Kentutmu Kebanggaanku

Afif Kodriyanto
Karya Afif Kodriyanto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 September 2017
Kentutmu Kebanggaanku

Kentutmu Kebanggaanku

Suatu pagi dengan langit yang masih menghitam beserta butiran-butiran embun yang bertebaran dari angkasa. Deru mesin pesawat terbang sudah mengudara. Pohon kelapa yang menjulang kurus begitu tinggi terkoyak oleh hembusan angin dari mesin terbang itu. Aku tak mengerti, sudah dua lima tahun lamanya aku berada disini namun tak pernah sekalipun aku menyaksikan manggar dari pohon kelapa itu. Pohon itu tumbuh dibelakang 3 buah rumah yang berada tepat di depan kontrakanku. Kebetulan pohon kelapa itu tumbuh di atas pembuangan limbah rumah tangga dimana plastik dan bekas makanan selalu menghujaninya. Daunnya ada, tapi tak sebanyak daun kelapa pada umumnya. Daunnya seringkali melambaikan pesan terhadapku, "hai kamu, kamu masih enak hidup dibawah sebuah atap yang senantiasa melindungimu, sedang aku, aku hidup dipembuangan sampahmu dan sering kali kentut mesin itu meracuni bahtera kehudupanku. Seringkali aku tersedak olehnya, walau ku yakin kau tak akan pernah sekalipun mendengarnya". Aku tertegun seketika itu karena aku ikut andil dalam industri penerbangan di Soekarno Hatta International Airport.
Mungkin hanya aku yang sering melihat dan merasakan lambaian pohon kelapa itu.
Suatu malam dimana bergumul beberapa kepala manusia yang sedang asyik berkelakar dengan tawa dan juga saling timpal dalam hal ejek mengejek tercetus berita tentang pohon kelapa itu. Kala itu memang malam jum'at, dimana seluruh negeri ini masih menyakini malam jum'at sebagai malam yang angker. Seorang yang sudah berpuluh tahun merantau dari jawa barat ke Tangerang dan telah berpuluh tahun pula tinggal disekitar pohon kelapa itu bercerita tentang berbagai pengalamannya tentang hal mistis. Mulai dari berjumpa dengan makhluk yang tak menapakan kaki di tanah, yang berupa perempuan berjubah putih, sampai yang menapak ditanah namun tanpa kepala. Memang aku sedikit meragukan hal itu, tapi untuk menghormati cerita serunya aku coba terus memggali dan mengiyakan ceritanya. Selain kontrakanku ada beberapa pintu kontrakan lain yang ada dilingkungan itu. Penghuni asli daerah itu hanya ada delapan kepala keluarga yang masing-masing memiliki satu rumah, dan sisanya ada 16 pintu kontrakan yang letaknya terpisah satu sama lain. Ada yang berjajar 3 pintu, ada yang empat pintu ada pula yang dua pintu. Sebelum masuk ke area kontrakanku ada tanah lapang yang biasa dijadikan sebagai tempat parkir mobil, disana juga ada sebuah pos ronda yang dua tahun lalu sangat ramai oleh warga namun kini hanya menjadi tempat bermain kucing dikala malam dan tempat berpacaran ayam dikala siang. Sebelah tanah lapang itu ada sebuah sekolah dini yang dikenal dengan PAUD atau pendidikan anak usia dini. Dihalamannya terdapat banyak wahana bermain, mulai dari ayunan, anak tangga, prosotan dan dinding terlukiskan pemandangan pegunungan sebagai cermin dari keindahan alam. Tepad di depan PAUD itu berdiri dengan subur sebuah pohon mangga, diseberang jalan ada sebuah warung dengan pohon nangka di depannya yang tumbuh tak kalah subur. Kedua pohon ini memang tak sekurus dan setinggi pohon kelapa tadi. Cerita mistia dimulai dari depan PAUD dimana bercokol pohon mangga yang entah mengapa hampir seluruh warga di Indonesia menganggap pohon mangga sebagai sarang kuntilanak. Dan cerita dari perantau itupun sama dengan cerita orang kebanyakan, pernah suatu malam dia berjalan melewati daerah itu dan ada tawa cekikikan bak perawan sedang keranjingan karena baru pertama digoyang. Namun perantau itu tak gentar, karena bukan sekali dia menyaksikan hal ini, diapun terus berjalan menuju tanah lapang, dan sampai didekat kontrakanku dengan