Baru Disini

Afif Kodriyanto
Karya Afif Kodriyanto Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Juli 2017
Baru Disini

Selamat petang wahai semesta alam, mentari kini tengah beristirahat di ujung barat, walau sebenarnya tak sepenuhnya beristirahat. Dia terus saja bergerak, detik demi detik hingga esok kita kan berjumpa kembali dengannya di ufuk timur. Sudah kali ya basa basinya, heheee. Oke perkenalkan nama saya Afif Kodriyanto, saya berasal dari Purwokerto, lebih tepatnya si pinggiran Purwokerto. Kenapa? Ya walau masih sama saja di wilayah Purwokerto tapi di ujung baratnya Purwokerto. Tepatnya di desa Pejogol kecamatan Cilongok kabupaten Banyumas. Saya berasal dari sana dan asli lahir disana juga. Keturunan asli sana juga, ayah ibuku juga asli orang sana juga. Jadi sama sekali bukan ngapak-ngapakan atau dingapak-ngapakin seperti yang sekarang ini lagi ngetren hahhaa. Saya njebrol di desa Pejogol pada tanggal 10 maret 1994, yang artinya sekarang berusia 23 tahun, lewat lumayan banyak hehe. Saya sekolah mulai dari SD sampai SMA di Purwokerto, SDnya di Pejogol, SMPnya di Cilongok, SMAnya di Purwokerto. Baru pada masa kuliah saya berkelana ke Jogjakarta. Dan dari Jogjakarta sala melanjutkan berkelana ke ibukota yaitu Jakarta. Bukan karena keinginan, namun keadaan yang mengantarkanku ke ibukota yang katanya kejamnya mengalahkan ibu singa. Riwayat sekolah saya biasa-biasa saja tidak ada yang spektakuler, dan normal-normal saja mulai dari SD sampai SMA ya TK ga aku sebut karena memang aku tidak pernah TK. Ehh pernah aku masuk TK, walau hanya bisa bertahan sehari saja. Berantem waktu itu dengan sesama anak TK, gara-garanya rebutan main komedi putar yang sebenernya bikin kepala gleyengan. Kita sama-sama memperebutkan kemudi, hingga kemudipun diambil alih oleh teman yang lain karena kita berdua sibuk beradu pukul. Setelah kejadian itu aku tak lagi mau pergi ke TK, karena pikirku dulu TK ga ada pelajarannya, yang ada sebentar-sebentar main dan sebentar-sebentar menyanyi. Aku pikir sekolah tak sebercanda itu, hehe kata Sujiwo Tejo sering bercanda. Akupun ikut sodara sepupuku ke SD, disana lebih asyik, ada upacara bendera yang selalu memberikanku semangat. Ketegasan para petugasnya yang selalu menjadi pemacu semangatku. Pidato kepala sekolah, dan juga pembacaan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang selalu kunanti, belum lagi keheningin mengheningkan cipta untuk mengenang arwah para pahlawan yang telah gugur mendahului kita, ohhh hikmatnya diguyur lagi dengan lantang pembina upacara membacakan ke lima sila dengan diikuti seluruh peserta upacara rinduku akan hal itu. Ya salah saty hal yang membuatku semangat sekolah adalah hari senin dimana selalu ada upacara pengibaran bendera. Terbesit dibenakku jika aku besar nanti aku ingin jadi salah satu petugas upacara tadi. Hahaha walau itu hanyalah mimpi belaka. Ya aku akhirnya sekolah di SDN 2 Pejogol, mulai dari kelas satu sampai dengan kelas enam aku tak pernah menjadi bintang kelas, rangking 10 aja aku dah bangga. Tapi bersyukur aku tak pernah merasakan nunggak atau tinggal kelas karena dianggap belum mampu menuju kelas yang lebih tinggi. Banyak kegiatan juga yang aku ikuti waktu SD, mulai dari kegiatan pramuka, dokter kecil, lomba lompat jauh dan masih banyak lagi yang lainnya. Waktu itu aku ikut acara pramuka yang bertajuk pesta siaga, waktu itu acara berada di desa Cikidang tepatnya dilapangan Cikidang. Sebelum ikut acara ini, reguku dilatih untuk menyelesaikan apa-apa saja kiranya rintangan yang akan kami hadapi dalam acara pesta siaga ini. Mulai dari berlatih sandi morse, berlatih bunyi kentongan, berlatih olahraga dan macam-macam lainnya. Yang paling kuingat waktu itu, aku menjadi ketua regu, dan waktu itu lomba yang dihadapi adalah tentang bunyi kentongan. Kalau kita dikampung pasti disetiap pos kamling ada kentongan bukan? Dan pasti disana ada tanda kalau kita pukul sekali berarti apa, dua kali