Ibu: Pandangannya Tentang Uang

Permata R
Karya Permata R Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 21 Juni 2016
Ibu: Pandangannya Tentang Uang

Ini serial pertama tentang Ibu yang akan saya ceritakan. Mengapa uang menjadi topik pertama yang saya angkat? Karena saya sudah memasuki fase dimana saya sudah harus pintar-pintar mengatur keuangan, agar kelak disaat tua saya dapat mereguk hasilnya. Terutama, agar tidak terjebak dalam sifat konsumtif yang kini erat kaitannya dengan hidup yang semakin hedonis. Selama hayat masih dikandung badan, saya akan mencoba membagikan kisah inspiratif tentang ibu saya sendiri.

### 

Bekerja sendirian bagi perempuan, mudah jika belum punya anak. Lain ceritanya jika perempuan telah memiliki anak dan harus ditanggung biaya hidupnya. Biaya hidup ini banyak sekali ternyata, dimulai dengan kebutuhan primer, yakni sandang, pangan, papan. Lanjut ke kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier, seperti wisata. Kebutuhan primer saja sudah menelan biaya yang tak sedikit, contohnya membeli rumah.  

Ibu memutuskan untuk tidak menyerah terhadap keadaan. Ia maju terus, dan bertekad mendidik anak-anaknya dengan sebaik kemampuannya. Ibu membagikan beberapa tips mengelola keuangannya kurang lebih seperti ini:
1. Jangan berhutang kalau tidak urgent sekali
Segala macam kemudahan kredit kini kian dapat kita nikmati. Cukup dengan fotokopi KTP, biasanya barang elektronik baru sudah berada di genggaman kita. Ibu melarang aktivitas ini, karena menurutnya barang-barang yang dibeli pasti tidak sesuai dengan skala prioritas, alias gak butuh-butuh banget. Hanya sekedar keinginan semu.
Merasakan mendapat barang baru memang menyenangkan. Namun, menurut ibu perasaan itu hanya sesaat. "Tengah bulan biasanya sudah mulai malas nyicil," begitu katanya.
Apalagi kalau dihitung-hitung, biaya barang cicilan dan biaya langsung lunas terpaut banyak. Lalu, bagaimana caranya jika ingin membeli barang? "Biasakan menabung sendiri. Disisihkan sendiri setiap bulan," ujar Ibu, tegas. 


2. Bayar tagihan sesegera mungkin
Dulu waktu saya masih sekolah, uang yang diberikan ibu untuk membayar les selalu diberikan tepat tanggal satu. Setiap kali memberikan, ibu selalu mewanti-wanti dengan kalimat seperti ini, "Segera bayarkan. Gurumu juga cari uang." Dulu saya masih belum paham, tapi tetap saya patuhi.
Sekarang setelah saya nyemplung sendiri di dunia kerja, memang benar-benar merasakan jika honor yang seharusnya didapat, namun tak kunjung dibayarkan, malah bikin males kerja. Apalagi menjadi guru, ada tanggung jawab besar untuk mendidik anak orang lain dengan sebaik mungkin. 

3. Zakat dan Shadaqah harus tetap dibayarkan
Ibu menganut faham, tidak ada istilah tidak punya uang untuk yang satu ini. Menurut ibu, zakat merupakan bagian dari rukun islam, jadi sifatnya super wajib. Untuk urusan shadaqah, ibu tidak pernah memaksakan diri. "Seikhlasnya kamu saja," ujar ibu. Ohiya, ibu lebih condong memberikan shadaqahnya kepada orang-orang yang telah bekerja, namun penghasilannya tidak seberapa. Tukang ambil sampah perumahan dan pemulung, adalah salah satu profesi yang menurut ibu berada di prioritas teratas. "Kamu mau nggak ngurus sampah? Malas kan? Yaudah, kasih apresiasi lebih kepada mereka," ungkapnya.  

4. Tidak Mudah Terprovokasi 
Semua manusia pasti ingin dihormati dan disegani. Kita secara otomatis, lebih senang mendekat kepada orang-orang yang menurut kita 'kaya,' dengan harapan apabila orang kaya itu sedang banyak rejeki, kita ikut kecipratan. 
Beberapa orang terjebak dengan label ini, ingin disebut kaya. Niatnya ingin menyenangkan orang-orang sekitar, namun dirinya sendiri menderita. Pernah dengar tidak kisah kehidupan bertetangga, yang satu sama lain saling berupaya mengalahkan. Umpamanya seperti ini, tetangga sebelah kiri saya baru saja membeli mobil, berarti saya juga harus punya mobil. Tetangga sebelah kanan saya baru saja mrenovasi rumahnya, berarti saya juga habis ini.
Menurut ibu, hidup ini bukan tentang menang dan kalah. "Syukuri saja segala rejeki yang terjadi pada hidupmu hari ini. Jangan terus-terusan melihat kehidupan orang lain," paparnya. 

5. Minimal, kuasai kemampuan memasak
Ketika belanja di tukang sayur, ibu sering membandingkan harga makanan beli siap makan, dan membuat makanan sendiri. "Kalau masih hidup sendiri, memang hemat. Kalau sudah lebih dari dua, lebih baik masak sendiri," begitu pesannya. Memasak kalau belum terbiasa memang sulit. Apalagi kalau sudah capek masak, rasa belum terlalu enak, sudah dihadang dengan kegiatan mencuci piring dan alat dapur yang membosankan. 
Sebelum merasa capek lagi, selalu ingat bahwa makanan bikinan sendiri seringkali lebih hemat 50% daripada makanan beli.

6. Tidak gengsi
Ini saya alami saat hendak masuk ke SMA. SMA favorit dan dambaan, berjarak 30 menit dari rumah. Sedangkan di dekat rumah saya juga ada SMA, belum favorit, masih dalam upaya pengembangan. Namun kelebihannya, jika saya masuk sekolah dekat rumah, bebas iuran setiap bulan, karena sudah ditanggung oleh pemerintah daerah setempat. 
Saya tentu merengek agar dimasukkan ke sekolah favorit. Gengsi dong, SMP saya sudah masuk sekolah favorit kok, masak SMA sekolahnya biasa saja. Ibu bersikeras meminta saya masuk SMA dekat rumah. "Yang penting nanti kuliah masuk PTN," beber ibu, tegas. "Jangan masuk sekolah hanya karena gengsi," tambahnya.
Dulu saya melakukan tindakan tidak terpuji dengan ngambek selama satu tahun. Sekarang saya sudah paham. Terlebih akhirnya saya juga berhasil masuk PTN. Tindakan ibu sedikit memaksa saya masuk ke SMA dekat rumah ternyata mampu menghemat banyak hal. Pertama, tidak perlu keluar uang bulanan untuk membayar iuran sekolah. Kedua, tidak perlu beli bensin dan biaya perawatan motor.
Seringkali kita melakukan sesuatu karena gengsi. Bukan karena kebutuhan yang sebenarnya. Kita ini terlalu takut tidak dianggap sama manusia lainnya.

Beberapa poin diatas ketika diterapkan, memang tidak serta merta membuatmu sekaya Bill Gates, atau Donald Trump. Paling tidak, kita dapat menjalani hidup dengan tenang, karena sudah meminimalisir hutang piutang. Hehe. 

  • view 98