selamat. Dia juga menceritakan tkang bakso yang mangkal didepan gang kalau dia juga pernah mendapati hal ganjil semacam itu, bukan tawa lagi namun lemparan pasir kegerobogan baksonya membuatnya geram. Memang kebanyakan tukang bakso tak pernah takut akan hal semacam itu, dia cuma takut ketika dagangannya sepi pembeli dan bingung akan di apakan sisa dagangannya. Ada lagi cerita tentang pohon nangka yang sudah melegenda, terutama ditanah jawa, padahal buahnya harum dan rasanya begitu legit. Namun cerita mistis masih melekat padanya, sedariku masih di Purwokerto hingga melangkah ke barat yaitu Tangerang, masih saja sama cerita mistis tentang pohon nangka. Perantau tadi begitu mendominasi cerita mistis ini, memang sudah lumayan tua dan juga banyak pengalaman tentang hal serupa yang membuatnya begitu percaya diri mendongengkan cerita-cerita mistis malam itu. "Kamu mau jimat Fif?" katanya kepadaku, aku hanya tersenyum dan memasang wajah penasaran. "Kalau mau nanti malam tunggu saja di bawah pohon nangka yang ada di dekat warung itu, biasanya setiap malam jum'at apalagi malam jum'at kliwon ada suara semacam anak ayam yang berbunyi pyak pyak pyak, coba kamu kelilingi pohon nangka itu pasti tak akan kau jumpai anak ayam itu, karena sebenarnya itu bukanlah anak ayam fif". "Masa iya?" Sahutku tambah penasaran. "Ya itu semacam benda pusaka entah batu atau keris kecil, kalau kau ingin mengambilnya nanti akan kutunjukan padamu bagaimana cara mengambilnya". Tambahnya dengan nada meyakinkanku. "Ah masa ia, darimana bisa aku ambil sedang yang kulihat disana kala siang hanya pohon nangka biasa". "Tapi kalo memang ada, biasanya setelah kita ambil minta aneh-aneh tidak?". Tanyaku makin penasaran dan makin membuatnya semangat untuk melanjutkan cerita, "Ya biasanya kalau kita ambil dengan persetujuan awal, misalnya, kita tanyakan dulu padanya, kira-kira mau ikut saja sebagai pegangan tanpa syarat atau dengan syarat, tapi kebanyakan si mereka minta syarat baik syarat nyata seperti minyak duyung ataupun bunga tujuh rupa atau syarat yang tak nyata yaitu berupa bacaan-bacaan ayat suci". "Oh begitu ya, apa itu jadi makanan baginya? Dan bagaimana aku bisa mengambilnya? Tak mungkin juga dengan tangan kosong bukan?". Aku makin penasaran dibuatnya. Kepenasaranku membuatnya makin menggebu lagi dalam bercerita, dengan nada pelan dan wajah yang sengaja diseriuskan diapun melanjutkan ceritanya. "Pada intinya kamu mau tidak? Kalo mau ya nanti aku kasih tau gimana caranya". Pertanyaannya menancapkan pisau dijantungku, sehingga membuatku tersentak sejenak. "hahahaha tidak-tidak, aku tidak ingin hidupku makin kacau digerayangi dengan berbagai persyaratan gaib yang ada bisa kurus kering lama-lama aku kalu begitu". "Ah sue kamu dasar kumsigo, aku sudah panjang lebar bercerita eh ini cuma bilang tidak, cemen kamu, bilang saja tidak berani kan? hahaha". Tawa seketika itu pecah dan menghilangkan keseraman dan ketegangan yang telah tercipta. Tak dirasa dia menyadari akan keberadaan pohon kelapa itu, katanya pohon kelapa itu melambaikan tangan padanya dan berbisik, "ayo bicarakan juga tentang diriku dong aku kan juga pohon yang penuh cerita". Memang didepan kontrakanku ada sebuah teras dan bisa langsung memandang pohon kelapa itu. Perantau itupun melanjutkan ceritanya dengan menyinggung si pohon kelapa itu, dia memulai dengan memaparkan kenapa pohon kelapa itu tak pernah berbunga, jangankan berbuah berbunga saja tidak katanya. "Coba perhatikan pohon kelapa yang menjulang tinggi kurus itu, dengan daun yang setengah mengering dan mulai terlihat botak walau beberapa helai daun masih nemplok disana. Pohon kelapa ini pohon kelapa keramat, kenapa tak pernah berbuah dan daunya sedikit, karena disana ada sabuk jawara yang mengikat dileher pohon kelapa