Pengabdi Bahagia

Pengabdi Bahagia

Afif Kodriyanto
Karya Afif Kodriyanto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Desember 2017
Pengabdi Bahagia

Pengabdi Bahagia

            Desember memang terus saja bersedih, setiap satu jam sekali tetesan air matanya membasahi. Satu dua menit dia terhenti, bukan karena lelah namun hanya memantaskan diri. Tak jarang dia meraung-raung sampai-sampai dia membentakku dan membuat ku terlincat dari tempat tidurku. Aku sama sekal tidak kesal, apalagi marah menyaksikan tingkah lakumu yang terus saja seperti itu. Dan bahkan sama sekali aku tak merindukan juni yang tiap harinya berikan senyum terhadapku. Memang kalian aalah janji Tuhan yang nyata.

            Dari tetes demi tetes air matamu desember, aku tak kuasa jika harus berpura-pura bahagia dan menikmatimu. Sedang kenyataannya aku kuyup, diguyur oleh amarah pembesar. Sekali lagi aku sama sekali tidak membencimu desember, tapi aku harus katakan bahwa apa yang kau perbuat telalu kekanak-kanakan. Tak bisakah kau tahan barang sebentar tangisanmu itu, dan guling-gulingmu itu membuat aku geli. Orang-orang berkata kau kini sudah menginjak usia 2017 dan akan segera berulang tahun beberapa hari kedepan, untuk usia yang lebih matang. Dan jauh sebelum masehi orang bilang kau juga sudah ada bukan?

            Baru kuberkata begitu wajahmu kini menjadi semburat, lagi dan lagi semburatm desember sama sekali tak ada keemasan disana. Bahkan senja yang setiap oang nantikan kehadirannyapun kau sembunyikan. Waktu-waktu yang dinanti menjadi sia-sia bagi para pengagum senja, mereka menunggu sedari pagi bahkan rela antri berjubal di tegah tangisanmu. Nyatanya apa yang kau lakukan? Kau sembunyikan dia entah dimana.semburatmu begitu menjijikan desember, dan kini malah kau telan semburatmu sendiri dan yang kau sisakan hanya kegelapan. Masih pantaskah kau ku anggap sebagai desember yang dewasa dengan usia 2017?

            Dan lama-kelamaan aku jadi muak membahas tentangmu desember, lebih baik kuceritakan sekelumit saja bagaimana kisah negeri suburku yang kini sudah sangat luar biasa. Gedung-gedung beranak pinak dengan baik diperkotaan, dan kini di pedesaan mulai juga banyak transmigran dari gedung kota yang ingin memanfaatkan lahan di desa untuk sekadar beanak juga. Kini sawah sudah sangat subur dengan adanya pupuk kapitalis di desa, di sana padi sudah banyak yang dikarung. Anak kecil mulai banyak dijumpai di perempatan lampu merah dan makin banyak pula orang sakit yang ada di jalanan. Ohon-pohon kini mulai minder, mereka sudah kalah tinggi dengan gedung-gedung modern. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya memilih bunuh diri karna di benaknya daripada hidup harus menanggung malu karena dikalahkan oleh warga milenial. Banyak juga dari mereka yang kini menjadi tahanan dikrangkeng dan dimanfaatkan menjadi objek tontonan dengan upah yang tak sepadan tapi mereka dielu-elukan sebagai penyelamat dikemudian. Sedang yang benar-benar menjadi penyelamat mereka tebang dengan dalih peremajaan dan perluasan lahan pertanian. Yang lebih sadis lagi tak jarang mereka diminumi minyak bekas pengeboran dengan bercampur karat yang mematikan dikemudian mereka membuang punting rokok mereka sembarangan. Ketidaksengajaan yang disengajakan membuahkan api bertebaran, bersatu-padu menyantap semua hidangan yang disajikan walau dengan plating yang berantakan.

            Kini semua belaga kelimpungan, bahkan RT sebeah sudah merasa terganggu dan hendak melaporan kepada pak Lurah dengan segera. Dalam hati mereka berkata, laporkan saja dengan segera, kami kan masih saudara dengan pak Lurah jadi ya semua bakal aman saja. Masa ia saudara sendiri mau diadili. Tapi laganya tetap saja kelimpungan, mencari cara untuk mematian api itu. Padahal api sudah bekerjasama dengan angin dan awan, angn sudah diinstruksikan api agar berjalan denan cepat agar awan tak ada di atas api, dengan begitu api akan makan semua hidangan juga dengan segera.agin memang teman api yang sangat baik, walau anpa pamrih dia mau saja mengikuti instruksi api.

            Angin hanya ingin panas segera berakhir, kalau api sudah kenyang sudah pasti dia akan berhenti bukan?

            Rekayasa menghentikan api kini segera dilakukan, segala bentuk dan cara dilakukan mulai dari memukul-mukul api di ranting pohon hingga memaksa awan utuk segera menangis. Entah cambuk macam apa yang dilakukan dan juga siksaan macam apa yang dilakukan. Pada dasarnya langitun tak ingin menangis tapi mereka mengirim petir untuk menyambar awan. Pantas saja kejer meraung-raung kesakitan hingga air matanya tak henti-henti sepanjang bulan. Desember oh desember ternyata kau begitu kuatnya, hanya petir yang mampu buatmu menangis sejadi-jadinya.

           

Tagerang, 21 Desember 2017

  • view 83