Ridwan dan Chandra

Afif Kodriyanto
Karya Afif Kodriyanto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Juli 2017
Ridwan dan Chandra

Ridwan dan Chandra

                Ridwan dan Chandra adalah dua sahabat dari sebuah kampung yang sama, dan kebetulan merekapun mendapat nasib yang sama yaitu bersekolah di luar negeri lantaran mendapat beasiswa. Kepandaian mereka berdua biasa saja, namun nasib begitu mujur sehingga bisa mendapat kesempatan bersekolah disana. Negeri kincir angin tepatnya, negeri yang dahulu menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya ternyata kini justru menjadi tempat bersinggah untuk menuntut ilmu bagi mereka berdua. Mereka masing-masing mengambil jurusan yang berbeda, Ridwan mengambil bidang ekonomi, sedangkan si Chandra mengambil bidang tekhnik.

Mereka berdua berasal dari desa kecil di ujung timur kota bandung, walau si Chandra merupakan blastereran bandung jawa tapi dia lahir dan besar di Bandung. Sedangkan si Ridwan adalan tulen bapak ibunya berasal dari Bandung. Mereka memang besar dan tumbuh bersama, bersekolah dari SD hingga SMA yang sama, hingga akhirnya mereka menempuh pendidikan di luar negeripun masih bersama-sama.

                Mereka pemuda biasa saja, berangkat kesana dengan penuh harap dan cita –cita yang menjulang begitu tinggi di langit eropa. Sama-sama bekerja keras untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuannya. Yaitu lulus sekolah dan bisa memajukan Indonesia nantinya. Walau di kenyataannya mereka perlahan mulai berbeda.

                Iklim di eropa perlahan merubah mental salah satu diantaranya, pemuda lugu penuh sopan dan santun pun termakan oleh budaya dan lingkungan yang ada disana. Sehingga Chandra menjadi korban karena tak mampu mengontrol diri, sedang Ridwan masih dengan keRidwannannya walau apapun yang telah ia alami dan telah ia lewati. Ke luar negeri artinya kesempatan bagi mereka untuk menunjukan bahwa inilah Indonesia dengan senyum indah keramahannya, bukan malah tercebur kedalam dunia eropa yang terbilang berbanding terbalik dengan budaya orang timur. Ridwan selalu mengingat apa kata Tan Malaka, Jika engkau belajar kepada barat, maka jangan jadi orang barat, tapi jadilah murid dari timur yang cerdas. Kata-kata ini yang selalu di ingat oleh Ridwan sehingga tetap meneguhkan dirinya untuk terus menjadi orang Indonesia dengan ke Indonesiaannya.

                Kala itu cuti sekloah atau iasa kita disini menyebutnya dengan liburan telah tiba, kebetulan liburan sekolah bersambung dengan libur hari raya. Hari raya Idul Fitri tepatnya, dan penduduk Indonesia lebih mengenal pulang kampung dengan istilah mudik. Begitupun dengan kedua sahabat yang berada diluar negeri ini. Mereka berdua memutuskan untuk mudik bersama ke tanah kelahirannya untuk sama-sama menikmati liburan dan juga berkumpul dengan keluarga di hari yang raya.

                Mereka berdua merencanakan perjalanan mudiknya menggunakan pesawat KLM dari Amsterdam ke Jakarta, kemudian dilanjutkan dari Jakarta ke Banndung menggunakan alat transportasi udara kereta yaitu dari stasiun Gambir ke stasiun Bandung. Merekapun menentukan hari keberangkatannya di hari -5 sebelum lebaran tiba. Tepatnya pada tanggal 21 Juli 2017.

                Dua hari sebelum keberangkatan si Ridwan sudah menyiapkan segala macam yang akan dibawanya pulang ke tanah kelahirannya, sedang si Chandra masih dengan santainya bahkan mengejek si Ridwan dengan pedasnya, “ ya elah perjalanan masih 2 hari lagi lo hari gini Judah ribet amat si bro”. Ridwan pun hanya tersenyum karena jika dijawab kembali maka akan menjadi debat kusir yang tak ada arah tujuannya apalagi penyelesaiannya. Ridwan tetap melanjutkan sesi berkemasnya dan tak lagi menghiraukan ejekan dari si Chandra.