berarti apa, kita pukul sebanyak-banyaknya berarti apa pasti di pos kamling kampung ada tanda ini. Bukannya mendengarkan berapa ketukan kentong yang dibunyikan oleh panitia, ini saya malahan minta kentong sama kaka pembina saya waktu itu kalau saya tidak salah adalah ibu Ning. Dan yang buat aku ketawa dikemudian hari adalah aku baru mengetahui kesalahanku pas aku masuk SMP. Itu salah satu yang sangat aku ingat, dan selanjutnya ada acara dokter kecil, yang pernah sekolah SD pasti pernah ngalamin, disini setiap siswa disuruh oleh gurunya untuk membeli baju putih-putih layaknya dokter kemudian topi juga yang berwarna putih seperti dokter. Yang buat saya lumayan kesel waktu itu saya hanya pake baju itu selama sehari acara itu saja, padahal bapak saya nyari baju itu sampe muter-muter ke pasar dari pagi sampe sore karena tidak semua toko baju menjual baju ini. Tapi nilai positif yang saya ambil waktu itu adalah pak dokter yang asli memberitahu cara menggosok gigi yang benat seperti apa. Bukan dari kanan ke kiri tapi yang benar dari atas ke bawah. Sampai saat ini aku masih mengingatnya, dan pertolongan pertama pada luka bakar adalah bukan menempelkab odol di luka supaya dingin tapi dengan mencucinya dengan air hangat setelah itu baru menggunakan alkohol dan dibungkus dengan kain kasa. Jadi cara orang desa selama ini adalah salah besar karena menggunakan odol atau pasta gigi pada luka bakar. Memang menimbulkan rasa dingin karena sebaian besar pasta gigi berasa mint sehingga seolah-olah luka kita terasa dingin padahal ini adalah cara yang salah. Waktu itu penyampai materinya adalah bapak Dr Nugroho. Dokter yang sudah terkenal se daerahku. SD selesai aku masuk ke SMP. Aku si sebenarnya ga terlalu perduli mau SMP dimana, tapi kata orang yang lebih tua kalo smp du smP negeri bayarannya murah dan juga bagus, ya walaupun sebenarnya aku gatau apakah benar begitu atau tidak. Dari sanalah makanya aku masuk ke SMP N 1 Cilongok. Katanya si ini SMP bagus dan murah pula, ya saya bersyukur saya bisa sekolah disana dan diterima disana. Awalnya saya bingung, ini jarak dari rumah ke sekolah jauhnya kaga ketulungan. Aku harus menempuh jalan kakidahulu dari rumah ke jalan besar selama 30 menit, setelah itu au masih harus naik lagi angkutan bus kota atau biasa aku menyebutnya mikro, karena berbentuk bus namun versi kecilnya. Dan konyolnya aku dulu pun tidak tau mikro itu apa, setelah aku SMP baru aku tau ternyata mikro itu kecil makanya angkutan itu disebut sebagai mikro. Dan yang paling aku sebel pas masuk SMP itu karena ada pelajaran bahas Inggris, bagaimana aku ga sebel, aku belajar selama enam tahun di sekolah dasar sama sekali tidak ada yang namanya pelajaran bahasa inggris, la ini begitu masuk ada pelajaran bahasa Inggris siapa yang ga senewen coba. Dan yang buat aku semakin kesal teman-temanku yang lain di waktu SD mereka sudah belajar bahasa Inggris sehingga mereka pasti lebih jago daripada aku dimata pelajaran bahasa Inggris ini. Waktu itu guru Bahasa Inggris Bu Ari, semoga aku tidak salah menyebutnya. Sabar sekali orangnya, walaupun aku ga ngerti apa yang diomongin. Kemudian ada lagi pelajaran PPKN, ini guru ku yang sampe sekarang aku masih ingat, Ibu Suprapti namanya, beliau ini galak tapi ya ga galak. Beliau pulalah yang berikan ingatan secara terus menerus bahwa pasal 28 UUD 1945 adalah berisi tentang hak mengemukakan pendapat. Cara mendidik yang benar benar mendidik. Di SMP ini aku banyak sekali mengikuti acara. Berbagai macam lomba, terus berorganisasi mulai dari Pramuka, OSIS, dan PMR aku juga mengikutinya. Lomba di Pramuka ada lomba tingkat atau biasa disebut dengan LT, waktu itu aku mengikuti LT2, artinya lomba di tingkat ke dua yaitu di tingkat kecamatan, artinya seluruh peserta adalah SMP yang ada di kecamatan tersebut. Saya ada dikecamatan cilongok artinya seluruh SMP sederajat yang ada di kecamatan cilongok mengirimkan masing-masing satu regu putra dan satu regu putri.
