Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 28 Juni 2016   21:10 WIB
Susah Bangun Pagi

Yanti terduduk diam di depan kamarnya. Ia bersungut-sungut dan mendengus sebal. Wajahnya nampak berantakan dan berminyak. Rambutnya apalagi, sudah seperti habis terkena angin kencang.

“Ngapain sih, Bu. Kan, rumah tetap aku bersihkan walau bangunku nanti jam delapan,” ungkap Yanti, masih menggerutu.

“Bangun siang itu nggak baik, Nak. Rejekimu dipatok ayam nanti,” ujar Ibu, ia nampak sedang merapikan jilbab coklatnya. Beberapa saat lagi ia harus sudah siap di kantor, menjalani apel pagi. “Ayo, antarkan ibu sekarang juga,” ujar Ibu, tegas.

Merasa tak punya pilihan lain, Yanti pun segera bergegas menuju kamar mandi. Cukup sepuluh menit waktu yang ia butuhkan, agar penampilannya nampak lebih baik. Yanti mengenakan jaket merah andalannya, dipadukan dengan jilbab instant dari Bandung yang sudah ia beli sejak setahun yang lalu.

Dengan mata masih menyipit karena ngantuk, ia membonceng ibunya dengan menggunakan Supra Fit.

###

Sudah sejak dua bulan ini, Yanti tidak bisa bangun pagi. Ia berdalih, setiap malam kesulitan untuk tidur. Ia kemudian menghabiskan malam dengan youtube-an, atau sekedar scrolling akun instagram pribadinya. Seringnya, ia tertidur saat jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Tidak adanya aktivitas berarti di waktu pagi hari membuat pikiran Yanti mudah kalut. Apalagi saat malam. Ia semakin sulit tidur lebih awal.

Bangun untuk sekedar sholat subuh masih bisa, meski ia melafalkan ayat-ayat dengan mata separuh terpejam. Tetap bangun setelah sholat selesai dilakukan, itu yang sulit sekali bagi Yanti.

“Katanya ingin segera dapat jodoh dan karir bagus, bangun pagi itu salah satunya, Dek,” ujar Ibunya, saat Yanti lagi-lagi tidak bisa bangun pagi satu bulan yang lalu.

Yanti diam saja. ”Siang kamu tidur lagi tidak apa-apa. Ibu cuma meminta setelah sholat subuh, kamu tidak tidur lagi,” lanjut Ibunya.

Yanti memilih masih diam. Ia sebenarnya masih berpikir, apa korelasi antara bangun pagi dengan tingkat kecepatan ia memperoleh jodoh ataupun karir yang diinginkan. Pernah satu minggu penuh, Yanti bangun pagi. Sesudah sholat subuh, ia memilih utuk bersih-bersih seluruh rumah. Mulai dari kamar, hingga dapur.

Namun, kabar baik tak kunjung mengunjungi Yanti. Belum ada satu pun undangan wawancara kerja yang mampir ke email Yanti. Pun demikian dengan jodoh, semakin suram karena hingga detik ini Yanti merasa tidak ada satu lelaki pun yang mendekat kepadanya. Yanti pun kembali larut dalam kesedihan yang mendalam. Ia lagi-lagi tidur hingga larut malam.

Ia membela diri, meski bangun siang, ia tetap mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah. Walaupun waktu yang ia butuhkan akhirnya menjadi lebih siang.

###

“Lamaran pekerjaanku jelek banget ya? Kok sampai hari gini tidak ada satu perusahaan pun yang mengundangku. Wawancara aja deh tidak apa-apa,” ungkap Yanti, kepada Tiara, sahabatnya sejak SD.

“Sabar. Kamu lho, baru lulus dua bulan yang lalu,” ujar Tiara, mencoba meredakan kekalutan hati Yanti.

Hari ini Sabtu malam. Mereka berdua memlih menghabiskan malam di cafe baru yang terletak tepat di jantung kota. Nampak muda-mudi asik bercengkrama dengan teman-teman satu gengnya

“Anak muda-mudi ini, belum tau ya rasanya susahnya dapat kerja. Gayanya modis amat. Pasti mereka masih SMA, atau baru diterima di perguruan tinggi. Uang yang dipake juga pasti uang pemberian orang tuanya," ujar Yanti, bersungut-sungut.

“Yeee, kamu kok malah jadi nyinyir sama orang. Fokus aja sama diri sendiri Yanti,” ujar Tiara.

Yanti terdiam, sesekali ia menyesap teh tarik hangat yang sudah terhidang di meja sejak sepuluh menit yang lalu. “Kerja suram, jodoh juga suram. Ya ampun hidupku kok begitu menyedihkan,” Yanti mulai merutuki nasibnya sendiri.

Good things take time, babe. Ngomong-ngomong, minggu depan ke kampusku yuk.”

“Ngapain?”

“Aku sidang skripsi, dih lupa ya”

“Oh iya ya. Gini ini egoisnya manusia emang. Kalau sudah pusing dengan urusannya sendiri, sampai lupa memperhatikan orang-orang di sekitarnya.”

“Tumben bijak.”

“Yee... daridulu kali. Jam berapa sidangmu dimulai?”

“Jam 9. Biasanya memakan waktu hingga dua jam, kamu mulai datang pukul 10.30 aja. Tunggu di depan ya, bawa bunga yang banyak.”