                Hari berikutnya Ridwan coba memperingatkan kepada Chandra bahwa waktu menuju kepulangan semakin dekat, alangkah lebih baik jika persiapan dan pengemasan barang-barang dilakukan lebih awa sehingga pas hari H tidak lagi grasak grusuk dalam menyiapkan segalanya. Karena pada dasarnya persiapan yang terburu-buru tidak akan menghasilkan apa-apa. Kelalaian pasti selalu datang tepat pada waktunya sehingga tak akan terhindarkan lagi. “ Chand, apakah tidak lebih baik kamu packing baju-bajumu dan barang-barangmu yang akan kamu bawa pulang kampung sekarang?”. “Ahhhh ribet amat si lu wan, barang barang siapa? Yang mau pulang juga siapa? Ko malah lo yang ribet si wan”. Chaandra dengan santainya terus memainkan gamenya dan tak lagi menghiraukan ajakan dari Ridwan. Ridwan pun meninggalkan Chandra dengan ngelus dada, sembari berkata “bar sabar”.

                Tibalah di hari H dimana Ridwan dan juga Chandra harus bertolak menuju bandara di pagi buta, si Ridwan seusai subuh sudah siap sedia menuju ke bandara sedangkan si Chandra masih asyik saja dengan mimpinya. Hingga Ridwan menghampirinya dan mencoba membangunkannya dengan selembut sutra. “Ndra Ndra Ndra, bangun ini sudah jam berapa, kita kan mau berangkat ke bandara Ndra, jadi mau pulang kampung atau tidak Ndra?”. Dengan lembut Ridwan membangunka Chandra. “eemmmmmhhhhhh aaahhhhhhhhh wah? Jam berapa ini Wan? Buset dah dah jam segini aku baru bangun, gimana si lo Wan bukannya bangunin aku dari tadi ini malah dah jam segini baru lo bangunin Wan, apa jangan-janan lo sengaja kan pengen biking w telat, trus jadi gagal dah gw pulang kampung? Duhhh mana gw belum siap-siap lagi haduh haduh kacau balau nig w Wan Wan”. “ Dah sekarang mandi sana, nanti malah makin terlambat kita”. Kata Ridwan dengan sabarnya. Chandrapun bergegas menuju ke kamar mandi untuk menunaikan hajatnya. Tak kurang dari lima menit Chandrapun selesai dan langsung mengenakan pakaian serta bergegas mengepak segala macam apa yang harus dibawa ke kampung halaman. Tentu karena tergesa-gesa maka tak sedikipun terlihat kerapian di tas Chandra semua barang dan baju di gabungkan menjadi satu. Langsung bergegas Ridwan dan juga Chandra menuju ke jalan raya untuk menyetop taksi dan segera menuju ke bandara Amsterdam.

