Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 4 Januari 2018   15:49 WIB
Malam Pergantian

Malam Pergantian

 

Tanggal 31 Desember di negeriku masih menjadi magnet besar bagi penduduknya untuk sekadar berkumpul bersama dan membantai beberapa binatang yang bisa dijadikan santapan untuk mengenyangkan perut. Semua warga di negeriku bersiap, arang yang sudah menanti dirinya selama 364 hari untuk membara diborong oleh mereka. Ya arang memang begitu gelap dan sama sekali tak berharga selama 364 hari yang lalu, kini harinyapun tiba. Dalam benaknya, akhirnya malam ini aku pasti akan membara, walau setelahnya akan segera mengabu dan dibawa terbang oleh angin malam di bawah sinar rembulan. Selama itu pula pohon-pohon arang mulai membesar dan menantikan ajalnya dengan segera walau pada akhirnya dia menjadi hitam tapi baginya adalah bahagia, ia rela mati demi kebahagiaan jagat raya.  Para petani panen jagung walau hasilnya selalu kalah besar oleh para pengepul. Padahal yang merawatnya sedari biji pertama hingga tumbuh daun dan meninggi adalah para petani dengan harapan akan ada uang tambahan yang masuk daripada musim panen sebelumnya. Para petani tersenyum begitu sumringah mengantarkan hasil jerih payahnya kepada para pengepul di antara perbatasan desa dan kota. Sesampainya di sana dahinya mengkerut, karena pengepul sudah mendapatkan stok melimpah dari para petani lain yang berbondong-bondong ke sana dengan tujuan yang sama. Walhasil dalih pengepul sudah terlalu banyak stok, namun petani tadi tak kuasa jika harus membawa pulang hasil panennya kembali ke rumah tanpa hasil. Pengepul mulai melancarkan serangannya, "Kalau mau ya segitu harganya pak, mohon maaf kalau lebih dari itu lebih baik bapak bawa pulang saja jagung itu pak". Hati pak tani tak kuasa menahan lara, harapan untuk mendapat hasil yang seharusnya kandas oleh kata si pengepul. Dengan mata berkaca-kaca pak tani sekuat tenaga menahan gelombang air matanya agar tak membanjiri kelopak mata. Dia tak kuasa, hingga akhirnya melepas hasil panennya dengan harga yang tak seharusnya.

 

Ditempat yang lain, pengepul ikan mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengan petani jagung tadi. Ia tertunduk lesu sepulang dari pelelangan ikan yang tentu dengan alasan yang sama dari pengepul. Betapa terik mentari di lautan telah menggosongkan kulit nelayan tapi hingar-bingar pergantian tahun hanya dirasa oleh sebagian mereka. Memang dia menyisakan sebagian untuk perayaan yang telah dinanti penghuni bumi selama 364 hari lamanya, tapi apa daya mereka sudah bisan dengan ikan yang dianggap barang mewah oleh para penduduk kota sedangkan dia hari-harinya dihabiskan dengan pagi siang malam nasi selalu bertemu ikan. Nelayan-nelayan rindu akan telur dan ayam yang di olah menjadi opor atau bahkan balado penuh hawa panas neraka. 

 

Mendadak di perempatan jalan begitu banyak dijajakan petasan dengan berbagai ukuran, seraya mereka tak mengenang kejadian matinya sejumlah orang di pabrik pengolahannya beberapa waktu yang lalu. Tentu petasan-petasan itu dibungkus oleh kertas baik bekas maupun kertas yang baru. Dan bukan ingin mematikan pabrik petasan tapi bagaimana nasib pohon yang ditebang untuk dijadikan kertas sedang setelahnya dihancurkan di udara. Hanya karena kenikmatan hitungan detik semata, aku yakin pohon-pohon itu rela hancur menjadi berkeping-keping asalkan penduduk jagat raya ini bisa tersenyum sampai tertawa sejadi-jadinya. 

 

Dan di jalanan kendaraan roda dua hilir mudik memenuhi gang-gang sempit karena jalan-jalan protokol memang dipastikan ditutup sementara. Bukan masalah motornya, tapi demi kemeriahan pergantian tahun ini mereka rela membobok anus mereka agar bersuara tak seperti biasanya. Bagi para penikmatnya sama sekali bukan menjadi suatu perkara sedang bagi yang tak terbiasa bisa jadi mereka mengagguminya atau malah berbalik dengan mencacinya. Bukan juga salah anus kendaraan roda dua, tapi ulah pemiliknya yang tak lumrah. Dalam benaknya sekali setahun tak akan jadi masalah bukan? Padahal ku yakin betapa perihnya anus kendaraan roda dua itu di bobok sedemikian rupa.

