Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 1 Januari 2018   04:58 WIB
Si Ranum Dan Si Kumis Tipis

Si Ranum dan Si Kumis Tipis

Aku menjadi saksi ketika perlahan daun yang telah menguning berpamitan kepada ranting. Usahanya untuk terus berada di atas sia-sia, angin walau sama sekali tak terasa sehelai bulu kudukpun ternyata menjadi waktu terakhir bagi daun untuk bercengkerama dengan ranting. Tak bisa dipungkiri kemuningnya daun yang mulai dihiasi titik hitam di pinggirannya ternyata menjadi kepahitan yang nyata bagi hubungan mereka.

Dan buah dari kegigihan mereka kini kian meranum, begitu banyak serangga bahkan binatang-binatang vegetarianpun mulai mencoba untuk mengoyaknya dari dahan beranting yang baru ditinggalkan oleh kemuningnya daun. Bergoyang ke kanan dan ke kiri hingga sampai pada bumi tempat di mana ia tumbuh bersenang-senang dan bercumbu ria bersama ranting.

Ranumnya buah kini mesti menatap masa yang akan datang walau kini dia menjadi piatu. Didikan dahan beranting yang menahan agar tak terjatuh tak begitu berhasil. Hingga kini buah itu menapaki pergaulan bebas.

Malam minggu kala itu dia pergi meninggalkan rumahnya tanpa seizin dahannya. Dia pergi ke tempat hiburan malam, dimana kerlap kerlip lampu kota meramaikan isi kota. Di sebelah kanan ada bianglala yang disana ada sepasang kekasih tengah bercumbu mesra. Dalam hatinya bertanya-tanya dalam sangkar sebegitu sempitnya masih saja mereka mencari-cari kesempatan untuk saling mempertemukan bibir. Indah mungkin bagi mereka tapi begitu menjijikan bagi si ranum buah yang masih begitu belia.

Sengaja dia menggunakan rom mini untuk menarik siapapun yang menjadi saksi pengembaraannya. Dengan pipi yang memerah dan bibir yang begitu memesona. Belahan dadanyapun putih bak ayam sayur yang baru selesai dibersihkan bulunya. Seorang wanita berjalan seorang diri di tengah hiburan malam dengan dandanan dan lenggak lenggok jalannya yang bak model majalah playboy sudah pasti mengundang lawan jenisnya. Rayuan dan gombalan bertebaran di udara dan tak sedikit yang menclok di tempat sampah. Tapi dia sama sekali tak tergoda, bukan karena dia takut ataupun khawatir akan nasibnya nanti tapi karena dirasa hanyalah gombalan recehan yang berceceran di permpatan lampu merah yang dilemparkan si kaya kepada para peminta-minta. Sudah barang tentu bukan itu yang ia cari, dia mencari yang bisa menaklukannya dengan nama cinta.

Putaran pertama di hiburan malam itu sama sekali tak tergambarkan bagaimana lawan jenisnya bisa memenagkan hati, dia terus menapaki jalanan yang sudah terplester rapi. Di persimpangan dijumpainya lawan jenisnya sedang termenung bersama sebuah buku dan pena di tangannya. Di intipnya dari belakang, dalam hatinya bertanya-tanya kenapa ada lelaki di tengah hiburan malam yang sibuk melukiskan keadaan. Perlahan tapi pasti, lawan jenisnya itu begitu teliti menggoretkan tintanya di kertas-kertas yang tergabung rapi. Dilihatnya siluet dari gemerlapnya malam yang bertaburan lampu mejikuhibiniu. Hanya suara nafasnya dan nafas lawan jenisnya yang tersengar olehnya. Padahal keadaan begitu ramainya oleh musik yang terus mengalun saling beradu di udara. Dia maju selangkah dan mulai mendengar pula gesekan ujung pena dan kertas yang saling beradu, nampak begitu nyata ada semacam nada disana yang berpadu menjadi gambaran yang begitu mirip dengan mukanya. Dalam hatinya kembali bertanya, kenapa ada wajahku disana, dan kenapa wajahku begitu jelas padahal sama sekali belum pernah berjumpa.Diapun merangsak lebih dalam lagi mendekatinya, tapi semakin ia mendekatinya semakin pudar gambarnya dan dia malah mencoretnya hingga wajahnya tak terlihat lagi hanya gundukan hitamnya pena yang saling beradu di secarik kertas itu. Lawan jenis itu tinggi besar dengan kumis tipis pertanda masih remaja mungkin usianya sama ranumnya dengannya. Walau terlihat hanya dari samping saja tapi si ranum itu tak kuasa menatap langsung wajahnya. Dia tak memberanikan diri untuk menegurnya, sampai tanpa sadar si kumis tipis telah menoleh ke belakang dan ternganga. Dia begitu takjub karena tak menyangka akan bertatap muka secara langsung dengan isi lamunannya. Tentu ini bukan kali pertama ia memandangi si ranum ini, hari-harinya dihabiskannya untuk mengintai bersama lamunannya di bawah pohon besar dimana si ranum tinggal. Paginya dihabisnya bersama secangkir kopi di gubuk yang tak jauh letaknya dari pohon itu. Siangnya dia habiskan bersama singkong rebus yang selalu ia petik di kebun belakang rumah tetangganya tentunya di tempat yang sama. Sedang malam harinya dia habiskan untuk memandangi pejaman mata si ranum dari balik gubuk yang sama. Tak heran wajah si ranum begitu jelas tergambar di kertas itu. Mereka berduapun saling pandang dan saling berkata lewat mata sadar ataupun tidak ternyata bibir mereka sudah saling bercengkrama. Bagaimana cinta tidak dikatakan buta jikalau mata nyata memandang namun tak terasa sudah begitu mesranya.