                Sesampainya di bandara mereka berdua bergegas menuju ke chek-in counter KLM. Waktu masih sisa sekita satu jam, petugas check-in counter menanyakan tiket dan juga passport Ridwan dengan sigapnya menyerahkan kepada petugas chek-in counter. Sedangkan Chandra dengan muka pucat menggeledah semua isi tas dan kantong celananya, setelah di aduk-aduk dan begitu berantakan ternyata passport Chandra ketinggalan di tempat tinggalnya. Keringat sebesar jagung mulai bercucuran di kening dan mulai berjatuhan ke lantai check-in counter. Ridwan menanyakan kepada Chandra dengan pelan, “ ada apa Ndra? Gelisah sekali kelihtannya?”. “Passport saya ketinggalan Wan”. Kata Chandra dengan lemasnya, Ridwan mencoba memberikan inisiatifnya dengan menanyakan kepada petugas Check-in Counter, “berapa lagi waktu yang masih tersisa untuk bisa terbang dengan flight ini?”. “Jam berapa kalian tutup”. Begitu tegasnya. Petugas check-inpun menjawab, “kalian punya waktu satu jam”. “Ada apa?”. Sambungnya. “ Pasport teman saya tertinggal dirumahnya dan kami akan mengambilnya”. Kata Ridwan yng mulai ikut panic karena kepanikan Chandra. Ridwanpun member tahu Chandra bahwa waktu yang tersisa adalah satu jam dari sekarang maka harus bergegas apabila tidak ingin terlambat dipenerbangannya.” Oke gw bakal jalan ke rumah sekarang, gw bakal buru-buru semoga gw bisa tepat waktu”. Kata Chandra dengan terengah-engah.” Oke Ndra silakan, hati-hati Ndra jangan lupa doa biar selamat sampai tujuan sehingga bisa balik kesini dengan cepat dan tepat”. Kata Ridwan mencoba mengingatkan. “Udah gausah banyak ngomong lo Dan, gw mau buru-buru ni awas awas minggir gw mau pulang dulu”. Saut Chandra dengan muka sepanengnya setengah stress. Bergegas Chandra pulang ke tempat tinggalnya di Amsterdam, dan beruntung Amsterdam tak semacet Jakarta Chandrapun kembali lagi dengan waktun yang unpredictable. Hanya dengan waktu 20menit saja Chandra sudah kembali lagi ke airport atau bandara Amsterdam. Dan berlari menuju ke check-in counter KLM lagi untuk melanjutkan proses check-in. Mereka berduapun selesai check-in dan menuju ke immigrasi di Amsterdam untuk stam passport keluar. Setelah itu menuju ke ruang tunggu KLM. Karena Chandra berfikir akibat ketinggalan passport mengakibatkan dirinya terlambat maka Chandra berusaha merangsak di security checksebelum masuk ke ruang tunggu, padahal antrian disana sangatlah ramai tapi Chandra sama sekali tak menghiraukannya. Sedang Ridwan dia tetap berjalan santai karena dia tau waktu boarding masih lama sekitar 30menit lagi sehingga Ridwan tetap mengantri sesuai dengan antrian. Chandrapun berteriak, “Wan lo ngapain antri disana, nanti kita terlambat lo Wan”. Tapi Ridwan memilih tetap mengantri, dan Chandapun di cegat oleh pihak security bandara karena dianggap melanggar aturan yang ada disana, dimana setiap pengguna jasa bandara harus mengikuti aturan yang berlaku, salah satunya adalah antri. “mohon maaf bapa mau kemana?”. Kata sang petugas security. Pak saya terlambat ni pa, kalau saya harus mengantri sepanjang ini bagaimana mungkin saya bisa terbang, memang kalau saya terlamba bapa mau ganti tiket saya?” teriak Chandra. “ Oh tentu saja tidak pa, coba saya lihat boarding pass bapa”. Kata petugas security. “Nih liat aja pa”. Saut Chandra dengan ketusnya. “Mohon maaf pa, bapa boarding atau mulai masuk ke dalam pesawat masih 30menit lagi jadi bapa harus tetap mengantri dulu dari belakang sana pa”. kata petugas security. “Oh masih lama ya pa,ok”. Dengan menunduk Chandrapun kembali ke antrian paling belakang, sedangkan Ridwan sudah selesai pengecekan. Dan menunggu Chandra yang masih terselip di antrian. Tak beberapa lama 10menit kurang lebihnya Chandrapun selesai pengecekan dan Chandrapun menggerutu sendiri. “Si ridwan emang kurang ajar, sudah tau boardingnya masih lama eh ga kasih tau gw kan gw jadi antri lebih lama lagi”. Kata Chandra dalam hati.

                Sesampainya di ruang tunggu, ternyata begitu penuh sesak ruang tunggu itu. Masih beruntung mereka berdua mendapat tempat duduk. Sehingga masih bisa beristirahat sejenak setelah perjalanan dari check-in counter menuju ke ruang tunggu. Tiba-tiba ada seorang bu yang sedang mengandung menghampiri Chandra, “ maaf mas bisakah saya duduk di bangku ini, saya sangat leih jika harus berdiri lebih lama”. Kata ibu tadi. Chandrapun melihat dengan sinisnya dari atas kepala hingga ujung kaki. Dan sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun, dia malah terus saja asyik memainkan game yang terus digenggamnya. Sontak Ridwan yang berada di samping Chandra langsung berdiri dan mempersilakan ibu tadi untuk duduk. “Terimakasih banyak ya mas, akhirnya saya bisa dengan nikmat duduk setelah berjalan dari check-in counter ke ruang tunggu”. Kata ibu tadi mencoba mengucapkan terimakasih. Dengan senyuman Ridwan menyampaikan sama-sama.