 

Dan di seberang pulau di tengah jawa, ada yang mulai sibuk dengan berbagai pernyataan yang menggelitik. Ada yang berteriak, itu semua haram dan tidak boleh diteruska . Ada juga yang berkata, memangnya kenapa ini semua adalah hakku untuk bersuka ria. Yang berteriak haram pada dasarnya dalam hati mereka telah mengakui adanya malam pergantian itu, dan kata yang merayakan, aku bingung dengannya bukankah harusnya kalian tak mengenal malam pergantian itu, tapi begitu banyak agenda yang mereka buat. Ada yang berkumpul bersama memanjatkan puji-pujian terhadap penguasa alam, ada yang berkumpul bersama dengan kata depan silaturahmi, ada yang berkumpul bersama dengan saling merenung dan juga di akhiri makan bersama. Bukankah katanya tahun mereka berbeda dengan kita. Tapi memang pergantian malam masehi di anut oleh semua penduduk negeri itu, walaupun ada yang mengaku berbeda tahun tapi ketika ditanya tanggal pasti jawabannya tanggalan masehi.

 

Di pinggiran kota dekat pantai ibukota seorang pemuda hidup di rumah sederhana dengan pelataran dan sebuah kursi di depan rumahnya. Dia duduk disana dan pikirannya bergoyang-goyang. Dia menjadi saksi tetangganya saling bersinggungan. Semakin dia perhatikan semakin dia tak bisa menentukan. Termenung ditemani secangkir kopi yang kian mengental. Bersama kretek yang gemericik setiap hisapannya. Menimbang-nimbang dengan penuh ketelitian tapi setiap ia mencoba untuk lebih teliti selalu benaknya diliputi kebingungan. Dan kebingungannyapun membawanya terbang dan singgah di rumah pembuat arang. Pohon yang indah dan menawan begitu menyejukkan dilihatnya ditebang dengan penuh harapan. Pohon itu ada di belakang rumah pembuat arang itu, dan dilihatnya tinggal satu-satunya. Tangisnya masih terlihat begitu kentara walau keringatnya mengucur begitu deras. Setelah selesai ditebang, pohon itupun segera dicacah menjadi beberapa bagian. Setelahnya percikan api terlihat mulai melahap cacahan pohon itu. Dan dia biarkan sembari menunggu sang api kenyang. Apabila sang api kenyang dengan segera diapun akan pergi pulang. Berteman singkong yang sengaja dipersembahkan kepada api, walau sebelum habis dilahapnya sudah diambil kembali. Tiupan demi tiupan dari mulutnya seraya mendinginkan, setelahnya dipisahkanlah kulit dan daging buahnya kemudian masuklah ke dalam rumah dengan senyuman. Dua orang bocah kurus menghampiri dengan kesenangan dan seorang perempuan terkolek lemah di dipan mencium aroma singkong yang sudah matang. Perlahan-lahan tangannya dijulurkan seraya berkata anak-anak dulu mas. Dia mulai memotek dan meniupi potekan singkong itu kemudian mengantarkan tangan berisi potekan singkong tadi kemulut kedua bocah itu setelah dirasanya dingin betul. Anak yang pertama menunjuk perempuan tadi seraya memberitahu sekarang gilirannya. Dan dengan segera dia memberikan haknya sesuai dengan porsinya. Anak yang kedua menunjuk lelaki pembuat arang itu namun sang lelaki mengusap perut buncitnya seraya berkata dia masih kenyang dan menjulurkan tangan berisi potekan singkong berikutnya kepada mulutnya. Senyum lebar merekah dari ke empat pasang bibir itu. Dan lelaki itu kembali ke belakang rumahnya untuk memeriksa keadaan. Dia segera mengambil seember air dari parit samping rumahnya dan menyiramkannya ke pohon arang yang sudah kehitaman. Pessssss peeesss peeessss begitu nyaring terdengar pertemuan bara api dan air itu. Kemudian dia mulai mencacah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi untuk kemudian dia biarkan di bawah sinar matahari. Nampaknya itu masih tanggal 25 Desember, dia biarkan arang-arang itu berjemur seharian dan dikala sore menjelang dia membereskan karena barangkali di malah hari akan turun hujan. Dia biarkan selama empat hari, dan dihari kelima dia mulai merapikan dengan kemasan kresek hitam yang dihutangnya dari warung di ujung gang depan. Kemudian dia segera berpamitan kepada dua bocah dan perempuan tadu untuk menuju ke kota yang hingar bingar. Sepikul arang siap untuk dijajakan, walau dalam benaknya tak akan ada lagi yang menyejukkan, sedang ini arang terakhir di tahun ini dan ia tak tahu bagaimana tahun yang akan datang.