Lalu lalang pengunjung lainnya sama sekali tak mengganggu hasrat mereka. Cinta cinta macam apa yang dibiarkan bermesraan di tempat yang tak seharusnya, beruntunglah mereka yang tinggal di negeri di mana cinta sejati dibiarkannya tumbuh tanpa aturan ataupun tatakrama. Di negeri itu memang cinta adalah cinta yang dikaruniakan Tuhan terhadap mereka yang dikasihiNya dan semua warganya sangat sadar akan hal itu. Jangankan persekusi menegurpun dianggap sebagai suatu hal yang sangat berdosa dan bisa berakhir bencana bagi pelakunya karena usahanya menghalangi cinta yang tumbuh dengan begitu saja tanpa adanya syarat dan juga suatu pertanda.

Hanya mentari pagilah yang mampu menghentikan kemesraan ini, sama sekali tak ada kata ataupun berita. Mereka berdua berhenti begitu saja dan saling menuju pulang kerumah masing-masing. Tentu si ranum sudah dihadang dahan yang mengkereyutkan ranting-rantingnya sebagai tangga. Juga tak ada kata, hanya senyum lebar yang dia berikan kepadanya. Sebagai dahan memang dia adalah dahan yang pendiam luar biasa, tapi senyum di wajah si ranum tak kuasa membuatnya ikut melemparkan senyum pula padanya. Tentu dahanpun bukanlah orang yang tak pernah bercinta, walau bukan seorang peramal tapi merah bibir si ranum bukan lagi merah bibir berlipstik, merah bibirnya adalah peetanda buah cintanya yang pertama.

Siang menjelang tapi si ranum tetap belum bisa memejamkan mata, masih jelas tergambar apa yang terjadi semalaman hingga fajar tiba. Diapun kini tersadar bahwasanya ada gubuk di dekat tempatnya tinggal dan kepulan asap yang menggiring bau singkong rebus jelas berasal dari gubuk itu. Dia mengorek-ngorek isi lemarinya di mana tersimpan teropong canggih buatan China. Dan di jumpainya si kumis tipis sedang tersenyum-senyum sendiri di gubuk itu. Tangan kanannya masih tersisa separuh singkong rebus yang dipanennya di kebun belakang rumah tetangganya. Sedang mulutnya terus mengunyah diiringi senyum yang sama dengan malam hingga fajar tiba. Ranumpun tak sadar bahwa diapun kini ikut senyum dalam lamunan malam di tengah hiburan malam sembari tangan kirinya mengusap bibirnya.

Dahan sama sekali tak kuasa bahagia karena buah hatinya kini sedang jatuh dalam percintaan yang begitu mengena. Si kumis tipis menoleh ketempat di mana Si Ranum bersemayam. Dan dengan segera ranum meletakan teropongnya untuk memandanginya secara nyata. Dalam hatinya berkata cinta memanglah buta tapi cinta tanpa usaha sama sekali bukanlah apa-apa. Dan diapun manggut-manggut memahami bahwa ternyata dia telah lama diperhatikan olehnya hingga gambaran di kertas semalam bak pinang dibelah dua dengan wajahnya. Si kumis tipispun sama sekali tak mengalihkan pandangannya dan mereka berkelana lewat pandangan. Mereka pergi berkeliling dunia untuk berbulan madu, mulai dari negeri asia, eropa, amerika, afrika bahkan sampai ke Papua yang kini mulai gersang karena keserakahan manusia. Mereka berdua masih belum saling berkata namun jiwa mereka sudah bersetubuh disegala tempatnya. Mereka saling berusaha mengimbangi apa yang mereka rasa hingga kepuasanlah yang menjadi buah dari hubungannya. Suka cita, dan bunga-bunga tak pernah layu atau mati walau hujan sama sekali tak pernah turun dalam pengembaraan mereka.

Dan aku menjadi saksi bahwa cinta mereka masih sama, kemuning daun yang kini mencoklat dan hendak pulang ke akhirat masih sempat menghantarkan senyum bahagianya pada mereka. Katanya dalam hati, biarlah aku mengakhirat tapi ku yakin tidak dengan cinta kalian. Dan hembusan nafas terakhir kemuning daun telah merestui hubungan mereka. Dalam angan anak mereka kini sungguh menggemaskan dan siapapun ingin mencubit pipinya. Dan dalam angan mereka terus saja tersenyum penuh bahagia dengan cinta yang ada.

Tangerang, 1 Januari 2018

Karya : Afif Kodriyanto