                Waktu menunggupun habis, pengumuman dari petugas di ruang tunggu untuk segera memasuki pesawat mulai gemuruh terdengar. Mereka berduapun segera menuju ke dalam pesawat dan duduk di bangku masing-masing. Mereka taruh barang bawaan mereka ditempat yang telah disediakan dan merekapun mulai mengencangkan sabuk pengaman karena crew pesawat sudah menginstruksikan untuk mengenakannya. Tak banyak perbincangan yang ada walaupun mereka berdua berada saling bersebelahan. Ridwan yang asyik membaca buku dan perlahan-lahan dinina bobokan olehnya sedang si Chandra masih saja asyik menggunakan telepon genggamnya hingga ada pengumuman untuk segera mematikan telepon genggam yang artinya take off segera dilaksanakan. Perlahan setelah lepas landas dari Amsterdam mereka berduapun terlelap dalam tidur hingga begitu mereka membuka mata mereka berdua sudah berada di transit area yaitu Kuala lumpur. Hanya menunggu beberapa saat kemudian merekapun lepas landas kembali bertolak segera menuju negeri tercinta Indonesia.

                Sesampainya di Indonesia mereka berduapun bergegas keluar dari pesawat untuk segera menuju ke pemeriksaan passport di imigrasi. Setelah beberapa antrian tialah giliran mereka berdua dan akhirnya dengan resmi mereka telah mendarat di tanah Indonesia kembali. Merek aberduapun segera menuju ke pengambilan bagasi dan mengambil bagasi masing-masing segera menuju ke pul damri. Karena mereka masih ada lanjutan lagi dari Jakarta menuju ke kampung halaman mereka. Merea berdua menggunakan alat transportasi darat yaitu bus dengan nama damri dari Soekarno Hatta Internasional Airport ke stasiun kereta Gambir. Waktu sudah menjelang malam karena waktu mendarat dari pesawat adala 17.25 dan mereka harus mengejar kereta jam 20.45 malam. Dalam hati mereka berdua saling memohon kepada sang Maha Segala-galanya agar jalanan di Jakarta lengang sehingga mereka berdua tak terjebak macet dan juga kehilangan tiket dari Jakarta ke Bandung .

                Sampailah mereka berdua di gambir, dengan segera seperti biasa Chandra langsung saja merangsak ke dalam antrian di counter pengecekan di stasiun. Padahal antrian masih lumayan panjang. Dia merangsak dengan gagahnya layaknya PT KAI adalah milik bapa moyangnya. Segera security yang melihat kegaduhan dan ketidakkondusifan ini segera langsung mendekati Chandra dan menanyakan hal apa yang membuat Chandra tidak mengantri dan menyerobot hak-hak orang lainnya. “Mohon maaf pa, bapa harusnya mengantri dahulu dari sebelah sana pa”. Kata petugas security mencoba menegur dengan pelan. “Wah bapa ngga tau kalo saya bisa terlambat kalau harus mengantri sepanjang ini pa”. Chandra menjawab dengan lantangnya, sedang Ridwan berada di antrian sebelahnya. Bukan tak ingin mengingatkan, karena di ingatkan atau tidak Chandra selalu berkepala batu walau salah sudah jelas terpampang di dirinya. “Coba saya lihat dulu pa tiket bapa”. Kata security yang kembali dengan sabar melayani Chandra. “Oh bapa ini mau pergi ke Bandung ya pa, antriannya di sebelah sana pa bukan sebelah sini, disini antrian untuk menuju ke Jogjakarta, lainkali bisa membaca terlebih dahulu pa plang yang ada di atas sana sehingga tak terjadi salah keberangkatan pa”. ucap security dengan nada pelan penuh pengharapan. “Udah sini mana tiket saya, malah coba ceramahin saya, saya juga tau pa, mana sini tiket saya huhhh”. Saut Chandra dengan kesongongannya. Sedang Ridwan asyik membaca buku sambil mengisi kekosongan yang ada yaitu menunggu antrian. Bergegas Chandra menghampiri, “Ah lo Wan, gila lo mah ya, gw salah masuk antrian lo biarin aja lo Wan, emang kayaknya lo sentiment ama gw ya, lo kaga mau kan kalo gw bisa pulang kampung”. Keluh Chandra pada Ridwan. “Bukan begitu Chand, bukannya ngga mau ngingetin, gw mau coba ngingetin eh lo nya dah keburu nyrobot antrian orang dan ahirnya lo kena tegor kana ma security?”. Jawab Ridwan mencoba dengan pelan menjelaskan. “Ah lo mah bisaan aja cari alesan lo Wan, sue bener gw ni ah”. Timpal Chandra dengan hati yang masih mendidih akibat berseteru dengan security.