Reguku bernama Banteng, dinerikan nama Banteng karena selain kuat tangguh gagah, ada makna lain selain itu. Banteng pernah jaya di tahun lampau sebelum aku mengikuti LT sekarang ini, dengan harapan bisa mengangkat piala lagi dengan nama regu Banteng. Sedang regu perempuan adalah regu Lyli, regu laki-laki diidentikan dengan binatang sedang regu perempuan diidentikan dengan kecantikan bunga. Satu regu ada 10, Aku, Aan, Isnen, Miko, Amin, Dasirun, Catur, Eka, Ramdan, Nanang. Kenapa aku selalu mengingat nama-nama ini? Karena bersama merekalah aku mengerti jiwa korsa, mengerti arti kebersamaan, mengerti perjuangan jika yang satu tak ada akan terasa pincang. Hari-hariku kuhabiskan bersama mereka, ku habiskan untuk berlatih dan menempa diri untuk mengjadapi Lomba Tingkat ini. Ya walau hasil akhir tak bisa kembalikan tropi juara ke pangkuan kami namun selalu yang ku ingat adalah kebersamaan bersama mereka yang ajarkan agar tetao kuat dan tegar dalam segala macam keadaan. Satu hal yang unik kala itu, waktu itu ada lomba baris berbaris di LT tadi, saking semanngatnya teman yang ada dibelakangku menginjak sepatuku, walhasil sepatuku terbang tinggi ke angkasa raya yang penuh dengan kebiruan langit di lapangan Sokawera tempat ku berlaga. Satu yang kuingat kata pelatih, Mas Heru namanya, apapun yang terjadi walau nyawa sekalipun melayang ketika masih berada di medan laga tetap lanjutkan apapun yang sedang kalian kerjakan sampai tuntas titik darah penghabisan. Jangan hiraukan apapun, fokus pada apa yang sedang kalian kerjakan. Walhasil kami mendapat samir penghargaan sebagai PBB terbaik di lomba baris-berbaris ini. Kemudian ada kegiatan di PMR yaitu Jambore yang dilaksanakan di daerah Banyumas nama desanya aku lupa. Disana diadakan lomba, banyak sekali hal yang dilombakan. Kami para peserta mendirikan tenda, dan salah satu lombanya adalah membuat dragbar atau tandu. Aki bangga pernah menjadi yang tercepat membuatnya walaupun bukan yang terbaik karena kekencangannya yang kurang. Dan ada yang menarik kala itu, kala itu hujan turun dan kami para peserta memang mengibarkan bendera merah putih di depan masing-masing tenda. Begitu hujan turun sontak hatiku tak rela rasanya sang dwi warna terkena rintikan air hujan, maka dari itu aku berinisiatif untuk segera menurunkan sang dwi warna dengan maksud untuk mengamankan kesuciannya. Akhirnya yang lainpun ikut melakukannya dan vasah kuyup kujadinya. Namun setelahnya aku menuju ke perapian untuk menghangatkan badan dan kembali bersenda gurau bersama karibku disana. Kemudian ada lagi acara Jelajah galang yang dilaksanakan di SMA N 3 Purwokerto. Ini adalah cikal bakal kenapa aku memilih sekolah di SMA N 3 Purwokerto. Karena jegal ini atau jelajah galang ini membawaku ke tertarikan terhadap sekolah ini. Begitu bejibun piala yang ada disana, wah pikirku itu semua adalah prestasi yang sungguh luar biasa. Akhirnya setelah tamat ku dari SMP akupun langsung mendaftarkan diri ke SMA N 3 Purwokerto. Ditemani bapakku dihari pertama aku mendaftar, dan di dua hari berikutnya aku disuruh bapakku menengok hasilnya sendiri. Walau clingak clinguk tak ada teman disana tapi aku tak perduli yang penting aku masuk atau tidak di dalam sekolah ini. Tuhan berikan jawabannya secepat kilat, aku diterima disekolah ini dan aku menjalani Masa Orientasi Siswa yang aku tak tau maksud dan tujuannya untuk apa. Segalanya diberikan waktu, segalanya diberikan batasan, namun satu yang aku tak oernah mengeluh. Adalah ketika aku disuruh untuk ikut baris berbaris, waktu itu baris berbaris merupakan nyawaku. Dirumahpun walau aku tak sedang ngapa-ngapain pasti aku terus melatih baris-berbarisku. Sempat terlintas inginku menjadi seorang tentara namun apa daya. Ya baris berbaris, namun sebenarnya aku masih bingung untuk apa aku disuruh baris berbaris setiap hari, eh selidik punya selidik ternyata para senior sedang menjalani seleksi untuk selesi kembali di kabupaten Banyumas sebagai Paskibraka atau Pasukan Pengibar Bendera Pusaka kabupaten Banyumas, dan alhamdulillah aku terpilih sebagai salah satu wakil diantara 4 wakil lainnya untuk seleksi di Kabupaten Banyumas. Setelah menjalani serangkaian test selama dua hari tibalah pengumuman di siarkan, dan alhamdulillah akupun beserta keempat temanku masuk semua mewakili SMA N 3 Purwokerto menjadi petugas Pasukan Pengibar bendera Pusaka kabupaten Banyumas tahun 2008. Ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa bagiku, karena ibu dan bapakku di undang secara langsung oleh pemerintah kabupaten Banyumas untuk menghadiri upacara Hari Kemerdekaan RI di Gor satria Purwokerto. Tentu saja ini menjadi prestasi paling membanggakan buat bapak ibuku. Setelah pencapaian itu, aku merasa masih belum bisa mengalahkan pencapaian besar itu hingga aku akhirnya selesai sekolah atau menamatkan sekolah di SMA N 3 Purwokerto. Setelah tamat aku merantau ke Jogjakarta untuk mengambil sekolah penerbangan, dan waktu itu aku mengambil jurusan sebagai seorang pramugara atau cabin crew pesawat. Hingga pada suatu hari di bulan ke empat aku berada di Jogjakarta ada sebuah perekrutan ground handling agent. Dan akupun mengikutinya, dan akupun diterima kerja di salah satu perusahaan Ground Handling ternama yaitu Gapura Angkasa. Namun aku ditempat kan di Ibukota yaitu Jakarta, ya tepatnya si perbatasan antara Tangerang dan Jakarta barat. Akhirnya aku pindah ke Jakarta dan memulai hidup di dalam kotak sempit pengap penuh kepanasan dan kebisingan yang tiada henti. Hiruk pikuknya selalu menjadi daya tarik bagi setiap pendatang baru namun jika sudah kenal lama dan akrab dengan Jakarta lama kelamaan akan muak dengan sendirinya. Ke egoan penghuninya, belum lagi ke angkuhannya dan juga kesenjangannya, walau tidak semua tapi rata-rata aku rasakan sepperti itu. Aku berfikir diawal ku bekerja, pikirku bekerja di lingkungan penerbangan akan berikan padaku gaji yang tinggi. Namun itu hanyalah mimpi disiang bolong, harapan hanyalah harapan yang kosong tak ada apa-apanya. Ternyata aku adalah pihak ke tiga dari PT besar Gapura Angkasa. Dengan gaji yang tak seberapa kucoba nikmati saja kalau kurang ku minta lagi sama orang tua tanpa berpikir apakah mereka kekurangan tau tidak taunya aku bisa mati kalau tak dikasih olehnya. Ini kota keduaku setelah Jogjakarta, di Jogja aku masih makmur karena aku tak perlu berpikir besok makan apa, tapi begitu ke Jakarta semua jalan pikiranku berubah, yang tadinya tak pernah takut mau makan apa di warung kini memilih menu paling sesuai sehingga nafas bisa terus berhembus dengan harapan bisa lebih lama lagi menghirupnya. Pelahan-lahan berkat jasa buruh yang terus berdemo di 1 may setiap tahunnya aku mulai merasakan keberhasilan buruh dalam berdemo. Aku tak ikut berdemo tapi gajiku ikut naik layaknya buruh yang mati-matian turun ke jalan. Terimakasih banyak buruh Indonesia yang telah perjuangkan hak yang harusnya diterima, sehingva aku bisa ikut merasakannya. Mulailah aku menuju ke kehidupan gelap, segelap-gelapnya. Keluar malam, ngeluyur sana ngelutur sini dan tak ada lagi ketenangan dihati. Tak ada lagi perjuangan yang harus kubeli, dan tak ada lagi kebersamaan bersama teman-teman yang sangat aku sayangi. Aku menjadi apa yang dulu aku benci, makhluk-makhluk penuh dengki, dengan individualisme tinggi dan mengaku dirinya paling tinggi padahal tak jangkau tuk berada disana. Terus menerusku tak ada cerita yang dapat ku ukir, hanya harap agar terlupa segala kegelapan itu. Sampai aku tak lagi kuat untuk menahannya sendiri, setelah 3 tahun lebih ada di PT Gapura aku merasa kejenuhan sangat menyelemutiku. Omongan sana sini dari patner kerja semakin tak