 

Dan si pemuda pun mengikuti pembuat arang ke kota, dua orang sedang bercakap serius, yang pertama membawa sekarung jagung sedang yang satunya menggenggam sejumlah uang. Terlihat si pembawa jagung berpeluh keringat nampaknya dari desa yang cukup jauh tempatnya hingha keringatnya mengedung di badannya. Tak begitu jelas terdengar percakapan, tapi setelah usai mereka sama sekali tak saling senang. Si pembawa jagung terlihat dahinya begitu mengkerut, sedang si pemegang uang tak memberikan semua uangnya dan sebagiam lainnya kembali masuk ke kantong kanan celananya. Rona sesal tampak begitu jelas di mukanya, dia terlihat begitu jelas menyalahkan keadaan. 

 

Pemuda pun berjalan lagi menuju ke sebuah pantai yang biasa matahari terlihat semburat di ujung cakrawala. Dia dapati seorang nelayan baru saja menyandarkan kapalnya di dermaga, dan segeran menurunkan semua isi bawaannya. Senyum begitu jelas tergambar di wajahnya, hasil tangkapan yang banyak diyakini sebagai penyebabnya. Sudah menanti seorang dengan timbangan disana, mukanya begitu datar dan sama sekali tak bersahabat. Memang tak terdengar pembicaraan mereka, namun pria dengan timbangan itu menunjuk ke beberapa drum yang di dalamnya menumpuk berbagai jenis ikan dan mulai kebingungan. Walhasil nelayan segera menghapus senyumnya dengan kesedihan, dan berujung pada sebuah permohonan, berapapun asal jadi uang, dan aku ingin di malam pergantian menuku menjadi telor ayam. Hanya itu yang jelas terdengar oleh rintihan si nelayan. 

 

Di perempatan si pemuda menjumpai orang tua yang menjajakan beraneka ragam kembang api, di samping penjaja kembang api itu ada seorang bocah lusuh dengan kain sarung melekat di tubuhnya nampak menggil kedinginan. Dan bisik-bisik tak sengaja terdengar, nak yang sabar ya nak semoga ada orang baik yang memborong kembang api ini sehingga akan ada uang lebih nantinya setelah kusetorkan uang kepada bos kembang api ini dan kau bisa segera bertemu dokter agar kau bisa kembali tersenyum dan berlarian lagi bersama teman-temanmu nanti.

 

Bisingnya knalpot sama sekali tidak sopan kala itu, terus saja meraung-raung tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Begitu lampu kuning menjelang hijau dia motor-motor itu dengan segera melaju begitu kencang sedang dari arah berlawanan sebuah angkot masih bermanfer untuk mengurai kemacetan. Namun motor dan angkot nampaknya saling jatuh cinta hingga mereka berciuman di tengah perempatan. Semua orang hanya menjadi saksi dan bersyukur karena cinta yang kini bersetubuh di perempatan. Supir angkot keluar dan dia berteriak entah kegirangan tapi dengan kepalan meluncur tepat di kepala pengendara motor itu. Darah memang bercucuran tapi itu begitu meramaikan malam pergantian.

 

Usai semburat berganti menjadi kegelapan pemuda itupun kembali berjalan dan nampaknya ingin menuju pulang. Terdengar dua orang saling bersebrangan. Mereka saling bersitegang di depan sebuah rumah ibadah yang baru selesai dipergunakan. Yang satu mengenakan baju putih bertutup kepala sedang yang satu mengenakan kaos dengan celana levis KW dan bertutup kepala pula. Mereka saling beradu argumen yang saling bertentangan. Mereka saling berujar kebenaran dengan dalil mereka yang tak putus-putus. Dan adu argumen itu membawanya melayang-layang dalam kebingungan dan kebingungannyapun membawanya pergi ke depan rumah dan mengetuk pintu hati pemuda itu dan kembali membukakan matanya. Ternyata kopinya sudah mengagar, dan matahari kini sudah timbul lagi dari timur. Dan di depam rumahnya begitu banyak kertas bekas petasan dan sesekali anak kecil yang lewat berusaha keras meniup terompet yang sudah serak. Dan diapun kini hanya bisa tersenyum dan menyeduh secangkir kopi berikutnya.

 

Tangerang, 4 Januari 2018

Karya : Afif Kodriyanto