                Tut tut tuuuuuuuttttttt, bunyi klakson kereta sudah terdengar pertanda kereta siap untuk segera diberangkatkan. Mereka berduapun sudah duduk dengan manisnya di tempat duduk masing-masing. Dan tak disangka Chandra merasa ada yang mengganjal diperut sehingga harus menuju ke kamar pemuangan dengan segera. Dengan bergegas diapun mencoba sedikit berlari karena takut keluar tidak pada tempatnya. Tak disangka pramugari kereta sedang berada dilorong juga untuk melaksanakan pekerjaannya yaitu menyajikan makanan dan Chandrapun menabrak Pramugari ini dan sontak semuanya berantakan, bukannya membantu membereskan tapi malah Chandra terus saja lari menuju kamar pembuangan. Ridwan yang ada didekat posisi kejadian sontak dengan reflek langsung ikut membereskan dan juga membersihkan kekacauan yang sudah dibuat oleh Chandra, iapun tak lupa meminta maaf kepada pramugari kereta itu atas ketidaksengajaan Chandra sehingga mengakibatkan kekacauan. “Mba maafkan teman saya ya mba, maafkan dia pasti tidak sengaja mba, sekali lagi maafkan teman saya ya mba”. Kata Ridwan mencoba meminta maaf dengan memelas. “ia mas, tidak apa-apa, ia mungkin teman mas sedang terburu-buru dan tidak melihat ada saya yang sebesar ini mas”. Sahut sang pramugari mencoba membalas permintaan maaf yang dilontarkan oleh Ridwan. “Udah mas, biar saya aja yang membereskan semua ini mas”. Kata pramugari yang merasa tak enak karena dibantu oleh penumpangnya. “Udah ngga apa-apa mba, kan ini juga akibat dari kesalahan teman saya mba ngga apa-apa saya bantuin mba”. Kata Ridwan sambil berkeras untk terus membantu mba pramugari tadi.

                Setelah kembali dari kamar kecil, layaknya bos yang kini kian lupa akan budaya dan adat yang telah membesarkannya dia memanggil mba oramugari kereta sekenanya saja dengan berteriak dan gelagat layaknya bos. “ mba mba, sini-sini mba, saya lapar ada menu apa saja mba disini??” kata Chandra dengan ketusnya. “Kami ada banyak menu pa, ada nasi goring, berbagai olahan ayam, dan berbagai jus juga ada pa”, jawab mba pramugari kereta sambiln dengan sabar menunjukan kertas menunya. “Oke gw mau nasi goring aja sama jus jeruk ya, yang pedas dan jangan pake lama ya”. Kata Chandra dengan nadanya yang makin menjadi-jadi. “Baik pak, ditunggu sebentar ya”. Jawab mba pramugari kereta dengan lembutnya.

