Pria Yang Malang

Pria Yang Malang

Afif Kodriyanto
Karya Afif Kodriyanto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Desember 2017
Pria Yang Malang

Pria Yang Malang

 

            Pria malang itu bernama Sanip, tinggal di kontrakan satu petak dengan sekat ditengahnya di pinggiran kota Jakarta. Hidup seorang diri hanya berteman dengan angin palsu yang kian hari kian berdebu. Perawakannya tinggi besar sangat ideal menjadi tentara, bahkan tak jarang tetangganya sering memanggilnya terpal.

            Malam ini bagi Sanip adalah malam istimewa, setelah langit tak kunjung berhenti menitikan air mata dengan selingan raungannya yang tentu membuat ereksi bulu kuduknya. Waktu yang dinantipun akhirnya tiba, nampaknya langit telah mendapat apa yang dimintanya pada Tuhan. Hingga tangisnya perlahan terhenti dan kini digantikan dengan titik-titik putih dihitamnya langit, tentu dengan senyum rembulan yang walau hanya separo.

            Bagaimana tidak menjadi istimewa kala janjinya akan segera ia tepati, dan benaknyapun bercerita bahwa ini semua kehendak yang Kuasa. Karena tak ingin buatnya malu di depan wanita pujaannya. Jam dinding baru menunjuk angka 8, baju andalannyapun sudah diseterikanya dan kini mulai dipakainya, jam tangan seharga sebungkus burger king pun sudah nyantol di lengan kirinya, dan tak lupa wewangian hasil kreditnyapun sudah disemprotkannya kesekujur tubuh. Rambut lurus yang sudah menyeberangi telinga sudah disisirnya dengan klimis.

            Langkah pertamanya diiringi kedua tangannya yang menengadah terhadap langit, hanya ingin memastikan tangisannya sudah benar-benar terhenti atau hanya sementara saja. Keyakinanya bertambah kala bulan berikan senyumannya, dan diapun bergegas menuju ke rumah wanitanya di desa sebelah.

            Jangankan motor, sepeda saja Sanip tak sanggup untuk memilikinya walau sekarang begitu banyaknya tawaran kredit dengan ataupun tanpa down payment. Sengaja ia hanya berjalan pelan, karena dia tahu akibatnya jika tergesa-gesa, sudah pasti parfum kreditnya akan segera tergantikan oleh sedap aroma tubuhnya.

            Sepanjang jalan dia memikirkan wanitanya, sudah barang tentu dia sedang menunggu di bale depan rumahnya dengan segelas teh tawar hangat yang masih utuh bersama kepulan uapnya. Dan di sampingnya tergeletak beberapa potong singkong rebus. Lidahnya sudah terjulur bagai anjing dengan liurnya yang berceceran.

            Sesampainya di depan gang, segera naik angkutan umum agar mempersingkat waktu tempuhnya. Walau baru pukul 08.15 malam tapi keadaan angkutan ini sudah sepi, bagi Sanip ini keberuntungan berikutnya, baginya tak perlu berdesakan atau bertukar bau wangi parfum. Padahal jalanan yang dilewatinya luar biasa ramainya, namun hanya ada Sanip dan supir angkutan umum yang saling pandang tanpa berbalas kata. Terlihat jelas raut sang supir yang begitu murung, bergitu banyak gambar cacian terhadap Tuhan, gerutu dalam batin yang tak kunjung reda. Dalam hatinya berkata :

“ Kemajuan teknologi memang harus terjadi, tapi apa gunanya jikalau masih ada yang tersakiti dan terzolimi.”

            Sanip mulai menerka, karena baginya begitu bahaya apabila sang supir makin larut dalam lamunannya. Perlahan Sanip melempar kata :

“ Rame bang hari ini?”

“ Kamu minta diturunin disini?”

“ Oh sepi ya bang, sudah ngopi bang? “

“ Baru nyeruput air sepiteng dua ember.”

“ Dekat sini ada warung kopi yang mantap bang, saya traktir sekalian mie rebusnya, gimana?”

“ Perlu pakai GPS?”

“ Saya kasih jari aja bang.”

            Di perempatan Sanip berhenti sejenak, dua gelas kopi hitam dan mie rebus yang dia janjikan sudah tersaji dengan sangat menggoda. Tanpa pandang bulu karena adapun ayam sudah telanjang. Telurpun sudah dibuat mata sapi ditelannya dengan kunyahan alakardanya, tak mungkin sabar hingga 32 gigitan yang berujung mual.

“ Sudah kenyang bang?”

“ Belum habis kopinya!”

“ Gorengan masih banyak tu bang.”

“ Satu bala-bala, satu tahu dan dua tempe.”

“ Oke, jangan lupa nanti berak ya bang.”

            23.500 dibayar Sanip cash, masih ditemani titik-titik putih di laut hitam samudra angkasa walau sang rembulan kini senyumnya mulai pudar. Jam tangan yang tercantol di lengan kirinya tak bordering tapi detik demi detiknya kini terasa sampai ke denyut nadi. Jarum pendeknya sudah di angka 10.

            Nampak sudah atap rumah wanita pujaannya, seturunnya dari angkutan umum titik-tittik putih telah kembali pulang, atau mungkin mereka sedang main petak umpet. Dan ternyata langit kalah dan tak bisa menemukan persembunyian titik-titik putih itu. Langitpun kembali mengadu pada Tuhan dan mengatakan kalau dia dicurangi oleh titik-titik putih itu, tangisnya tak mampu terbendung.

            Sanip menatap langit dengan tajamnya, dan tatapannya membuat langit semakin takut dan tangisnya semakin menggila. Sanip mencoba menghiburnya dengan puji-pujian atau dendangan, sama sekali usahanya tak mampu membuatnya berhenti menangis. Tak hilang akal, dia pergi ke warung untuk membeli tisu, tapi hingga pepohonan habis tetap saja tak mampu mengeringkan kelopak mata langit. Klimisnya sudah makin menjadi, sedang wanginya tersisa apek sekali, sedang bajunya luntur mewarnai. Janji adalah hutang, maka harus dibayar walau harus gali lobang.

            Sudah di depan mata, sang pujaan hatinya terkulai lemas dengan mata tertutup, di sampingnya beberapa potong singkong dan teh yang entah kenapa terus saja mengeluarkan uapnya. Sanip mendadak kelilipan kesedihan, tak sadar air matanya bercucuran, tapi masih kalah kelihatan tertimpa air mata langit. 

 

Tangerang, 19 Desember 2017

 

 

           

  • view 104