itu. Sabuk yang biasa dipakai para jawara betawi yang identik dengan warna hijau itu. Nah kalo kamu mau jadi jawara kamu bisa ambil sabuknya disana. Tapi ya tentunya dengan berbagai macam syarat yang harus dipenuhi dahulu". Wah hatiku berbisik, jadi ini sebab mengapa pohon kelapa itu tak berbuah, tapi masa ia hal semacam itu bisa terjadi pada sebuah pohon dimana semua pohon pastinya menginginkan buah sebagai wujud dari eksistensinya. Kalau begitu sungguh malang nasib pohon kelapa itu, terherat oleh sabuk jawara yang membuatnya menjadi mandul dan tidak produktif. Perantau itu melanjutkan ceritanya dengan menanyakan hal serupa dengan perkara yang ada di pohon nangka tadi. "Jadi kamu mau atau tidak mengambilnya, kamu bisa jadi jawara kampung sini kalau km bisa mengambilnya". "Duh orang yang tadi dipohon nangka aja aku ogah apalagi ini yang kayaknya lebih berat lagi. Yang ada pingsan aku dibuatnya". Sahutku menggerutu. Dalam hatiku berkata, "Kalau memanglah ada sabuk itu dan dia tau caranya kenapa tidak dia saja yang ambil sendiri, kan dia bisa jadi jawara dan aku bisa jadi teman seorang jawara pasti bakal aman aku disini berteman dengan jawara. "Ah kamu mau tau doang, enggak mau mencoba, percuma juga aku bercerita panjang lebar, dasar kamu kumsigo". Seketika itu tawapun berhamburan dan kuyakin pohon kelapa itu juga ikut senyum-senyum menyaksikan obrolan kita. Tengah malampun menjelang, dan pergumulan orang-orang sudah bubar dan menuju ke pembaringan masing-masing. Akupun tak kupa mengucap salam perpisahan terhadap pohon kelapa itu, barangkali dengan begitu dia bisa berikan sabuk jawaranya oadaku tanpa syarat. Karena aku melihat tubuhnya yang kurus mulai keriput, seringkali batuk berdahanya juga mengganggu telingaku, mungkin ketuaan tak bisa dihindarkan, dia ingin memeriksakan diri kedokter tapi tak ada daya upaya untuk melangkah, kuyakini dia sudah terkena ISPA atau mungki TBC atau bahkan paru-paru basah. Namun harapanku akan hal itu sirna seketika karena melihat kesakitannya yang tak memiliki buah keturunan, dan juga batuk akutnya aku jadi berpikur dua kali. Dan aku mulai mencoba menyimpulkan dalan hati, dia sudah ada sejak kapan tau,mungkin sebelum adanya pembangunan lapangan terbang dia sudah berada disana dan kuyakin kala itu dia tumbuh subur dan juga berbuah karena tak ada yang bisa mengganggu proses sexnya. Namun begitu dibangunnya lapangan terbang segala debu berterbangan semaunya saja, ditambah lagi dengan dia yang tumbuh terus menjulang makin mendekatkan kepalanya dengan mesin-mesin yang setiap sekian menit berlalulalang. Awalnya mungkin dia masih bisa bertahan dan merasa gagah, lambat laun kentut mesin terbang yang terus saja dihisapnya menyebabkan keracunan dan menjadikannya terkena komplikasi mulai dari ISPA, TBC, Paru-paru basah, mungkin bahkan sekarang dia juga terjangkiti penyakit jantung. Komplikasi ini yang kini kuyakini bahw dia tak bisa lagi produktif dan mengalami kemandulan. Anak-anaknya yang mungkin dulu pernah dia buahkan mungkin sudah jadi tai karna dimakan manusia yang ada disekitanya. Kini masa tuanya sebtang kara tanpa ada sepohonpun yang memperdulikannya atau hanya sekadar merawatnya agar sedikit menghilangkan perasaan sakit karena terus saja dikentuti oleh mesin peswat itu. Tapi dia tetap bisa bersombong diri, karena setiap sekian menit dia bisa menyaksikan berbagai maskapai dunia yang lewat tepat di atas kepalanya. Yang tidak pernah dirasakan oleh pohon-pohon yang lain karena memang dialah pohon tertinggi yang ada di daerah itu. Dia tak perlu lagi berteriak, peswat minta uang kalau tak dikasih nanti aku tembak. Cukup dengan dia berbisik mesin terbang yang lewat selalu membalasnya dengan senyuman dan juga kentut yang semerbak menghanyutkan.

Tangerang, 25 September 17
AK

  • view 21