                Kurang lebih 15 menit makananpun datang, dan dengan segera Chandrapun menghampiri makanan dan langsung melahapnya, dengan kecapan kecapan layaknya binatang dan bukan makanan yang menuju ke mulut tapi mulut yang mendekati mulut. Hal inipun menjadikan Ridwan merasa terganggu dengan kecapan yang berasal dari mulut. Dan Ridwan berusaha dengan segera menasehati Chandra agar pada saat makan tak timbulkan bunyi dari kecapan-kecapan mulutnya. “Ndra, kamu kan manusia terpelajar, ko cara makanmu sampe berbunyi gitu, itu kan kurang enak dilihat dan di dengar Ndra”. Bukannya mengikuti arahan dari Ridwan ini malah balik memaki Ridwan si Chandra. Brug, suara gebragan tangan Chandra ke meja terdengar begitu kerasnya, sehingga penumpang lainya sampe menolehkan kepala kea rah mereka berdua. “Makan makan sendiri, gw bayar bayar duit gw sendiri, kenapa jadi lo yang repot? Kenapa jadi lo yang ribet, kalo lo kepengin tinggal bilang ntar gw beliin, gausah repot-repot nyeramahin gw, gedeg juga lama-lama gw ama lo dasar kampungan, ndeso lo”. Dan Ridwan hanya tersenyum, tak keluar sepatah katapun terucap dari mulut Ridwan, hanya seyuman pertanda kekecewaan.

                Begitu makan selesai, Chandrapun langsung menaruh piring dan lain-lainnya di bawah meja dan angsung kembali berkutat dengan smartphonenya. Music terlihat dinyalakannya dan dicolokannya kabel earphone ke kedua kupingnya, bersiap menuju kea lam bawah sadarnya dan membangun berbegai macam cita-cita disana.

                Layaknya manusia biasa yang melakukan perjalanan panjang, rasa cape pasti sudah menjadi hal yang lumrah, tentu saja tak beselang lama hanya butuh 5menit untuk mendengarkan lagu tidurnya Chandra langsung terkapar sambil bernyanyi dengan suara cadas mirik kodok miliknya, kakipun mulai menuju kemana-mana dan tak tau arah tempatnya.

                Berdendang dengan indahnya suara-suara cadas darimulut Chandra, sedang Ridwan masih dengan bukunya yang tek terlepaskan sampai mata tingga 5 watt tersisa dan sama-sama mereka berdua tertidur dan saling bersautan lagu cadas dalam alam bawah sadarnya.

                Perjalanan kereta lancer tanpa ada kemacetan yang berarti, hahaaa iya namanya juga naik kereta mana ada kemacetan disana, pasti yang ada lancar jaya .

                Dan akhirnya pemberhentianpun dicapainya, petugas cleaning mulai bertugas dan merea berdua masih dengan indah dan merdu saling bersautan dalam orchestra lagu kodok ngoreknya. “Mas-mas, bangun, ini keretanya sudah sampai di Bandung, mau turun apa tidak??” Usaha tukang bersih-bersih kereta untuk membangunkan dua sejoli ini. Ridwanpun terbangun dan langsung sadarka diri bahwa dia sudah sampai di kota tujuannya, sedang Chandra langsung melompat dan siaga dengan pencak siletnya karena terkagetkan olehya. “Makasih banyak ya pa sudah bangunin saya”. Kata Ridwan dengan senyum sumingahnya mengingat keluarganya pasti sudah menanti didepan pintu kedatangan kereta. Sedan si Chandra langsung membereskan segala macam barang bawaannya, kemudian langsung menuju ke pintu keluar.

                Mereka berduapun menuj ke area kedatangan kereta di stasiun Bandung dan langsung menghampiri masing-masing keluarga mereka. Ridwan langsung sembah sungkem e bapak dan ibunya kemudian lagsung menuju ke mobil untuk menuju ke rumah tercinta. Sedang Chandra masih menanti kehadiran keluarganya.

                Selang beberapa menit keluarga Chandra datang dengan senyum indahnya, tergambar bapa tua dan seorang ibu berusia sekitar 50 tahunan menghampiri,   Chandrapun mencium tangan bapa dan ibunya kemudian menyerahkan tas yang dibawanya kepada bapaknya, menuju ke taksi yang telah di carter oleh bapak ibunya special untuk kepulangan anak tercintanya. Merekapun pulang menuju rumah tercintanya dengan sumringah menanti cerita dari anak paling membanggakannya.

  • view 19