebuah mesin pemanas air ke lobangnya. Dia hanya menunggu 10 menit untuk mengubah air yang tadinya dingin menjadi panas. Ia tuangkan air itu ke sebuah cangkir yang di dalamnya sudah tertanam bubuk kopi. Bubuk kopi itu kemudian kepanasan, sebagian memilih pasrah sedang yang lain memilih untuk memberontak dengan menyembul ke permukaan. Walaupun pada akhirnya bubuk itu bersatu kembali menjadi sebuah larutan. Johnson sama sekali tak melirik gula, padahal gula sudah menantinya untuk disentuh walau posisinya kinu sedang berada di warung depan rumahnya. Nampaknya aroma kopi inilah yang membuat kerinduan gula padanya. Namun Johnson mematahkan hati sang gula, karna dia tahu, kopi walau tanpa gula tetaplah sebagai kopi yang nikmat untuk diseruputnya sembari mengepulkan asap kreteknya. Johnson tinggal di sebuah kota kecil yang berada di punggung bukit. Kesejukan yang diterimanya tak lain karena pepohonan yang begitu rindang mengelilingi rumahnya. Embun seringkali bersemayam di pucuk alang-alang atau bahkan rumput-rumput yang jauh lebih kecil, Johnson sering menyebutnya rumput lapangan bola. Walau dia tak punya TV tapi di kotanya ada sebuah lapangan bola yang rumputnya hijau segar. Kopinya kini telah siap dan dia mulai menuju ke lobang pintu yang telah di bukanya. Dia duduk di sana tanpa alas walau hanya anyaman rumput. Dia mulai menyeruput kopinya, dan diikuti dengan isapannya pada batang kreteknya. Kepulan asapnya begitu tebal. Entah siapa yang mengajaknya bicara.

" Sudah tau asap, pake dihisap, memangnya enak? Bahkan semua bungkus rokok kini menuliskan puisi yang sama "Rokok Membunuhmu", apa kamu ga bisa baca?".

Johnson menjawab dengan santai, walau jawabaannya tak ada seorangpun yang bisa mendengar kecuali Johnson.

"Ah memangnya kenapa? Kamu coba aja nanti baru komentar". 

Ada lagi yang mengingatkan pada Johnson bahwa dia harus segera membuang abu rokoknya yang kian memanjang.

"He John, ini jarimu dah mulai panas, kayaknya api dah deket ama jari, belum lagi tu abu rokokmu, nanti tertiup angin trus ke mata terus tar perih, eh kalo cuma perih ga masalah, gimana kalo nanti kamu buta".

Si mata kini ikut geram, dia yang mendengar bisikan dari jarinya langsung sadar akan apa yang bakal menimpanya.

"John, kamu yang bener aja, tu jari dah triak-triak, kamu gimana si masa ia masih aja belum dibuang tu abunya".

Johnsonpun akhirnya menuruti segala yang seharusnya dituruti. Tak lama kemudian lidahnya mulai mengecap dan berteriak-teriak. Dia mengabarkan kepada tenggorokan bahwa Johnson terlalu lama mendiamkan kopinya.

"Johnson! Johnson! Kamu ini niat ngopi apa ngga si, ni lidah dah pengen banget rasanya ngrasain kopi bikinan kamu, mana sepagi ini kita dah diauruh kerja buruan seruput tu kopi".

Tangan dengan kecepatan kilat dan tanpa basa-basi dia segera menggaet gagang cangkir kopi Johnson. Johnsonpun langsung memuji si tangan dengan penuh kasih dan sayang.

"Begitu dong, kaga perlu cape-cape aku nyuruh kamu".

Eh tangan malah ngegerutu setelah Johnson berkata seperti itu.

"John, John, emang kaga denger tu tenggorokan ama lidah dah pada demo?".

Tak seorangpun yang bisa mendengar kehendak lidah dan tenggorokan walau demo besar-besaran sedang terjadi di sepanjang jalan menuju perut itu. 

"Ia untung kamu cepat tanggap, coba kalo tidak? Mungkin aku sudah di kudeta. Terimakasih banyak lo ini".

Yang membisikan masalah rokok kini tak lagi Johnson dengarkan suaranya, entah karena dia malu atau Johnson yang kini mulai sibuk dengan ranting-ranting tubuhnya. 

 

Sebatang kretek ternyata tak cukup untuk menemani pagi Johnson, dia memutuskan untuk kembali menyalakan sebatang kretek lainnya. Kepulang asap putis keluar dari mulutnya. Dia memandang ke atas dan terhampar langit yang membiru berhias awan yang seperti polkadot. Burung-burung terlihat terbang bergerombol entah tempat mana yang akan dituju. Rindangnya pohon di depan rumahnya memang sedikit menghalangi pandangannya. Namun dia berpikir dan memutuskan untuk mengatakan bahwa pagi ini begitu indah.

"Coba kalo ga ada aku, apa kamu bisa melihat semua ini?".

Mata nyeletuk dengan kerasnya menyadarkan Johnson. Dan dia langsung mengedipkan kedua matanya.

"Coba kalo kita ga ada pasti kamu bakal susah payah menuju ke pintu kan?".

Giliran kedua kaki berujar.

"Wah kalian berempat emang bener-bener ya, coba kalo ga ada aku, siapa coba yang bakalan membukakan pintu untuk kemudian bisa melihat ini semua?". 

Tangan juga mulai bergumam dengan selorohnya yang begitu sombong.

"Waduh-waduh, ini ngeributin apa si pada?? orang kalian semua ini yang memerintahkan ya aku. Aku ingin begini aku ingin begitu toh selama kabelku ga ada yang putuh kalian juga pasti bakalan nurut kan? kapan kalian nolak perintahku?".

Dan ketiganya diam tak berdaya begitu otak berucap. Johnson terbengong-bengong mendengar bentrokan ini. 

"Sudah-sudah, di sini aku yang punya kendali. Tanpa aku kalian bisa apa?".

Johnson bingung, itu suara dari mana, ya memang hanya Johnson dan juga selurih anggota tubuhnya yang tahu. Mereka semua mencari dari mana datangnya suara itu, mata melihat ke sekitar namun tak dijumpai apapun, kaki berusaha kesana kemari namun tak dijumpainya juga, sedang tangan mengosek-ngosek segala sesuatu yang berantakan namun sama juga. Otak menggigil dan mulai gemetaran. Bahkan Johnson tak bisa berucap sama sekali. Mereka sama sekali tak mengenalinya walau mereka seringkali mendengar katanya.

"Inilah aku, jiwa, yang halus dan tak akan ada seorang manusiapun yang bisa menjamahku sekalipun dokter secanggih apapun tak akan bisa menangkapku untuk dikembalikan ke tubuh ini ketika aku waktunya memang sudah harus meninggalkan tubuh ini".

Semua terbelanga, dan kini Johnson memucat dan hampir pingsan, sebelum kepingsanannya dia sempatkan menyeruput kopinya dan memberanikan diri bertanya.

"Lantas siapa aku ini tanpa kamu? Dan dari manakah asalmu, dan kapan kau akan meninggalkanku?".

"Pertanyaanmu tak akan kujawab, kecuali pertanyaan pertamamu, kamu hanyalah makhluk material yang terdiri dari atom-atom yang menjadi wujud seperti sekarang ini. Sedang pertanyaanmu yang kedua dan ketiga biar aku sajadan yang menjadikanku ada yang tahu. 

  • view 47