“Dasaaar...”

###

Yanti merasa hidupnya sekarang sedang apes. Indeks Prestasi Kumulatifnya cukup bagus, meski ia tidak memperoleh predikat sebagai lulusan terbaik di kampusnya. Pun demikian dengan kehidupan organisasinya, ia sudah berusaha aktif dalam banyak kegiatan. Apalagi, ia juga berasal dari perguruan tinggi negeri. Dulu ia beranggapan, masa depannya akan cerah, dan hidup nampak lebih mudah. Ternyata idak.

Masuk kampus ini butuh pengorbanan, ternyata keluarnya juga. Pengorbanan waktu yang Yanti perlukan untuk memperoleh kerja di tempat idaman. Kenyataan ternyata berkata lain. Hingga dua bulan pasca ia memperoleh ijazah, ia belum juga diterima kerja.

Seringnya pertanyaan, ‘Sekarang kerja dimana?’ sama seringnya dengan pertanyaan, ’Sekarang gandenganmu siapa nih?’

Bikin Yanti semakin setress. Ingin rasanya ia menaruh kertas seukuran folio di jidatnya, dengan tulisan besar-besar. ‘YANTI BELUM KERJA. BELUM PUNYA PASANGAN JUGA. CARIIN DONG. DARIPADA DITANYAIN MELULU’   

“Mangkanya bangun pagi dong. Tuhan itu nggak seneng lihat umatnya malas-malasan,” nasihat Ibunya masih sama, saat Yanti gusar tentang status pengangguran dan kesendiriannya saat ini.

Tadi pagi, ia pergi ke bank. Dan saat ingin membuka rekening baru, ia gelagapan saat petugasnya bertanya tentang pekerjaan Yanti saat ini.

“Terus kamu jawab apa?” Ibunya penasaran.

“Masih nyari-nyari. Ugh, sumpah ini malu banget, Bu. Belum pernah aku merasa nggak percaya diri, karena nggak punya status seperti ini.”

“Percaya sama omongan Ibu. Sebentar lagi kamu pasti dapat jodoh dan pekerjaan yang kamu idamkan.”

###

Suasana kampus Tiara sepi dari luar. Meski demikian, butuh perjuangan untuk parkir sepeda motornya. Yanti sudah sering mangkal di kampus Tiara. Rasa kagok berada di kampus orang lain kini sudah sirna. Sekolah teknik terbaik di Kota ini parkirnya sudah cukup canggih. Cukup menggunakan kartu, pintu parkir sudah bisa membuka sendiri. Sudah diberi tau lagi lokasi mana saja yang masih dapat diselipi motornya.

Yanti bergegas menuju Ruangan D-251, tempat sidang Tiara dilangsungkan. Ternyata cukup mudah, sesuai dengan denah yang telah diberikan Tiara kemarin malam.

Karena kampus teknik, tak heran jika lebih banyak lelaki, teman-temannya Tiara, yang menunggu di luar sidang. Yanti memutuskan menyapa Ino, gebetan Yanti.

"Hey, sini Yan. Sepertinya sebentar lagi akan selesai," ujar Ino.

Yanti tersenyum dan mengiyakan ajakan Ino. Yanti juga menyebarkan senyum kepada teman-teman Tiara yang lain. Sebagian besar sudah ia kenali dengan baik. Sekilas, Yanti beradu pandang dengan satu lelaki yang belum pernah diketahuinya. Hanya dua detik, Yanti berusaha mengingat-ingat, siapa nama teman Tiara yang satu ini.

Lamunan Yanti buyar saat Tiara sudah membuka pintu. Dengan wajah bahagia, Tiara dinyatakan lulus. Satu persatu teman Tiara menghambur mendekati dan mengucapkan selamat. Tak terkecuali Yanti, dan juga lelaki misterius teman Tiara yang baru Yanti temui satu kali ini. 

###

"Johan ini temanmu kan, Ti?" 

"Iya, dia kan yang kamu temui pas aku sidang kemarin. Kenapa, Yan?"

"Kok dia ngeadd  Twitterku, diterima nggak ya?"

"Terima aja. Anaknya asik kok. Semua sifat yang dimiliki Johan menurutku positif semua. Kemarin kalian kan sudah berbincang walau sebentar."

"Ya kan cuma sebentar, Ti. Kamu belum apa-apa kok sudah mempromosikan Johan begini?"

"Anaknya serius mau cari jodoh tuh. Sudah lulus duluan, dan sudah diterima kerja. Keren lo perusahaannya."

"Weeww"

"Siapa tau cocok, kalau cocok kan aku juga yang seneng. Dua sahabatku akhirnya jadian. Siapa tau berakhir di pelaminan."

Yanti sekedar nge-read pesan terakhir dari Tiara. Ia menimbang-nimbang lagi. Sejenak ia melihat kembali ringkasan profil twitternya. Yanti pun memutuskan meng-klik tombol follow.  Ia kemudian teringat, sudah dua minggu ini ia sudah rutin bangun pagi lagi.  Ia berharap-harap cemas. 

Sumber gambar: https://pendoasion.files.wordpress.com/2014/04/mentari-pagi-sawah.jpg

Karya : Permata R