enak didengar sehingga kuputuskan untuk segera meninggalkan pekerjaan dan pulang ke kampung dengan damai. Bukan kedamaian yang kudapati, hanya kekecewaan ibu yang susah sekali ku obati. Aku kembali pergi menuju rintihan Ibukota yang sama sekali aku tak mengerti akan kemana akau pergi. Namun kuberanikan diri untuk tetap pergi, dengan bekal ku sudah menyebar segala bentuk lamaran pekerjaan di Purwokerto mauppun di Jakarta. Sempat aku diceramahi oleh manager sebuah lapangan pekerjaan, kalau kau tak bisa apa-apa jangan kau pilih-pilih pekerjaan, jangan kau hitung-hitung pekerjaanmu karena dengan begitu yakinlah kau tak akan pernah maju. Dari sana aku belajar banyak hal, aku kembali membuka hati dan pikiranku apakah yang harus aku lakukan?? Hingga pada suatu hari ada koran dan disana ada lowongan dan diutamakan yang bisa bahasa Mandarin, bertempat di Bekasi. Aku datangi kesana, walau aku tak fasih berbahasa Mandarin namun aku nekat mendekati dan melamarkan diri untuk bekerja di sana. Benar saja pemiliknya memang orang Taiwan dan sangat menyukai kehadiranku dan setelah dilakukan interview akupun diterima kerja disana dengan berbagai fasilitas seperti mes dan juga makan yang sudah disediakan. Namun waktu aku jalan kembali pulang menuju tempat tinggalku di Jakarta eh Tangerang aku mendapat telepon dari PT Jasa Angkasa Semesta yaitu sebuah perusahaan yang bergerak di bidang hasa, tak beda jauh dengan PT Gapura Angkasa, PT JAS juga ground handling yang mensupport banyak maskapai asing yang ada di Indoneaia terutama yang ada di Jakarta. Akupun mengiyakannya dan aku bingung harus bicara apa ke orang Taiwan tadi karena sebenarnya aku juga kurang sreg dengan pekerjaan yang ada di Bekasi tadi. Waktu itu 30 januari 2015, dan aku menuju ke interview JAS tanggal 31 jauari 2015. Aku interview dengan Mba Adjeng dan Mas Rendy. Alhamdulillah Tuhan memberikan kelancaran, tak sedikitpun pertanyaan aku lewatkan. Setelah itu sampai bulan maret tak ada kabar lagi, hingga pada tanggal 10 maret aku diberikan kabar agar hari esoknya bisa interview dengan user. Tanggal itu adalah tanggal tertekeren yang pernah ku ingat, itu kado terindah dari Tuhan. Setelah itu interview dilaksanakan dan memang terbata-bata aku dalam menjawab pertanyaan terutama oleh salah satu user aku sangat terbata sekali menjawab pertanyaan darinya. Namun Tuhan berikan hadiah itu terus dan terus, setelah selesai interview demgan user akupun lanjut ke tes psikotes, kemudian tes terakhir adalah medec. Medec aku waktu itu masih berada di Purwokerto karena aku masih mengambil persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya adalah membuat NPWP. Sore itu mendapatkan pemberitahuan untuk medec dan aku masih di Purwokerto, aku bergegas bersiap untuk langsung menuju ke Jakarta. Aku naik bus dan sampai di Jakarta pukul 5 pagi dan dengan lemas karena diperintahkan untuk berpuasa dahulu aku pulang ke tempat tinggal di Tangerang kemudian langsung bergegas menuju ke rumah sakit di daerah Sunter Jakarta untuk medec. Aku naik taksi kesana karena aku sama sekali tak tau jalanan Sunter. Sesampainya disana antrian sudah berjubel, diperiksa urin, tes ino dan itu, sampai di ambil darah 2botol kecil kemudian akupun pulang. Seminggu setelahnya aku mendapat kabar bahwa aku diterima kerja di PT Jasa Angkasa Semesta. Aku tanda tangan kontrak pada tanggal 8 april 2015, dan hingga kini aku masih bekerja disana menghandle pesawat Oman Air, KLM, dan Eva Air sebagai petugas Check-in Counter. Inilah aku dengan segala macam kekuranganku. Dan barang siapa yang mengandalkan Tuhan dalam setiap urunnya yakinlah Tuhan akan mempermudah urusannya. Barang siapa sebaliknya, yakinlah Tuhan tak akan berlaku sebaliknya terhadap kita. Karena Dia adalah sebaik-baik penolong, dan tak akan pernah biarkan hambanya lalai.

  • view 75